<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita Seks Dewasa &#187; STW</title>
	<atom:link href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/category/stw/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ceritadewasa.modelperawan.info</link>
	<description>Kumpulan cerita seks cerita porno dan cerita dewasa Terlengkap</description>
	<lastBuildDate>Tue, 28 Jun 2011 04:12:45 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Tetangga Kost Ibu Berjilbab</title>
		<link>http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/tetangga-kost-ibu-berjilbab.html</link>
		<comments>http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/tetangga-kost-ibu-berjilbab.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Apr 2011 00:54:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[STW]]></category>
		<category><![CDATA[cewek jilbab]]></category>
		<category><![CDATA[ibu ibu jilbab]]></category>
		<category><![CDATA[ml dengan ibu jilbab]]></category>
		<category><![CDATA[seks jilbab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritadewasa.modelperawan.info/?p=215</guid>
		<description><![CDATA[Sebelumnya aku pernah cerita tentang cerita cewek berjilbab dimana terjadi cerita dewasa yang banyak menimbulkan komentar, nah untuk cerita yang berkaitan dengan jilbab, aku akan memberikan cerita tentang kisahku dengan tetangga kost Ibu berjilbab. Berikut selengkapnya. Namaku Iful..umur 29 taon, tinggi 168 paras badanku tegap, rambutku lurus dan ukuran vitalku biasa saja normal org Indonesia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebelumnya aku pernah cerita tentang cerita cewek berjilbab dimana terjadi <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/">cerita dewasa</a> yang banyak menimbulkan komentar, nah untuk cerita yang berkaitan dengan jilbab, aku akan memberikan cerita tentang kisahku dengan tetangga kost Ibu berjilbab. Berikut selengkapnya.</p>
<p><img alt="ibu jilbab" src="http://www.metrogaya.com/files/imagecache/fullartikel350x240/pictures/artikel/tidur%20telanjang.jpeg" title="Ibu telanjang" class="alignnone" width="350" height="240" /><br />
Namaku Iful..umur 29 taon, tinggi 168 paras badanku tegap, rambutku lurus dan ukuran vitalku biasa saja normal org Indonesia lah…panjangnya kira2 16 cm dan diameternya aku ggak pernah ukur…</p>
<p>Aku tinggal di rumah kost2 an istilahnya rumah berdempet2an neh…ada tetanggaku yg bernama Ibu Tiara, berjilbab umurnya sekitar 33 taon, anaknya dah 3 boo…yang paling besar masih sekolah kelas 5 SD otomatis yg palg kecil umur 1,8 bln, sedangkan suaminya kerjanya di kontraktor (perusahaan) sebagai karyawan saja.<br />
Setiap hari Ibu tiara ini wanita yang memakai jilbab panjang2 sampai ke lengan2nya boleh dikatakan aku melihatnya terlalu sempurna utk ukuran seorang wanita yag sdh berumah tangga dan tentunya aku sangatlah segan dan hormat padanya.</p>
<p>Suatu ketika suaminya sdh pergi ke kantor utk kerja dan aku sendiri masih di rumah rencananya agak siangan baru aku ke kantor…<br />
“Iful…”ibu tiara memanggil dari sebelah…karena aku msh malas2 hari ini so aku tidur2an aja di t4 tidurku…”Iful…Iful….” Ibu minta tolong bisa..?? ujar Ibu Tiara dari luar..aku sbenarnya dah mendengar namun rasanya badanku lagi malas bangun …<br />
karena mungkin aku yang di panggil tdk segera keluar, maka ibu tiara dng hati2 membuka pintu rumahku dan masuk pelan2 mencari aku…seketika itu juga aku pura2 tutup mataku..dia mencari2 aku dan akhirnya dia melihat aku tidur di kamar…<br />
“ohh….” Ujarnya…spontan dia kaget…karena kebiasaan kalo aku tidur tidak pernah pake baju dan hny celana dalam saja…dan pagi itu kontolku sebnarnya lagi tegang…biasa penyakit di pagi hari…(heheheh)<br />
seketika itu dia langsung balik melangkah dan menjauh dari kmarku….aku coba mengintip dengan sbelah mataku…oo dia sudah tidak ada “ujarku dalm hati…tapi kira2 tak lama kemudian dia balik lagi dan mengendap2 mengintip kamarku…smbl tersenyum penuh arti…cukup lama dia perhatikan aku dan stlh itu ibu tiara lngsung balik ke rmhnya.<br />
Besok pagi stlah semuanya tlah tidak ada di rumhnya ibu tiara, tinggal anaknya yg plg kecil dah tidur aku …sayup2 aku dengar di smpg rmhku yg ada di belkang, spertinya ada yg mencuci pakaian…aku intip di blkang…Ohh ibu tiara sdng mencuci pakaian…namun dia hny memakai daster terusan panjang dan jilbab …krn dasternya yg panjang, maka dasternya basah sampai ke paha…saat aku sdg intip..ibu tiara lgsg berdiri dan mengangkat dasternya serta merta mencopot celana dalamnya dan langsung dicuci sekalian…otomatis…saat itu aku melihat ooooohhh….memeknya yg merah dan pahanya yg putih di tumbuhi bulu2 halus…aku langsung berputar otak2 ku ingin rasanya mencicipi memek yg indah dari ibu tiara yg berjilbab ini…<br />
“Maaf ibu tiara…kemarin ibu ada perlu saya “ tanyaku ..mengagetkan ibu tiara dan semerta2 dia lngsung merapikan dasternya tersingkap smpai ke paha…<br />
Iya nih mas Iful..Ibu kemarin mo minta tolong pasangin lampu di kmar mandi “katanya.<br />
Kalo gitu sekarang aja bu…soalnya sbentar lagi saya mo kerja “sambil mataku melihat dasternya…membayangkan apa yang didalamnya.<br />
Oh iya ..lewat sini saja…Ujarnya..karena memang tipe rmh kost yg aku tempati di belkangnya Cuma di palang kayu dan seng otomatis kegiatan tetangga2 kelihatan di belakang.<br />
Aku lngsung membuka kayu dan sengnya dan masuk ke dalam dan ibu tiara membawaku di depan…aku mengikuti di belakang…oohhh…seandainya aku bisa merasakan memek dan pantat ini sekarang” gumamku dlm hati.<br />
“ini lampunya dan kursinya…hati2 yah jng sampe ribut soalnya anaku lg tidur”kata Ibu Tiara..<br />
Aku lngsung memasang dan ibu tiara melanjutkan mencuci nya, setelah selesai aku lngsg blng “ibu sdh selesai “kataku… kemudian ibu tiara lngsung berdiri..tapi saat itu dia terpeleset ke arahku…seketika itu aku menangkapnya..ups…oh tanganku mengenai payudaranya yg montok dan tanganku satu lagi mengenai lngsung pantatnya yg tidak pake celana dalam dan hny ditutupi daster saja…”maaf Dik Iful…agak licin lantainya”ujarnya tersipu-sipu..Iful tunggu yah ibu bikinin Teh “ujarnya lagi…Dia ke dapur dan dari belakang aku mengikutinya scr pelan2..saat teh lagi di putar di dlm gelas..langsung aku memeluknya dr blkng…<br />
Iful…apaan2 neh…sentak Ibu Tiara…maaf bu…saya melihat ibu sangatlah cantik dan seksi..”ujarku…Jangan Iful…aku dah punya suami ..”tapi ttp ibu tiara tdk melepaskan pegangan tanganku yang mampir di pinggangnya dan dadanya…Iful…jangaann.. langsung aku menciumi dari belakang menyikapi jilbabnya…sluurrp…oh..betapa putihnya leher ibu tiara ‘ujarku dlm hati…okhh…iful…hmmm…ibu tiara menggeliat..langsung dia membalik badannya menghadapku..Iful…aku udah bers…saat dia mo ucapin sesuatu..langsung aku cium bibirnya…mmmprh…tak lama dia lngsung meresponku dan lngsung memeluk leherku .mmmmhprpp….bunyi mulutnya dan aku beradu…aku singkapi jilbabnya sedikit saja…sambil tanganku mencoba menggerayangi dadanya…aku melihat dasternya memakai kancing 2 saja diatas dadanya…aku membukanya..dan tersembullah buah dadanya yg putih mulusss…slurp…kujilat dan isap pentilnya….<br />
Iful….ooohhh….ufhhh….”lirihnya …slurrpp….slurp..saa t aku jilat…sepertinya msh ada sedikit air susunya…hmmmm…tambah nikmatnya..slurp..slurp…<br />
Sambil menjilat dan menyedot susunya..aku tetap tidak membuka jilbab maupun dasternya…tapi tanganku tetap menarik dasternya keatas…karena dari tadi dia tidk pake celana dalam…maka dengan gampang itilnya ku usap-usap dengan tanganku…Ohhh…oh…sssshhhh…guma m ibu tiara..kepalaku ku dekatkan ke memeknya dan kakinya kurenggangkan…sluruupp….pelan2 kujilati itil dan memeknya…oh iful…eennakkh…oghu…mmmpphhff…t eriaknya pelan…kulihat kepalanya telah goyang ke kanan dan kekiri…pelan2 sambil lidahku bermain di memeknya …kubuka celana pendekku dan terpampanglah kontolku yang telah tegang …namun ibu tiara masih tidak menyadari akan hal itu…pelan2 ku mengangkat dasternya…namun tidak sampai terbuka semuanya..hanya sampai di perutnya saja…dan mulutku mulai beradu dengan bibirnya yang ranum…mmmppghh…iful…aku…”ujar ibu tiara..kuhisap dalam-dalam lidahnya…slurp…caup…oh ibu sungguh indah bibirmu, memekmu dan semuanya…lirihku..</p>
<p>Sambil menjilat seluruh rongga mulutnya …kubawa ia ke atas meja makannya dan kusandarkan ibu tiara di pinggiran meja…tanganku ku mainkan kembali ke itil dan sekitaran memeknya…ahhh…ufh…oh…Ifulll….i bu udah nggak kuaatttttt…lirih Ibu tiara.<br />
Pelan2 ku pegang kontolku…ku arahkan ke memeknya yang sudah basah dan licin….dan bleeesssssssssshh….ohhhhh…ufgh hh….Ifulll….Teriak Ibu tiara…sleepep…slepp…. Kontolku ku diamkan sebentar ….Ibu Tiara sepontan melihat ke wajahku..dan langsung ia menunduk lagi…kududukkan di atas meja makan dan kuangkat kakinya…mulailah aku memompanya..slep…slep..selp…be lssss….oh memeknya ibu sangat enak….Iful…kontolmu juga sangat besar….rupanya ibu tiara udah tidak memikirkan lagi norma2..yang ada hanya lah nafsu birahinya yang harus dituntaskan….berulang-ulang ku pompa memeknya dengan kontolku….oohh..akhh…Ifull….ku balikkan lagi badannya dan tangannya memegang pinggiran meja…ku tusuk memeknya dari belakang bleesssssssss… Ohhhhh….teriak Ibu Tiara…kuhujam sekeras-kerasnya kontolku…tanganku remas2 susunya ….aku liat dari belakang sangat bagus gaya ibu tiara nungging ini, tanpa melepas daster dan jilbabnya..kutusuk terus …sleeeepp….sleeps<br />
Hingga kurang lebih setengah jam ibu tiara bilang…Iful….ibu udah nggak tahan…..sabar bu bentar lagi saya juga……Ujarku…Oh…ohhhh…ufmpghhh …Iful…ibu mau keluarrrr…achhhh……semakin kencang dan terasa memeknya menjepit kontolku dan oohhhhh…ku rasakan ada semacam cairan panas yang menyirami kontolku di dalam memeknya….semakin kupercepat gerakan menusukku…slep….slurp…bleeppp… . oh Ibu aku juga dah mo sampai neh…..cepat Iful…ibu bantu….oho….uhhhhh….ibu tiara menggoyangnya lagi…dan akhirnya Ibu….aku mo keluararrrrr…..sama2 yang Iful….ibu juga mo keluar lagi…teriaknya…dan….Ohhh…ack…. .ahhhhh..aku dan ibu tiara sama –sama keluar…dan sejenak kulihat di memeknya terlihat becek dan banjir…</p>
<p>Setelah hening sejenak…ku cabut kontolku dan kupakai celana pendek setelah itu ibu tiara merapikan Daster dan jilbabnya…langsung aku minta maaf kepadanya…<br />
Bu..mohon maaf ..Iful khilaf.’kataku.<br />
Tidak apa2 kok iFul…ibu juga yang salah…yang menggoda Iful “ujarnya…<br />
Aku langsung pamitan kembali ke rumahku sebelah dan mandi siap2 kerja…setelah mandi kulihat ibu tiara sedang menjemur pakaian…tapi jelas didalam daster ibu tiara tidak memakai celana dalam karena terlihat tercetak lewat sinar matahari pagi yang meninggi mulai mendekati jam 10 pagi..<br />
Sebelum aku pergi ku sempatkan pamitan ke ibu tiara dan dia tersenyum …tidak tau apakah ada artinya atau tidak.</p>
<p>Demikianlah cerita yang gue alami sendiri dengan tetangga kost ibu berjilbab alias tetangga kost ku yang seorang ibu ibu berjilbab, dan tak terasa aku telah berhubungan intim dengannya. ada penyesalan tapi apalah daya nasi telah menjadi bubur.</p>
<h4>Cerita Dewasa | Cerita Seks</h4>*<a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/tetangga-kost-ibu-berjilbab.html" title="cerita sex dengan tetangga kost">cerita sex dengan tetangga kost</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/tetangga-kost-ibu-berjilbab.html" title="Cerita seks dengan tetangga kost">Cerita seks dengan tetangga kost</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/tetangga-kost-ibu-berjilbab.html" title="tetangga stw">tetangga stw</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/tetangga-kost-ibu-berjilbab.html" title="cerita dewasa dengan tetangga">cerita dewasa dengan tetangga</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/tetangga-kost-ibu-berjilbab.html" title="jilbaber di kost">jilbaber di kost</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/tetangga-kost-ibu-berjilbab.html" title="Itil stw tetanggaku">Itil stw tetanggaku</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/tetangga-kost-ibu-berjilbab.html" title="ibu2 berjilbab binal">ibu2 berjilbab binal</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/tetangga-kost-ibu-berjilbab.html" title="gairan seks ibu berjilbab">gairan seks ibu berjilbab</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/tetangga-kost-ibu-berjilbab.html" title="gairah tetangga berjilbab">gairah tetangga berjilbab</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/tetangga-kost-ibu-berjilbab.html" title="gairah stw berjilbab">gairah stw berjilbab</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/tetangga-kost-ibu-berjilbab.html" title="gairah ibu tetangaku sama aku">gairah ibu tetangaku sama aku</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/tetangga-kost-ibu-berjilbab.html" title="Gaira seks tetangga berjilbab">Gaira seks tetangga berjilbab</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/tetangga-kost-ibu-berjilbab.html" title="www indo sex ibu-ibu tidur celana dalam com">www indo sex ibu-ibu tidur celana dalam com</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/tetangga-kost-ibu-berjilbab.html" title="kisah memek stw jilbab">kisah memek stw jilbab</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/tetangga-kost-ibu-berjilbab.html" title="tetangaku minta ngentot">tetangaku minta ngentot</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/tetangga-kost-ibu-berjilbab.html" title="stw tetangga">stw tetangga</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/tetangga-kost-ibu-berjilbab.html" title="Sex ibu kost berjilbab">Sex ibu kost berjilbab</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/tetangga-kost-ibu-berjilbab.html" title="sex dengan tetanggaku berjilbab">sex dengan tetanggaku berjilbab</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/tetangga-kost-ibu-berjilbab.html" title="seks dgn ibu kost jilbab">seks dgn ibu kost jilbab</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/tetangga-kost-ibu-berjilbab.html" title="Melakukan seks dengan ibu kost berjilbab">Melakukan seks dengan ibu kost berjilbab</a>*<!-- SEO SearchTerms Tagging 2 Plugin -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/tetangga-kost-ibu-berjilbab.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selingkuh Dengan Tanteku</title>
		<link>http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/selingkuh-dengan-tanteku.html</link>
		<comments>http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/selingkuh-dengan-tanteku.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Mar 2011 05:19:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[STW]]></category>
		<category><![CDATA[birahi tante]]></category>
		<category><![CDATA[memek tante ku]]></category>
		<category><![CDATA[tante binal]]></category>
		<category><![CDATA[tanteku]]></category>
		<category><![CDATA[toket tante]]></category>
		<category><![CDATA[toket tante ku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritadewasa.modelperawan.info/?p=212</guid>
		<description><![CDATA[Tante tante .. kenapa aku jadi selingkuh denganmu, aku tak pernah membayangkan akan menyakiti hati om ku seperti ini, walau sampai saat ini hubungan seks ku tidak diketahui om, tapi perasaan salah dan berdosa meniduri istri om ku tetap ada dalam pikiranku, tante ku cantik tante ku binal, ooh,, susah melupakan memek tante. Hari Minggu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tante tante</strong> .. kenapa aku jadi selingkuh denganmu, aku tak pernah membayangkan akan menyakiti hati om ku seperti ini, walau sampai saat ini hubungan seks ku tidak diketahui om, tapi perasaan salah dan berdosa meniduri istri om ku tetap ada dalam pikiranku, tante ku cantik <strong>tante ku binal</strong>, ooh,, susah melupakan <strong>memek tante</strong>.</p>
<p><img class="alignnone" title="Tante ku" src="http://img6.uploadhouse.com/fileuploads/5521/5521547260f58371b23b993be7c6e3f84bd3120.jpg" alt="toket tante ku" width="638" height="458" /><br />
Hari Minggu hari pertama Aku di tempat baru, masih serasa canggung. Pendaftaran ke SMUN baru dibuka Senin besok. Kerja apa Aku ? Kalau di desa sih jelas ke kebun bantu2 ayah sampai menjelang magrib, dan sangat menguras enerji. Kalau disini, masa Aku cuman nganggur2 aja ?</p>
<p>Kubawa sepasang pakaian kotorku ke belakang, maksudku mau mencuci saja, kalau ada pakaian kotor yang lain biar aku cuci sekalian. Aku ke belakang mencari-cari tempat cucian gak ketemu. Bingung. Bahkan pakaian kotorpun tak ada. Tante datang.<br />
&#8220;Nyari apa Din&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Eh&#8230;.Tante, saya mau nyuci baju&#8221;<br />
&#8220;Udah, kasih aja ke Si Mar. Mar&#8230;!&#8221;<br />
&#8220;Ya Bu&#8230;&#8221;<br />
Mbak Mar muncul dari belakang dengan tergopoh-gopoh.<br />
&#8220;Tolong pakaian Mas Didin sekalian dicuci&#8221;<br />
&#8220;Saya cuci sendiri aja Tante&#8221;<br />
&#8220;Gak usahlah&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Sini Mas&#8230;&#8221;kata mBak Mar. Dia mengambil pakaianku dari tanganku, lalu dimasukkan ke suatu kotak di sudut. Ternyata itu mesin cuci. Pantesan gak ada tempat cuci yang berbentuk papan bergerigi seperti di rumahku di desa. Dasar anak desa&#8230;<br />
Aku jadi ter-bengong2, mau kerja apa aku ? Mau bersih2 di belakangpun dilarang sama Tante.<br />
&#8220;Udah ke depan sana, ada Oom tuh&#8230;&#8221;<br />
Aku ke ruang tengah, ada Oom yang sedang duduk di sofa baca koran.<br />
&#8220;Selamat pagi Oom&#8221;<br />
&#8220;Eh, kamu Din, sini &#8230;. duduk sini&#8230;&#8221;</p>
<p>Oom banyak tanya tentang kehidupanku di desa. Aku ceritakan semuanya. Tante lalu bergabung duduk disamping Oom. Tante merebahkan tubuhnya ke badan Oom dan Oom melingkarkan lengannya memeluk Tante. Mereka berdua benar2 mesra&#8230; dan suami-isteri ini begitu baiknya. Aku jadi merasa amat nyaman tinggal di keluarga ini.</p>
<p>Aku ke depan rumah menemui laki-laki setengah baya yang sedang kerja di taman, ingin berkenalan sekalian bantu2.<br />
&#8220;Selamat pagi Pak&#8221;<br />
&#8220;Eh&#8230;Aden, baru datang dari Jawa ya?&#8221;<br />
&#8220;Iya Pak, bapak namanya siapa?<br />
&#8220;Panggil aja saya Mang, nama saya Pendi&#8221;<br />
&#8220;Panggil saja saya Didin&#8230;&#8221;<br />
Aku bantu membereskan tanaman meskipun Mang Pendi melarangku.<br />
&#8220;Saya udah biasa kerja di kebon, Mang&#8221;kataku.<br />
Baru sekitar sejam Aku membantu rupanya Si Mang merasa gak enak. Dia terus memaksaku untuk berhenti membantunya. Aku mengalah, lalu masuk kembali ke rumah.<br />
Ngapain lagi ya ?<br />
Oh iya, beres2 isi rak buku. Aku mulai dari seretan rak yang paling atas. Kuturunkan seluruh isinya lalu secara bertahap kususun kembali sampai rapi.</p>
<p>Ketika aku mulai merapikan deretan kedua dari atas, ada lembar2 gambar yang menarik perhatianku. Kuambil dan &#8230;. ada 3 lembar ketas cetakan mengkilap berwarna, sobekan dari majalah, kayanya. dari tulisannya aku menduga sobekan dari majalah wanita, tentang mode. Lembar wanita menampilkan wanita cantik berpakaian bagus sedang berdiri. Lembar kedua masih wanita tadi dengan baju model lain. Dan lembar ketiga yang membuatku berdebar-debar. Wanita tadi duduk dengan kemeja dan rok yang pendek, yang mempertontonkan sepasang kaki yang panjang, putih, dan mulus. Yang membuatku berdebar adalah separuh paha mulus wanita itu terbuka. Aku belum pernah melihat gambar paha begini, apalagi paha sesungguhnya. Maklum di desaku tak ada majalah begini, yang hanya ada koran lokal. Mungkin Aku pernah melihat paha, paha milik ibu-ibu sehabis mencuci pakaian di sungai yang melewati kebunku. Tapi waktu itu tak ada pengaruh apa-apa, biasa saja. Entah karena paha itu milik perempuan yang tidak muda lagi, atau karena memang belum masanya.</p>
<p>Gambar paha wanita itu seringkali terbayang-bayang di kepalaku. Ada rasa berdesir jika Aku kembali melihat lembar potongan majalah itu. Dan tanpa bisa kucegah, Aku jadi berbeda bila melihat tanteku. Aku jadi membayangkan keindahan paha tanteku walaupun tak terlihat, karena rok tante sampai di lututnya. Aku membayangkan di balik rok itu terdapat sepasang paha mulus seperti gambar di majalah, atau mungkin lebih indah. Oh iya, hari pertama Aku tiba sempat melihat paha Tante meskipun hanya sekejap. Kesanku, paha itu begitu putihnya&#8230;</p>
<p>Aku mendapatkan penghayatan yang berbeda bila melihat tante. Terus terang ini membuatku gelisah dan merasa bersalah. Tanteku yang begitu baiknya menghidupiku, membayar segala biaya sekolahku, sementara Aku berani &#8220;kurang ajar&#8221; begini meski hanya dalam bayangan.</p>
<p>Sekolah belum dimulai. Selesai aku menyelesaikan pekerjanku sekitar jam 11 aku duduk di ruang tengah nonton TV. &#8220;Pekerjaan&#8221; yang kumaksud adalah beres2 taman di halaman depan membantu Mang Pendi, tukang kebun, atau beres2 di belakang membantu mBak Mar.<br />
Ini atas inisiatifku sendiri. Tante sebenarnya tak mengizinkan, juga mang Pendi dan mbak Mar ngerasa tak enak. Tapi aku memaksa membantu pekerjaan mereka karena tak enak aku menumpang di rumah Oom-ku ini tanpa melakukan apa-apa.</p>
<p>Setelah seminggu di rumah ini Aku jadi hafal kegiatan Tante di rumah. Hari Selasa dan Kamis dia keluar rumah pagi untuk senam di sanggar senam, pakai mobil BMWnya dan setir sendiri. Hari lainnya kadang dia keluar juga bersama teman atau tetangga. Kalau tak ada kegiatan dia bangun agak siang.</p>
<p>Siang itu tante sepulang dari senam, menyapaku yang sedang nonton TV kemudian langsung naik tangga ke atas ke kamar utama. Setengah jam kemudian tante turun lagi, kelihatan segar, sehabis mandi. Aku pernah ikut bantu bersih2 kamar Oom-Tante yang luas dan mewah di lantai atas. Di dalam kamar itu juga ada kamar mandi yang luas. Aku baru lihat ada kamar mandi di dalam kamar tidur, jelas di desaku tak ada yang seperti ini.</p>
<p>Tante mengenakan daster santai turun tangga, jantungku berdegup. Sekilas dan sekelebatan dan sesekali paha tante terkuak. Aku lagsung menunduk, tak berani melihat ke tangga. Tapi ketika Tante melewatiku dan lalu membelakangiku, aku mencuri-curi pandang lagi. Sepasang betis putih itu begitu panjang indah dan mulus. Nampak juga bagian belakang dengkul dan sedikit di atasnya. Daster Tante hanya sampai sedikit di atas lutut, tak seperti biasanya yang selutut. Batangku mulai menggeliat.</p>
<p>Pembaca, mengalami batang tegang keras begini terus terang amat jarang, hanya di pagi hari saja. Di desaku dulu alat vitalku hanya tegang kalau di pagi hari habis bangun tidur saja. Sebab hari-hariku selain sekolah juga disibukkan oleh pekerjaan di kebun membantu ayahku. Aku jarang berada sendirian untuk melamun yang menyebabkan tegang seperti biasa dilakukan oleh anak laki seusiaku. Di malam haripun Aku tak ada kesempatan, karena Aku harus berbagi kamar dengan adikku. Sekarang aku punya banyak waktu luang dan sering sendirian.</p>
<p>Tante duduk di sofa tempat dia biasa duduk membaca, letaknya di depanku. Di antara kami hanya ada hamparan karpet tebal, sehingga sepasang kaki dan sebagian paha indah itu terhidang di hadapanku, dan dengan mudah bisa kunikmati sebenarnya, kalau Aku berani memandangnya. Tante nanya2 tentang keadaan sekolah serta teman2 baruku. Selama bicara dengan Tante Aku hanya berani menatap matanya seperti layaknya kalau aku berbicara dengan siapapun. Tak sekalipun pandanganku turun ke bawah, walaupun sebenarnya ingin, takut &#8230;</p>
<p>Tapi ada juga kesempatan sekilas2 menikmati pahanya, ketika Tante sedang tak bicara. Aku diuntungkan dengan letak TV. Dibelakang Tante ada lemari/rak yang nempel di dinding. TV ada di rak dinding itu, dari arahku letak TV ada di sebelah kiri Tante. Kalau tak sedang bicara, pandanganku ke TV sambil sekali2 &#8220;ngecheck&#8221; ke mata Tante. Kalau dia sedang menunduk, mataku bergeser ke bawah menikmati sepasang kaki jenjang dan sebagian paha putih mulusnya, dan kembali ke TV. Toh dari sisiku, menatap TV dan Tante adalah hampir searah pandang. Tak urung peniskupun tegang keras dan memanjang, aku jadi tak berani bergerak dari tempat dudukku. Kalau Aku bangkit berdiri, pasti celanaku menonjol kedepan.</p>
<p>Tante kemudian bangkit dari duduknya. Aku kecewa. Tapi &#8230;tidak. Dia hanya mengambil majalah dari meja samping, terus duduk lagi, membaca majalah mode. Duduk santai, kepalanya bersandar pada sandaran sofa, mukanya tertutup oleh majalah yang membuatku makin leluasa &#8220;menghayati&#8221; kaki dan pahanya. Apalagi saat tertentu dia bergantian menyilangkan kakinya. Saat posisi kaki kiri dia tumpangkan ke kaki kanannya adalah saat yang paling ideal bagiku. Ujung dasternya terangkat ke atas sehingga hampir seluruh paha kirinya bisa kunikmati. Aku makin gelisah &#8230;</p>
<p>Malamnya aku susah tidur, bayangan paha Tante tak mau hilang dari kepalaku. Kembali penisku tegang. Kuambil buku novel, kubaca. Memang pikiran beralih, tapi sebentar2 masih saja bayangan paha itu datang. Lama2 aku tertidur juga. Sekitar jam 2 pagi aku terbangun. Rasanya aku bermimpi sesuatu yang enak. Coba kuingat-ingat, tak begitu jelas, sepertinya aku berduaan dengan seorang cewe entah siapa. Lalu cewe itu mengangkat roknya memperlihatkan paha mulusnya, semulus paha Tante. Aku mengusap-usap pahanya dan cewe itu melihat penisku tegang, dan dipegangnya penisku, digenggamnya. Aku merasakan enak luar biasa, dan geli-geli di penisku dan lalu aku &#8216;kencing&#8217;, dan kemudian terbangun.</p>
<p>Aku benar2 merasakan ada yang basah di bawah sana. Kuperiksa celanaku, benar basah, jadi aku &#8220;kencing&#8221; beneran. Belakangan aku baru tahu bahwa yang kualami tadi malam adalah mimpi basah, menandakan Aku memasuki masa pubertas.</p>
