<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita Seks Dewasa &#187; Umum</title>
	<atom:link href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/category/umum/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ceritadewasa.modelperawan.info</link>
	<description>Kumpulan cerita seks cerita porno dan cerita dewasa Terlengkap</description>
	<lastBuildDate>Tue, 28 Jun 2011 04:12:45 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Selingkuh Dengan istri Bos</title>
		<link>http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-istri-bos.html</link>
		<comments>http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-istri-bos.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Apr 2011 01:25:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[istri bos]]></category>
		<category><![CDATA[istri cantik]]></category>
		<category><![CDATA[istri konglomerat]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritadewasa.modelperawan.info/?p=217</guid>
		<description><![CDATA[Sebenarnya ini mirip cerita Seks tukar pasangan, tapi ini mungkin lebih tepatnya tukar teman seks, coz ceritanya rada ribet, dan terjadi sangat singkat, Boleh jadi ini mirip cerita selingkuh juga, Makanya gue beri judul Selingkuh Dengan Istri Bos. Istri seorang konglomerat, dan gue orang biasa, dan tanpa gue sadari gue ml dengan istri konglomerat didepan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebenarnya ini mirip cerita Seks tukar pasangan, tapi ini mungkin lebih tepatnya tukar teman seks, coz ceritanya rada ribet, dan terjadi sangat singkat, Boleh jadi ini mirip cerita selingkuh juga,  Makanya gue beri judul Selingkuh Dengan Istri Bos. Istri seorang konglomerat, dan gue orang biasa, dan tanpa gue sadari gue ml dengan istri konglomerat didepan suaminya sendiri. </p>
<p><div class="wp-caption alignnone" style="width: 606px"><img alt="" src="http://lh6.ggpht.com/best4cn/RmxBfnRXufI/AAAAAAAAB2M/enUYxwm_ST4/s800/13la.jpg" title="Istri Konglomerat" width="596" height="800" /><p class="wp-caption-text">istri orang</p></div><br />
Aku sedang menyantap makan siang di sebuah cafe yang terletak di lantai dasar gedung kantorku. Hari itu aku ditemani Pak Erwan, manajer IT perusahaanku dan Lia, sekretarisku. Biasanya aku makan siang hanya dengan Lia, sekretarisku, untuk kemudian dilanjutkan dengan acara bobo siang sejenak sebelum kembali lagi ke kantor. Tetapi hari itu sebelum aku pergi, Pak Erwan ingin bertemu untuk membicarakan proyek komputerisasi, sehingga aku ajak saja dia untuk bergabung menemaniku makan siang.</p>
<p>Aku dan Pak Erwan berbincang-bincang mengenai proyek implementasi software dan juga tambahan hardware yang diperlukan. Memang perusahaanku sedang ingin mengganti sistem yang lama, yang sudah tidak dapat memenuhi kebutuhan perusahaan yang terus berkembang. Sedangkan Lia sibuk mencatat pembicaraan kita berdua.</p>
<p>Sedang asyik-asyiknya menyantap steak yang kupesan, tiba-tiba HPku berbunyi. Kulihat caller idnya.. Dari Santi.</p>
<p>&#8220;Hallo Pak Robert. Kapan nih kesini lagi&#8221; suara merdu terdengar diseberang sana.<br />
&#8220;Oh iya. Nanti sebentar lagi saya ke sana. Saya sedang makan siang nih. Bapak tunggu sebentar ya&#8221; jawabku.<br />
&#8220;He.. He.. Sedang nggak bisa ngomong ya Pak&#8221; Santi menggoda.<br />
&#8220;Betul Pak.. OK sampai ketemu sebentar lagi ya&#8221; kataku sambil menutup pembicaraan.<br />
&#8220;Dari klien&#8221; kataku.</p>
<p>Aku sangat hati-hati tidak mau affairku dengan Santi tercium oleh mereka. Hal ini mengingat Pak Arief, suami Santi, adalah manajer keuangan di kantorku. Kebetulan Pak Arief ini sedang aku kirim training ke Singapore, sehingga aku bisa leluasa menikmati istrinya.</p>
<p>Seusai menikmati makan siang, aku berkata pada Lia bahwa aku akan langsung menuju tempat klienku. Seperti biasa, aku minta supaya aku tidak diganggu kecuali kalau ada emergency. Kamipun berpisah.. Mereka kembali ke lantai atas untuk bekerja, sedangkan aku langsung menuju tempat parkir untuk berangkat mengerjai istri orang he.. He..</p>
<p>Setelah kesal karena terjebak macet, sampai jugalah aku di rumah Santi. Hari sudah menjelang sore. Bayangkan saja, sudah beberapa jam aku di jalan tadi. Segera kuparkirkan Mercy silver metalik kesayanganku, dan memencet bel rumahnya. Santi sendiri yang membukakan pintu. Dia tersenyum gembira melihat kedatanganku.</p>