<p>Dua bulan Berlalu..</p>
<p>Kuketuk pintu, beberapa menit Aku menunggu belum ada yang membukakan. Rupanya pintu ini ada belnya, kupencet. Beberapa saat kemudian pintu terbuka dan mucullah seorang wanita amat cantik, putih bersih menatapku, tersirat sebersit kecurigaan. Roman wajahnya mengingatkanku pada foto tante Lina, tapi wanita ini lebih muda dari yang kubayangkan.<br />
&#8220;Saya Didin, bu&#8221;kataku<br />
&#8220;Didin&#8230; anaknya Kang Sastra?&#8221;<br />
&#8220;Benar, Bu&#8221;<br />
Mendadak roman muka wanita ini berubah menjadi amat ramah.<br />
&#8220;Ayo masuk&#8230;. tak kusangka kamu udah gede gini&#8230;.&#8221;</p>
<p>Jelas saja, dia melihatku terakhir adalah waktu aku umur 10 tahun, enam tahun lalu sewaktu Oom dan Tanteku ini baru saja menikah. Menurut perasaanku tanteku ini tak berubah dibanding 6 tahun lalu, tetap cantik dan muda. Ya, hanya cantik dan muda itu saja kesanku pada tanteku ini, sebab sebagai pemuda desa, aku belum tahu apapun tentang wanita. Kalau pertemuan ini terjadi sekarang tentu kesan itu akan bertambah dengan tubuh langsing tinggi, pinggang ramping, perut amat rata, kulit putih bersih dan mulus, pinggul tak begitu lebar tapi kedua bongkahan pantat yang membulat dan &#8220;membonceng&#8221; ke belakang, dan &#8230;. kedua bulatan di dada yang tegak kencang menantang. Rok span pendek yang ngepas dipadu dengan blouse yang ngepas juga menambah kemudaan tanteku ini. Tapi waktu itu kesanku hanya tanteku ini cantik dan ramah. Aku sama sekali tak memperhatikan keunggulan lainnya, maklum waktu itu masih lugu dan polos.</p>
<p>&#8220;Gimana kabar Kang Sastra dan Teh Is?&#8221; Itu nama ayah dan ibuku.<br />
&#8220;Baik2 saja, Bu&#8221; jawabku sopan.<br />
&#8220;Aku ini tantemu, panggil aja Tante ya&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Baik bu, eh&#8230;Tante&#8221;<br />
Lalu seorang perempuan muda datang mengantar minuman jeruk yang dingin dan enak, dikenalkannya sebagai Marni, pembantu tante. Perempuan ini mungkin hanya satu atau dua tahun lebih tua dariku. Asalnya dari jawa Tengah, maka aku memanggilnya dengan Mbak Mar.</p>
<p>&#8220;Ayo Tante tunjukin kamarmu, bawa tasmu sekalian&#8221;<br />
Mbak Mar yang mau mengangkat ranselku aku cegah.<br />
&#8220;Biar saya bawa sendiri, mbak&#8221;<br />
Kusambar ranselku, satu2nya bawaanku (dan &#8220;harta&#8221;ku) dari desa.<br />
Dari ruang tamu Aku mengikuti tante ke ruang tengah yang luas, lalu ada kamar yang pintunya tertutup, dan ke arah belakang sedikit lagi ada kamar yang pintunya terbuka. Tante masuk ke kamar ini, aku mengikuinya.<br />
&#8220;Ini kamarmu&#8230; mudah2an kamu betah&#8221;<br />
Kamarku? Wow&#8230;. mewah sekali. Tentu saja bandinganku adalah kamarku di desa yang sederhana, juga kamar kawan2ku SMP di desa.<br />
&#8220;Bagus sekali Tante&#8230; terima kasih&#8221;</p>
<p>Ada dipan yang berkasur, terlalu mewah bagiku yang biasanya tidur di atas tikar berdua dengan adikku. Ada lemari pakaian, dan ada rak buku lumayan lebar yang nempel di dinding. Rak yang penuh dengan buku2, berkas2, dan entah apa lagi. Di pojok ada pintu lagi, aku buka ternyata kamar mandi. Gila, Oom dan Tante memberiku kamar yang ada kamar mandi di dalamnya. Sungguh amat mewah bagiku.</p>
<p>Kuletakkan ransel di bawah lalu Aku duduk di tempat tidur.<br />
&#8220;Buku2 di rak ini nanti kamu rapikan, jadi nanti ada ruang buat naruh buku2 kamu&#8221;kata Tante. Lalu dia duduk di kursi dekat meja belajar persis di depanku, kakinya disilangkan dan sekejap pahanya terbuka, putih sekali&#8230; Waktu itu tak ada reaksi apapun pada diriku.<br />
&#8220;Sekarang kamu istirahat dulu&#8230;. capek kan naik bis semaleman&#8230;&#8221;<br />
Tante beranjak menuju ke pintu keluar, cepat-cepat Aku ke pintu untuk membukakannya. Pintu belum terbuka seluruhnya Tante sudah melaluinya sehingga pantatnya bergesekkan dengan pahaku, padat sekali&#8230;.<br />
Aku ingat benar waktu itu kedua kejadian itu tak berpengaruh sama sekali terhadapku. Kalau saja terjadi sekarang, bisa-bisa &#8230;.</p>
<p>Kubongkar ranselku, kumasukkan pakaianku yang cuma beberapa lembar ke lemari pakaian, beres. Tak ada lagi yang bisa kukerjakan, orang semuanya sudah rapi. Kalaupun ingin beres2 mungkin rak buku itu yang isinya agak tak beraturan. Kelihatannya itu buku2 milik Oom.</p>
<p>Tiba-tiba Tante menarik tanganku, aku langsung berdiri mengikuti langkahnya memasuki kamarku. Masih terkaget-kaget Aku ketika menutup pintu kamar dan langsung menguncinya.<br />
&#8220;Jangan ditutup, buka dikit aja&#8230;&#8221;kata Tante.<br />
Tante langsung ke balik pintu dan bersender ke dinding. Tanpa perintah Aku langsung mendekatinya, dan hendak mencium bibirnya.<br />
&#8220;Jangan cium&#8230;.&#8221;<br />
Aku baru ingat, Tante sudah berdandan. Kalau kucium lipstik di bibirnya akan habis dan akan jadi pertanyaan Oom.<br />
Aku rabai dan remas2 dadanya. Tangan Tante lalu membuka rits celanaku dan mengeluarkan isinya. Dengan beberapa kali elusan saja penisku sudah membesar tegang dan keras siap tempur.</p>
<p>Lalu Tante melepaskan sendiri celana dalamnya, mengangkat roknya dan juga sebelah kakinya.<br />
&#8220;Ayo&#8230;.masukin&#8230;. gak banyak waktu&#8230;.&#8221;katanya<br />
Akupun masuk&#8230;.<br />
Aku memompa&#8230;.<br />
Bibir Tante terkatub rapat, bahkan telapak tangannya ikut menutup mulutnya, khawatir membuat suara2 aneh.<br />
Enak juga melakukan hubungan seks sambil berdiri begini&#8230;<br />
Aku cuma membuka rits dan menurunkan celana dalam, sedangkan Tante hanya celana dalamnya saja yang dilepas, pakaian lainnya tetap ditempatnya. Bagiku ini suatu sensasi baru&#8230;.</p>
<p>Dengan pintu yang sedikit terbuka maka bila ada orang yang turun tangga akan kedengaran. Tante sempat menghentikan pompaanku ketika seolah-olah terdengar suara langkah kaki di tangga. Ternyata bukan. Pompa lagi&#8230;</p>
<p>Entah karena melakukan sambil takut2 begini atau karena lama Aku tak melakukan hubungan seks, maka kurasakan Aku hampir &#8220;nyampai&#8221;, tidak selama seperti biasanya. Cepat-cepat Aku cabut dan kutembakkan ke dinding. Tante cepat-cepat menghindar khawatir pakaiannya terciprat maniku.</p>
<p>Tubuhku tersandar ke dinding, lemas. Dari lubang penisku masih menetes maniku. Sementara Tante mencari-cari tissu dan sibuk mengelap selangkangannya. Dipakainya lagi celana dalamnya, lalu mengintip dulu sebelum dia keluar pintu kamarku. Pintu langsung kututup dan kurebahkan tubuhku ke kasur, lemas dan puas &#8230; !</p>
<p>Desiran angin kian berirama dengan bayanganku, aku masih merasa bersalah, tapi susah kulepas, karena begitu nikmatnya tubuh tante ku, istri pamanku sendiri, oohh.. tante ku cantik, aku masih ingat memek mu yang hangat, memek tante ku yang imut dan toket tante ku yang bergelayut mengundang ku menangkapnya. Tamat <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info">Cerita Dewasa</a>.</p>
<h4>Cerita Dewasa | Cerita Seks</h4>*<a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/selingkuh-dengan-tanteku.html" title="cerita sex ngentot dengan bibi di sungai">cerita sex ngentot dengan bibi di sungai</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/selingkuh-dengan-tanteku.html" title="ngentot stw belakang rumah">ngentot stw belakang rumah</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/selingkuh-dengan-tanteku.html" title="nikmatnya memek istri tetangga didesa pamanku">nikmatnya memek istri tetangga didesa pamanku</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/selingkuh-dengan-tanteku.html" title="Cerita sex selingkuh dengan tanteku">Cerita sex selingkuh dengan tanteku</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/selingkuh-dengan-tanteku.html" title="mulusnya paha tanteku">mulusnya paha tanteku</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/selingkuh-dengan-tanteku.html" title="selingkuh dengan tanteku">selingkuh dengan tanteku</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/selingkuh-dengan-tanteku.html" title="Cerita nyuci celana dalam tante">Cerita nyuci celana dalam tante</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/selingkuh-dengan-tanteku.html" title="Ngentot bu marni">Ngentot bu marni</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/selingkuh-dengan-tanteku.html" title="budeku binal seks">budeku binal seks</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/selingkuh-dengan-tanteku.html" title="memek istri om">memek istri om</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/selingkuh-dengan-tanteku.html" title="memek istri tukang cuci">memek istri tukang cuci</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/selingkuh-dengan-tanteku.html" title="memek tebal nikmat bulikku">memek tebal nikmat bulikku</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/selingkuh-dengan-tanteku.html" title="ngentot ibu stw di sungai">ngentot ibu stw di sungai</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/selingkuh-dengan-tanteku.html" title="Ngentot di tempat nyuci">Ngentot di tempat nyuci</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/selingkuh-dengan-tanteku.html" title="Ngentot dengan istri pamanku yang masih muda">Ngentot dengan istri pamanku yang masih muda</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/selingkuh-dengan-tanteku.html" title="Ngentot bude nyuci disungai">Ngentot bude nyuci disungai</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/selingkuh-dengan-tanteku.html" title="Ngentot bibi di sungai">Ngentot bibi di sungai</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/selingkuh-dengan-tanteku.html" title="istri selingkuh di ruang cuci">istri selingkuh di ruang cuci</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/selingkuh-dengan-tanteku.html" title="melihat selangkangan anak sma lg nyuci baju">melihat selangkangan anak sma lg nyuci baju</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/selingkuh-dengan-tanteku.html" title="mandi disungai dengan bude">mandi disungai dengan bude</a>*<!-- SEO SearchTerms Tagging 2 Plugin -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/selingkuh-dengan-tanteku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seks Dengan janda Beranak 1</title>
		<link>http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/seks-dengan-janda-beranak-1.html</link>
		<comments>http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/seks-dengan-janda-beranak-1.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Mar 2011 02:06:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[STW]]></category>
		<category><![CDATA[birahi janda]]></category>
		<category><![CDATA[janda beranak]]></category>
		<category><![CDATA[janda berjilbab]]></category>
		<category><![CDATA[janda binal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritadewasa.modelperawan.info/?p=201</guid>
		<description><![CDATA[Mendengar kat janda rasanya serr,,, ada terdengar nafsu birahi yang berbicara, itulah kesan sebagian orang mesum di negri ini wkwkwkwk, termasuk saya, tapi sebenarnya tidak semua janda demikian, karena janda hanya status, sifat dan kepribadian tetnu berbeda dengan status itu sendiri, janda ya janda , janda binal ya janda binal. tergantung kita menilainya. Berikut ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mendengar kat janda rasanya serr,,, ada terdengar nafsu birahi yang berbicara, itulah kesan sebagian orang mesum di negri ini wkwkwkwk, termasuk saya, tapi sebenarnya tidak semua janda demikian, karena janda hanya status, sifat dan kepribadian tetnu berbeda dengan status itu sendiri, janda ya janda , janda binal ya janda binal. tergantung kita menilainya.</p>
<p><img alt="janda jilbab" src="http://images.detik.com/content/2011/01/05/230/Aida--cov-bugil.jpg" title="janda beranak 1" class="alignnone" width="250" height="250" /><br />
Berikut ini sebenarnya <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/">cerita dewasa</a> antara aku dengan teman sekantorku yang kebetulan janda, janda beranak satu ini kebetulan juga menggunakan jilbab, tapi siapa sangka akhirnya casing menjadi casing badan bukan benteng hati, berikut cerita crot janda berjilbab berikut ini.</p>
<p>ini adalah sebuah kisah nyata yang terjadi sekitar 3 tahun yang lalu,<br />
Neng&#8230;, seperti itulah biasa aku memanggilnya, dia adalah teman sekantorku, seorang janda beranak 1 dan umurnya kira2 6-7 tahun lebih tua dariku. Wajahnya biasa saja, tubuhnya mungil dengan ukuran buah dada sedang. Apabila bekerja dia selalu menggunakan kerudung (jilbab), inilah awal ketertarikanku padanya. Perlu diketahui bahwa kadang-kadang aku berfantasi dapat merasakan kehangatan tubuh seorang wanita berjilbab.</p>
<p>Sebagai seorang janda neng nampaknya sangat haus akan belaian seorang pria, dan tampaknya dia tertarik padaku. Hal ini kuketahui dari pandangannya padaku dan cara dia memperlakukanku. Terkadang ia memandangiku dan berusaha memegang tanganku bila sedang ngobrol berdua dengannya. Sebagai seorang lelaki normal aku senang sekali dengan perlakuan seperti itu, makin hari dia makin dekat denganku, makan siang berdua, pegang2 tangan, bahkan setal beberapa lama ia tak segan2 lagi untuk mencium pipiku&#8230;bahkan bibirku.</p>
<p>Suatu hari neng tidak masuk kerja karena sakit, dan karena urusan pekerjaan aku terpaksa harus menemuinya, hari itu aku menghubunginya untuk menyanyakan keadaannya dan bertanya apakah aku dapat bertemu dia karena ada beberapa laporan yang butuh tanda-tangannya. Singkat cerita aku meluncur menuju rumahnya, dalam perjalanan aku membayangkan kira2 apa ya yang akan terjadi nanti?</p>
<p>Aku mengetuk pintu rumahnya beberapa kali, kemudian pintu rumah terbuka dan muncul anak laki2 mengenakan seragam smp, ternyata ia anak neng.<br />
&#8220;eh&#8230;om wrony, masuk om&#8230;&#8221;, sapanya sambil mempersilahkan aku masuk.<br />
&#8220;mama ada de?&#8230;, tadi om sudah telepon dan janji ketemu mama&#8230;&#8221; tanyaku.<br />
&#8220;ada, mama sedang di kamar, sebentar ya ade panggilkan&#8230;&#8221; jawabnya, kemudian ade melangkah menuju kamar neng dan berteriak &#8220;maa&#8230;.,<br />
ada tamu tuh dari kantor&#8230;om wrony&#8230;&#8221;</p>
<p>Pintu kamar terbuka dan muncullah sosok neng, wajahnya tampak berbeda dari yang sebelumnya kulihat, raut wajahnya sayu, dan perbedaanya adalah karena ia kini tidak mengenakan jilbab. Rambutnya pendek sehingga dengan jelas menampakkan lehernya yang jenjang. Saat itu Neng mengenakan kimono pink bermotif bunga.</p>
<p>&#8220;Ma, aku berangkat sekolah dulu ya&#8230;&#8221; ujar ade sambil mencium tangan Neng<br />
&#8220;Ya&#8230;, hati2 di jalan ya de&#8230;, salam dulu tuh ke om wrony&#8221; ujar neng.<br />
Ade lalu menghampiriku dan berpamitan sambil mencium tanganku, &#8220;Ade pergi dulu ya om&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Ya&#8230;&#8221;, ujarku singkat.<br />
Lalu ia berlalu meninggalkan kami berdua, otakku mulai ngeres&#8230;wah kebetulan nih ade pergi sekolah, jadi aku bisa bermesraan dengan mamanya&#8230;,<br />
namun aku berusaha menahan diri dan berkata &#8220;Gimana neng, udah enakan? maaf ya aku mengganggu, soalnya laporan ini harus masuk hari ini&#8221;<br />
&#8220;Ya..lumayan deh, tapi masih sedikit pusing, mana berkasnya biar aku tandatangani&#8221;, jawab neng sambil berjalan kearahku.</p>
<p>Kami duduk berhadapan, kemudian ia mengambil berkas yang aku sodorkan lalu mulai menandatanganinya. Karena posisi Neng agak menunduk, maka<br />
dengan jelas aku dapat melihat belahan dadanya dari sela2 kimononya yang longgar, dan ternyata neng tidak memakai bra sehingga puting buah dadanya<br />
tampak menonjol. Aku menatapnya tanpa berkedip, ukurannya memang tidak besar tapi bentuknya terlihat masih kencang dan terasa sangat menantang untuk dijelajahi.</p>
<p>&#8220;Hey&#8230;, kamu lagi liatin apa?&#8221;, ujar neng mengagetkan aku.<br />
&#8220;nggak kok, aku sedang memperhatikan tanda tanganmu&#8230;&#8221; kilahku<br />
&#8220;Tanda tangan atau payudaraku?&#8221; kata neng kemudian sambil tersenyum.<br />
&#8220;hehehe&#8230;, itu&#8230;, belahan payudaramu kelihatan sedikit&#8230;, sayang kalau aku melewatkannya&#8230;&#8221;, candaku.<br />
&#8220;ah kamu&#8230;, nih sudah selesai&#8230;&#8221;, ujar neng sambil menyodorkan kembali berkas2 padaku.<br />
&#8220;ya udah aku langsung ke kantor lagi ya&#8230;&#8221; kataku sambil memasukan berkas2 tadi kedalam tas.<br />
&#8220;Nanti dulu dong, kamu kan baru saja datang&#8230;, lagian aku mau minta tolong sedikit nih&#8221;&#8230;jawab neng sambil bergerak mendekatiku dan memegang tanganku.<br />
&#8220;Tolong pijitin aku ya wron, badanku pegal2&#8230;sakit smua.., yaa&#8230;sebentar aja..&#8221; pinta neng sambil menarik tanganku dan bergerak menuju kamarnya.</p>
<p>Bagai kerbau dicocok hidung aku menuruti saja kemauannya, sesampai di kamar dia menarik pinggangku sehingga posisi kami saling berhadap-hadapan<br />
dengan jarak yang sangat dekat, wajahnya berada sangat dekat dengan wajahku lalu kemudian bibirnya tiba2 mencium bibirku, tangannya memegang bagian belakang kepalaku dan menariknya seakan menyuruhku untuk terus mengulum bibirnya. lidahnya bermain-main di mulutku membuat nafsuku perlahan bangkit.</p>
<p>Kemudian aku menarik bibirku dan melepas ciumanku, lalu aku berkata &#8220;katanya mau pijit&#8230;kok malah ngajak cipokan?&#8221;<br />
&#8220;hehehe&#8230;abis aku kangen wron, lagian kita kan jarang2 berduaan gini&#8230;&#8221; ujarnya, kemudian dia menarik tali pengikat kimononya lalu melepas kimononya<br />
membiarkannya terjatuh dilantai, tersembullah kedua buah dada yang tadi kuintip dari luar, dan ia ternyata tidak menggunakan bra, tetapi masih menggunakan cd-nya&#8230;, bentuk tubuhnya sangat ideal, perut yang langsing, buah dada dan pantat yang masih kencang.</p>
<p>&#8220;kamu tadi ngintip ini kan?&#8230;&#8221; katanya sambil menarik tanganku ke buah dadanya, lalu meremaskan tanganku di buah dadanya itu.<br />
&#8220;ayo sekarang liat deh sepuasnya, ga usah ngintip&#8230;hihihi&#8221;<br />
tangan kananku meremas-remas buah dada kanannya dan mulutku dengan sigap menghisap puting kirinya, mencium dan menjilatinya dengan rakus, sementara tangan kiriku mulai bergerak meremas2 bongkahan pantat neng.<br />
&#8220;Sssshhh&#8230;.aahhhh&#8230;&#8221;, neng sedikit merintih ketika aku menghisap puting susunya, lalu tangannya bergerak mencari-cari retsleting celanaku, membukanya, melepaskan ikat pinggangku lalu memelorotkan celana dalamku, otomatis burungku yang telah berdiri langsung menyembul.</p>
<p>Neng merubah posisinya menjadi berjongkok, kemudian ia mencium kemaluanku, menjilati dan menghisapnya&#8230;&#8221;..arrggghhh&#8230; .enak neng&#8221;, aku melenguh keenakan&#8230;<br />
Sambil berjongkok Neng terus mengulum dan menghisap-hisap penisku, sambil tangannya meremas-remas pantatku, sebagai seorang janda nampaknya ia sangat merindukan kontol lelaki, sehingga saat menemukannya seolah ia tak mau berhenti menikmatinya&#8230;</p>
<p>Beberapa saat kubiarkan neng bermain-main dengan senjataku, bahkan aku sangat menikmati permainannya&#8230;, jilatan dan hisapannya membuat nafsuku makin tak terbendung. Aku angkat badannya dan merebahkannya di tempat tidur&#8230;, kini kami bergulat dengan posisi 69, neng berada dibawah terus mengulum dan menghisap penisku, sementara aku menjilati kemaluannya dari luar celana dalamnya yang sudah basah. kutarik cdnya dan neng mengangkat pantatnya keatas sehingga memudahkan aku untuk melepaskan cdnya&#8230;, kujilati klitoris neng dengan perlahan &#8220;ssssshhhh&#8230;.aahhhh&#8230;.&#8221; desahan neng semakin keras ketika kujilati labianya yang sudah amat basah dan berdenyut-denyut, pantatnya bergelinjang kian kemari. Denyutan di memeknya itu makin kuat seiring makin kerasnya desahan Neng, Tak lama kemudian,<br />
“Aaaahhh&#8230;.aaghh&#8230;.oohhhh&#8230; wron&#8230;..&#8221; rupanya neng sudah mendapatkan orgasme pertamanya, kurasakan cairan keluar dari memek neng&#8230;kujilati terus dan terus sehingga tidak ada yang tersisa&#8230;</p>
<p>Aku segera berbalik dan memposisikan kontolku di lubang vagina Neng. Kugesek-gesekan perlahan kepala kontolku di bibir kemaluannya, Neng menggelinjang-gelinjang seolah tak sabar untuk merasakan burungku masuk ke lubang kenikmatannya. &#8220;&#8230;shhhh..ooohhh&#8230;ayo dong wron&#8230;tunggu apa lagi&#8230;&#8221;<br />
Perlahan kumasukan kontolku ke vagina neng&#8230;, blessssshhh&#8230;.karena sudah basah maka tanpa hambatan burungku menerobos liang senggama janda berjilbab ini, kutusuk-tusuk perlahan dan mulai gerakan memompa vagina neng. &#8220;aaahhhh&#8230;ohhhh&#8230;&#8221; Neng mulai merintih-rintih merasakan kenikmatan yang sekian lama tidak pernah dirasakannya, pantatnya bergoyang-goyang bergerak mengikuti irama permainan dan tusukan kontolku ke dalam memeknya. Beberapa saat kami bercinta dalam posisi missionari ini,<br />
aku akui walaupun berpredikat sebagai seorang janda beranak satu, namun jepitan vagina neng masih terasa kuat mencengkram batang kemaluanku yang berukuran sedang, tidak terlalu besar tetapi juga tidak kecil seperti rata-rata ukuran kemaluan orang indonesia. bahkan vagina neng terasa dapat memijit mijit batang kemaluanku, sehingga kemaluanku serasa diperas oleh vaginanya.</p>
<p>Kemudian aku merubah posisi bercinta ini menjadi doggy style, kumasukkan kontolku ke vagina neng dari arah belakang sambil meremas-remas pantatnya. Dalam posisi ini aku merasakan kenikmatan yang lebih dahsyat, mungkin dikarenakan dalam posisi ini vagina neng lebih menjepit kontolku dibanding posisi missionary. Neng terus menggerakan pingulnya kedepan dan kebelakang, buah dadanya bergantung dan sesekali aku meremas dengan tanganku. &#8220;&#8230;oouugghhh&#8230;.shhhh&#8230;t erus wron&#8230;aku sudah mau keluar&#8230;.&#8221;<br />
desahan dan rintihan neng semakin menjadi membuat aku semakin bernafsu dan mempercepat irama kocokanku&#8230;&#8221;plok&#8230;plok&#8230;plo k&#8230;&#8221; suara selangkanganku yang beradu dengan pantatnya seiring gerakan pompaanku&#8230;</p>
<p>&#8220;&#8230;.aaaahhh&#8230;enak neng, memekmu luar biasa&#8230;.&#8221; aku mulai meracau merasakan sesuatu yang menjalar seolah akan meledak di ujung kepala kemaluanku, &#8220;&#8230;.ssshhh&#8230;arrrghh..&#8221;<br />
Kemudian kurubah lagi posisiku, kubalikan lagi badan neng, ku angkat kakinya sehingga menyentuh dadanya, dalam posisi ini vagina neng terlihat lebih jelas, buah dadanya dan ekspresi wajahnyapun dapat kulihat dengan jelas, kumasukan lagi kontolku sambil memegang dan menekan kedua kakinya ke bahunya, tanganku meremas-remas kedua buah dadanya yang semakin keras, bibirku mengulum bibirnya dan menyedot-nyedot lidahnya&#8230;, tusukanku semakin kupercepat dan rasanya ujung kepala kontolku telah mentok di rahimnya,<br />
Desahan neng semakin menjadi merasakan kenikmatan yang luar biasa &#8220;&#8230;.shhhhh&#8230;aaahhhh&#8230;.a yo wron aku sedikit lagi keluar&#8230;&#8221;, neng menggoyang pantat dan pinggulnya berlawanan dengan gerakan tusukan kontolku di memeknya&#8230;&#8221;aaaahhh&#8230;aahhh&#8230; &#8220;&#8230;, beberapa saat kemudian aku merasa tak kuat lagi menahan lahar yang akan kusemburkan kedalam<br />
vagina neng, seluruh tubuhku bergetar ketika merasakan sensasinya&#8230; &#8220;&#8230;oooohhhh&#8230;aku keluar neng&#8230;aahhhhh&#8230;&#8221;&#8230;, kutancapkan dalam-dalam kontolku di lubang senggama neng,<br />
neng pun merintih merasakan tumpahan lahar panasku jauh didalam liang vaginanya&#8230;&#8221; &#8230;.arrrghhhh&#8230;nikmat sekali wroooonn&#8230;.&#8221;&#8230;, akupun memeluknya erat-erat dan tak merubah posisiku beberapa saat&#8230;.&#8221;aaahhh&#8230;&#8221; burungku berkedutan melepas sisa-sisa mani dari kontolku&#8230;, setelah beberapa saat akupun melepaskan pelukanku dan berbaring disisinya&#8230;</p>
<p>&#8220;Makasih ya&#8230;&#8221;, bisik neng perlahan, kemudian ia memelukku dari samping dan kepalanya bersandar di dadaku&#8230;, kamipun terdiam sesaat&#8230;seolah terhanyut oleh lamunan kami masing2&#8230;<br />
Jujur saat itu aku termenung sekaligus gembira&#8230;karena akhirnya aku berhasil meniduri sang janda berjilbab&#8230;hehehe.</p>
<p>Aku jadi ingat video <a href="http://smabispak.info">smu bispak</a> yang juga menggunakan jilbab, ternyata jilbab bukan kepribadian nya dia menggunakannya justru karena sekolah, kesehariannya tentu tidak, inilah yang aku sesalkan, sebuah simbol agama menjadi masalah. seharunya tidak, pintar pintar kitalah menyikapi <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/panas/seks-dengan-janda-beranak-1.html">seks janda berjilbab</a>, status janda atau jilbab apalagi janda berjilbab.</p>
<h4>Cerita Dewasa | Cerita Seks</h4>*<a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/seks-dengan-janda-beranak-1.html" title="cerita janda">cerita janda</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/seks-dengan-janda-beranak-1.html" title="cerita janda anak satu dewasa">cerita janda anak satu dewasa</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/seks-dengan-janda-beranak-1.html" title="beda buah dada perawan dg janda">beda buah dada perawan dg janda</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/seks-dengan-janda-beranak-1.html" title="kutancapkan jilbab">kutancapkan jilbab</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/seks-dengan-janda-beranak-1.html" title="memek janda jilbab">memek janda jilbab</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/seks-dengan-janda-beranak-1.html" title="Memek jilbab alim anak1">Memek jilbab alim anak1</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/seks-dengan-janda-beranak-1.html" title="jilbab menggoyang kontol">jilbab menggoyang kontol</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/seks-dengan-janda-beranak-1.html" title="memek jilbab stw">memek jilbab stw</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/seks-dengan-janda-beranak-1.html" title="Muasin tetangga stw">Muasin tetangga stw</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/seks-dengan-janda-beranak-1.html" title="nafsu janda tua berjilbab">nafsu janda tua berjilbab</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/seks-dengan-janda-beranak-1.html" title="kumasukan kontolku dari belakang">kumasukan kontolku dari belakang</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/seks-dengan-janda-beranak-1.html" title="kujilati vaginanya jilbab">kujilati vaginanya jilbab</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/seks-dengan-janda-beranak-1.html" title="kugesekkan penisku wanita alim">kugesekkan penisku wanita alim</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/seks-dengan-janda-beranak-1.html" title="jilbaber haus seks">jilbaber haus seks</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/seks-dengan-janda-beranak-1.html" title="k sodorkan memek k">k sodorkan memek k</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/seks-dengan-janda-beranak-1.html" title="kehangatan tubuh janda stw">kehangatan tubuh janda stw</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/seks-dengan-janda-beranak-1.html" title="ketgihan ngentot stw jilbab nafsu besar">ketgihan ngentot stw jilbab nafsu besar</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/seks-dengan-janda-beranak-1.html" title="Kisah nyata janda haus sex">Kisah nyata janda haus sex</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/seks-dengan-janda-beranak-1.html" title="KISAH SEKS JANDA">KISAH SEKS JANDA</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/seks-dengan-janda-beranak-1.html" title="kisah sex janda beranak satu">kisah sex janda beranak satu</a>*<!-- SEO SearchTerms Tagging 2 Plugin -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/seks-dengan-janda-beranak-1.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selingkuh Dengan ibu Mertua</title>
		<link>http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/selingkuh-dengan-ibu-mertua.html</link>
		<comments>http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/selingkuh-dengan-ibu-mertua.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Mar 2011 03:04:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[STW]]></category>
		<category><![CDATA[ibu mertua]]></category>
		<category><![CDATA[ibu mertua genit]]></category>
		<category><![CDATA[ibu nertua kesepian]]></category>
		<category><![CDATA[seks ibu mertua]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritadewasa.modelperawan.info/?p=196</guid>
		<description><![CDATA[Loe yang udah nikah dan memiliki hasrat seks tinggi dan birahi yang cukup menantang, pasti ada terbesit pikiran untuk mencoba ibu mertua mu sendiri, apalagi ibu mertua cantik dan bahenol, ditambah lagi rada genit dan suka menggoda, pasti lo pade pengen juga mencoba mencicipinya, dasar otak kotor kwkwkwk, begitulah ungkapan si pembuat cerita kali ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Loe yang udah nikah dan memiliki hasrat seks tinggi dan birahi yang cukup menantang, pasti ada terbesit pikiran untuk mencoba ibu mertua mu sendiri, apalagi ibu mertua cantik dan bahenol, ditambah lagi rada genit dan suka menggoda, pasti lo pade pengen juga mencoba mencicipinya, dasar otak kotor kwkwkwk, begitulah ungkapan si pembuat cerita kali ini yang menikmati selingkuh dengan ibu mertua sendiri.</p>
<p><img class="alignnone" title="Ibu mertua" src="http://photos.friendster.com/photos/62/98/86368926/1_862574967m.jpg" alt="Mertua Binal" width="200" height="150" /><br />
Bapak mertuaku (Pak Tom, samaran) yang berusia sekitar 60 tahun baru saja pensiun dari pekerjaannya di salah satu perusahaan di Jakarta. Sebetulnya beliau sudah pensiun dari anggota ABRI ketika berumur 55 tahun, tetapi karena dianggap masih mampu maka beliau terus dikaryakan. Karena beliau masih ingin terus berkarya, maka beliau memutuskan untuk kembali ke kampungnya didaerah Malang, Jawa Timur selain untuk menghabiskan hari tuanya, juga beliau ingin mengurusi kebun Apelnya yang cukup luas.</p>
<p>Ibu mertuaku (Bu Mar, samaran) walaupun sudah berumur sekitar 45 tahun, tetapi penampilannya jauh lebih muda dari umurnya. Badannya saja tidak gemuk gombyor seperti biasanya ibu-ibu yang sudah berumur, walau tidak cantik tetapi berwajah ayu dan menyenangkan untuk dipandang. Penampilan ibu mertuaku seperti itu mungkin karena selama di Jakarta kehidupannya selalu berkecukupan dan telaten mengikuti senam secara berkala dengan kelompoknya.</p>
<p>Beberapa bulan yang lalu, aku mengambil cuti panjang dan mengunjunginya bersama Istriku (anak tunggal mertuaku) dan anakku yang baru berusia 2 tahun. Kedatangan kami disambut dengan gembira oleh kedua orang mertuaku, apalagi sudah setahun lebih tidak bertemu sejak mertuaku kembali ke kampungnya. Pertama-tama, aku di peluk oleh Pak Tom mertuaku dan istriku dipeluk serta diciumi oleh ibunya dan setelah itu istriku segera mendatangi ayahnya serta memeluknya dan Bu Mar mendekapku dengan erat sehingga terasa payudaranya mengganjal empuk di dadaku dan tidak terasa penisku menjadi tegang karenanya.</p>
<p>Dalam pelukannya, Bu Mar sempat membisikkan Sur&#8230;(namaku).., Ibu kangen sekali denganmu&#8221;, sambil menggosok-gosokkan tangannya di punggungku, dan untuk tidak mengecewakannya kubisiki juga, &#8220;Buuu&#8230;, Saya juga kangen sekali dengan Ibu&#8221;, dan aku menjadi sangat kaget ketika ibu mertuaku sambil tetap masih mendekapku membisikiku dengan kata-kata, &#8220;Suuur&#8230;, Ibu merasakan ada yang mengganjal di perut Ibu&#8221;, dan karena kaget dengan kata-kata itu, aku menjadi tertegun dan terus saling melepaskan pelukan dan kuperhatikan ibu mertuaku tersenyum penuh arti.</p>
<p>Setelah dua hari berada di rumah mertua, aku dan istriku merasakan ada keanehan dalam rumah tangga mertuaku, terutama pada diri ibu mertuaku. Ibu mertuaku selalu saja marah-marah kepada suaminya apabila ada hal-hal yang kurang berkenan, sedangkan ayah mertuaku menjadi lebih pendiam serta tidak meladeni ibu mertuaku ketika beliau sedang marah-marah dan ayah mertuaku kelihatannya lebih senang menghabiskan waktunya di kebun Apelnya, walaupun di situ hanya duduk-duduk seperti sedang merenung atau melamun. Istriku sebagai anaknya tidak bisa berbuat apa-apa dengan tingkah laku orang tuanya terutama dengan ibunya, yang sudah sangat jauh berlainan dibanding sewaktu mereka masih berada di Jakarta, kami berdua hanya bisa menduga-duga saja dan kemungkinannya beliau itu terkena post power syndrome. Karena istriku takut untuk menanyakannya kepada kedua orang tuanya, lalu Istriku memintaku untuk mengorek keterangan dari ibunya dan supaya ibunya mau bercerita tentang masalah yang sedang dihadapinya, maka istriku memintaku untuk menanyakannya sewaktu dia tidak sedang di rumah dan sewaktu ayahnya sedang ke kebun Apelnya.</p>
<p>Di pagi hari ke 3 setelah selesai sarapan pagi, istriku sambil membawa anakku, pamitan kepada kedua orang tuanya untuk pergi mengunjungi Budenya di kota Kediri, yang tidak terlalu jauh dari Malang dan kalau bisa akan pulang sore nanti.<br />
&#8220;Lho&#8230;, Mur (nama istriku), kok Mas mu nggak diajak..?&#8221;, tanya ibunya.<br />
&#8220;Laah.., nggak usahlah Buuu&#8230;, biar Mas Sur nemenin Bapak dan Ibu, wong nggak lama saja kok&#8221;, sahut istriku sambil mengedipkan matanya ke arahku dan aku tahu apa maksud kedipan matanya itu, sedangkan ayahnya hanya berpesan pendek supaya hati-hati di jalan karena hanya pergi dengan cucunya saja.</p>
<p>Tidak lama setelah istriku pergi, Pak Tompun pamitan dengan istrinya dan aku, untuk pergi ke kebun apelnya yang tidak terlalu jauh dari rumahnya sambil menambahkan kata-katanya, &#8220;Nak Suuur&#8230;, kalau nanti mau lihat-lihat kebun, susul bapak saja ke sana&#8221;. Sekarang yang di rumah hanya tinggal aku dan ibu mertuaku yang sedang sibuk membersihkan meja makan. Untuk mengisi waktu sambil menunggu waktu yang tepat untuk menjalankan tugas yang diminta oleh istriku, kugunakan untuk membaca koran lokal di ruang tamu.</p>
<p>Entah sudah berapa lama aku membaca koran, yang pasti seluruh halaman sudah kubaca semua dan tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara sesuatu yang jatuh dan diikuti dengan suara mengaduh dari belakang, dengan gerakan reflek aku segera berlari menuju belakang sambil berteriak, &#8220;Buuu&#8230;, ada apa buuu?&#8221;. Dan dari dalam kamar tidurnya kudengar suara ibu mertuaku seperti merintih, &#8220;Nak Suuur&#8230;, tolooong Ibuuu&#8221;, dan ketika kujenguk ternyata ibu mertuaku terduduk di lantai dan sepertinya habis terjatuh dari bangku kecil di dekat lemari pakaian sambil meringis dan mengaduh serta mengurut pangkal pahanya. Serta merta kuangkat ibu mertuaku ke atas tempat tidurnya yang cukup lebar dan kutidurkan sambil kutanya, &#8220;Bagian mana yang sakit Buuu&#8221;, dan ibu mertuaku menjawab dengan wajah meringis seperti menahan rasa sakit, &#8220;Di sini.., sambil mengurut pangkal paha kanannya dari luar rok yang dipakainya&#8221;.</p>
<p>Tanpa permisi lalu kubantu mengurut paha ibu mertuaku sambil kembali kutanya, &#8220;Buuu&#8230;, apa ada bagian lain yang sakit..?<br />
&#8220;Nggak ada kok Suuur&#8230;, cuman di sepanjang paha kanan ini ada rasa sakit sedikit..&#8221;, jawabnya.<br />
&#8220;Ooh&#8230;, iya nak Suuur&#8230;, tolong ambilkan minyak kayu putih di kamar ibu, biar paha ibu terasa panas dan hilang sakitnya&#8221;.<br />
Aku segera mencari minyak yang dimaksud di meja rias dan alangkah kagetku ketika aku kembali dari mengambil minyak kayu putih, kulihat ibu mertuaku telah menyingkap roknya ke atas sehingga kedua pahanya terlihat jelas, putih dan mulus. Aku tertegun sejenak di dekat tempat tidur karena melihat pemandangan ini dan mungkin karena melihat keragu-raguanku ini dan tertegun dengan mataku tertuju ke arah paha beliau, ibu mertuaku langsung saja berkata, &#8220;Ayooo..lah nak Suuur&#8230;, nggak usah ragu-ragu, kaki ibu terasa sakit sekali ini lho, lagi pula dengan ibu mertua sendiri saja kok pake sungkan sungkan&#8230;, tolong di urutkan paha ibu tapi nggak usah pakai minyak kayu putih itu&#8230;, ibu takut nanti malah paha ibu jadi kepanasan.</p>
<p>Dengan perasaan penuh keraguan, kuurut pelan-pelan paha kanannya yang terlihat ada tanda agak merah memanjang yang mungkin sewaktu terjatuh tadi terkena bangku yang dinaikinya seraya kutanya, &#8220;Bagaimana Buuu&#8230;, apa bagian ini yang sakit..?<br />
&#8220;Betul Nak Suuur&#8230;, yaa yang ituuu&#8230;, tolong urutkan yang agak keras sedikit dari atas ke bawah&#8221;, dan dengan patuh segera saja kuikuti permintaan ibu mertuaku. Setelah beberapa saat kuurut pahanya yang katanya sakit itu dari bawah ke atas, sambil memejamkan matanya, ibu mertuaku berkata kembali, &#8220;Nak Suuur&#8230;, tolong agak ke atas sedikit ngurutnya&#8221;, sambil menarik roknya lebih ke atas sehingga sebagian celana dalamnya yang berwarna merah muda dan tipis itu terlihat jelas dan membuatku menjadi tertegun dan gemetar entah kenapa, apalagi vagina ibu mertuaku itu terlihat mengembung dari luar CD-nya dan ada beberapa helai bulu vaginanya yang keluar dari samping CD-nya.</p>
<p>&#8220;Ayoo&#8230;,doong&#8230;, Nak Sur, kok ngurutnya jadi berhenti&#8221;, kata ibu mertuaku sehingga membuatku tersadar.<br />
&#8220;Iii&#8230;, yaa&#8230;, Buuu maaf, tapi&#8230;, Buuu&#8221;, jawabku agak terbata-bata dan tanpa menyelesaikan perkataanku karena agak ragu.<br />
&#8220;aah&#8230; kenapa sih Nak Suuur..?, kata ibu mertuaku kembali sambil tangan kanannya memegang tangan kiriku serta menggoncangnya pelan.<br />
&#8220;Buuu&#8230;, Saa&#8230;, yaa&#8230;, saayaa&#8221;, sahutku tanpa sadar dan tidak tahu apa yang harus kukatakan, tetapi yang pasti penisku menjadi semakin tegang karena melihat bagian CD ibu mertuaku yang menggelembung di bagian tengahnya.</p>
<p>&#8220;Nak Suuur..&#8221;, katanya lirih sambil menarik tangan kiriku dan kuikuti saja tarikan tangannya tanpa prasangka yang bukan-bukan, dan setelah tanganku diciumnya serta digeser geserkan di bibirnya, lalu secara tidak kuduga tanganku diletakkan tepat di atas vaginanya yang masih tertutup CD dan tetap dipegangnya sambil dipijat-pijatkannya secara perlahan ke vaginanya diikuti dengan desis suara ibu mertuaku, &#8220;ssshh&#8230;, ssshh&#8221;. Kejadian yang tidak kuduga sama sekali ini begitu mengagetkanku dan secara tidak sadar aku berguman agak keras.<br />
&#8220;Buuu&#8230;, Saa&#8230;yaa&#8221;, dan belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, dari mulut ibu mertuaku terdengar, &#8220;Nak Suuur&#8230;, koook seperti anak kecil saja.., siiih?&#8221;.<br />
&#8220;Buu&#8230;, Saa&#8230;, yaa&#8230;, takuuut kalau nanti bapak datang&#8221;, sahutku gemetar karena memang saat itu aku takut benar, sambil mencoba menarik tanganku tetapi tangan ibu mertuaku yang masih tetap memegang tanganku, menahannya dan bahkan semakin menekan tanganku ke vaginanya serta berkata pelan, &#8220;Nak Suuur&#8230;, Bapak pulang untuk makan siang selalu jam 1 siang nanti&#8230;, tolong Ibuuu&#8230;, naak&#8221;,terdengar seperti mengiba.</p>
<p>Sebetulnya siapa sih yang tidak mau kalau sudah seperti ini, aku juga tidak munafik dan pasti para pembaca Situs &#8220;17 Tahun.Com&#8221; pun juga tidak bisa menahan diri kalau dalam situasi seperti ini, tetapi karena ini baru pertama kualami dan apalagi dengan ibu mertuaku sendiri, tentunya perasaan takutpun pasti akan ada.<br />
&#8220;Ayooo&#8230;lah Nak Suuur&#8230;, tolongin Ibuuu&#8230;, Naak&#8221;, kudengar ibu mertuaku mengiba kembali sehingga membuatku tersadar dan tahu-tahu ibu mertuaku telah memelukku.<br />
&#8220;Buuu&#8230;, biar saya kunci pintunya dulu, yaa..?&#8221;, pintaku karena aku was-was kalau nanti ada orang masuk, tetapi ibu mertuaku malah menjawab, &#8220;Nggak usah naak&#8230;, selama ini nggak pernah ada orang pagi-pagi ke rumah Ibu&#8221;, serta terus mencium bibirku dengan bernafsu sampai aku sedikit kewalahan untuk bernafas. Semakin lama ibu mertuaku semakin tambah agresif saja, sambil tetap menciumiku, tangannya berusaha melepaskan kaos oblong yang kukenakan dan setelah berhasil melepaskan kaosku dengan mudah disertai dengan bunyi nafasnya yang terdengar berat dan cepat, ibu mertuaku terus mencium wajah serta bibirku dan perlahan-lahan ciumannya bergerak ke arah leher serta kemudian ke arah dadaku.</p>
<p>Ciuman demi ciuman ibu mertuaku ini tentu saja membuatku menjadi semakin bernafsu dan ketakutanku yang tadipun sudah tidak teringat lagi.<br />
&#8220;Buuu&#8230;, boleh saya bukaa&#8230;, rok Ibu..? tanyaku minta izin.<br />
&#8220;Suuur&#8230;, bol&#8230;, eh&#8230;, boleh&#8230;, Nak, Nak Suur&#8230;, boleh lakukan apa saja..&#8221;, katanya dengan suara terputus-putus dan terus kembali menciumi dadaku dengan nafasnya yang cepat dan sekarang malah berusaha melepas kancing celana pendek yang ada di badanku. Setelah rok ibu mertuaku terlepas, lalu kulepaskan juga kaitan BH-nya dan tersembulah payudaranya yang tidak begitu besar dan sudah agak menggelantung ke bawah dengan puting susunya yang besar kecoklatan. Sambil kuusapkan kedua tanganku ke bagian bawah payudaranya lalu kutanyakan, &#8220;Buuu&#8230;, boleh saya pegang dan ciumi tetek&#8230;, Ibuu..?<br />
&#8220;Bool&#8230;, eh&#8230;, boleh&#8230;, sayang.., lakukan apa saja yang Nak Sur mau.., Ibu sudah lama sekali tidak mendapatkan ini lagi dari bapakmu&#8230;, ayoo.., sayaang&#8221;, sahut ibu mertuaku dengan suara terbata-bata sambil mengangkat dadanya dan perlahan-lahan kupegang kedua payudara ibu mertuaku dan salah satu puting susunya langsung kujilati dan kuhisap-hisap, serta pelan-pelan kudorong tubuh ibu mertuaku sehingga jatuh tertidur di kasur dan dari mulut ibu mertuaku terdengar, &#8220;ssshh&#8230;, aahh.., sayaang&#8230;, ooohh&#8230;, teruuus&#8230;, yaang&#8230;, tolong puasiiin Ibuu&#8230;, Naak&#8221;, dan suara ibu mertuaku yang terdengar menghiba itu menjadikanku semakin terangsang dan aku sudah lupa kalau yang kugeluti ini adalah ibu mertuaku sendiri dan ibu dari istriku.</p>
<p>&#8220;Naak Suuur&#8221;, kudengar suara ibu mertuaku yang sedang meremas-remas rambut di kepalaku serta menciuminya, &#8220;Ibuu&#8230;, ingin melihat punyamu&#8230;, Naak&#8221;, seraya tangannya berusaha memegang penisku yang masih tertutup celana pendekku.<br />
&#8220;Iyaa&#8230;, Buu&#8230;, saya buka celana dulu Buuu&#8221;, sahutku setelah kuhentikan hisapanku pada payudaranya serta segera saja aku bangkit dan duduk di dekat muka ibu mertuaku. Segera saja ibu mertuaku memegang penisku yang sedang berdiri tegang dari luar celana dan berkomentar, &#8220;Nak Suur&#8230;, besar betuuul&#8230;, dan keras lagi, ayooo&#8230;, dong cepaat.., dibuka celananya&#8230;, agar Ibu bisa melihatnya lebih jelas&#8221;, katanya seperti sudah tidak sabar lagi, dan tanpa disuruh ibu untuk kedua kalinya, langsung saja kulepas celana pendek yang kukenakan.</p>
<p>Ketika aku membuka CD-ku serta melihat penisku berdiri tegang ke atas, langsung saja ibu mertuaku berteriak kecil, &#8220;Aduuuh&#8230;, Suuur&#8230;, besaar sekali&#8221;, padahal menurut anggapanku ukuran penisku sepertinya wajar saja menurut ukuran orang Indonesia tapi mungkin saja lebih besar dari punya suaminya dan ibu mertuaku langsung saja memegangnya serta mengocoknya pelan-pelan sehingga tanpa kusadari aku mengeluarkan desahan kecil, &#8220;ssshh&#8230;, aahh&#8221;, sambil kedua tanganku kuusap-usapkan di wajah dan rambutnya.</p>
<p>&#8220;Aduuuh&#8230;, Buuu&#8230;, sakiiit&#8221;, teriakku pelan ketika ibu mertuaku berusaha menarik penisku ke arah wajahnya, dan mendengar keluhanku itu segera saja ibu mertuaku melepas tarikannya dan memiringkan badannya serta mengangkat separuh badannya yang ditahan oleh tangan kanannya dan kemudian mendekati penisku. Setelah mulutnya dekat dengan penisku, langsung saja ibu mertuaku mengeluarkan lidahnya serta menjilati kepala penisku sedangkan tangan kirinya meremas-remas pelan kedua bolaku, sedangkan tangan kiriku kugunakan untuk meremas-remas rambutnya serta sekaligus untuk menahan kepala ibu mertuaku. Tangan kananku kuremas-remaskan pada payudaranya yang tergantung ke samping.</p>
<p>Setelah beberapa kali kepala penisku dijilatinya, pelan-pelan kutarik kepala ibu mertuaku agar bisa lebih dekat lagi ke arah penisku dan rupanya ibu mertuaku cepat mengerti apa yang kumaksud dan walaupun tanpa kata-kata langsung saja kepalanya didekatkan mengikuti tarikan kedua tanganku dan sambil memegangi batang penisku serta dengan hanya membuka mulutnya sedikit, ibu mertuaku secara pelan-pelan memasukkan penisku yang sudah basah oleh air liurnya sampai setengah batang penisku masuk ke dalam mulutnya. Kurasakan lidah ibu mertuaku dipermainkannya dan digesek-gesekannya pada kepala penisku, setelah itu kepala ibu ditariknya mundur pelan-pelan dan kembali dimajukan sehingga penisku terasa sangat nikmat. Karena tidak tahan menahan kenikmatan yang di berikan ibu mertuaku, aku jadi mendesis, &#8220;ssshh&#8230;, aacccrrr&#8230;, ooohh&#8221;, mengikuti irama maju mundurnya kepala ibu. Makin lama gerakan kepala ibu mertuaku maju mundur semakin cepat dan ini menambah nikmat bagiku.</p>
<p>Beberapa menit kemudian, ibu mertuaku secara tiba-tiba melepaskan penisku dari mulutnya, padahal aku masih ingin hal ini terus berlangsung dan sambil kembali menaruh kepalanya di tempat tidur, dia menarik bahuku untuk mengikutinya. Ibu langsung mencium wajahku dan ketika ciumannya mengarah ke telingaku, kudengar ibu berkata dengan agak berbisik, &#8220;Naak Suuur&#8230;, Ibu juga kepingin punya ibu dijilati&#8221;, dan sambil kunaiki tubuh ibu mertuaku lalu kutanyakan, &#8220;Buuu&#8230;, apa boleh&#8230;, saya lakukan?&#8221;, dan segera saja ibu menjawabnya, &#8220;Nak Suuur&#8230;, tolong pegang dan jilati kepunyaan ibu&#8230;, naak&#8230;, ibu sudah lama kepingin di gituin&#8221;.</p>
<p>Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, aku menurunkan badanku secara perlahan-lahan dan ketika melewati dadanya kembali kuciumi serta kujilati payudara ibu mertuaku yang sudah tidak terlalu keras lagi, setelah beberapa saat kuciumi payudara ibu, aku segera menurunkan badanku lagi secara perlahan sedangkan ibu mertuaku meremas-remas rambutku, juga terasa seperti berusaha mendorong kepalaku agar cepat-cepat sampai ke bawah. Kuciumi dan kujilati perut dan pusar ibu sambil salah satu tanganku kugunakan untuk menurunkan CD-nya. Kemudian dengan cekatan ku lepas CD-nya dan kulemparkan ke atas lantai. Kulihat vagina ibu mertuaku begitu lebat ditumbuhi bulu-bulu yang hitam mengitari liang vaginanya. Mungkin karena terlalu lama aku menjilati perut dan sekitarnya, kembali kurasakan tangan ibu yang ada di kepalaku menekan ke bawah dan kali ini kuikuti dengan menurunkan badanku pelan-pelan ke bawah dan sesampainya di dekat vaginanya, kuciumi daerah di sekitarnya dan apa yang kulakukan ini mungkin menyebabkan ibu tidak sabaran lagi, sehingga kudengar suara ibu mertuaku, &#8220;Nak Suuur&#8230;, tolooong&#8230;, cepaat&#8230;, saa.., yaang&#8230;, ayooo&#8230;, Suuur&#8221;.</p>
<p>Tanpa kujawab permintaannya, aku mulai melebarkan kakinya dan kuletakkan badanku di antara kedua pahanya, lalu kusibak bulu vaginanya yang lebat itu untuk melihat belahan vagina ibu dan setelah bibir vagina ibu terlihat jelas lalu kubuka bibir kemaluannya dengan kedua jari tanganku, ternyata vagina ibu mertuaku telah basah sekali. Ketika ujung lidahku kujilatkan ke dalam vaginanya, kurasakan tubuh ibu menggelinjang agak keras sambil berkata, &#8220;Cepaat&#8230;, Suuur&#8230;, ibu sudah nggak tahaan&#8221;.</p>
<p>Dengan cepat kumasukkan mulut dan lidahku ke dalam vaginanya sambil kujilati dan kusedot-sedot dan ini menyebabkan ibu mulai menaik-turunkan pantatnya serta bersuara, &#8220;ssshh&#8230;, aahh&#8230;, Suuur&#8230;, teruuus&#8230;, adduuuhh&#8230;, enaak&#8230;, Suuur&#8221;, Lalu kukecup clitorisnya berulang kali hingga mengeras, hal ini membuat ibu mertuaku menggelinjang hebat, &#8220;Aahh&#8230;, ooohh&#8230;, Suuur&#8230;, betuuul&#8230;, yang itu&#8230;, Suuur&#8230;, enaak&#8230;, aduuuh&#8230;, Suuur&#8230;, teruskaan&#8230;, aahh&#8221;, sambil kedua tangannya menjambak rambutku serta menekan kepalaku lebih dalam masuk ke vaginanya. Kecupan demi kecupan di vagina ibu ini kuteruskan sehingga gerakan badan ibu mertuaku semakin menggila dan tiba-tiba kudengar suara ibu setengah mengerang, &#8220;aahh&#8230;, oooh&#8230;, duuuh&#8230;, Suuur&#8230;, ibuu&#8230;, mau.., mauuu&#8230;, sampaiii&#8230;, Naak&#8230;, oooh&#8221;, disertai dengan gerakan pantatnya naik turun secara cepat.</p>
<p>Gerakan badannya terhenti dan yang kudengar adalah nafasnya yang menjadi terengah-engah dengan begitu cepatnya dan tangannyapun sudah tidak meremas-remas rambutku lagi, sementara itu jilatan lidahku di vagina ibu hanya kulakukan sekedarnya di bagian bibirnya saja. Dengan nafasnya yang masih memburu itu, tiba-tiba ibu mertuaku bangun dan duduk serta berusaha menarik kepalaku seraya berkata, &#8220;Naak Suuur&#8230;, ke siniii&#8230;, saayaang&#8221;, dan tanpa menolak kuikuti saja tarikan tangan ibu, ketika kepalaku sudah di dekat kepalanya, ibu mertuaku langsung saja memelukku seraya berkata dengan suara terputus-putus karena nafasnya yang masih memburu, &#8220;Suuur&#8230;, Ibu puas dengan apa yang Nak Suuur&#8230;, lakukan tadi, terima kasiih&#8230;, Naak&#8221;. Ibu mertuaku bertubi-tubi mencium wajahku dan kubalas juga ciumannya dengan menciumi wajahnya sambil kukatakan untuk menyenangkan hatinya, &#8220;Buuu&#8230;, saya sayang Ibuuu&#8230;, saya ingin ibu menjadi&#8230;, puu..aas&#8221;.</p>
<p>Setelah nafas ibu sudah kembali normal dan tetap saja masih menciumi seluruh wajahku dan sesekali bibirku, dia berkata, &#8220;Naak Suuur&#8230;, Ibu masih belum puas sekali&#8230;, Suuur&#8230;, tolooong puasin ibu sampai benar-benar puaas&#8230;, Naak&#8221;, seraya kurasakan ibu merenggangkan kedua kakinya. Karena aku masih belum memberikan reaksi atas ucapannya itu, karena tiba-tiba aku terpikir akan istriku dan yang kugeluti ini adalah ibu kandungnya, aku menjadi tersadar ketika ibu bersuara kembali, &#8220;Sayaang&#8230;, ayooo&#8230;, tolooong Ibu dipuasin lagi Suuur, tolong masukkan punyamu yang besar itu ke punya ibu&#8221;.<br />
&#8220;Buuu&#8230;, seharusnya saya tidak boleh melakukan ini&#8230;, apalagi kepada Ibuu&#8221;,sahutku di dekat telinganya.<br />
&#8220;Suuur&#8230;, nggak apa-apa&#8230;, Naak&#8230;, Ibu yang kepingin, lakukanlah Naak&#8230;, lakukan sampai Ibu benar-benar puas Suuur&#8221;, katanya dengan suara setengah mengiba.</p>
<p>&#8220;aahh&#8230;, biarlah, kenapa kutolak&#8221;, pikirku dan tanpa membuang waktu lagi aku lalu mengambil ancang-ancang dan kupegang penisku serta kuusap-usapkan di belahan bibir vagina ibu mertuaku yang sudah sedikit terbuka. Sambil kucium telinga ibu lalu kubisikkan, &#8220;Buuu&#8230;, maaf yaa&#8230;., saya mau masukkan sekarang, boleh?&#8221;.<br />
&#8220;Suur&#8230;, cepat masukkan, Ibu sudah kepingin sekali Naak&#8221;, sahutnya seperti tidak sabar lagi dan tanpa menunggu ibu menyelesaikan kalimatnya aku tusukkan penisku ke dalam vaginanya, mungkin entah tusukan penisku terlalu cepat atau karena ibu katanya sudah lama tidak pernah digauli oleh suaminya langsung saja beliau berteriak kecil, &#8220;Aduuuh&#8230;, Suuur&#8230;, pelan-pelan saayaang&#8230;, ibu agak sakit niiih&#8221;, katanya dengan wajah yang agak meringis mungkin menahan rasa kesakitan. Kuhentikan tusukan penisku di vaginanya, &#8220;Maaf Buu&#8230;, saya sudah menyakiti Ibu&#8230;, maaf ya Bu&#8221;. Ibu mertuaku kembali menciumku, &#8220;Tidak apa-apa Suuur&#8230;, Ibu cuma sakit sedikit saja kok, coba lagi Suur..&#8221;, sambil merangkulkan kedua tangannya di pungungku.</p>
<p>&#8220;Buuu&#8230;, saya mau masukkan lagi yaa dan tolong Ibu bilang yaa&#8230;, kalau ibu merasa sakit&#8221;, sahutku. Tanpa menunggu jawaban ibu segera saja kutusukkan kembali penisku tetapi sekarang kulakukan dengan lebih pelan. Ketika kepala penisku sudah menancap di lubang vaginanya, kulihat ibu sedikit meringis tetapi tidak mengeluarkan keluhan, &#8220;Buuu&#8230;, sakit.., yaa?&#8221;. Ibu hanya menggelengkan kepalanya serta menjawab, &#8220;Suuur&#8230;, masukkan saja sayaang&#8221;, sambil kurasakan kedua tangan ibu menekan punggungku. Aku segera kembali menekan penisku di lubang vaginanya dan sedikit terasa kepala penisku sudah bisa membuka lubang vaginanya, tetapi kembali kulihat wajah ibu meringis menahan sakit. Karena ibu tidak mengeluh maka aku teruskan saja tusukan penisku dan, &#8220;Bleess&#8221;, penisku mulai membongkar masuk ke liang vaginanya diikuti dengan teriakan kecil, &#8220;Aduuuh&#8230;, Suuur&#8221;, sambil menengkeramkan kedua tangannya di punggungku dan tentu saja gerakan penisku masuk ke dalam vaginanya segera kutahan agar tidak menambah sakit bagi ibu.<br />
&#8220;Buuu&#8230;, sakit yaa..? maaf ya Buuu&#8221;. Ibu mertuaku hanya menggelengkan kepalanya.<br />
&#8220;Enggak kok sayaang&#8230;, ibu hanya kaget sedikit saja&#8221;, lalu mencium wajahku sambil berucap kembali, &#8220;Suuur&#8230;, besar betul punyamu itu&#8221;.</p>
<p>Pelan-pelan kunaik-turunkan pantatku sehingga penisku yang terjepit di dalam vaginanya keluar masuk dan ibupun mulai menggoyang-goyangkan pantatnya pelan-pelan sambil berdesah, &#8220;ssshh&#8230;, oooh&#8230;, aahh&#8230;, sayaang&#8230;, nikmat&#8230;, teruuuskan&#8230;, Naak&#8221;, katanya seraya mempercepat goyangan pantatnya. Akupun sudah mulai merasakan enaknya vaginan ibu dan kusahut desahannya, &#8220;Buuu&#8230;, aahh&#8230;, punyaa Ibu juga nikmat, buuu&#8221;, sambil kuciumi pipinya.</p>
<p>Makin lama gerakanku dan ibu semakin cepat dan ibupun semakin sering mendesah, &#8220;Aah&#8230;, Suuurr&#8230;, ooh&#8230;, teruus&#8230;, Suur&#8221;. Ketika sedang nikmat-enaknya menggerakkan penisku keluar masuk vaginanya, ibu menghentikan goyangan pantatnya. Aku tersentak kaget, &#8220;Buuu&#8230;, kenapa? apa ibu capeeek?&#8221;, Ibu hanya menggelengkan kepalanya saja, sambil mencium leherku ibu berucap, &#8220;Suuur&#8230;, coba hentikan gerakanmu itu sebentar&#8221;.<br />
&#8220;Ada apa Buuu&#8221;, sahutku sambil menghentikan goyangan pantatku naik turun.<br />
&#8220;Suuur&#8230;, kamu diam saja dan coba rasakan ini&#8221;, kata ibu tanpa menjelaskan apa maksudnya dan tidak kuduga tiba-tiba terasa penisku seperti tersedot dan terhisap di dalam vagina ibu mertuaku, sehingga tanpa sadar aku mengatakan, &#8220;Buuu&#8230;, aduuuh&#8230;, enaak&#8230;, Buu&#8230;, teruus Bu, oooh&#8230;, nikmat Buu&#8221;, dan tanpa sadar, aku kembali menggerakkan penisku keluar masuk dengan cepat dan ibupun mulai kembali menggoyangkan pantatnya.<br />
&#8220;oooh&#8230;, aah&#8230;, Suuur&#8230;, enaak Suuur&#8221;, dan nafasnya dan nafaskupun semakin cepat dan tidak terkontrol lagi.</p>
<p>Mengetahui nafas Ibu serta goyangan pantat Ibu sudah tidak terkontrol lagi, aku tidak ingin ibu cepat-cepat mencapai orgasmenya, lalu segera saja kuhentikan gerakan pantatku dan kucabut penisku dari dalam vaginanya yang menyebabkan ibu mertuaku protes, &#8220;Kenapa&#8230;, Suuur&#8230;, kok berhenti?&#8221;, tapi protes ibu tidak kutanggapi dan aku segera melepaskan diri dari pelukannya lalu bangun.</p>
<p>Tanpa bertanya, lalu badan ibu mertuaku kumiringkan ke hadapanku dan kaki kirinya kuangkat serta kuletakkan di pundakku, sedangkan ibu mertuaku hanya mengikuti saja apa yang kulakukan itu. Dengan posisi seperti ini, segera saja kutusukkan kembali penisku masuk ke dalam vagina ibu mertuaku yang sudah sangat basah itu tanpa kesulitan. Ketika seluruh batang penisku sudak masuk semua ke dalam vaginanya, segera saja kutekan badanku kuat-kuat ke badan ibu sehingga ibu mulai berteriak kecil, &#8220;Suuur&#8230;, aduuuh&#8230;, punyamu masuk dalam sekali&#8230;, naak&#8230;, aduuuh&#8230;, teruuus sayaang&#8230;, aah&#8221;, dan aku meneruskan gerakan keluar masuk penisku dengan kuat. Setiap kali penisku kutekan dengan kuat ke dalam vagina ibu mertuaku, ibu terus saja berdesah, &#8220;Ooohh&#8230;, aahh&#8230;, Suuur&#8230;, enaak&#8230;, terus, tekan yang kuaat sayaang&#8221;.</p>
<p>Aku tidak berlama-lama dengan posisi seperti ini. Kembali kehentikan gerakanku dan kucabut penisku dari dalam vaginanya. Kulihat ibu hanya diam saja tanpa protes lagi dan lalu kukatakan pada ibu, &#8220;Buuu&#8230;, coba ibu tengkurap dan nungging&#8221;, kataku sambil kubantu membalikkan badan dan mengatur kaki ibu sewaktu nungging, &#8220;Aduuh&#8230;, Suuur&#8230;, kamu kok macem-macem sih&#8221;, komentar Ibu mertuaku. Aku tidak menanggapi komentarnya dan tanpa kuberi aba-aba penisku kutusukkan langsung masuk ke dalam vagina ibu serta kutekan kuat-kuat dengan memegang pinggangnya sehingga ibu berteriak, &#8220;Aduuuh Suuur, oooh&#8221;, dan tanpa kupedulikan teriakan ibu, langsung saja kukocok penisku keluar masuk vaginanya dengan cepat dan kuat hingga membuat badan ibu tergetar ketika sodokanku menyentuh tubuhnya dan setiap kali kudengar ibu berteriak, &#8220;oooh&#8230;, oooh&#8230;, Suuur&#8221;, dan tidak lama kemudian ibu mengeluh lagi, &#8220;Suuur&#8230;, Ibu capek Naak&#8230;, sudaah Suuur&#8230;, Ibuu capeeek&#8221;, dan tanpa kuduga ibu lalu menjatuhkan dirinya tertidur tengkurap dengan nafasnya yang terengah-engah, sehingga mau tak mau penisku jadi keluar dari vaginanya.</p>
<p>Tanpa mempedulikan kata-katanya, segera saja kubalik badan ibu yang jatuh tengkurap. Sekarang sudah tidur telentang lagi, kuangkat kedua kakinya lalu kuletakkan di atas kedua bahuku. Ibu yang kulihat sudah tidak bertenaga itu hanya mengikuti saja apa yang kuperbuat. Segera saja kumasukkan penisku dengan mudah ke dalam vagina ibu mertuaku yang memang sudah semakin basah itu, kutekan dan kutarik kuat sehingga payudaranya yang memang sudah aggak lembek itu terguncang-guncang. Ibu mertuaku nafasnya terdengar sangat cepat, &#8220;Suuur&#8230;, jangaan&#8230;, kuat-kuat Naak&#8230;, badan ibu sakit semua&#8221;, sambil memegang kedua tanganku yang kuletakkan di samping badannya untuk menahan badanku.</p>
<p>Mendengar kata-kata ibu mertuaku, aku menjadi tersadar dan teringat kalau yang ada di hadapanku ini adalah ibu mertuaku sendiri dan segera saja kehentikan gerakan penisku keluar masuk vaginanya serta kuturunkan kedua kaki ibu dari bahuku dan langsung saja kupeluk badan ibu serta kuucapkan, &#8220;Maaf&#8230;, Buu&#8230;, kalau saya menyakiti Ibu, saya akan mencoba untuk pelan-pelan&#8221;, segera saja ibu berucap, &#8220;Suuur nggak apa-apa Nak, tapi Ibu lebih suka dengan posisi seperti ini saja, ayoo&#8230;, Suuur mainkan lagi punyamu agar ibu cepat puaas&#8221;.<br />
&#8220;Iyaa&#8230;, Buuu&#8230;, saya akan coba lagi&#8221;, sahutku sambil kembali kunaik-turunkan pantatku sehingga penisku keluar masuk vagina ibu dan kali ini aku lakukan dengan hati-hati agar tidak menyakiti badan ibu, dan ibu mertuakupun sekarang sudah mulai menggoyangkan pantatnya serta sesekali mempermainkan otot-otot di vaginanya, sehingga kadang-kadang terasa penisku terasa tertahan sewaktu memasuki liang vaginanya.</p>
<p>Ketika salah satu payudara ibu kuhisap-hisap puting susunya yang sudah mengeras itu, ibu mertuaku semakin mempercepat goyangan pinggulnya dan terdengar desahannya yang agak keras diantara nafasnya yang sudah mulai memburu, &#8220;ooohh&#8230;, aahh&#8230;, Suuur&#8230;, teruuus&#8230;, oooh&#8221;, seraya meremas-remas rambutku lebih keras. Akupun ikut mempercepat keluar masuknya penisku di dalam vaginanya.</p>
<p>Goyangan pinggul ibu mertuakupun semakin cepat dan sepertinya sudah tidak bisa mengontrol dirinya lagi. Disertai nafasnya yang semakin terengah-engah dan kedua tangannya dirangkulkan ke punggungku kuat-kuat, ibu mengatakan dengan terbata-bata, &#8220;Nak Suuur&#8230;, aduuuh&#8230;, Ibuuu&#8230;, sudaah&#8230;, oooh&#8230;, mauuu kelluaar&#8221;. Aku sulit bernafas karena punggungku dipeluk dan dicengkeramnya dengan kuat dan kemudian ibu mertuaku menjadi terdiam, hanya nafasnya saja yang kudengar terengah-engah dengan keras dan genjotan penisku keluar masuk vaginanya. Untuk sementara aku hentikan untuk memberikan kesempatan pada ibu menikmati orgasmenya sambil kuciumi wajahnya, &#8220;Bagaimana&#8230;, Buuu?, mudah-mudahan ibu cukup puas.</p>
<p>Ibu mertuaku tetap masih menutup matanya dan tidak segera menjawab pertanyaanku, yang pasti nafas ibu masih memburu tetapi sudah mulai berkurang dibanding sebelumnya. Karena ibu masih diam, aku menjadi sangat kasihan dan kusambung pertanyaanku tadi di dekat telinganya, &#8220;Buu&#8230;, saya tahu ibu pasti capek sekali, lebih baik ibu istirahat dulu saja.., yaa?&#8221;, seraya aku mulai mengangkat pantatku agar penisku bisa keluar dari vagina ibu yang sudah sangat basah itu. Tetapi baru saja pantatku ingin kuangkat, ternyata ibu mertuaku cepat-cepat mencengkeram pinggulku dengan kedua tangannya dan sambil membuka matanya, memandang ke wajahku, &#8220;Jangaan&#8230;, Suuur&#8230;, jangan dilepas punyamu itu, ibu diam saja karena ingin melepaskan lelah sambil menikmati punyamu yang besar itu mengganjal di tempat ibuuu, jangaan dicabut dulu&#8230;, yaa&#8230;, sayaang&#8221;, terus kembali menutup matanya.</p>
<p>Mendengar permintaan ibu itu, aku tidak jadi mencabut penisku dari dalam vagina ibu dan kembali kujatuhkan badanku pelan-pelan di atas badan ibu yang nafasnya sekarang sudah kelihatan mulai agak teratur, sambil kukatakan, &#8220;Tidaak&#8230;, Buuu&#8230;, saya tidak akan mencabutnya, saya juga masih kepingin terus seperti ini&#8221;, sambil kurangkul leher ibu dengan tangan kananku. Ibu hanya diam saja dengan pernyataanku itu, tetapi tiba-tiba penisku yang sejak tadi kudiamkan di dalam vaginanya terasa seperti dijepit dan tersedot vagina ibu mertuaku, dan tanpa sadar aku mengaduh, &#8220;Aduuuh&#8230;, oooh&#8230;, Buuu&#8221;.<br />
&#8220;Kenapa&#8230;, sayaang&#8230;, enaak yaa?&#8221;, sahut ibu sambil mencium bibirku dengan lembut dan sambil kucium hidungnya kukatakan, &#8220;Buuu&#8230;, enaak sekaliii&#8221;, dan seperti tadi, sewaktu ibu mertuaku mula-mula menjepit dan menyedot penisku dengan vaginanya, secara tidak sengaja aku mulai menggerakkan lagi penisku keluar masuk vaginanya dan ibu mertuakupun kembali mendesah, &#8220;oooh&#8230;, aah&#8230;, Suuur&#8230;, teruuus&#8230;, naak&#8230;, aduuuh&#8230;, enaak sekali&#8221;.</p>
<p>Semakin lama gerakan pinggul ibu semakin cepat dan kembali kudengar nafasnya semakin lama semakin memburu. Gerakan pinggul ibu kuimbangi dengan mempercepat kocokan penisku keluar masuk vaginanya. Makin lama aku sepertinya sudah tidak kuat untuk menahan agar air maniku tetap tidak keluar, &#8220;Buuu&#8230;, sebentar lagi&#8230;, sayaa&#8230;, sudaah&#8230;, mau keluaar&#8221;, sambil kupercepat penisku keluar masuk vaginanya dan mungkin karena mendengar aku sudah mendekati klimaks, ibu mertuakupun semakin mempercepat gerakan pinggulnya serta mempererat cengkeraman tangannya di punggungku seraya berkata, &#8220;Suuur&#8230;, teruuuss&#8230;, Naak&#8230;, Ibuuu&#8230;, jugaa&#8230;, sudah dekat, ooohh&#8230;, ayooo Suuur&#8230;, semprooot Ibuu dengan airmuu&#8230;, sekaraang&#8221;.<br />
&#8220;Iyaa&#8230;, Buuu&#8230;, tahaan&#8221;, sambil kutekan pantatku kuat-kuat dan kami akhiri teriakan itu dengan berpelukan sangat kuat serta tetap kutekan penisku dalam-dalam ke vagina ibu mertuaku. Dalam klimaksnya terasa vagina ibu memijat penisku dengan kuat dan kami terus terdiam dengan nafas terengah-engah.</p>
<p>Setelah nafas kami berdua agak teratur, lalu kucabut penisku dari dalam vagina ibu dan kujatuhkan badanku serta kutarik kepala ibu mertuaku dan kuletakkan di dadaku.Setelah nafasku mulai teratur kembali dan kuperhatikan nafas ibupun begitu, aku jadi ingat akan tugas yang diberikan oleh istriku.<br />
&#8220;Buuu&#8230;, apa ini yang menyebabkan ibu selalu marah-marah pada Bapak..?&#8221;, tanyaku.<br />
&#8220;Mungkin saja Suuur&#8230;, kenapa Suuur?&#8221;, Sahutnya sambil tersenyum dan mencium pipiku.<br />
&#8220;Buuu&#8230;, kalau benar, tolong ibu kurangi marah-marahnya kepada Bapak, kasihan dia&#8221;, ibu hanya diam dan seperti berfikir.<br />
Setelah diam sebentar lalu kukatakan, &#8220;Buuu&#8230;, sudah siang lho, seraya kubangunkan tubuh ibu serta kubimbing ke kamar mandi.</p>
<p>Setelah peristiwa ini terjadi, ibu seringkali mengunjungi rumah kami dengan alasan kangen cucu dan anaknya Mur, tetapi kenyataannya ibu mertuaku selalu mengontakku melalui telepon di kantor dan meminta jatahnya di suatu motel untuk mendapatkan ritual <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/">Cerita Dewasa</a> seperti Biasanya. , sebelum menuju ke rumahku. Untungnya sampai sekarang Istriku tidak curiga, hanya saja dia merasa aneh, karena setiap bulannya ibunya selalu mengunjung rumah kami.</p>
<p>Sebenarnya aku takut untuk melanjutkan statsus selingkuh dengan ibu mertua, tapi apa daya, nafsu birahi kami berdua sangat kuat, ada penyesalan dan sangat menyesal dan takut yang sangat jika jika istriku tau hubungan kami yang diluar batas kewajaran.</p>
<h4>Cerita Dewasa | Cerita Seks</h4>*<a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/selingkuh-dengan-ibu-mertua.html" title="selingkuh dengan mertua">selingkuh dengan mertua</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/selingkuh-dengan-ibu-mertua.html" title="Cerita sex dengan ibu kos">Cerita sex dengan ibu kos</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/selingkuh-dengan-ibu-mertua.html" title="Cerita seks dewasa stw">Cerita seks dewasa stw</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/selingkuh-dengan-ibu-mertua.html" title="Cerita selingkuh stw">Cerita selingkuh stw</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/selingkuh-dengan-ibu-mertua.html" title="kumpulan cerita selingkuh dengan mertua">kumpulan cerita selingkuh dengan mertua</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/selingkuh-dengan-ibu-mertua.html" title="cerita selingkuh ibu mertua">cerita selingkuh ibu mertua</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/selingkuh-dengan-ibu-mertua.html" title="ngentot mertua di kebun">ngentot mertua di kebun</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/selingkuh-dengan-ibu-mertua.html" title="Ngentot jangandilepas">Ngentot jangandilepas</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/selingkuh-dengan-ibu-mertua.html" title="ngentot emak yang lagi sakit">ngentot emak yang lagi sakit</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/selingkuh-dengan-ibu-mertua.html" title="Ngentot Bol">Ngentot Bol</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/selingkuh-dengan-ibu-mertua.html" title="mertuaku yang sangat menggoda">mertuaku yang sangat menggoda</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/selingkuh-dengan-ibu-mertua.html" title="Mertuaku selingkuh denganku">Mertuaku selingkuh denganku</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/selingkuh-dengan-ibu-mertua.html" title="mertua stw ngliat kontolku">mertua stw ngliat kontolku</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/selingkuh-dengan-ibu-mertua.html" title="Menikmati seks dgn ibu mertua">Menikmati seks dgn ibu mertua</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/selingkuh-dengan-ibu-mertua.html" title="ibu mertua mengocokku">ibu mertua mengocokku</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/selingkuh-dengan-ibu-mertua.html" title="kumpulan cerita sex ibu mertua selingkuh">kumpulan cerita sex ibu mertua selingkuh</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/selingkuh-dengan-ibu-mertua.html" title="Ibu Mertua yang bahenol">Ibu Mertua yang bahenol</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/selingkuh-dengan-ibu-mertua.html" title="kumpulan cerita sex ibu ibu rumahtangga stw">kumpulan cerita sex ibu ibu rumahtangga stw</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/selingkuh-dengan-ibu-mertua.html" title="Kumpulan cerita selingkuh ibu mertua saat suaminya tidur">Kumpulan cerita selingkuh ibu mertua saat suaminya tidur</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/selingkuh-dengan-ibu-mertua.html" title="kisah selingkuh dgn ibu mertua">kisah selingkuh dgn ibu mertua</a>*<!-- SEO SearchTerms Tagging 2 Plugin -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/selingkuh-dengan-ibu-mertua.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gairah janda 35 Tahun</title>
		<link>http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/gairah-janda-35-tahun.html</link>
		<comments>http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/gairah-janda-35-tahun.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Mar 2011 02:26:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[STW]]></category>
		<category><![CDATA[janda 35 tahun]]></category>
		<category><![CDATA[janda binal]]></category>
		<category><![CDATA[janda cantik]]></category>
		<category><![CDATA[janda genit]]></category>
		<category><![CDATA[janda kesepian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritadewasa.modelperawan.info/?p=194</guid>
		<description><![CDATA[Ketika Orang birahi tentu gairahnya tak bisa dibendung, apalagi birahi janda kesepian susah sekali dibendung karena tak memiliki tempat untuk melampiaskan nafsu nya. Cerita dewasa ku kali ini tentang aku dan janda yang sudah lama tak pernah mendapatkan sentuhan atau belaian alias janda jablay. jarang di belai bernama mbak atik. Mbak Atik adalah tetangga depan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika Orang birahi tentu gairahnya tak bisa dibendung, apalagi birahi janda kesepian susah sekali dibendung karena tak memiliki tempat untuk melampiaskan nafsu nya. <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info">Cerita dewasa</a> ku kali ini tentang aku dan janda yang sudah lama tak pernah mendapatkan sentuhan atau belaian alias janda jablay. jarang di belai bernama mbak atik.</p>
<p>Mbak Atik adalah tetangga depan rumahku. Suaminya seorang sopir bus yang usianya terpaut jauh dengannya. Suaminya meninggal secara mendadak, mungkin karena serangan jantung akibat kebiasaannya minum minuman keras.<br />
Sebulan setelah menjanda kami beberapa orang sedang duduk-duduk di depan rumah seorang teman yang rumahnya bersebelahan dengan rumah Mbak Atik sambil bermain gitar. Ketika kami asyik bermain gitar Mbak Atik kelihatan gelisah dan keluar masuk rumahnya. Dua anaknya yang masih kecil mungkin sudah tidur. Kadang ia duduk di bangku panjang di sudut rumahnya yang berseberangan dengan tempat kami nongkrong. Matanya menerawang jauh, mungkin setelah sebulan menjadi janda ia mulai merasakan sepinya tidur sendirian.</p>
<p>Usianya memang belum terlalu tua, sekitar tiga puluh lima tahun. Usia dalam gejolak, kata judul film tahun 80-an. Usia yang lagi matang-matangnya dengan gairah yang bergejolak. Punggungnya yang melengkung, bongkok udang kata orang, menimbulkan fantasi seksual yang luar biasa.<br />
Mbak Atik merebahkan dirinya di atas bangku panjang yang didudukinya. Kedua kakinya dinaikkan ke atas bangku. Kami saling memandang dan menyikut sambil tersenyum.<br />
“Tuh sudah dikasih kode, siapa berani duluan maju?” salah seorang menyeletuk pelan.<br />
“Dia ingin menunjukkan badannya masih oke punya,” yang lain menimpali.<br />
Akibatnya acara main gitar jadi kacau berantakan. Tak lama Mbak Atik masuk kembali ke dalam rumahnya. Akhirnya kamipun bubar pulang kembali ke rumah masing-masing. Karena kebelet pipis, aku memutar menuju ke sumur di belakang rumah Mbak Atik. Baru saja kubuka ritsluiting celanaku terdengar pintu belakang rumahnya dibuka. Buru-buru aku naikkan lagi ritsluitingku.</p>
<p>“Eh Mbak Atik.. Belum tidur? Maaf numpang buang air Mbak. Sudah nggak tahan nih,” kataku tersipu malu.<br />
“Kalau mau kencing masuk aja ke dalam kamar mandi sana, nanti kelihatan orang,” katanya.<br />
“Ya Mbak, maaf ya Mbak!”<br />
Akupun masuk ke dalam kamar mandi, sementara Mbak Atik berdiri di dekat sumur. Kelihatannya ia juga ingin buang air kecil.<br />
Sebentar kemudian akupun keluar dari kamar mandi dengan perasaan lega. Mbak Atik menggamit lenganku dan berkata, “To.. Tolong tungguin aku sebentar, aku mau pipis juga. Entah kenapa malam ini aku merasa agak takut”<br />
Entah dengan terpaksa atau senang hati kuturuti permintaannya. Toh tidak memberatkan. Terdengar desisan air dan disusul dengan beberapa kali guyuran air. Aku sudah mulai dengan analisa situasi. Sekarang ini mungkin temanku yang rumahnya di samping ini belum tidur dan menungguku di depan. Kupikir keadaan belum memungkinkan untuk beraksi, namun kutunggu sampai Mbak Atik keluar dari kamar mandi untuk sekedar mengetahui sinyal atau tanda-tanda awal dari gerak tubuh dan sikapnya.</p>
<p>Mbak Atik keluar dari kamar mandi. Kuperhatikan sebentar, ternyata tubuhnya memang masih oke. Tingginya hampir sama denganku dengan bahu lebar dan kekar untuk seorang perempuan. Rambutnya keriting papan tergerai sampai di bawah bahu. Ditunjang lagi dengan dadanya yang cukup besar, mungkin 36.<br />
“Terima kasih To sudah menungguiku,” katanya sambil sedikit mendorong tubuhku agar ia bisa lewat.<br />
Aku baru sadar ternyata tempat aku berdiri memang di dekat tembok pembatas sumur yang sempit, sehingga tidak bisa dilalui dua orang bersama-sama. Dengan gerakan seolah-olah tanpa sengaja dadanya sengaja menggesek lenganku. Kurasakan sebuah tekanan lembut pada lenganku. Sepertinya ia tidak mengenakan BH.<br />
“Ya Mbak. Sama-sama. Mari Mbak saya mau pulang,” kataku sambil beranjak pergi. Satu tanda telah kudapat, tapi aku harus bersabar dulu. Tidak untuk malam ini, gumamku dalam hati.</p>
<p>Mbak Atik masuk ke rumahnya lewat pintu belakang. Tapi kulihat pintunya belum tertutup dengan sempurna dan ada bayangan di balik pintu. Rupanya ia mengintipku dan menunggu reaksiku. Aku melihat ke arah pintu sambil tersenyum dan seolah-olah sedang membetulkan posisi burungku yang miring.<br />
Beberapa hari kemudian aku sedang melintas di depan rumahnya tiba-tiba aku dipanggil.<br />
“To.. Anto. Saya mau minta tolong sebentar. Tape saya suaranya tiba-tiba pecah. Boleh kan minta tolong sebentar?” katanya.</p>
<p>Ia mengenakan kulot biru dengan kaus kuning berkerah tanpa lengan. Aku berpikir sebentar. Sebenarnya aku tidak punya latar belakang keahlian di bidang elektronika, hanya sekedar tahu sedikit saja. Kupikir tidak ada salahnya mencoba menolongnya membetulkan tape-nya. Kalaupun tidak bisa pasti dia bisa memaklumi karena memang bukan bidangku.<br />
Aku masuk ke dalam rumahnya, kelihatan sepi karena anaknya masih sekolah. Setelah menjanda Mbak Atik mencoba membuka usaha salon kecantikan di rumahnya. Nampaknya usahanya berhasil dan mulai mendapatkan pelanggan tetap.<br />
“Mana tape-nya Mbak, biar saya lihat dulu?” tanyaku.</p>
<p>“Ada di kamar, masuk saja ke kamar. Nggak apa-apa kok,” jawabnya.<br />
Aku masuk ke dalam kamar dan kuambil tape-nya dan beberapa kaset untuk mencoba lalu kubawa keluar. Setelah kuhubungkan dengan aliran listrik, aku mencoba menghidupkannya. Ternyata memang suaranya tidak sempurna. Analisaku headnya kotor atau kendor bautnya.<br />
“Minta alkohol dan kapas Mbak! Kalau ada obeng kecil sekalian”<br />
Aku yakin dia tidak punya head cleaner, jadi biar kucoba bersihkan pakai alkohol saja. Sebentar kemudian ia sudah kembali dengan membawa kapas, sebuah botol plastik kecil dan obeng kecil.<br />
“Ini To. Alkoholnya nggak ada tapi Bapaknya dulu kalau membersihkan tape biasanya pakai ini,” sambil mengangsurkan bawaannya.</p>
<p>Kuterima dan kuperhatikan, ternyata dugaanku salah. Ia masih menyimpan head cleaner. Kubersihkan head tape dan rodanya, lalu kucoba menghidupkannya lagi. Lumayan, sekarang suaranya sudah mulai bening, namun bas dan treblenya belum pas. Kuambil obeng kecil dan mulai menyetel baut headnya. Beres, suara tapenya kembali normal.<br />
“Sudah Mbak. Beres, kini tinggal upahnya saja,” kataku sambil tersenyum.<br />
“Berapa?” balasnya.<br />
“Nggak kok Mbak, cuma bercanda. Bukan pekerjaan sulit atau mengeluarkan tenaga”<br />
“Jangan To. Keahlian seseorang kan harus dihargai. Apapun bentuk penghargaannya”<br />
Aku teringat sudah lama tidak creambath. Mumpung di sini sekalian creambath saja. Aku bukan ingin creambath gratis untuk bantuanku tadi, tapi memang sudah saatnya aku creambath.<br />
“Aku mau creambath, bisa sekarang Mbak?” tanyaku.<br />
“Boleh. Duduk di kursi sana, sebentar aku siapkan peralatannya”<br />
Aku duduk di sebuah kursi putar di depan meja rias. Lumayan lengkap juga peralatannya. Mbak Atik datang dengan membawa seember air dan gayung. Maklum saja ia belum memasang shower untuk keramas.<br />
“Pindah di sini. Keramas dulu biar bersih”<br />
Akupun menurut saja dan duduk setengah berbaring telentang di bak keramas salon. Mbak Atik kemudian menuangkan shampoo dan mengusapkannya dengan lembut di kepalaku.<br />
Karena posisiku yang setengah telentang aku dapat menyaksikan muka dan dadanya yang berada di atas kepalaku. Dadanya kemudian dimajukan tetap di atas mukaku hanya berjarak sekitar 20 cm. Aku mulai menjadi pusing dengan kondisi ini.</p>
<p>“Yuk kembali ke kursi tadi!” perintahnya.<br />
Kami kembali ke depan meja rias. Mbak Atik segera mengurut kepalaku dengan cream. Sejam kemudian ia sudah menyelesaikan pekerjaannya. Kini rambutku dikeringkannya dengan hair dryer. Sambil menyisir rambutku dadanya ditekankan ke tengkukku. Terasa lembut namun sedikit kendor. Penisku segera bereaksi dengan perlahan-lahan mulai membesar.<br />
“Dari mana tadi, pagi-pagi kok sudah rapi?” tanyanya.<br />
“Jalan-jalan ke sawah di belakang kampung. Musim kemarau, jadinya kurang air dan mungkin bisa jadi akan kekeringan,” jawabku.<br />
Dari kaca meja rias kulihat mukanya agak merah mendengar kataku tadi.<br />
Selesai menyisir rambut ia malah membuka dua kancing teratas kemejaku dan mengurut bahuku dengan sedikit body lotion. Napasnya menyapu tengkukku, terdengar berat dan agak terengah-engah. Entah karena mengeluarkan tenaga untuk memijatku atau menahan nafsu. Aku terlena dengan pijatannya dan merasa nyaman sekali, tidak terlalu kuat atau terlalu lemah. Pas susunya, karena dadanya selalu ikut memijat belakang kepalaku. Melihat aku keenakan dipijat Mbak Atik menawariku untuk pijat badan.<br />
“To, mau badanmu dipijat? Ayo ke dalam saja kalau mau kupijit, biar seger badanmu,” katanya sambil menarik tanganku ke arah kamarnya.</p>
<p>Aku semakin pusing, bukannya badan bertambah segar nanti malahan pegal yang akan kudapat. Aku ragu dan melirik ke arah pintu, takut kalau ada pelanggan lain yang masuk ke salonnya. Tapi ia tak peduli dan terus menarikku ke dalam kamarnya. Aku menyerah. Que sera sera, whatever will be will be.<br />
Sampai di dalam kamar ia menyuruhku melepas baju dan berbaring tengkurap. Celana panjangku tetap kupakai dan tergantung apa yang terjadi nanti. Kalau harus dibuka kenapa tidak?<br />
Mbak Atik keluar kamar dan kudengar pintu depan ditutup serta suara rel korden yang berderik. Aku meluruskan posisi adik kecilku yang sedikit mengganjal agar nyaman dan tidak terlipat. Berabe kan kalau patah akibat terlipat dan ditindih badanku. Ia kembali dengan membawa handuk kecil, body lotion, piring kecil dan minyak kayu putih. Dicampurnya minyak kayu putih, body lotion dan sedikit cairan lain yang baunya sangat lembut, antara jasmine dan rose.<br />
Ia kemudian mulai mengurut punggungku dengan campuran tadi. Ada rasa hangat minyak kayu putih dan harum mawar melati (semuanya indah!). Setelah itu kemudian tanganku diurut mulai dari lengan sampai jari.<br />
“Berbalik To!” katanya lembut.</p>
<p>Aku berbalik dan segera tangannya mengurut bahu bagian depan dan dadaku. Kini urutannya lebih tepat disebut usapan yang mempermainkan bulu dada, puting dan tentu saja gairahku yang menggelora. Bibirnya tersenyum kecil seolah-olah anak kecil yang mendapatkan mainan baru. Padahal mainannya masih tertutup celana.<br />
“Hh..” Ia menarik napas dalam dan mneghembuskannya kuat-kuat.<br />
Leher dan tangannya berpeluh setelah memijatku. Disekanya dadaku dengan handuk basah yang sudah disiapkannya. Aku berbalik agar ia bisa mengeringkan punggungku. Setelah mengeringkan punggungku ia berbaring di sampingku. Aku kembali dalam posisi telentang.<br />
“Kini giliranku yang meminta upah,” katanya sambil tersenyum lebar.<br />
“Apa upahnya?” pancingku.</p>
<p>“Kamu tadi berkata sawah di kampung kita kekurangan air. Aku ingin kamu mengairi sawahku yang juga sudah lama tidak disiram,” katanya manja dan langsung memeluk dan menciumku.<br />
Que sera sera, quo vadis, eureka, ereksi dan seterusnya aku tidak mengerti lagi.<br />
Kupegang kedua bahunya dari belakang dan kupijit perlahan. Ia menggeliat dan mengusapkan pipinya pada lengan kananku. Kuputar badannya sehingga kini kami saling berhadapan. Kupegang kepalanya dan kutengadahkan mukanya ke mukaku.</p>
<p>Ia menjatuhkan kepalanya ke dadaku. Kupegang bahunya dan kutempelkan pipiku ke pipinya. Ia berbisik, “Puaskan aku sekarang. Airi sawahku sampai becek dan berlumpur..”<br />
Kupeluk dia dan ia semakin merapatkan kepalanya di dadaku. Rambutnya yang keriting papan kusingkapkan ke atas. Kucium bulu halus di leher belakangnya.</p>
<p>“Ssh.. kamu pandai membangkitkan gairah,” rintih Mbak Atik sambil memejamkan matanya.<br />
Lidahku menerobos ke mulutnya dan menggelitik lidahnya. Mbak Atik membalas ciumanku dengan lembut. Tanganku mulai bekerja di atas dadanya dan kuremas buah dadanya. Kurasakan payudaranya sudah agak kendor. Jariku terus menjalar mulai dari dada, perut, pinggang terus ke bawah hingga pahanya. Mbak Atik makin sering menggeliat. Lidahku beraksi di lubang telinganya dan gigiku menggigit daun telinganya.<br />
Tangannya meremas isi celanaku yang mulai memberontak.<br />
Kusapukan bibirku ke lehernya dan kutarik pelan-pelan ke bawah sambil mencium dan menjilati lehernya yang mulus. Mbak Atik mendongakkan kepala memberikan tempat bagi bibirku. Tangannya memeluk leherku dan ia semakin merepatkan tubuhnya ke dadaku, sehingga dadanya yang masih terbungkus kaus menekan dadaku. Diusap-usapnya dadaku dan kemudian putingku dimainkan dengan jarinya.<br />
Kucium bibirnya dan kini ia membalas dengan lumatan ganas. Kubuka kausnya dan kutarik celana kulotnya dan sekaligus celana dalamnya ke bawah. Kulit yang mulus, lembah yang indah dengan padang rumput yang cukup lebat terlihat di sela pahanya.</p>
<p>“Eehhngng…” Ia mendesah ketika lehernya kujilati.<br />
Mbak Atik berguling dan menindih tubuhku. Tanganku bergerak punggungnya.<br />
“Tik…” pengait bra-nya terbuka.<br />
Kunaikkan cup bra-nya. Kini buah dadanya terbuka di hadapanku. Buah dadanya yang besar namun sudah sedikit kendor menggantung di atasku. Putingnya yang berwarna coklat kemerahan mulai mengeras. Digesek-gesekkannya putingnya di atas dadaku. Perlahan tanganku mengusap bahunya dan sekaligus menurunkan tali bra-nya.<br />
Bibirnya kini semakin lincah menyusuri wajah, bibir dan leherku. Mbak Atik mendorong lidahnya jauh ke dalam rongga mulutku kemudian memainkan lidahku dengan menggelitik dan memilinnya. Mbak Atik menggeserkan tubuhnya ke arah bagian atas tubuhku sehingga payudaranya tepat berada di depan mukaku. Segera kulumat payudaranya dengan mulutku. Putingnya kuisap pelan dan kujilati.</p>
<p>“Aacchh, Ayo Anto.. Lagi.. Teruskan Anto.. Nikmat.. Teruskan”<br />
Kemaluanku semakin mengeras. Kusedot payudaranya sehingga semuanya masuk ke dalam mulutku kuhisap pelan namun dalam, putingnya kujilat dan kumainkan dengan lidahku. Dadanya bergerak kembang kempis dengan cepat detak jantungnya juga meningkat. Napasnya berat dan terputus-putus.<br />
Tangannya menyusup di balik celanaku, kemudian mengelus, meremas dan mengocok kemaluanku dengan lembut. Ia melepas ikat pinggang dan menarik resluiting celanaku. Pantatku kunaikkan dan dengan sekali tarikan, maka celana panjang dan celana dalamku sekaligus sudah terlepas. Kini kami dalam keadaan polos tanpa selembar benang.<br />
Bibirnya mengarah ke leherku, mengecup, menjilatinya kemudian menggigit pundakku. Napasnya dihembuskannya ke dalam lubang telingaku. Kini dia mulai menjilati putingku dan tangannya mengusap bulu dadaku sampai ke pinggangku. Aku semakin terbuai. Kugigit bibir bawahku untuk menahan rangsangan ini. Kupeluk pinggangnya erat-erat.<br />
Tangan kiriku kuarahkan ke celah antara dua pahanya. Jari tengahku masuk sekitar satu ruas jari ke dalam lubang guanya. Kuusap dan kutekan bagian depan dinding vaginanya dan kemudian jariku sudah menemukan sebuah tonjolan daging seperti kacang.</p>
<p>Setiapkali aku memberikan tekanan dan kemudian mengusapnya Mbak Atik mendesis “Huuhh.. Aauhh.. Engngnggnghhk”<br />
Ia melepaskan tanganku dari selangkangannya. Mulutnya bergerak ke bawah, menjilati perutku. Tangannya masih mempermainkan penisku, bibirnya terus menyusuri perut dan pinggangku, semakin ke bawah. Ia memandang sebentar kepala penisku yang mengkilat dan kemudian mengecup batang penisku.<br />
Mbak Atik kembali bergerak ke atas, tangannya masih memegang dan mengusap kejantananku yang telah berdiri tegak. Kembali kami berciuman. Buah dadanya kuremas dan putingnya kupilin dengan jariku sehingga dia mendesis perlahan dengan suara yang tidak jelas.<br />
“Sshh.. Sshh.. Ngghh..”</p>
<p>Perlahan lahan kemudian ia menurunkan pantatnya sambil memutar-mutarkannya. Kepala penisku dipegang dengan jemarinya, kemudian digesek-gesekkan di mulut vaginanya. Terasa sudah licin berlendir. Dia mengarahkan kejantananku untuk masuk ke dalam vaginanya. Ketika sudah menyentuh lubang guanya, maka kunaikkan pantatku perlahan.<br />
Mbak Atik merenggangkan kedua pahanya dan pantatnya diturunkan. Kepala penisku sudah mulai menyusup di bibir vaginanya. Kugesek-gesekkan di bibir vaginanya. Mbak Atik merintih dan menekan pantatnya agar penisku segera masuk.<br />
“Ayolah Anto.. Naikkan pantatmu.. Dorong sekarang. Ayo.. Masukkan batangmu.. Pleasse..!!”<br />
Mbak Atik bergerak naik turun dengan perlahan. Vaginanya terasa licin dan agak becek. Kadang gerakan pantatku kubuat naik turun dan memutar. Mbak Atik terus melakukan gerakan memutar pada pinggulnya. Ketika kurasakan lendir yang membasahi vaginanya semakin banyak maka kupercepat gerakanku.</p>
<p>“Anto… Ouhh.. Nikmat.. Oouuhh.” desisnya sambil menciumi leherku.<br />
Kakinya menjepit pahaku. Dalam posisi ini gerakan naik turunnya menjadi bebas. Tangannya menekan dadaku. Kucium dan kuremas buah dadanya yang menggantung. Kepalanya terangkat dan tanganku menarik rambutnya kebelakang sehingga kepalanya semakin terangkat. Setelah kujilat dan kukecup lehernya, maka kepalanya turun kembali dan bibirnya mencari-cari bibirku. Kusambut mulutnya dengan satu ciuman yang panas.<br />
Mbak Atik kemudian menggerakkan pantatnya maju mundur sambil menekan ke bawah sehingga penisku tertelan dan bergerak ke arah perutku. Rasanya seperti diurut dengan lembut namun bertenaga. Semakin lama-semakin cepat ia mengerakkan pantatnya. Desiran yang mengalir ke penisku kurasakan semakin cepat.</p>
<p>“Mbak Atik.. Mbak.. Ouuhh”<br />
“Ouhh.. Sshh.. Akhh!”<br />
Desisannyapun semakin sering. Aku tahu bahwa ia akan segera menggapai puncak kenikmatannya. Kini penisku kukeraskan dengan menahan napas dan mengencangkan otot yang sudah terlatih oleh senam Kegel. Ia merebahkan tubuhnya ke atas tubuhku, matanya berkejap-kejap dan bola matanya memutih. Giginya menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Akupun merasa tak tahan lagi dan akan segera memuntahkan laharku.<br />
Aku berguling dan kini aku berada di atas. Kupompa vaginanya dengan cepat dan akhirnya beberapa saat kemudian..<br />
“Anto.. Sekarang sayang.. Sekarang.. Hhuuaahh. Aku sampai..!” Ia memekik kecil.<br />
Kutekan pantatku sekuatnya. Dinding vaginanya berdenyut kuat menghisap penisku. Ia menaikkan pinggulnya. Bibirnya menciumiku dengan pagutan-pagutan ganas. Desiran dan tekanan aliran lahar yang sangat kuat memancar lewat lubang kejantananku.</p>
<p>“Mbaakk.. Ouhh.. Aa.. Tikk..!”<br />
Kupeluk tubuhnya erat-erat dan kutekankan kepalaku di lehernya. Napas yang bergemuruh kemudian disusul napas putus-putus dan setelah tarikan napas panjang aku terkulai lemas di atas tubuhnya.</p>
<p>Akhirnya janda 35 tahun itu ku setubuhi dengan dasar suka sama suka, walau terjadi bermula tanpa direncana, tapi pergumulan atau hubungan seks kami terus berlanjut, dan tapa kami sadari hubungan seks itu semakin nikmat, bahkan lebih nikmat dari abg, janda binal memang sangat nikmat.</p>
<h4>Cerita Dewasa | Cerita Seks</h4>*<a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/gairah-janda-35-tahun.html" title="Cerita sex 35">Cerita sex 35</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/gairah-janda-35-tahun.html" title="Cerita dewasa 35">Cerita dewasa 35</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/gairah-janda-35-tahun.html" title="cerita sek pelanggan janda">cerita sek pelanggan janda</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/gairah-janda-35-tahun.html" title="gairah janda">gairah janda</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/gairah-janda-35-tahun.html" title="Gairah Janda Kesepian">Gairah Janda Kesepian</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/gairah-janda-35-tahun.html" title="ngentot jablay stw">ngentot jablay stw</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/gairah-janda-35-tahun.html" title="cerita sex di sumur">cerita sex di sumur</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/gairah-janda-35-tahun.html" title="www ngentot di sumur umum">www ngentot di sumur umum</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/gairah-janda-35-tahun.html" title="Janda 35 tahun suka kontol">Janda 35 tahun suka kontol</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/gairah-janda-35-tahun.html" title="istriku Atiek swinger nikmat">istriku Atiek swinger nikmat</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/gairah-janda-35-tahun.html" title="gairah yg dipijat">gairah yg dipijat</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/gairah-janda-35-tahun.html" title="gairah sek janda kesepian">gairah sek janda kesepian</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/gairah-janda-35-tahun.html" title="gairah janda dgn anaknya">gairah janda dgn anaknya</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/gairah-janda-35-tahun.html" title="gairah ibu berkebaya">gairah ibu berkebaya</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/gairah-janda-35-tahun.html" title="Gaira stw kesepian">Gaira stw kesepian</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/gairah-janda-35-tahun.html" title="Janda kesepihan cari kontol suka porno">Janda kesepihan cari kontol suka porno</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/gairah-janda-35-tahun.html" title="Memek janda janda Tua memang aga kendor tapi nyaman">Memek janda janda Tua memang aga kendor tapi nyaman</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/gairah-janda-35-tahun.html" title="vagina mbak atik">vagina mbak atik</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/gairah-janda-35-tahun.html" title="sumur ceritasek">sumur ceritasek</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/gairah-janda-35-tahun.html" title="sumur cerita seks">sumur cerita seks</a>*<!-- SEO SearchTerms Tagging 2 Plugin -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/gairah-janda-35-tahun.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita Selingkuh Istri Dengan Brondong</title>
		<link>http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/cerita-selingkuh-istri-dengan-brondong.html</link>
		<comments>http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/cerita-selingkuh-istri-dengan-brondong.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Feb 2011 05:47:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[STW]]></category>
		<category><![CDATA[brondong]]></category>
		<category><![CDATA[istri genit]]></category>
		<category><![CDATA[istri selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[tante girang]]></category>
		<category><![CDATA[tante girang cari brondong]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritadewasa.modelperawan.info/?p=188</guid>
		<description><![CDATA[Cerita Dewasa. selingkuh mungkin tak ada habisnya, bisa karena kejenuhan dengan pasangan bisa saja karena keisengan, seperti cerita berikut dimana keisengan awalnya akhirnya menjadi kebablasan dari istri yang lebih miri tante girang ini, Cerita ini langsung diceritakan sendiri oleh sang istri. seperti layaknya pengakuan. Usia perkawinan kami menjelang 10 tahun, untuk menghindari kejenuhan biasanya kami [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/">Cerita Dewasa</a>. selingkuh mungkin tak ada habisnya, bisa karena kejenuhan dengan pasangan bisa saja karena keisengan, seperti cerita berikut dimana keisengan awalnya akhirnya menjadi kebablasan dari istri yang lebih miri tante girang ini, Cerita ini langsung diceritakan sendiri oleh sang istri. seperti layaknya pengakuan.</p>
<p><img class="alignnone" title="Tante girang" src="http://3.bp.blogspot.com/_98t1_mnPo4c/S7gFDIiUxKI/AAAAAAAAAxE/YpN5vpkoZlc/s400/Toket+Tante+Yuni.jpeg" alt="Tante girang" width="304" height="253" /><br />
Usia perkawinan kami menjelang 10 tahun, untuk menghindari kejenuhan biasanya kami refreshing dengan menginap di ubud. Anak anak ditinggal di Surabaya karena mereka juga sudah cukup besar. 2-3 hari suami cuti sudah cukup mencharge ulang hubungan percintaan kami.</p>
<p>Kali ini kami berdua kembali menginap di ubud bali. Kamar yang kami dapat sungguh luar biasa karena berada di puncak bukit dengan kaca yang terbuka di sekeliling kamar. Pemandangan yang luar biasa terhampar di depan mata. Bercinta di tempat seperti ini sungguh menggairahkan.</p>
<p>Belum lagi acara di malam hari yang diadakan oleh pihak hotel, sungguh menarik, dimulai dari pementasan tari bali yang indah, acara makan malam yang romantic dan diakhiri dengan melepaskan kepenatan di diskotik yang mulai dibuka pukul 10 malam sampai pagi.</p>
<p>. Sengaja aku memakai pakaian yang mengundang, rok mini sexy yang melekat erat di tubuhku dengan belahan dada yang sangat terbuka menyembulkan buah dadaku yang montok. Suamiku tidak keberatan bahkan menikmati ketika para mata lelaki melihatku dengan pandangan nafsu. “Rin..lihat cowok di ujung itu, matanya tidak lepas dari tubuhmu…heheheh” Suamiku berbisik sambil senyum senyum bangga. “mas nggak cemburu, Rini dilihat sama cowok cowok itu…”bisikku sambil memeluk pinggangnya.</p>
<p>“hmmmm…rasa bangganya memiliki kamu mengalahkan cemburuku…sayang…eh coba Rin mereka kamu goda…ajak kenalan gitu…aku pengen tahu sejauh mana keberanian mereka.” Suamiku mencoba bermain api.</p>
<p>“Eh…jangan mas..!” Bisikku “ Kalo kebablasan gimana hayo…”<br />
“hahahaha nggak papa sekali kali ngedate ama cowok lain gak papa asal nggak keterusan…” Suamiku tersenyum senyum.</p>
<p>Aku sempat berkenalan dengan beberapa pemuda menarik, mereka ganteng ganteng juga. Andi, Budi, …hmmm cowok cowok brondong yang menggairahkan. Suasana yang mulai menghangat membuatku berpikir untuk mencoba sedikit nakal. Dari dulu aku mempunyai fantasi threesome atau gang bang…mungkin tidak ada salahnya dicoba, mumpung suamiku sedikit memberi keleluasaan.</p>
<p>Dan sepertinya sangat menggairahkan, bercinta dengan orang lain disaat suami ada di dekat kita. Hmmm tapi bagaimana caranya..?</p>
<p>Aku biarkan suasana mengalir , lebih panas, lebih menggairahkan, dan mereka mulai berani memelukku. Bahkan Andi sempat meremas payudaraku. Kucari suamiku ternyata dia mabuk di pojok. Aku lebih berani untuk mengundang mereka dan mengutarakan keinginanku dan ternyata mereka antusias sekali, tentu saja…bercinta gratis dengan istri orang..masih sexy lagi…hm..hmmm.hmm..</p>
<p>Cuma aku harus berpikir bagaimana caranya agar suamiku tidak tahu…timbul ide bagus di benakku.</p>
<p>Rin…dimana kamu ingin making love ? suamimu kan menempel kamu terus tuh..” Bisik Andi. “Tenang…gw bisa kasih obat tidur..kita nanti main di sampingnya…ok ? “ Kataku tersenyum.</p>
<p>“Hoho..kamu nakal sekali Rin…ML disamping suami…? ” Tawa Andi.<br />
Seperti yang sudah aku rencanakan, suamiku ketika masuk kamar sudah dalam keadaan mabuk, aku beri sedikit dosis rendah obat tidur di minumannya, membuatnya terlelap dengan cepat.</p>
<p>Rencana nakalku berhasil, dengan cepat aku buka pintu kamar hotel dimana Andi sudah menunggu. “ Rin…aku ajak Budi ya…supaya lebih seru..gimana” Tanya Andi.</p>
<p>Hmmm aku sungguh tidak keberatan, karena seperti yang sudah aku jelaskan bahwa threesome salah satu fantasi liarku. Aku mempunyai fantasi seks yang cukup liar dimulai dari threesome dan bondage. Memang belum ada salah satupun fantasi yang terealisasi tapi aku sudah memutuskan di bali ini semua harus terlaksana, terutama bondage…entah terkadang aku menikmati kalau suamiku bercinta dengan sedikit kasar, sedikit ganas…sungguh berbeda…entah..</p>
<p>Sebelum menutup pintu Andi sudah memelukku erat dan meremas pantatku. “ hmmmm sekel banget pantatmu Rin…kamu sexy sekali. “ Bisik Andi sambil melumat bibirku. Sementara Budi hanya tersenyum sambil melepas kemejanya.</p>
<p>Aku memang menyukai sex singkat. Session pertama harus cepat, session kedua baru santai.</p>
<p>“Rin bener neeeh suamimu gak bangun…hehehe asyik banget dong bercinta di samping suami yang ketiduran…bisa aja idemu…lebih merangsang ya Rin ? “ Tanya Rudi, kini tubuhnya sudah sepenuhnya bugil , terlihat batangnya yang sungguh menarik. Tidak terlalu panjang tapi diameternya mantap, yang penting beda dengan milik suamiku. Ukuran tidak terlalu penting.<br />
Tangan Andi sudah menyelusup ke balik bra ku dan meremas lembut, sementara Budi sibuk menciumi paha…hmmm geli geli enak…</p>
<p>Andi menghempaskan tubuhku di samping suamiku yang tertidur nyenyak, dengan cepat melumat buah dada kiriku yang kini terbuka lebar. Budi tidak mau kalah dengan merebahkan badannya di samping kanan tepat di sebelah suamiku, juga sibuk melumat buah dada kananku. Wow..wow.wow sungguh menggetarkan, dadaku bergemuruh mendapatkan perlakuan seperti ini.</p>
<p>“ Rin…jantungmu kok keras banget berdetaknya….gue jadi ngeri “ Bisik Budi sambil sibuk menggigit gigit telingaku. “ hei guys….gue belum pernah tidur sama cowok lain…langsung threesome lagi !…kalian beruntung banget…ngerti nggak…”protesku.</p>
<p>“Baru pertama kali !? “ Budi terkaget kaget, Andi sampai harus melepas kuluman bibirnya dari putting dadaku.</p>
<p>“Huuussss…ngapain dilepas..”tanganku menarik kepala Andi dan membenamkannya kembali ke payudaraku.</p>
<p>Sambil tersenyum nakal, lidah Budi menari nari dari perut ke bawah dan makin ke bawah. “ Tenang Rin…kamu bakal puas dan nggak akan melupakan pengalaman pertamamu…ok ?”</p>
<p>Gilaaaa jilatan Budi lebih canggih dari suamiku. Nafasku mulai tersengal sengal. Aku sungguh tidak menduga kalau kenikmatannya melebihi ekspetasiku.<br />
Tiba tiba aku merasa benda tumpul menyelusup penuh ke miss V ku…ups enaaakk..tapi…” Bud !! pake kondom !! gue gak mau tanpa kondom ! ok ? tarik lagi..! jangan merusak mood ku..”kataku tegas.</p>
<p>“Sorry…sorry Rin…ok ambil dulu. “Sambil berjingkat Budi mengambil kondom di saku celana jeansnya.</p>
<p>“Kalo gitu gue dulu..hehe” Andi yang memasang kondomnya dengan buru buru segera memposisikan batangnya ke hadapan miss V ku, dan dengan tidak menunggu lama segera menghunjamkan dalam dalam…uuuffff.. sekali lagi nikmat.!!</p>
<p>Budi yang tidak jadi mengambil kondomnya segera mengarahkan batangnya ke mulutku. Ahhh threesome memang nikmat….Andi mengocok lebih cepat kali ini, , kulirik suamiku yang meskipun tempat tidur berguncang keras, dia sama sekali tidak terganggu. Memang bercinta di depan suami yang tertidur memberi sensasi yang berbeda. Getaran yang lain dari yang lain, antara takut ketahuan, kenikmatan tiada tara bercampur menjadi satu…hehe gue nakal banget ya…</p>
<p>“Gantian dong…”rintihku, aku ingin disetubuhi bergantian kali ini.</p>
<p>“Gimana Rin?…nikmat Rin?… enak Rin?…ahhhh kamu sexy sekali… kamu nakal sekali “ Kata Andy sambil menepuk keras pantatku. Batangnya makin kencang menghajar miss V ku.</p>
<p>“ Tepuk lagi dooong…please…yang agak keras…ahhh!” Rintihku.<br />
“Lebih keras !! Andi..please ….gigit punggungku…please ahhhh…”Teriakku.</p>
<p>Plak ! tiba tiba Budi menampar pelan pipiku, tangannya segera menjambak rambutku dan menariknya ke atas. Kepalaku yang mendongak ke atas membuat mulutku terbuka lebar, dengan cepat Budi mengisinya dengan batang mantapnya. Ufffff…gue sampe kesedak tapi nikmat…batang Budi tidak panjang tapi diameternya 1,5 kali milik suamiku. Aku lebih suka yang begini, kalau terlalu panjang malah nggak nyaman karena terlalu mentok. Hmmm…baunya khas…beda dengan milik suamiku. Sengaja aku gigit gigit karena gemas. Gila…ada juga batang yang sexy kaya begini. Nggak bosan aku menjilatinya. Kocokanku dan lumatan bibirku membuat keluar cairan bening di ujung batangnya….hmm mulai terangsang neeehh..</p>
<p>“Sepertinya kamu suka bondage Rin…gimana kali kita coba juga ok ? mau ?” Tanpa menunggu jawabanku Andi sibuk merobek robek gaun tipisku menjadi tali.</p>
<p>Kalo nikmat begini kenapa harus menolak “ Terserah kalian …yang penting gue pengen puas malem ini…! Ayo…Bud..jangan berhenti please…!” Teriakku histeris saking nikmatnya.</p>
<p>Ayo Rin aku ikat tanganmu ya…jangan kuatir nggak terlalu keras kok…pengen posisi nungging atau gimana ?….”Tanya Andi mengikat lembut tanganku ke besi tempat tidur, lidahnya menari nari kadang di leherku, buah dadaku membuatku kegelian.” Nungging please Bud..please…masukkan dalam dalam ya…janji lho….yang keras pokoknya…siksa aku please perkosa aku please….ayoooo..”.Rintihku<br />
Posisiku benar benar menggairahkan. Menungging dengan kedua kaki dan tangan terikat di tempat tidur, sementara suamiku menggeletak tertidur dengan nyenyak. Bisa kalian bayangkan…sexy bukan ?</p>
<p>Andi benar benar tidak membuang waktu, posisi yang menungging membuat batangnya menghunjam penuh dalam dalam. Kedua tangannya dengan keras menarik pinggangku agar batangnya masuk seluruhnya. Deritan tempat tidur besi membuat suasana lebih menggairahkan. Badanku terasa bergetar hebat…menjelang orgasme…uhhhh…kedua pahaku terasa kaku. Aku pejamkan mataku, sementara Andi makin mempercepat hentakannya. “Ahhhh !!! aahhh!! Andi ternyata ejakulasi terlebih dahulu. Batangnya terasa berdenyut denyut. “Gantian cepet…aku belum nyampe…cepet! Teriakku.</p>
<p>Sigap sekali Budi mengganti posisi Andi, karena tahu aku menjelang orgasme, Budi tidak mengurangi ritme hentakan yang sudah dibangun oleh Andi. Luar biasa nikmat sekali. Mataku terasa gelap…ohhhhhhh aku …aku orgasmeeee..!!! denyutan vaginaku bertambah cepat.</p>
<p>Tiba tiba suami mengerang pelan disebelahku ! kami terdiam terpaku….ups !! mungkin suamiku terganggu gara gara tempat tidur terlalu bergoyang keras. Aku gosok gosok pelan punggungnya agar tertidur lagi…hihihi gue bener bener nakal ya. Budi tersenyum senyum sambil mengocok pelan batangnya di vaginaku.</p>
<p>Agar aman, Budi menurunkan ritmenya, kali ini dia ingin menikmati persetubuhan ini. Sementara tubuhku lemas sekali, tetapi karena kondisi terikat tubuhku tidak bisa bergerak leluasa. Tiba tiba terasa batang Andi mengganti posisi batang Budi…uhhhh kok lebih enak ya… Mataku masih terpejam menikmati. “Kok kamu lagi sih An…Budi kan belum keluar…kasihan dong” Kataku pelan.<br />
Tidak sampai 5 menit, Andi sudah mengerang keras hmmm sudah dua kali dia ejakulasi. Aku masih memjamkan mata menikmati. Budi kembali menghunjamkan batangnya tetapi kali ini tangannya meremas rambutku..uhhhh ..”hmmm batang kalian kok lebih enak sihh…kok lain…? Bisikku.</p>
<p>Penasaran aku buka mataku menoleh ke belakang..hah !! Ada beberapa laki laki lain masuk kedalam kamarku ?! Mereka semua sibuk mengocok batangnya masing masing “Andiii! Apa apan ini !!..Teriakku.</p>
<p>“Tenang …tenang..Rin…kenalkan ini Robert..”Kata Andi sambil menunjuk laki laki yang tengah menyetubuhiku dari belakang. “Dan yang sebelumnya tadi, kenalkan Doni…”</p>
<p>“Kami ber enam sekarang, kamu nggak keberatan kan dipuaskan oleh 6 laki laki ? Fantasimu bakal terpenuhi Rin”…Kata Andi kalem..</p>
<p>“Aaaaah jangan begitu dong…gue ngeri…aduuuhhh gimana sih….”Aku mulai panik. NGeri juga kalo digilir banyak cowok begini meski aku pernah berfantasi gila gilaan digilir puluhan cowok. Tapi apa harus malam ini…rasanya aku belum siap…Dan lagi kalo suamiku tiba tiba bangun terus melihat aku lagi disetubuhi habis habisan gimana hayo….aduhhh tapi batang Robert yang mengaduk aduk vaginaku sungguh enak..Aku kembali meracau “ lebih cepaaaat…lebih cepat….uhhhh…ayooo…” Robert mengayun pinggangnya lebih kuat membuat pantatku berbunyi keras kena hempasan pahanya. Robert cepat mengerang, dan didalam vaginaku terasa ada cairan mengalir…kurang ajar ! rupanya mereka tidak memakai kondom.<br />
“Hei ! pakai kondomnya dong..! eh kok kalian tambah banyak ?“ Aku protes berat karena kuatir juga kalo mereka nggak bersih dan mengapa sekarang ada 15 cowok ?</p>
<p>“Rin kalo pake kondom dengan 15 cowok begini kamu bakal lecet, mending tanpa kondom deh, aku jamin temen temen bersih kok. Mereka semua masih perjaka loh…bayangin kamu merawanin 13 perjaka…asyik kan ? Andi sibuk promosi.</p>
<p>“nggak mau ! Andi please jangan dong…jangan masukin sperma kalian ke tubuhku……pake kondom dong please…pokoknya jangan masukkan sperma kalian…please”</p>
<p>“Rin…mereka kan masih perjaka…dijamin gak sampe 5 menit semburatlah…ok ? tapi oklah kita semua pake kondom….ok guys !! setuju !! kata Andi ke mereka.</p>
<p>Tanpa menunggu jawabanku lagi, mereka langsung menggilirku habis habisan. Aku hanya bisa pasrah nikmat ketika batang batang mereka bergantian menyetubuhiku. Memang benar rata rata Cuma 3 menit…tapi masalahnya mereka tidak berhenti di ronde pertama, istirahat 5 menit sudah recovery lagi, artinya masing masing cowok rata rata 3 kali menyetubuhiku… sama saja, rasanya bibir vaginaku menebal. Tapi terus terang saja aku mengalami multi orgasme.</p>
<p>Aku benar benar kelelahan ketika Andi mencoba memasukkan batangnya ke anusku. “Andi please jangan dong…gue belum pernah…” rengekku.</p>
<p>Tapi Andi tidak menghentikan usahanya. Gila anak ini…” Please jangan dong..”rengekku lagi.</p>
<p>“Hmmm..Rin kamu bilang tadi pengen coba bondage…nanggung dong kalo Cuma begitu aja, gue masukin ya…pokoknya gue masukin deh..loe nangis gue nggak perduli, pokoknya kita semua menikmati tubuhmu sepuas puasnya…bukankah itu yang kamu minta Rin ? “Kata Andi mulai kasar.</p>
<p>Andi mulai menekan batangnya ke anusku…duuuhhh perih banget ! Sementara Robert, Doni, Agung dan cowok cowok lain mengocok batangnya di wajahku sambil sesekali memukulkannya ke wajahku. Agung bahkan memaksa aku melumat batangnya. sementara batang Andi mulai masuk makin dalam…</p>
<p>“jangan keluarkan sperma kalian di wajahku ok ? gue nggak mau…ok ? Pintaku memelas…Aku memang menikmati digilir tapi tidak untuk merasakan sperma mereka, bagiku hanya sperma suamiku yang boleh masuk ke dalam tubuhku. Tadi aku kecolongan si Robert, kurang ajar banget..!!</p>
<p>“Ayo Rin ! nikmati ! ini yang kamu minta bukan ?! “ Andi mulai menggoyangkan batangnya perlahan. Aku belum pernah anal, dan memang ternyata cukup menyakitkan. Tetapi karena sudah terlanjur basah aku harus bisa menikmatinya. Ahhh ternyata masuk depan belakang ini memang nikmat…gila nikmat banget.</p>
<p>“Rin sekarang teman teman ingin mengisi vaginamu dengan sperma mereka bagaimana ….mau kan…? “ Tanya Andi.</p>
<p>“Jangan Di…gue udah bilang jangan…udah nikmati aja…kenapa sih harus masukin sperma kalian…becek..nggak enak…” Rengekku.</p>
<p>“Hmmmm, tapi kamu tidak ada pilihan lain bukan kalau kami paksa….”Senyum culas Andi mengembang.</p>
<p>“Ayolah Rin….Cuma 15 cowok kok….udah gini aja, mereka nggak usah coitus lagi, tadi kan udah..kali ini cuma onani didepan vaginamu, trus vagina elo gue buka lebar lebar agar sperma mereka masuk semua…ok ? Mereka penasaran neeeh …sperma 15 cowok muat nggak ke dalam satu vagina… ok ya Rin…” Rayu Andi.</p>
<p>“Duuuhhh Di..please gue nggak bisa nikmatin…dan lagi sprei jadi basah semua dong…kalo suami gue bangun gimana dong lihat sperma berceceran…ayolah plesase bukain ikatan gue ya…udah puas semua kan ? Dan lagi suami gue bentar lagi bangun, gue gak sempat bersih bersih dong “ Gue kuatir juga kalo mereka melaksanakan aksinya. Terus terang gak siap deh kalo vagina gue di isi sprema mereka…gila apa !</p>
<p>Tapi dasar mereka cowok bandel, tangan tangan mereka sudah sibuk mengocok masing masing batangnya. Arrrghhh !! gue bener bener sebel …hhhh tangan dan kaki gue bener bener terikat, mati kutu sama sekali tidak bisa bergerak. Sementara Jemari Andi sibuk mengobok obok vaginaku…aduh..diapain sih punya gue…!</p>
<p>Budi mulai mendekatkan batangnya ke vaginaku dan….ahhh kurang ajar…! Spermanya disemprotkan keras keras, tentu saja langsung masuk karena bibir vaginaku dibuka lebar oleh jari jari Andi..<br />
Doni mengikuti dari belakang…diikuti Rudi, Robert, Syuman dan aaahhh…sungguh kurang ajar mereka.</p>
<p>“Rin…coba lihat…terisi penuh kan…semua bisa masuk lohhh…” Andi tersenyum senyum.</p>
<p>“Di…coba gue masukin batang gue…luber nggak hahahaha “ Robert segera menghunjamkan batangnya, tentu saja sprema di dalamnya muncrat keluar kena tekanan dari luar…</p>
<p>Ok ..Rin gimana kalo kamu kami biarkan terikat begini…surprise untuk suamimu…ok ? hehehe”</p>
<p>“Andi..jangan dong please…lepasin dong ikatan gue…please..” Aku mulai panik.<br />
“Nggak mau…biar suamimu tahu kalo kamu nakal…ok ? kami pergi thanks honey….” Andi menepuk nepuk pipiku.</p>
<p>Arggghhh bang**t..!! Andi !! lepasin gue dong…gue teriak neeeh !!!” Ancam ku.</p>
<p>Ups !!! kalo gitu mulut kamu perlu ditutup sayang…”Tangan andi mengambil sobekan kain bajuku untuk menyumpal mulutku…ahhhh kurang ajar !!!</p>
<p>Mereka menutup pintu dan membiarkan aku terikat, aduhhh bagaimana kalau suamiku bangun nanti…!! Aduhhh gimana alasanku nanti ? …mataku jadi gelap…</p>
<p>Demikianlah <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/panas/selingkuh-dengan-teman-suamiku.html">cerita selingkuh</a> kali ini, cerita yang membuat kita belajra agar jangan main main dengan godaan pria lain, apalagi sudah berstatus sebagai istri orang, dan lebih cocok jika rasanya disebut sebagai tante girang.</p>
<h4>Cerita Dewasa | Cerita Seks</h4>*<a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/cerita-selingkuh-istri-dengan-brondong.html" title="kisah ajak istri pertama kali 3some">kisah ajak istri pertama kali 3some</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/cerita-selingkuh-istri-dengan-brondong.html" title="cerpen porno">cerpen porno</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/cerita-selingkuh-istri-dengan-brondong.html" title="cerita seks dewasa selingkuh istri">cerita seks dewasa selingkuh istri</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/cerita-selingkuh-istri-dengan-brondong.html" title="cerita sex dengan brondong">cerita sex dengan brondong</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/cerita-selingkuh-istri-dengan-brondong.html" title="cerita sex stw malam yg indah">cerita sex stw malam yg indah</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/cerita-selingkuh-istri-dengan-brondong.html" title="cerita sex diceritakan oleh tante tante">cerita sex diceritakan oleh tante tante</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/cerita-selingkuh-istri-dengan-brondong.html" title="ceritasexstw">ceritasexstw</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/cerita-selingkuh-istri-dengan-brondong.html" title="cerita sex tante girang dengan brondong">cerita sex tante girang dengan brondong</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/cerita-selingkuh-istri-dengan-brondong.html" title="cerita sex jangan dong">cerita sex jangan dong</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/cerita-selingkuh-istri-dengan-brondong.html" title="bercinta dengan dua brondong">bercinta dengan dua brondong</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/cerita-selingkuh-istri-dengan-brondong.html" title="cerita sex tante girang suka berondong">cerita sex tante girang suka berondong</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/cerita-selingkuh-istri-dengan-brondong.html" title="ceritasexstw com">ceritasexstw com</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/cerita-selingkuh-istri-dengan-brondong.html" title="cerpen bondage">cerpen bondage</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/cerita-selingkuh-istri-dengan-brondong.html" title="cerpen gang bang">cerpen gang bang</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/cerita-selingkuh-istri-dengan-brondong.html" title="Cerpen ketahuan ngentot dengan selingkuhan ku">Cerpen ketahuan ngentot dengan selingkuhan ku</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/cerita-selingkuh-istri-dengan-brondong.html" title="cerpen ngeseks tante">cerpen ngeseks tante</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/cerita-selingkuh-istri-dengan-brondong.html" title="cerita sex stw vs perjaka">cerita sex stw vs perjaka</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/cerita-selingkuh-istri-dengan-brondong.html" title="cerpen porno pertama kali main">cerpen porno pertama kali main</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/cerita-selingkuh-istri-dengan-brondong.html" title="Cerpen Sex">Cerpen Sex</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/cerita-selingkuh-istri-dengan-brondong.html" title="certa sex pengalaman di gang bang teman suami">certa sex pengalaman di gang bang teman suami</a>*<!-- SEO SearchTerms Tagging 2 Plugin -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/cerita-selingkuh-istri-dengan-brondong.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mbak Marni Guru Seks dan Guru Pelet ku</title>
		<link>http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/mbak-marni-guru-seks-dan-guru-pelet-ku.html</link>
		<comments>http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/mbak-marni-guru-seks-dan-guru-pelet-ku.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Feb 2011 14:54:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[STW]]></category>
		<category><![CDATA[mbak semok]]></category>
		<category><![CDATA[pelet]]></category>
		<category><![CDATA[pelet ampuh]]></category>
		<category><![CDATA[seks karena pelet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritadewasa.modelperawan.info/?p=182</guid>
		<description><![CDATA[Cerita Dewasa &#8211; Gara-gara Cinta ditolak, akhirnya dukun yang bertindak, seperti itulah cerita kali ini, dimana seorang laki-laki kecewa karena cinta nya ditolak, dan tanpa ia sengaja menemukan guru pelet sekaligus Guru seks nya, Berikut cerita Selengkapnya. Oh ya sebelumnya perkenalkan dulu, namaku Aryo, bujangan desa Klithikan, Tegalgondho, Klaten. Sudah tiga tahun ini aku naksir [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Cerita Dewasa</strong> &#8211; Gara-gara Cinta ditolak, akhirnya dukun yang bertindak, seperti itulah cerita kali ini, dimana seorang laki-laki kecewa karena cinta nya ditolak, dan tanpa ia sengaja menemukan guru pelet sekaligus Guru seks nya, Berikut cerita Selengkapnya.</p>
<p><img alt="Mbak seks" src="http://i.ytimg.com/vi/PUsYuMzv6o0/0.jpg" title="Mbak semok" class="alignnone" width="480" height="360" /><br />
Oh ya sebelumnya perkenalkan dulu, namaku Aryo, bujangan desa Klithikan, Tegalgondho, Klaten. Sudah tiga tahun ini aku naksir dengan Ningsih, cewek yang menjadi kembang di desaku. Segala cara aku lakukan untuk memikatnya. Sampai akhirnya, aku beranikan diri untuk menyatakan cintaku. Tepat saat bulan purnama malam selasa kliwon aku ungkapkan seluruh perasaanku padanya. Namun harapan tinggallah harapan. Jawaban yang keluar dari mulut Ningsih tidak sesuai dengan keinginanku.</p>
<p>&#8220;Maaf, Kang, Ningsih selama ini hanya menganggap Kang Aryo seperti kakak sendiri, tidak lebih!&#8221; begitu jawaban Ningsih. Saat itu jantungku terasa seolah-olah berhenti, tubuhku lemas, kedua kakiku terasa lumpuh. Dalam hati aku bersumpah akan mengejar dan mendapatkan Ningsih meskipun harus sampai ke kolong neraka sekalipun.</p>
<p>Dua minggu berlalu, aku terus berpikir bagaimana cara mendapatkan cinta Ningsih. Sampai akhirnya aku sowan ke Mbak Marni. Janda kembang berumur 32 tahun dengan profesi dukun beranak sekaligus seorang paranormal. Dengan sabar Mbak Marni mendengarkan semua curahan hatiku. Senyum dan tatapan matanya yang teduh membuatku leluasa menceritakan kisahku.</p>
<p>&#8220;Aku paham dengan semua yang kau rasakan.&#8221; Mbak Marni membuka pembicaraan.<br />
&#8220;Menurut pandangan bathinku Ningsih bukan jodohmu.&#8221;<br />
&#8220;Tapi Mbak, aku nggak peduli, pokoknya aku harus mendapatkannya&#8221; sergahku.<br />
&#8220;Ehm, ternyata kau orang yang keras kepala juga, ya?&#8221; jawab Mbak Marni dengan tersenyum.<br />
&#8220;Baiklah jika engkau terus bersikukuh dengan keinginanmu, aku tidak bisa menentangnya, namun aku akan tetap membantumu.&#8221;</p>
<p>Sesaat kemudian dia beranjak dari beranda rumah tempat kami mengobrol sejak tadi. Kupandangi sosok tubuhnya yang masih kelihatan padat berisi dan montok. Pantas saja dijuluki janda kembang, pikirku.</p>
<p>&#8220;Aryo, kemari cah bagus!&#8221; terdengar suara dari dalam rumah. Mbak Marni memintaku masuk. Dia memegang satu botol kecil cairan kental putih, dan menyerahkannya padaku.<br />
&#8220;Apa itu, Mbak?&#8221; tanyaku.<br />
&#8220;Buka dan ciumlah baunya, kau pasti mmengetahuinya. Aku pun menuruti perintahnya. Sesaat bau amis merebak di seluruh ruangan.<br />
&#8220;Seperti bau.. bau.. air mani.&#8221; celotehku.<br />
&#8220;Yang kau katakan itu benar, Aryo, itu adalah air mani. Namun itu bukanlah sembarang air mani, itu adalah hasil ritual ilmu pelet nguyup pejuh&#8221; jelas Mbak Marni.<br />
&#8220;Ilmu ini adalah salah satu ilmu pelet terdahsyat dan hanya dapat ditandingi oleh ilmu jaran goyang.&#8221; jelasnya.<br />
&#8220;Sekarang engkau pulanglah, besok pada saat malam bulan purnama datanglah lagi ke rumahku, akan kuturunkan ilmu ini padamu.&#8221; Setelah berpamitan, kutinggalkan rumah Mbak Marni, aku melangkah dengan harapan yang baru. Dalam benakku Ningsih seolah-olah sudah berada dalam genggamanku.</p>
<p>Malam yang ditunggu pun tiba juga. Dengan cepat kuayunkan langkahku menuju ke rumah Mbak Marni. Sesaat kemudian sampailah aku di rumahnya. Kuketuk pintu rumah itu.</p>
<p>&#8220;Aryo, masuklah. Kutunggu kau di kebun belakang rumah.&#8221; ternyata itu suara Mbak Marni. Aku pun heran, mengapa dia menungguku di kebun belakang rumah.</p>
<p>Dengan melewati beberapa parit kecil dan tanah becek, aku pun sampai di sebuah kebun. Namun ini seperti bukan sebuah kebun, melainkan lebih seperti lapangan kecil. Dari kejauhan aku melihat sosok manusia di kegelapan. Ya, itu Mbak Marni, namun ada yang aneh dengan pakaian yang dikenakannya. Jujur saja dia hanya mengenakan kain mori putih tipis yang dililitkan di tubuhnya.</p>
<p>Sejenak darah mudaku berdesir melihat pemandangan itu. Bagaimana tidak, kain itu seperti tidak muat menutupi tubuh Mbak Marni yang sekal dan montok, seolah-olah buah dadanya yang besar akan tumpah keluar, sedangkan bagian bawah kain tersebut hanya menutupi 30 cm di atas lututnya. Aku pun baru tersadar, Mbak Marni ternyata memiliki tubuh yang tidak kalah dengan bintang-bintang top Bollywood.</p>
<p>&#8220;Aryo!&#8221; Mbak Marni memecah lamunanku.<br />
&#8220;Malam ini aku akan ajarkan ilmu pelet nguyup pejuh padamu. Namun sebenarnya ilmu ini hanya untuk orang dewasa. Soalnya nanti kau akan melihat dan melakukan sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh orang dewasa.&#8221; Perkataan Mbak Marni membuat jantungku berdegup kencang.<br />
&#8220;Aryo, ilmu ini terdiri dari tiga bagian, kita lakukan bagian yang pertama dulu. Kau lihat baik-baik gerakanku! Namun sebelumnya buka seluruh pakaianmu dan pakailah ini.&#8221;</p>
<p>Lalu Mbak Marni menyodorkan secarik kain putih yang di kedua ujungnya terdapat tali sehingga bentuknya seperti cawat. Aku pun menuruti perintahnya. Kulepas semua pakaianku, hingga hanya secarik kain ini yang menutup tongkolku.</p>
<p>Bagian pertama ilmu ini pun dimulai. Mbak Marni mulai memperagakan gerakannya. Di bawah sinar bulan purnama, Mbak Marni seperti bidadari yang sedang menari. Gerakan yang diperagakannya sangatlah erotis, hingga aku berpikir sepertinya dia sedang mencoba membangkitkan gairah birahiku. Aku pun semakin tidak tahan melihat gerakan erotisnya hingga tongkolku akhirnya bangun juga. Berbagai cara kulakukan untuk menidurkan kembali tongkolku namun selalu gagal.</p>
<p>&#8220;Aryo, bagian pertama selesai.&#8221;</p>
<p>Mbak Marni menyudahi gerakannya. Dengan bermandi keringat dia mendatangiku. Kain yang melilit tubuh Mbak Marni yang basah menempel di kulit tubuhnya sehingga terlihat jelas setiap lekuk tubuhnya. Dan aku dapat memastikan bahwa selain kain yang melilit tubuhnya, Mbak Marni tidak memakai BH dan celana dalam karena saat itu juga kulihat ada bayangan puting susu yang mencuat di kedua payudaranya sekaligus ada seberkas bayangan hitam di bawah pusarnya. Aku pun semakin bingung melihat semua itu hingga tongkolku pun semakin mengeras, apalagi ketika mata Mbak Marni dari tadi terus mengamati keadaan tongkolku yang tegang terbungkus kain itu.</p>
<p>&#8220;Hm, besar juga.&#8221; seloroh Mbak Marni.<br />
&#8220;Eh, apa Mbak?&#8221; tanyaku salah tingkah.<br />
&#8220;Itu, burung kamu&#8221; jawabnya singkat.<br />
&#8220;Aryo, kamu tidak perlu malu, dan tidak perlu menutupinya karena itu berarti kamu sudah dewasa, seharusnya kamu bangga.&#8221; jelas Mbak marni.</p>
<p>&#8220;Aryo, di bagian kedua nanti kau harus mengikuti semua perintahku. Aku akan memperlihatkan segalanya kepadamu.&#8221; jelas Mbak Marni lagi.<br />
&#8220;Apa maksudnya, Mbak?&#8221; aku pun semakin bingung.<br />
&#8220;Simpan pertanyaanmu! Ayo ikuti aku, Aryo!&#8221; Lalu kami pun meninggalkan tempat tadi. Mbak Marni mengajakku masuk hutan.<br />
&#8220;Kita akan kemana, Mbak?&#8221; tanyaku.<br />
&#8220;Kita akan ke Candi Ireng.&#8221;</p>
<p>Candi Ireng adalah tempat keramat di desa kami tidak sembarang orang bisa mendekatinya. Akhirnya kami pun sampai di Candi Ireng. Candi itu keadaanya sangat tidak terawat, banyak lumut tumbuh di sana-sini. Di depannya, tepatnya di bagian serambi seperti ada altar untuk penyembahan.</p>
<p>&#8220;Aryo bagian kedua dari ilmu ini memang agak menjijikkan, namun aku jamin kau akan suka.&#8221; jelas Mbak Marni dengan senyum menggoda. Kemudian Mbak Marni mendekatiku, ia berada persis di depanku.<br />
&#8220;Namun sebelumnya aku ingin jelaskan tentang letak titik cakra manusia, Aryo. Titik cakra itu akan diaktifkan pada ritual kedua ini. Aryo, pada wanita, titik cakra terletak pada kedua payudara dan kelentit atau klitoris pada vaginanya.&#8221;<br />
&#8220;Biar kutunjukkan padamu!&#8221; lanjutnya.</p>
<p>Dengan tanpa malu-malu, Mbak Marni melepaskan satu-satunya kain yang menutupi tubuhnya hingga tidak ada satu benang pun yang melilit tubuhnya. Aku pun diam terpaku melihat kenyataan itu. Bagaimana tidak, baru kali ini aku melihat tubuh orang dewasa yang telanjang bulat. Bagian tubuh yang tadi samar-samar terlihat, kini lebih jelas. Kedua buah dada Mbak Marni yang besar, montok dengan kedua puting yang mencuat menantang berwarna kemerahan. Sedangkan bagian di bawah perutnya tampak rambut hitam yang lebat.</p>
<p>&#8220;Pegang ini Aryo!&#8221; Mbak Marni menyuruhku memegang kedua payudaranya yang besar. Aku pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Kupegang dengan lembut kedua bukit yang mencuat itu. Kuraba perlahan dan kurasakan bagian putingnya yang mengeras, dan dengan spontan aku meremasnya.<br />
&#8220;Akh, kamu nakal ya, Aryo!&#8221; desahnya genit.<br />
&#8220;Nah, untuk cakra yang kedua adalah bagian ini, aku bantu kau untuk menemukannya&#8221;, lanjutnya.</p>
<p>Mbak Marni kemudian tidur telentang di atas altar, keadaannya seperti bayi yang baru lahir. Kedua pahanya dibuka, sehingga tampak sebuah lubang yang menganga dengan rambut yang tumbuh lebat di sekelilingnya.</p>
<p>&#8220;Mendekatlah Aryo, coba cari cakra yang kedua.&#8221; perintah Mbak Marni sambil kedua jarinya membuka vaginanya.<br />
&#8220;Di bagian atas Aryo, yang menonjol kecil itu!&#8221; teriaknya.</p>
<p>Aku pun melaksanakan perintahnya, kusentuh bagian tonjolan kecil di vaginanya, kemudian kupermainkan. Mbak Marni pun menggelinjang seperti orang kesurupan sambil sekali-kali menggigit lidahnya. Aku yang semakin terbakar birahi mulai mencium memiawnya, tanganku pun spontan bergerilya meremas-remas payudara Mbak Marni yang kini ukurannya semakin menakjubkan.</p>
<p>&#8220;Sst.. Akh.. Aryo!&#8221; desah Mbak Marni. Sesaat kemudian karena asyik menjilati kemaluan Mbak Marni, aku tidak sadar bahwa ada cairan bening menetes dari memiaw Mbak Marni.<br />
&#8220;Ar.. yo.., se.. bentar la.. gi a.. ku a.. kan or.. gas.. me, ka.. mu ha.. rus siap ya, ah..!&#8221; desahnya lirih terputus-putus.<br />
&#8220;Siap apa Mbak?&#8221; tanyaku sambil terus meremas dan mempermainkan putingnya.<br />
&#8220;Mi.. num semua cai.. ran kemalu.. anku karena ini adalah sya.. rat bagi.. an ke.. dua!&#8221;</p>
<p>Benar juga, sesaat kemudian ada cairan yang menyemprot dari lubang kelaminnya. Aku pun segera menghisap seluruh cairan kental itu, rasanya agak asin dan amis namun aku tidak peduli hingga kuhabiskan semua cairan itu dan sesekali aku menjilati cairan yang masih menempel di rambut vaginanya.</p>
<p>&#8220;Cukup Aryo!&#8221; sergah Mbak Marni sambil terengah-engah. Kemudian dia pun bangkit dari posisinya. Ia kemudian membersihkan kemaluannya yang basah.<br />
&#8220;Sekarang kita melakukan bagian ketiga, Aryo. Sedangkan titik cakra laki-laki adalah pada air mani yang dikeluarkannya. Sekarang giliranmu melepaskan kain itu!&#8221; perintahnya sambil terengah-engah.</p>
<p>Aku segera melepaskan kain yang menutup tongkolku. Di hadapan Mbak Marni aku tidak malu-malu lagi. tongkol yang tadi seperti terbelenggu kini dengan bebasnya berdiri tegak.</p>
<p>&#8220;Sekarang keluarkan air manimu dan letakkan dalam botol kecil ini.&#8221; perintahnya.</p>
<p>Aku segera mengocok tongkolku sambil melihat tubuh telanjang Mbak Marni yang duduk sambil membuka pahanya. Sesaat kemudian, crut.. crut! Cairan putih keluar dari kemaluanku dan kutampung hingga sebentar saja botol itu sudah penuh. Mbak Marni tersenyum dan ia segera bangkit dari altar tempat ia duduk.</p>
<p>&#8220;Aryo, prosesi ritual telah selesai, sekarang kenakan kembali kain itu!&#8221; perintah Mbak Marni sambil mengenakan kembali kainnya.<br />
&#8220;Ilmu pelet ini sudah kamu dapatkan, tinggal oleskan pada tubuh Ningsih, maka dia akan tergila-gila padamu.&#8221;<br />
&#8220;Sekarang ayo kita pulang!&#8221;</p>
<p>Akhirnya kami pun meninggalkan candi dan seluruh prosesi ritual. Sebenarnya jauh dalam lubuk hatiku aku masih penasaran. Aku sebenarnya masih ingin menikmati tubuh Mbak Marni yang sintal. Namun aku tahu bahwa Mbak Marni adalah seorang yang professional, dia tidak akan melakukan sesuatu di luar tugasnya.</p>
<p>Esoknya, ilmu yang baru kuperoleh tadi segera kuterapkan pada Ningsih. Dan benar, dia kemudian tergila-gila padaku dan bahkan sampai menyembah-nyembah minta dikawini. Aku pun lega, tidak lupa aku ucapkan terima kasih pada Mbak Marni atas segala bantuannya dan segala pengalaman mendebarkan yang diberikannya selama ritual &#8220;Ilmu Pelet Nguyup Pejuh&#8221; itu. </p>
<p>Demikian cerita Dewasa Ini, semoga bermanfaat bagi anda yang putus cinta, jangan gunakan pelet untuk menipu hatimu, karena cinta sejati tak harus selalu memiliki.</p>
<h4>Cerita Dewasa | Cerita Seks</h4>*<a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/mbak-marni-guru-seks-dan-guru-pelet-ku.html" title="ngentot stw yg lumpuh">ngentot stw yg lumpuh</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/mbak-marni-guru-seks-dan-guru-pelet-ku.html" title="cerita dewasa marni">cerita dewasa marni</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/mbak-marni-guru-seks-dan-guru-pelet-ku.html" title="cerita dewasa guru sex">cerita dewasa guru sex</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/mbak-marni-guru-seks-dan-guru-pelet-ku.html" title="Cerita dewasa Cintaku hanya untuk seks">Cerita dewasa Cintaku hanya untuk seks</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/mbak-marni-guru-seks-dan-guru-pelet-ku.html" title="cerita sek pelet gadis perawan">cerita sek pelet gadis perawan</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/mbak-marni-guru-seks-dan-guru-pelet-ku.html" title="gara gara marni">gara gara marni</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/mbak-marni-guru-seks-dan-guru-pelet-ku.html" title="gairah mbak marni">gairah mbak marni</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/mbak-marni-guru-seks-dan-guru-pelet-ku.html" title="ceritat dewasa di desa ku">ceritat dewasa di desa ku</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/mbak-marni-guru-seks-dan-guru-pelet-ku.html" title="Guru seks oh">Guru seks oh</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/mbak-marni-guru-seks-dan-guru-pelet-ku.html" title="mbak marni">mbak marni</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/mbak-marni-guru-seks-dan-guru-pelet-ku.html" title="mbak marni guru seks ku">mbak marni guru seks ku</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/mbak-marni-guru-seks-dan-guru-pelet-ku.html" title="Bibi guru sex ku">Bibi guru sex ku</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/mbak-marni-guru-seks-dan-guru-pelet-ku.html" title="pelet sex">pelet sex</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/mbak-marni-guru-seks-dan-guru-pelet-ku.html" title="sex marni dewasa panas">sex marni dewasa panas</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/mbak-marni-guru-seks-dan-guru-pelet-ku.html" title="tanteku janda kembang">tanteku janda kembang</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/mbak-marni-guru-seks-dan-guru-pelet-ku.html" title="tanteku sexku">tanteku sexku</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/mbak-marni-guru-seks-dan-guru-pelet-ku.html" title="cerita tante ku pelet">cerita tante ku pelet</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/mbak-marni-guru-seks-dan-guru-pelet-ku.html" title="cerita sex pelet tanteku">cerita sex pelet tanteku</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/mbak-marni-guru-seks-dan-guru-pelet-ku.html" title="cerita aku dan mbak marni">cerita aku dan mbak marni</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/mbak-marni-guru-seks-dan-guru-pelet-ku.html" title="cerita dewasa bu marni">cerita dewasa bu marni</a>*<!-- SEO SearchTerms Tagging 2 Plugin -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/mbak-marni-guru-seks-dan-guru-pelet-ku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku dan Majikanku</title>
		<link>http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/aku-dan-majikanku.html</link>
		<comments>http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/aku-dan-majikanku.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Feb 2011 13:17:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[STW]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritadewasa.modelperawan.info/?p=173</guid>
		<description><![CDATA[Cerita dewasa antara bos dan karyawan kerap terjadi, dan ini adalah sebuah hal lumrah karena seringnya terjadi komunikasi dan akhirnya terjadi pula ketertarikan, salah satu yang umum juga terjadi pada pembantu dan majikan. Sebagai laki &#8211; laki normal yang hanya pernah mendengar dalam cerita, tentu aku tidak mampu menolak dan menyia-nyiakan kesempatan ini. Kenyataan inilah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/">Cerita dewasa</a> antara bos dan karyawan kerap terjadi, dan ini adalah sebuah hal lumrah karena seringnya terjadi komunikasi dan akhirnya terjadi pula ketertarikan, salah satu yang umum juga terjadi pada pembantu dan majikan. Sebagai laki &#8211; laki normal yang hanya pernah mendengar dalam cerita, tentu aku tidak mampu menolak dan menyia-nyiakan kesempatan ini. Kenyataan inilah yang harus kualami, apalagi ini adalah perintah majikan. Kisah ini sungguh unik, itu mengapa dalam cerita ini langsung pada poin cerita.</p>
<p><img class="alignnone" title="majikan binal" src="http://photos.friendster.com/photos/62/98/86368926/1_862574967m.jpg" alt="majikan bugil" width="200" height="150" /><br />
Tanpa berpikir panjang lagi, aku segera menjatuhkan kedua tanganku di atas bukit kembar itu. Mula-mula hanya kusentuh, kuraba dan kuelus-elus saja, tapi lama kelamaan aku mencoba memberanikan diri untuk memegang dan menekan-nekannya. Ternyata nikmat juga rasanya menyentuh benda kenyal dan hangat, apalagi milik majikanku. Ibu majikanku kelihatan juga menikmatinya, terlihat dari nafasnya yang mulai pula tidak teratur.</p>
<p>Desiran mulutnya mulai kedengaran seolah tak mampu menyembunyikannya di depanku.</p>
<p>&#8220;Auhh&#8230;terus Nis, nikmat sayang.</p>
<p>Tekan&#8230;ayo&#8230;teruuuss&#8230;aakhh&#8230; isap Nis&#8230;jilat donk..&#8221; itulah erangan ibu majikanku sambil meraih kepalaku danmembawanya ke payudaranya yang kenyal, empuk dan tidak terlalu besar itu.</p>
<p>Aku tentu saja tidak menolaknya, bahkan sangat berkeinginan menikmati pengalaman pertama dalam hidupku ini. Aku segera menjilat-jilat putingnya,mengisap dan kadang sedikit menggigit sambil tetap memegangnya dengan kedua tanganku. Aku tidak tahu kapan ia membuka celananya, tapi yang jelas ketika aku sedikit melepas putingnya dari mulutku dan mengangkat kepala, tiba-tiba kulihat seluruh tubuhnya telanjang bulat tanpa sehelai benangpun di badannya.</p>
<p>&#8220;Ayo Nis, kamu tentu tau apa yang harus kamu perbuat setelah aku bugil begini. Yah khan?&#8221;pintanya sambil meraih kedua tanganku dan membawanya ke selangkangannya. Lagi-lagi aku tentu mengikuti kemauannya. Aku mengelus-elus bulu-bulu yang tumbuh agak tipis di atas kedua bibir lubang kemaluannya yang sedikit mulai basah itu.</p>
<p>Aku rasanya tak ingin memindahkan mulutku dari bukit kenyalnya itu, tapi karena ia menarik kepalaku turun ke selangkangannya di mana tanganku bermain-main itu, maka aku dengan senang hati menurutinya.</p>
<p>&#8220;Cium donk. Jilat sayang. Kamu ngga jijik khan?&#8221; tanyanya.</p>
<p>&#8220;Ngga bu&#8217;&#8221; jawabku singkat, meskipun sebenarnya aku merasa sedikit jijik karena belum pernah melakukan hal seperti itu, tapi aku pernah dengar cerita dari temanku sewaktu di kampung bahwa orang Barat kesukaannya menjilat dan mengisap cairan kemaluan wanita, sehingga akupun ingin mencobanya.</p>
<p>Ternyata benar, kemaluan wanita itu harum dan semakin lama semakin merangsang. Entah perasaan itu juga bisa di temukan pada wanita lain atau hanya pada ibu majikanku karena ia merawat dan menyemprot farfum pada vaginanya.</p>
<p>Pinggul ibu majikanku semakin lama kujilat, semakin cepat goyangannya, bahkan nafasnya semakin cepat keluarnya seolah ia dikejar hantu.</p>
<p>Kali ini aku berinisiatif sendiri menguak dengan lebar kedua pahanya, lalu menatap sejenak bentuk kemaluannya yang mengkilap dan warnanya agak kecoklatan yang di tengahnya tertancap segumpal kecil daging. Indah dan mungil sekali. Aku coba memasukkan lidahku lebih dalam dan menggerak-gerakkannya ke kiri dan ke kanan, lalu ke atas dan ke bawah.</p>
<p>Pinggul ibu majikanku itu semakin tinggi terangkat dan gerakannya semakin cepat. Aku tidak mampu lagi mengendalikan gejolak nafsuku. Ingin rasanya aku segera menancapkan penisku yang mulai basah ke lubangnya yang sejak tadi basah pula.</p>
<p>Tapi ia belum memberi aba-aba sehingga aku terpaksa menahan sampai ada sinyal dari dia.</p>
<p>&#8220;Berhenti sebentar Nis, akan kutunjukkan sesuatu&#8221; perintahnya sambil mendorong kepalaku, lalu ia tiba-tiba bangkit dari tidurnya sambil berpegangan pada leher bajuku. Kami duduk berhadapan, lalu ia segera membuka kancing bajuku satu persatu hingga ia lepaskan dari tubuhku. Ibu majikanku itu segera merangkul punggungku dan menjilati seluruh tubuhku yang telanjang. Dari dahi, pipi, hidung, mulut, leher dan perutku sampi ke pusarku, ia menyerangnya dengan mulutnya secara bertubi-tubi sehingga membuatku merasa geli dan semakin terangsang.</p>
<p>&#8220;Nis, aku sekalian buka semuanya yach&#8230;..&#8221; pintanya sambil melepaskan sarung dan celana dalamku. Aku hanya mengangguk dan mebiarkannya menjamah seluruh tubuhku.</p>
<p>Sikap dan tindakan ibu majikanku itu membuat aku melupakan segalanya, baik masalah keluargaku, penderitaanku, tujuan utamaku maupun status dan hubunganku dengan majikannya. Yang terpikir hanyalah bagaimana menikmati seluruh tubuh ibu majikanku, termasuk menusuk lubang kemaluannya dengan tongkatku yang sangat tegang itu.</p>
<p>&#8220;Bagaimana Nis&#8230;.? enak yach?&#8221; tanyanya ketika ia berhenti sejenak menjilat dan memompa tongkatku dengan mulutnya. Lagi-lagi aku hanya mampu mengangguk untuk mengiyakan pertanyaannya. Ia mengisap dan menggelomoh penisku dengan lahapnya bagaikan ****** makan tulang.</p>
<p>&#8220;Aduhhh&#8230;akhhh&#8230;uuuhhhh&#8230;.&#8221; suara itulah yang mampu kukeluarkan dari mulutku sambil menjambak rambut kepalanya.</p>
<p>&#8220;Ayo Nis&#8230;.cepat masukkan inimu ke lubangku, aku sudah tak mampu menahan nafsuku lagi sayang,,&#8221; pintanya sambil menghempaskan tubuhnya ke kasur dan tidur terlentang sambil membuka lebar-lebar kedua pahanya untuk memudahkan penisku masuk ke kemaluannya.</p>
<p>Aku tak berpikir apa- apa lagi dan tak mengambil tindakan lain kecuali segera mengangkangi pinggulnya, lalu secara perlahan menusukkan ujung kemaluanku ke lubang vaginya yang menganga lagi basah kuyup itu.</p>
<p>Senti demi senti tanpa sedikitpun kesulitan, penisku menyerobot masuk hingga amblas seluruhnya ke lubang kenikmatan ibu majikanku itu. Mula-mula aku gocok, tarik dan dorong keluar masuk secara pelan, namun semakin lama semakin kupercepat gerakannya,sehingga menimbulkan suara aneh seiring dengan gerakan pinggul kami yang seolah bergerak/bergoyang seirama.</p>
<p>&#8220;Plag..pliggg&#8230;.ploggg,,,decak&#8230;decikkk..dec ukkk k&#8221; Bunyi itulah yang terdengar dari peraduan antara penisku dan lubang vagina ibu majikanku yang diiringi dengan nafas kami yang terputus-putus, tidak teratur dan seolah saling kejar di keheningan malam itu.</p>
<p>Aku yakin tak seorangpun mendengarnya karena semua orang di rumah itu pada tidur nyenyak, apalagi kamar tempat kami bergulat sedikit berjauhan dengan kamar lainnya, bahkan peristiwa itu terjadi sekitar pukul 11.00-12.00 malam.</p>
<p>&#8220;Bu&#8230;bu&#8230;..aku ma..mau..kkk&#8221; belum aku selesai berbisik di telinganya, ibu majikanku tiba-tiba tersentak sambil mendorongku, lalu berkata:</p>
<p>&#8220;Tunggu dulu. Tahan sebentar sayang&#8221; katanya sambil memutar tubuhku sehingga aku terpaksa berada di bawahnya. Ternyata ia mau merubah posisi dan mau mengangkangiku. Setelah ia masukkan kembali penisku ke lubangnya, ia lalu lompat-lompat di atasku sambil sesekali memutar gerakan pinggulnya ke kiri dan ke kanan. Akibatnya suara aneh itu kembali mewarnai gerakan kami malam itu &#8220;decik&#8230;decakkk..decukkk&#8221;.</p>
<p>Setelah beberapa menit kemudian ibu majikanku berada di atasku seperti orang yang naik kuda, ia nampaknya kecapean sehingga seluruh badannya menindih badanku dengan menjulurkan lidahnya masuk ke mulutku.</p>
<p>Aku kembali merasakan desakan cairan hangat dari batang kemaluanku seolah mau keluar.</p>
<p>Aku merangkul punggung ibu majikanku dengan erat sekali.</p>
<p>&#8220;Akk..aakuuu tak mampu menahan lagi bu&#8217;. Aku keluarkan saja bu&#8230;yah&#8221; Pintaku ketika cairan hangat itu terasa sudah diujung penisku dan tiba-tiba ibu majikanku kembali tersentak dan segera menjatuhkan badannya di sampingku sambil terlentang, lalu meraih kemaluanku dan menggocoknya dengan keras serta mengarahkannya ke atas payudaranya. Cairan hangat yang sejak tadi mendesakku tiba-tiba muncrat ke atas dada dan payudara ibu majikanku. Iapun seolah sangat menikmatinya. Tarikan nafasnya terdengar panjang sekali dan ia seolah sangat lega.</p>
<p>Tindakan ibu majikanku tadi sungguh sangat terkontrol dan terencana. Ia mampu menguasai nafsunya. Maklum ia sangat berpengalaman dalam masalah sex.</p>
<p>Terbukti ketika spermaku sudah sampai di ujung penisku, ia seolah tau dan langsung dicabutnya kemudian ditumpahkan pada tubuhnya. Entah apa maksudnya, tapi kelihatannya ia cukup menikmati.</p>
<p>&#8220;Nis,, anggaplah ini hadiah penyambutan dariku. Aku yakin kamu belum pernah menerima hadiah seperti ini sebelumnya. Yah khan?&#8221; katanya seolah sangat puas dan bahagia ketika kami saling berdamping dalam posisi tidur terlentang. Setelah berkata demikian, ia lalu memelukku dan mengisap-isap bibirku, lalu berkata:</p>
<p>&#8220;Terima kasih yah Nis atas bantuanmu mau memijit tubuhku. Mulai malam ini, Kamu kujadikan suami keduaku, tapi tugasmu hanya menyenangkan aku ketika suamiku tidak ada di rumah. Mau khan?&#8221; katanya berbisik.</p>
<p>&#8220;Yah,,bu&#8217;. Malah aku senang dan berterima kasih pada ibu atas budi baiknya mau menolongku. Terima kasih banyak juga bu&#8217;&#8221; jawabku penuh bahagia, bahkan rasanya aku mulai sedikit terangsang dibuatnya, tapi aku malu mengatakannya pada ibu majikanku, kecuali jika ia memintanya.</p>
<p>Sejak saat itu, setiap majikan laki-lakiku bermalam di luar kota, aku dan ibu majikanku seperti layaknya suami istri, meskipun hanya berlaku antara jam 21.00 sampai 5.00 subuh saja. Sedang di luar waktu itu, kami seolah mempunyai hubungan antara majikan dan buruh di rumah itu. Aku sangat disayangi oleh seluruh anggota keluarga majikanku karena aku rajin dan patuh terhadap segala perintah majikan, sehingga selain aku diperlakukan layaknya anak atau keluarga dekat di rumah itu, juga aku dibiayai dalam mengikuti pendidikan pada salah satu perguruan tinggi swasta di kota Makassar, bahkan aku diberikan sebuah kendaraan roda dua untuk urusan sehari-hariku.</p>
<p>Sayang aku dikeluarkan dari perguruan tinggi itu pada semester 3 disebabkan aku tidak lulus pada beberapa mata kuliah akibat kemalasanku belajar dan masuk kuliah.</p>
<p>Karena aku sangat malu dan berat pada majikan laki-lakiku atas segala pengorbanan yang diberikan padaku selama ini, terpaksa aku meninggalkan rumah itu tanpa seizin mereka dan aku kembali ke kota Bone untuk melanjutkan pendidikanku pada salah satu perguruan tinggi yang ada di kotaku tersebut. Untung aku punya sedekit tabungan, karena selama kurang lebih 2 tahun tinggal bersama majikanku, aku rajin menabung setiap diberikan uang oleh majikanku.</p>
<p>Selama 4 tahun mengikuti kuliah di kotaku ini,akhirnya aku lulus dengan predikat baik berkat ketekunan dan kerajinanku belajar.</p>
<p>Akhirnya berakhir juga ceritaku antara aku dan majikanku, ada beberapa pengalaman panas yang ku miliki, mungkin nanti akan ku tulis pada kiriman ceritaku selanjutnya.</p>
<h4>Cerita Dewasa | Cerita Seks</h4>*<a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/aku-dan-majikanku.html" title="aku menyerobot payudaranya">aku menyerobot payudaranya</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/aku-dan-majikanku.html" title="Kuraba jilat cium">Kuraba jilat cium</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/aku-dan-majikanku.html" title="lubang kemaluannya pun mulai basah">lubang kemaluannya pun mulai basah</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/aku-dan-majikanku.html" title="majikan jilat">majikan jilat</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/aku-dan-majikanku.html" title="majikan menjilat penisku">majikan menjilat penisku</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/aku-dan-majikanku.html" title="Memek majikanku yang basah">Memek majikanku yang basah</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/aku-dan-majikanku.html" title="memek nyonya majikan stw">memek nyonya majikan stw</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/aku-dan-majikanku.html" title="memek stw menganga">memek stw menganga</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/aku-dan-majikanku.html" title="pembantu laki main seks dengan majikan">pembantu laki main seks dengan majikan</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/aku-dan-majikanku.html" title="Vagina majikanku">Vagina majikanku</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/aku-dan-majikanku.html" title="kisah mesum majikanku">kisah mesum majikanku</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/aku-dan-majikanku.html" title="Jilat donk sayang">Jilat donk sayang</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/aku-dan-majikanku.html" title="istri majikanku yang haus sex">istri majikanku yang haus sex</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/aku-dan-majikanku.html" title="Cerita dewasa aku dan majikanku">Cerita dewasa aku dan majikanku</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/aku-dan-majikanku.html" title="Cerita dewasa bercinta dengan orang barat">Cerita dewasa bercinta dengan orang barat</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/aku-dan-majikanku.html" title="cerita dewasa pembantu dan majikan">cerita dewasa pembantu dan majikan</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/aku-dan-majikanku.html" title="cerita perselingkuhanku dengan istri majikanku">cerita perselingkuhanku dengan istri majikanku</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/aku-dan-majikanku.html" title="cerita seks antara pembantu dan majkan">cerita seks antara pembantu dan majkan</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/aku-dan-majikanku.html" title="cerita sex dengan majikanku yang stw">cerita sex dengan majikanku yang stw</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/aku-dan-majikanku.html" title="cerita sex majikan cewek dengan pembantu laki">cerita sex majikan cewek dengan pembantu laki</a>*<!-- SEO SearchTerms Tagging 2 Plugin -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/aku-dan-majikanku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ibu Vivi Costumerku</title>
		<link>http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/ibu-vivi-costumerku.html</link>
		<comments>http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/ibu-vivi-costumerku.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Feb 2011 00:48:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[STW]]></category>
		<category><![CDATA[seks ibu ibu]]></category>
		<category><![CDATA[seks setengah baya]]></category>
		<category><![CDATA[setengah baya]]></category>
		<category><![CDATA[wanita setengah baya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritadewasa.modelperawan.info/?p=164</guid>
		<description><![CDATA[Seks wanita setengah baya selalu menarik untuk disimak, dan tak jarang orang lebih suka tante girang dibanding abg daun muda, mungkin lebih profesional dan tanpa malu ataupun basa basi dalam hal bercinta. Kejadian ini kira-kira seminggu yang lalu. Aku bekerja di bagian EDP sebuah perusahaan swasta di daerah Kuningan, Jakarta. Untuk sambilan aku juga punya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seks wanita setengah baya selalu menarik untuk disimak, dan tak jarang orang lebih suka tante girang dibanding abg daun muda, mungkin lebih profesional dan tanpa malu ataupun basa basi dalam hal bercinta.</p>
<p>Kejadian ini kira-kira seminggu yang lalu. Aku bekerja di bagian EDP sebuah perusahaan swasta di daerah Kuningan, Jakarta. Untuk sambilan aku juga punya usaha kursus private komputer. Siang itu Ibu Vivi, salah satu klien telepon. Katanya dia belum tahu juga cara mengirim e-mail. Maklum baru sekali aku mengajarinya. Dari pembicaraan disetujui untuk ketemu jam 7 malam. Karena dia sampai rumah jam 6 sore. Dia kerja jadi interpreter bahasa Jepang.</p>
<p>Jam 18.45 aku sudah sampai di Lobby Apartemen-nya di bilangan Benhil. Tidak lama dia nongol di Lobby dengan masih memakai pakaian kerjanya, dan segera mengajak saya naik ke Apartemennya. Tanpa ganti baju, dia langsung ke meja komputernya dan menghidupkannya. Tidak lama masalahnya beres, e-mailnya bisa terkirim semua. Dia cuma lupa tidak clik &#8220;send &#038; receive&#8221;.</p>
<p>Kemudian dia minta diajari browsing memakai Explorer. Berhubung dia jarang memakai komputer, maka dia terlihat kaku cara memegang mouse-nya. Entah apa sebabnya aku bermaksud memberinya contoh, eh tangan dia masih memegang mouse. Yah tangannya keremas oleh tanganku yang kekar dan keras. Aduh.., halus juga tangan Ibu Vivi. aku buru-buru menarik tanganku, tidak enak takut dikatakan kurang ajar. Suaminya adalah teman bosku. Kalau dilaporkan bisa-bisa aku dipecat. Dia melepaskan mouse, dan gantian aku yang memegang mouse-nya sambil memberitahu dia tentang perbedaan bentuk kursor.</p>
<p>Aku belum menyuruhnya mencoba, eh.. tangannya langsung memegang mouse yang masih aku pegang. Yah tahu sendiri kan tanganku yang dia pegang. Aku ingin melepaskan tapi sayang karena halus sekali telapaknya. Dan bau parfumnya juga lembut, membuatku betah di dekatnya. Aku biarkan saja. Aku pikir dia akan melepaskan tanganku, eh.. ternyata tidak lepas juga tanganku dari genggamannya. Malah tanganku dielus-elus dengan lembut. Maklum tanganku bulunya juga lumayan lebat.</p>
<p>Aku beranikan diri untuk menegurnya, &#8220;Ibu.., sebentar lagi Bapak pulang..&#8221;. Belum sempat berkata banyak, jari telunjuk tangan satunya diletakkan di depan bibir sambil, &#8220;psst..&#8221;, dan kata dia, &#8220;Hari ini dia ke bini tuanya..&#8221;. Aduh rejeki nomplok nih, kataku dalam hati. Tapi aku pura-pura tidak berminat. Meski dalam hati sudah suka sekali.</p>
<p>Tanganku yang masih memegang mouse masih di elus. Kebetulan aku duduk di sebelah kanannya, jadi tangan kiriku bebas. Dan lagi kursinya tidak memakai tangan-tangan. Makin nikmat saja. Tangan kirinya mengelus tangan kiriku dan diangkatnya, dan ditaruh di atas pahanya yang putih dan mulus. Meski dia tidak memakai rok mini, tapi karena duduk, ketarik juga ke atas. Roknya yang biru tua menambah kontrasnya warna.</p>
<p>Setelah meletakkan tanganku, tangan Ibu Vivi bergerak lagi ke tengkukku, dan dielusnya. Wow.., kini makin panas badanku. Secara refleks tanganku juga membalas aksinya, dan kuelus pahanya pelan-pelan. Makin lama makin ke atas menuju pangkalnya. Roknya pun makin tersibak ke atas terdorong tanganku. Makin ke atas makin mulus. Kuusap pangkal pahanya dan matanya mulai nanar.</p>
<p>Ibu Vivi sebenarnya biasa saja, tidak terlalu istimewa. Tingginya juga tidak sampai 160 cm. Kalau berdiri dia tidak lebih tinggi dari pundakku. Cuma body-nya sungguh menggiurkan dan kulitnya juga putih mulus. Maklum dia masih keturunan Chinesse. Kasihan dia, cuma jadi istri muda. Jadi jatah batinnya tidak terima full. Padahal usianya belum sampai 30 th, hampir sebaya aku.</p>
<p>Kini tanganku sudah hilang di dalam rok kerjanya, mengusap-usap pangkal pahanya. Kemudian dia berdiri di depanku yang masih duduk. Lalu kancing bajunya dibuka semua. Tapi bajunya tidak dilepas. Dia tarik tanganku, dipindahkannya ke pinggangnya. Kaus dalamnya kuangkat, dan perutnya yang putih bersih pun terpampang di depanku. Kuciumi perutnya dan sekeliling pusarnya kujilati. Dia menggelinjang kegelian. Kedua tangannya mengacak-acak rambutku dan kadang kala dijambaknya.</p>
<p>Baju dan kaus dalamnya sudah lepas dari roknya. Kaus dalamnya kuangkat lebih ke atas, dan tampak BH-nya menyangga bukit yang tidak terlalu besar tapi juga tidak terlalu kecil. Pokoknya bentuknya bagus dan ukurannya pas. Dan tentu saja halus. Kebetulan kancing BH-nya di depan, jadi tanpa usaha lebih keras aku sudah bisa melepas BH-nya. Bukit kembarnya tersaji jelas di depanku. Sedikit kendor, tapi masih oke.</p>
<p>Aku sambut salah satu putingnya yang berwarna coklat muda dengan bibir dan lidah. Sementara tangan kananku melintir putingnya yang satu lagi. Seperti mencari gelombang radio. Betul juga.., tidak beberapa lama terdengar desis seperti gelombang FM stereo. Tanganku yang satu lagi menyusup ke dalam roknya dan meremas-remas pantatnya yang juga sudah agak turun. Maklum lah sudah hampir 30 th umurnya.</p>
<p>Tangan Ibu Vivi (Oh ya aku tetap panggil dia Ibu karena dia customerku) yang satu lagi sudah pindah aktivitasnya ke selangkanganku. Penisku yang sudah tegang tampak jelas menonjol dari balik celanaku. Itu yang menjadi sasaran akTVitasnya. Bahkan zipperku sudah dia turunkan, jadi tampak jelas ujung moncong meriamku dari balik celana dalamku.</p>
<p>Karena dielus terus penisku bertambah panjang sampai ukuran maksimalnya. Kira-kira 2 centimeter di bawah pusar. Tangannya pun sudah masuk ke dalam CD-ku dan mulai mengocok-ngocoknya. Akhirnya ujung penisku keluar dengan sendirinya dari balik CD-ku. Akupun tidak mau kalah, tanganku yang di pantatnya, aku pindah aktivitasnya ke sela-sela pahanya. Dari CD-nya sudah terasa kalau vaginanya sudah basah. Aku tarik sedikit CD-nya ke bawah, dan dengan sedikit digeser ke samping, aku sudah bisa memegang belahannya. Lalu kuusap-usap dengan jari tengah. Sementara desis FM stereonya makin keras terdengar, &#8220;Ssst.., uuhh.., uhh.., sst&#8221;.</p>
<p>Dengan dibantu jari telunjuk, aku pegang clitorisnya yang kebetulan agak panjang dan kupilin nakal. Gerakan badan Ibu Vivi makin keras dan kepalanya sering ditarik ke belakang. Badannya bergetar. Suaranya makin seru, untung di apartemen, jadi tdak terlalu gaduh karena jauh dari tetangga.<br />
&#8220;Yan.., lepasin celanaku.., aku sudah nggak tahan&#8221;, bisik Ibu Vivi. Dengan patuh aku penuhi permintaannya. Sementara tangannya sibuk melepas sabukku dan memelorotkan celanaku serta CD-ku sekaligus hingga lutut. Dia agak terkejut melihat penisku.<br />
&#8220;Kamu punya ukuran boleh juga.., dari pertama kamu ke sini sudah kuperhatikan, makanya aku pingin&#8221;, katanya setengah sadar setengah terdengar.</p>
<p>Sementara CD-nya sudah tergeletak di lantai. Aku masih duduk di kursi tanpa sandaran tangan. Kuangkat roknya dan aku cium pahanya. Bahkan aku sempat kasih tanda merah di kedua pangkal pahanya. Dia sudah tidak sabar lagi, tanpa memberiku kesempatan untuk melepaskan celana secara sempurna, dia sudah memegang ujung penisku dan dibimbingnya menuju lubangnya yang basah dan hangat. Serta berbulu sedikit pada bagian atasnya saja.</p>
<p>Pelahan tapi pasti Ibu Vivi menurunkan pantatnya, &#8220;Bless&#8221;. Matanya terbelalak merasakan batang penisku menyusup dengan hangat ke lubang vaginanya. Rupanya basahnya sudah sempurna hingga tanpa kesulitan sudah batang penisku masuk ke vaginanya. Tapi berhenti sampai di situ saja, tidak di terusin lagi.</p>
<p>&#8220;yan.., batang penismu panjang betul&#8221;, katanya sambil mulai menaik-turunkan pantatnya. Sementara aku menenangikan pikiran, ambil napas, dan kosentrasi ke tempat lain. Biar customerku puas duluan. Aku coba memperhatikan TV yang sedang menyiarkan sinetron. Jadi konsentrasiku tidak tertuju pada penisku yang sedang dikerjai habis-habisan oleh Ibu Vivi. Naik turun, digoyang ke kiri dan ke kanan, diputar. Entah diapain lagi. Eh.., bener tidak lama badannya terasa bergetar lalu melenguh seperti sapi.., uhh.., yang lebih keras dari sebelumnya dan tiba-tiba memelukku kencang sekali dan jarinya meremas punggungku. Untung aku masih memakai baju. Kalau tidak, bisa-bisa kuku Ibu Vivi menancap di punggungku. Keringatnya menetes ke baju kerjanya yang belum sempat dilepas, terlihat makin cantik dengan tetesan keringat di rambut dan keningnya.</p>
<p>Sementara biji pelirku juga terasa basah oleh cairan dari vaginanya.<br />
&#8220;Ugghh.., gila, nikmat sekali&#8221;, katanya.<br />
&#8220;Ibu terusin aja&#8221;, aku nimpali.<br />
&#8220;Ah.., panggil Vivi aja, entar aku lemas banget&#8221;, jawabnya.<br />
Batang penisku juga sudah terasa kesemutan, mau menumpahkan muatannya. Tapi aku tahan dulu. Kuangkat kedua kakinya di belakang lututnya dengan kedua tangan, sehingga seperti digendong. Tapi batang penisku masih menancap di lubang vaginanya. Lalu aku jalan menuju tembok dan aku rapatkan badannya ke tembok dengan tetap kugendong. Bagiku tidak ada masalah mengangkatnya. Tidak percuma aku hobby olah raga. Lalu aku mulai menggoyang pinggangku maju mundur, goyang kiri, goyang kanan. Matanya sebentar-sebentar terpejam, sebentar kemudian terbuka lebar. Sisa air yang dia keluarkan tadi menimbulkan irama yang teratur seirama dengan goyangan pantatku. Tidak lama dia keluarkan lagi muatan dari dalam vaginanya. Suara erangannya lebih seru dari yang pertama. Leherku dipeluknya kencang, didekap ke dadanya, disela-sela bukit.</p>
<p>&#8220;Yan, kamu sudah nyampe belum?&#8221;, tanyanya setelah berhasil mengatur nafasnya.<br />
&#8220;Hampir Bu&#8221;.<br />
&#8220;Turunin aku dulu&#8221;, tanpa mengiyakan, aku turunkan tubuhnya lalu melangkah ke meja tamu mengambil tisue.<br />
Dia memasukkan tangannya ke dalam roknya dan dia mengelap vaginanya yang basah kuyup. Sementara batang penisku berdenyut-denyut semakin keras pertanda muatannya minta dibongkar. Dengan tidak sabar aku ikuti Ibu Vivi ke ruang tamu, dan dari belakang aku peluk dia. Lalu aku minta dia menunduk dengan kaki mengangkang. Lalu aku naikkan rok kerjanya hingga pantatnya yang putih kemerahan dan vaginanya yang putih kemerahan dengan bulu yang tipis tampak menantang untuk dijamah. Dengan bepegangan pada sandaran tangan kursi tamu.</p>
<p>Dia menikmati lagi sentuhanku. Kali ini yang bekerja lidahku. Aku jilat sedikit clitorisnya dan di jilati agar basah lagi. Tidak sampai dua menit sudah tampak ada cairan bening lagi di vaginanya. Maklum lampunya tidak dimatikan dan terang lagi. Jadi detailnya kelihatan jelas. Aku akhiri kegiatan jilat menjilat, karena muatanku sudah meronta minta dikeluarin. Lalu aku masukkan lagi dari belakang penisku ke vaginanya. Dia mendesis lagi demikian juga aku. Hangat dan lembab. Lalu aku mulai goyang kiri kanan, kadang-kadang aku putar. Sementara aku makin berat menahan muatanku, aku tanya dia, &#8220;Bu boleh keluari di dalam..&#8221;.<br />
&#8220;Boleh, emang sudah hampir..&#8221;.<br />
&#8220;Ya&#8221;.<br />
&#8220;Kita sama-sama ya&#8221;.<br />
Aku goyang terus sampai aku merasa sangat nikmat karena muatanku sudah sampai di dekat pintu. Lalu kupeleuk dia dari belakang sambil aku remes dadanya. Dan, &#8220;cret.., cret.., cret&#8221;, air maniku muncrat di dalam lubang vaginanya. Dan Ibu Vivi pun merintih lalu mencengkeram tangan-tangan kursi dengan erat serta badannya bergetar dan menegang. Rupanya dia klimaks juga. Dengan penisku dan vaginanya masih bersatu aku tetap memeluknya dari belakang.</p>
<p>&#8220;Thanks Yan.., kamu sangat hebat. Kamu telah memberiku kenikmatan seks yang tiada&#8221;.<br />
Cuma kujawab, &#8220;Ibu juga hebat&#8221;.<br />
Tiba-tiba aku merasa ada cairan hangat meleleh dari vaginanya, dan jatuh ke lantai. Rupanya air maniku dan air kenikmatannya bercampur jadi satu dan jatuh. Lalu aku cabut penisku yang sudah lemas dan &#8220;pluk&#8221; suaranya seperti botol sampanye dibuka. Dengan rok kerja yang masih terangkat dan dipeganginya, dia berbalik ke arahku dengan memperlihatkan bulu kemaluannya yang tipis dan tersenyum. Tidak lama dari vaginanya jatuh lagi campuran maniku dan air kenikmatannya di lantai dan kali ini lebih banyak. Ada juga yang meleleh di pahanya yang mulus. Rupanya dia menikmati betul air maniku.</p>
<p>saat aku mau membersihkan dengan tisue, eh dia melarangnya.<br />
&#8220;Biarin aja, aku ingin menikmatinya&#8221;.<br />
Wah, erotis juga nih orang. Rupanyanya dia belum pernah merasakan klimaks sebelumnya. Hal itu aku tahu saat dia mengantarkanku turun ke lobby. Katanya, suaminya paling lama tahan cuma 3 menit. Dia kawin karena suka sama duitnya. Maklum teman bosku bisnisnya lumayan maju, eksportir hasil bumi yang tidak terkena dampak turunnya nilai rupiah terhadap dollar. Di lift sekali lagi di bilang thank you, dan dia berharap komputernya sering rusak. Sejak saat itu terjalinlah cinta kasih yang dilampiaskan secara sembunyi-sembunyi antara aku dengan Ibu Vivi.</p>
<p>Demikian cerita Dewasa yang dialami seorang pria yang sering bertemu dengan klien atau costumer.</p>
<h4>Cerita Dewasa | Cerita Seks</h4>*<a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/ibu-vivi-costumerku.html" title="cerita dewasa sembunyi">cerita dewasa sembunyi</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/ibu-vivi-costumerku.html" title="NGENTOT IBU SEMBUNYI SEMBUNYI">NGENTOT IBU SEMBUNYI SEMBUNYI</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/ibu-vivi-costumerku.html" title="janda yang digoyang lagi merintih">janda yang digoyang lagi merintih</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/ibu-vivi-costumerku.html" title="ibu setengah baya suka daun muda">ibu setengah baya suka daun muda</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/ibu-vivi-costumerku.html" title="Cerita sex mama pegang tangan">Cerita sex mama pegang tangan</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/ibu-vivi-costumerku.html" title="cerita sex bu nyai vivi">cerita sex bu nyai vivi</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/ibu-vivi-costumerku.html" title="cerita sex aku suka seks sembunyi-sembunyi">cerita sex aku suka seks sembunyi-sembunyi</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/ibu-vivi-costumerku.html" title="cerita seks vivi koleksi">cerita seks vivi koleksi</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/ibu-vivi-costumerku.html" title="Cerita Ngentot sembunyi-sembunyi">Cerita Ngentot sembunyi-sembunyi</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/ibu-vivi-costumerku.html" title="cerita dewasa stw klimaks">cerita dewasa stw klimaks</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/ibu-vivi-costumerku.html" title="selingkuh ngentot sembunyi-sembunyi">selingkuh ngentot sembunyi-sembunyi</a>*<!-- SEO SearchTerms Tagging 2 Plugin -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/ibu-vivi-costumerku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ceritaku Dengan Mbak Titis</title>
		<link>http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/ceritaku-dengan-mbak-titis.html</link>
		<comments>http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/ceritaku-dengan-mbak-titis.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 Jan 2011 05:02:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[STW]]></category>
		<category><![CDATA[ibu genit]]></category>
		<category><![CDATA[ibu muda]]></category>
		<category><![CDATA[ibu-ibu genit]]></category>
		<category><![CDATA[istri bos]]></category>
		<category><![CDATA[istri bosku]]></category>
		<category><![CDATA[seks dengan mbak mbak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritadewasa.modelperawan.info/?p=146</guid>
		<description><![CDATA[Fantasi seks anak muda banyak yang mengarah pada tante tante ataupun mbak-mbak, bahkan ibu-ibu setebngah tua atau stw pun kerap menjadi objek fantasi anak muda, tidak heran hal ini terjadi, mengingat seks tak pernah mengenal usia. Berikut cerita dewasa pengakuan dari seorang pemuda yang ngeseks dengan mbak mbak. Namaku Dimas. Aku tinggal di kota jogja. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Fantasi seks anak muda banyak yang mengarah pada tante tante ataupun mbak-mbak, bahkan ibu-ibu setebngah tua atau stw pun kerap menjadi objek fantasi anak muda, tidak heran hal ini terjadi, mengingat seks tak pernah mengenal usia. Berikut cerita dewasa pengakuan dari seorang pemuda yang ngeseks dengan mbak mbak.</p>
<p>Namaku Dimas. Aku tinggal di kota jogja. Ceritaku ini terjadi pada tahun 2001. Pada waktu itu aku masih kuliah di sebuah PTN terkenal di jogja. Aku ambil cuti kuliah untuk bekerja di sebuah radio swasta yang baru berdiri. Waktu itu aku bekerja sebagai kru produksi. Pekerjaannya sangat sederhana yaitu merekam lagu, membuat iklan radio, dan mempersiapkan segala hal yang sifatnya off-air. Pemilik radio itu namanya Bapak Damian. Dia mempunyai istri yang sangat cantik. Aku biasa menyebutnya dengan Ibu Titis.</p>
<p>Ibu Titis tingginya kira-kira 170cm, bahkan lebih tinggi dari suaminya. Ibu Titis bekerja di sebuah perusahaan swasta di jogja. Sejak pertama kali masuk kerja di radio itu, aku udah kepincut dengan Ibu Titis. Ibu Titis ini berparas sangat cantik, mungkin sensual. Tinggi kira-kira 170cm, berat 50kg. Payudaranya tidak besar, sama sekali tidak besar. Tapi justru payudaranya yang kecil itu yang membuatku sangat penasaran. Aku selalu terobsesi dengan payudara yang kecil.</p>
<p>Sesampai di dalam rumah aku tidak menemukan siapa pun. Dimana Mbak Titis, pikirku. Kulangkahkan kakiku ke ruang tengah. Kosong juga. Wah, di mana nih. Perlahan aku berjalan ke dapur sambil berharap cemas. Kalo udah pada tidur ya aku pulang aja. Sampai aku dikejuntukan oleh sepasang tangan yang melingkar dipinggangku dari belakang.<br />
&#8220;malam ini temenin Mbak ya&#8221;, terdengar bisikan di telingaku.<br />
Tanpa basa-basi aku segera memutar tubuhku dan di depanku telah berdiri Mbak Titis dengan paras yang sangat cantik. Wajah Mbak Titis persis di depanku. Hidungku nyaris bersentuhan dengan hidung Mbak Titis. Terasa hangat di wajahku ketika Mbak Titis menghembuskan nafas. Aku benar-benar dibuat terpesona.<br />
Mbak Titis sudah berganti pakaian dengan kimono warna pink. Matanya sayu menatapku. Entah keberanian dari mana yang mendorong wajahku sehingga bibirku mengecup lembut bibir Mbak Titis. Tidak ada perlawanan dari Mbak Titis. Bibirku terus bermain di bibir Mbak Titis beberapa lama. Kurasakan tangan Mbak Titis meremas lembut kemejaku. Aku mencoba melingkarkan tanganku di punggung Mbak Titis. Kuusap perlahan punggungnya sambil terus memainkan bibirku. Lidahku mulai menerobos masuk ke dalam mulut Mbak Titis. Bibir Mbak Titis lembut sekali, wangi dan itu membuatku semakin bernapsu.<br />
Lidahku semakin liar bermain. Kuciumi lagi bibirnya, hidungnya, matanya, keningnya, pipinya, dagunya. Dan semuanya terasa lembut. Napas Mbak Titis semakin memburu. Tanganku bergerak ke bawah mencari2 tali kimono. Setelah ketemu, kuloloskan talinya pelan. Ketika berhasil kulepaskan, kimono tersebut merosot sedikit menjuntai ke lantai.</p>
<p>Kumundurkan tubuhku dan nampaklah pemandangan yang sangat indah yang sering kubayangkan selama ini. Mbak sudah tidak memakai bra dan cd. Payudara yang selama ini hanya ada dalam imajinasiku kini terpampang jelas di hadapanku. Tampak puting yang kecil berwarna coklat dan merah muda pada ujungnya. Bener-bener sesuai ama yang kuharapkan. Payudaranya kecil, mungkin ukuran 34a. Tapi aku suka banget ama yang segitu.<br />
&#8220;Dimas Kenapa berhenti?&#8221;, ucapnya lirih seraya matanya yang sayu memandangku. Tanpa pikir panjang kuhampiri Mbak Titis dan berlutut di depannya. Aku membungkuk dan mencium lembut jari kaki sebelah kirinya sementara tangan kananku membelai lembut betis kanan Mbak Titis. Yang kudengar saat itu hanya lenguhan nikmat dari Mbak Titis. Kudongakkan kepalaku menatap Mbak Titis. Mbak Titis hanya menatapku sayu dengan nafas yang memburu. Kuarahkan perhatianku lagi ke bawah. Kuciumi lagi kaki kiri dan kanan berganti sementara tanganku mengusap lembut betisnya. Mbak Titis terus mendesis sampai suatu saat Mbak Titis hampir terduduk karena menahan kenikmatan dari ciuman dan belaian di betisnya.<br />
Aku bangkit dan kusandarkan tubuh Mbak Titis di tembok dapur dengan posisi tubuh berdiri. Aku berlutut lagi dan kini yang menjadi sasaranku adalah pahanya. Kuciumi pelan paha kanan Mbak Titis. Tangan kanan Mbak Titis mencengkeram tembok. Kuciumi terus mulai dr atas lutut sampai mendekati pangkal pahanya. Tercium aroma yang membuatku semakin mabuk asmara ketika menciumi sekitar pangkal paha. Mbak Titis berusaha mengatupkan pahanya tapi aku menahannya dengan kedua tangan supaya tetap terbuka. Ciumanku pindah ke paha yang kiri sementara tangan kananku bergerak ke atas ke wilayah perut dan mengusap pelan dengan ujung jariku. Mbak Titis semakin mendesis tidak karuan.<br />
&#8220;Oh&#8230; Mas&#8230; Shh&#8230; sh&#8230;&#8221;<br />
Ciumanku terus naik mendekati pangkal pahanya. Dengan gerakan sedikit menyentak kurenggangkan lagi paha Mbak Titis.<br />
Oughhh&#8230; Mbak Titis melenguh panjang menerima perlakuanku yang tiba2. Kupandangi sejenak gundukan di depanku. Jembutnya lebat sekali dan baunya wangi. Sambil tetap memegangi kedua lutut Mbak Titis, kujulurkan hidungku menyapu jembutnya. Tubuh Mbak Titis bergetar menerima sapuan hidungku. Tampak samar belahan daging dan kucoba menjilat pelan membelah hutan jembut yang lebat itu.<br />
&#8220;Ouhh&#8230; Mas&#8230;&#8221;, tangannya meraih rambuntuku dan menjambak pelan. Lidahku terus menjilat mencari-cari daging nikmat. Kurasakan ada cairan menempel dilidahku. Gurih terasa di muluntuku. Muluntuku pun mulai menghisap gundukan indah Mbak Titis.<br />
&#8220;oh&#8230; Sshh&#8230; Sshh&#8230; Mas&#8230; enak banget mas&#8230;&#8221;, desah Mbak Titis. Desahan itu membuatku semakin ganas. Penisku sudah tegang dari tadi tapi aku masih ingin bermain dengan Mbak Titis. Hisapanku di vagina Mbak Titis semakin liar. Sementara Mbak Titis meliuk-liuk menerima serangan di vaginanya.<br />
&#8220;mas.. Kamu kok pinter banget sih&#8230;&#8221;, kata Mbak Titis manja. Aku hanya tersenyum aja mendengarnya.</p>
<p>Perlahan ciumanku naik ke perut Mbak Titis. Tidak lama di situ aku berniat untuk langsung menyerbu tetek Mbak Titis. Aku segera bangkit. Kupandangi sejenak tetek Mbak Titis yang sedari tadi belum kusentuh sama sekali. Lalu kupandangi wajah Mbak Titis, titik2 keringat bermunculan di keningnya. Kumajukan wajahku ke arah tetek Mbak Titis, tanpa mengalihkan pandangan dari matanya. Sampai di tetek yang sebelah kiri kukecup pelan putingnya. Mbak Titis mendongakkan wajahnya menerima sensasi kecil di putingnya. Kukulum puting tetek kiri Mbak Titis. Terasa hangat di dalam muluntuku. Mbak mulai mendesis lagi.<br />
&#8220;terusin mas&#8230; terusin&#8221;,<br />
Aku semakin gencar mengulum puting tetek Mbak Titis. Sesekali kusedot dengan keras.<br />
&#8220;Ahh.!&#8221; Mbak Titis berteriak kecil.<br />
Aku melirik ke tetek yang sebelah kanan. Segera kuarahkan bibirku ke puting kanan. Perlakuanku beda kali ini. Aku menyerbu tetek kanan Mbak Titis dengan sangat liar sementara tangan kananku meremas-remas dengan kuat tetek yang kiri. Menerima perlakuanku yang berubah drastis, Mbak Titis berteriak keras dengan menggoyangkan kepalanya kiri kanan. Keliaranku itu bertahan selama 10 menitan sementara penisku sengaja kugesek-gesekkan ke vagina Mbak Titis.<br />
Mbak Titis terus menerus meracau. Tidak jelas apa yang diucapkan. Aku sudah tidak tahan lagi. Segera kubalik tubuh Mbak Titis kupaksa untuk menungging. Mbak Titis menahan tubuhnya dengan tangan di tembok. Kuarahkan penisku ke vagina Mbak Titis. Pelan aku coba menerobos liang vagina Mbak Titis. Agak susah juga mencari posisi lubang vagini Mbak Titis. Setelah beberapa saat akhirnya penisku sudah berada dalam jepitan vagina Mbak Titis.<br />
&#8220;Mbak&#8230;&#8221; aku menahan sebentar penisku. Mbak Titis melenguh panjang.<br />
&#8220;ouhh&#8230;hss&#8230;mas&#8230;&#8221;<br />
aku segera menarik penisku pelan sampai tersisa kepalanya dalam vaginanya. Lalu kutusuk lagi dengan gerakan cepat. Mbak Titis lagi-lagi melenguh panjang. Kulakukan berulang kali sampai 15 menit. Tanpa berganti posisi aku percepat gerakanku. Tanganku kubiarkan bebas menggantung. Penisku terus kupacu di dalam vagina Mbak Titis. Sampai suatu ketika tubuh Mbak Titis mengejang hebat dan Mbak Titis melolong hebat merasakan orgasme pertamanya. Tubuh Mbak Titis masih bergetar beberapa saat. Aku harus menahan tubuhnya karena seperti mau terjatuh ke lantai. Sebenarnya aku juga sudah hampir sampai tapi sekuat tenaga aku bertahan. Aku tidak mau permainan ini cepat selesai.<br />
Kudiamkan sebentar penisku di dalam vagina Mbak Titis dan membiarkan Mbak Titis mengatur napasnya, menikmati orgasmenya.</p>
<p>Beberapa saat kemudian, aku melanjuntukan lagi serbuanku ke vagina Mbak Titis.<br />
&#8220;Oh&#8230;uh&#8230;oh&#8230;uh&#8221;, suara Mbak Titis keenakan.<br />
&#8220;Mas, enak banget&#8221;, tambahnya lagi. Tangan kirinya meraih tangan kiriku dan meletakkannya di teteknya. Spontan kuremas tetek Mbak Titis. Sensasi di dua wilayah sensitifnya membuatnya menggelinjang ga karuan. Sodokanku di vaginanya kupercepat sementara remasanku semakin kuat di teteknya. Akhirnya, aku mengeluarkan senjataku yang terakhir. Tangan kananku yang bebas kuarahkan ke lubang anusnya. Kuludahi anusnya dan kuusap keras bagian anus Mbak Titis. Sekarang 3 bagian sensitifnya habis aku garap. Mbak Titis semakin melolong tidak karuan. Kepalanya terayun-ayun menambah keseksiannya. Badannya terus terguncang-guncang menerima sodokan penisku. Aku pun mulai kacau merasakan sensasi di penisku.<br />
&#8220;Mbak, enak banget Mbak&#8221;, cerocosku.<br />
&#8220;heh&#8230;uh&#8230; terusin mas. Ahh&#8230;&#8221;<br />
Jariku mencoba menerobos ke liang anus Mbak Titis. Aku tidak berani terlalu dalam. Takut menyakiti Mbak Titis. Penisku masih terus menghunjam di vagina Mbak Titis. Sampai akhirnya aku merasakan gelombang sangat kuat yang siap menerobos keluar dari penisku.<br />
&#8220;Mbak&#8230; Aku dah mo keluar Mbak&#8230; Mphhh&#8230;&#8221;<br />
Iiiiyyaaaa maasss&#8230; mbak juga&#8230; aaayooo masss&#8230;&#8221;<br />
Kupercepat gerakanku. Penisku terus menerobos vagina sampai akau tidak kuat lagi menahan gejolakku&#8230;<br />
Croot&#8230;croot&#8230;croot&#8230; Ah&#8230; Ah&#8230; Ah&#8230;<br />
Gerakan penisku kuhentikan di dalam vagina Mbak Titis. Dan tubuh Mbak Titis pun bergetar sangat hebat. Tangan kirinya mencengkeram tangan kiriku yang bermain di teteknya dengan sangat kuat.<br />
&#8220;AHHH&#8230; DIMAAASSSSHHHHH&#8221;, teriaknya memenuhi ruangan dapur.<br />
Kujatuhkan kepalaku ke punggung Mbak Titis. Kutarik penisku pelan-pelan, dan kuhunjamkan lagi ke dalam vagina Mbak Titis tapi dengan gerakan yang sangat pelan. kedua tanganku meremas lembut tetek Mbak Titis. Nikmat banget. Sumpah nikmat banget. Kuciumi pelan punggung Mbak Titis sementara Mbak Titis masih berguncang-guncang menerima orgasmenya.<br />
Setelah beberapa saat, aku tetap membiarkan penisku bertahan di dalam vagina Mbak Titis. Lalu, pelan-pelan kutarik penisku. Mbak Titis melenguh merasakan gesekan pelan di vaginanya.<br />
&#8220;Mbak&#8230; Nikmat banget. Mbak cantik sekali&#8221;, bisikku pelan.<br />
&#8220;Dimas&#8230; Kamu hebat. Hhh&#8230;mbak nggak ngira kamu mau ama mbak&#8221;, katanya sambil membalikkan tubuhnya dan kini duduk terkulai lemas di lantai.<br />
Aku tersenyum aja mendengarnya.<br />
&#8220;Kapan-kapan, kalo mbak pengen, Dimas mau ya nemenin Mbak lagi?&#8221;<br />
&#8220;Mmmmm&#8230; Siap Mbak! Apapun buat Mbak!&#8221;, jawabku sambil berkelakar.</p>
<p>Itu adalah kisah pertamaku dengan Mbak Titis, istri bosku. Setelah hari itu, selama empat hari aku nemenin Mbak Titis tiap malam. Ga jadi nyesel deh, Pak Min banyak ijinnya. Ijin terus aja Pak Miiinnn&#8230; Setiap bosku keluar kota aku selalu menemani Mbak Titis dan memberinya kepuasan. Demikian juga Mbak Titis memberiku pengalaman, dan sensasi-sensasi baru lainnya.</p>
<p>Demikian cerita lengkap yang diberi judul ceritaku dengan mbak titis. sampai cerita selanjutnya.</p>
<h4>Cerita Dewasa | Cerita Seks</h4>*<a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/ceritaku-dengan-mbak-titis.html" title="cerita sex ama mbak">cerita sex ama mbak</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/ceritaku-dengan-mbak-titis.html" title="cerita dewasa aku dan embak-embak">cerita dewasa aku dan embak-embak</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/ceritaku-dengan-mbak-titis.html" title="ceritaku tanpa bra dan cd">ceritaku tanpa bra dan cd</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/ceritaku-dengan-mbak-titis.html" title="Ceritaku yg dewasa">Ceritaku yg dewasa</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/ceritaku-dengan-mbak-titis.html" title="desah manja perawan">desah manja perawan</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/ceritaku-dengan-mbak-titis.html" title="Fantasi Ceritaku">Fantasi Ceritaku</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/ceritaku-dengan-mbak-titis.html" title="fantasi sex dengan ibu stw">fantasi sex dengan ibu stw</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/ceritaku-dengan-mbak-titis.html" title="ibu stw ngentod anak muda">ibu stw ngentod anak muda</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/ceritaku-dengan-mbak-titis.html" title="Mbak anis tante jogja">Mbak anis tante jogja</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/ceritaku-dengan-mbak-titis.html" title="mbak-mbak sex">mbak-mbak sex</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/ceritaku-dengan-mbak-titis.html" title="melenguh sensual dewasa">melenguh sensual dewasa</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/ceritaku-dengan-mbak-titis.html" title="Nikmatnya tubuh mbak stw">Nikmatnya tubuh mbak stw</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/ceritaku-dengan-mbak-titis.html" title="oh desah mbak bu">oh desah mbak bu</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/ceritaku-dengan-mbak-titis.html" title="oh mbak enak banget">oh mbak enak banget</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/ceritaku-dengan-mbak-titis.html" title="sex ceritaku dan tante">sex ceritaku dan tante</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/ceritaku-dengan-mbak-titis.html" title="Ceritaku enaknya ngewe perawan">Ceritaku enaknya ngewe perawan</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/ceritaku-dengan-mbak-titis.html" title="cerita sex pemuda dgn ibu ibu stw">cerita sex pemuda dgn ibu ibu stw</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/ceritaku-dengan-mbak-titis.html" title="cerita dewasa anus stw tua">cerita dewasa anus stw tua</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/ceritaku-dengan-mbak-titis.html" title="cerita dewasa bosku seorang hyper sex">cerita dewasa bosku seorang hyper sex</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/ceritaku-dengan-mbak-titis.html" title="cerita dewasa tetek mbak">cerita dewasa tetek mbak</a>*<!-- SEO SearchTerms Tagging 2 Plugin -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/ceritaku-dengan-mbak-titis.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Minified using disk
Page Caching using disk (enhanced)
Database Caching 12/61 queries in 0.086 seconds using disk
Object Caching 3066/3206 objects using disk

Served from: ceritadewasa.modelperawan.info @ 2012-02-05 19:07:44 -->