<p>&#8220;Aih.. Pak Robert kok lama sih&#8221; katanya.<br />
&#8220;Iya.. Tadi macet total tuh.. Rumah kamu sih jauh.. Mungkin di peta juga nggak ada&#8221; candaku.<br />
&#8220;Bisa aja Pak Robert..&#8221; jawab Santi sambil tertawa kecil.</p>
<p>Dia tampak cantik dengan baju &#8220;you can see&#8221; nya yang memperlihatkan lengannya yang mulus. Buah dadanya tampak semakin padat dibalik bajunya. Mungkin karena sudah beberapa hari ini aku remas dan hisap sementara suaminya aku &#8220;asingkan&#8221; di negeri tetangga.</p>
<p>Kamipun masuk ke dalam rumah dan aku langsung duduk di sofa ruang keluarganya. Santi menyuguhkan orange juice untuk menghilangkan dahagaku. Nikmat sekali meminum orange juice itu setelah lelah terjebak macet tadi. Dahagakupun langsung hilang, tetapi setelah melihat Santi yang cantik, dahagaku yang lainpun muncul. Aku masih bernafsu melihat Santi, meskipun telah lima hari berturut-turut aku setubuhi dia.</p>
<p>Kucium bibirnya sambil tanganku mengelus-elus pundaknya. Ketika aku akan membuka bajunya, dia menahanku.</p>
<p>&#8220;Pak.. Santi ada hadiah nih untuk bapak&#8221;<br />
&#8220;Apaan nih?&#8221; jawabku senang.<br />
&#8220;Ini ada teman Santi yang mau kenal sama bapak. Orangnya cantik banget.&#8221;</p>
<p>Lalu dia bercerita kalau dia berkenalan dengan seorang wanita, Susan, saat dia sedang berolahraga di gym. Setelah mulai akrab, merekapun bercerita mengenai kehidupan seks mereka. Singkat cerita, Susan menawarkan untuk berpesta seks sambil bertukar pasangan di rumah mereka.</p>
<p>&#8220;Dia ingin coba ini bapak. Katanya belum pernah lihat yang sebesar punya Pak Robert&#8221; kata Santi sambil meraba-raba kemaluanku.<br />
&#8220;Saya sih OK saja&#8221; jawabku riang.<br />
&#8220;Oh ya.. Nanti pura-pura saja Pak Robert suamiku&#8221; kata Santi sambil pamit untuk menelpon kenalan barunya itu.</p>
<p>Aku dan Santi kemudian meluncur menuju rumah Susan di kawasan Kemang. Untung jalanan Jakarta sudah agak lengang. Tak lama kamipun sampai di rumahnya yang luas. Seorang satpam tampak membukakan pintu garasi. Santipun menjelaskan kalau kami sudah ada janji dengan majikannya. Susan menyambut kami dengan ramah.</p>
<p>&#8220;Ini perkenalkan suami saya&#8221;</p>
<p>Seorang laki-laki paruh baya dengan kepala agak botak memperkenalkan diri. Namanya Harry, seorang pengusaha properti yang sukses. Santipun memperkenalkan diriku pada mereka.</p>
<p>Aku kagum pada rumah mereka yang sangat luas. Dengan perabot-perabot yang mahal, juga koleksi lukisan-lukisan pelukis terkenal yang tergantung di dinding. Bayangkan saja betapa kayanya mereka, karena orang sekelas aku saja kagum melihat rumahnya yang sangat wah itu.</p>
<p>Tetapi aku lebih kagum melihat Susan. Wanita ini memang cantik sekali. Terutama kulitnya yang putih dan mulus sekali. Ibaratnya kalau dihinggapi nyamuk, si nyamuk akan jatuh tergelincir. Disamping itu bodynya tampak seksi sekali dengan buah dada yang besar dan bentuk tubuh yang padat. Sekilas mengingatkan aku pada bintang film panas di jaman tahun 80-an.. Entah siapa namanya itu.</p>
<p>Merekapun menyuguhkan makan malam. Kamipun bercerita basa-basi ngalor ngidul sambil menikmati hidangan yang disediakan. Ditengah makan malam itu, Santi pamit untuk ke toilet. Dengan matanya dia mengajakku untuk mengikuti dia.</p>
<p>&#8220;Pak, habis ini pulang aja yuk&#8221; kata Santi berbisik perlahan setelah keluar dari ruang makan.<br />
&#8220;Kenapa?&#8221; tanyaku.<br />
&#8220;Habisnya Santi nggak nafsu lihat Pak Harry itu. Sudah tua, botak, perutnya buncit lagi&#8221;.</p>
<p>Aku tertawa geli dalam hati. Tetapi aku tentu saja tidak menyetujui permintaan Santi. Aku sudah ingin menikmati istri Pak Harry yang cantik sekali seperti boneka itu. Kupaksa saja Santi untuk kembali ke ruang makan.</p>
<p>Setelah makan, kamipun ke ruang keluarga sambil nonton video porno untuk membangkitkan gairah kami. Tak lama, seorang gadis pembantu kecil datang untuk menyuguhkan buah-buahan. Tetapi mungkin karena kaget melihat adegan di layar TV home theater itu, tanpa sengaja dia menjatuhkan gelas kristal sehingga pecah berkeping-keping. Kulihat tampak Susan melotot memarahi pembantunya itu, sedangkan si pembantu kecil itu tampak ketakutan sambil meminta maaf berkali-kali.</p>
<p>Adegan di TV tampak semakin hot saja. Tampak Pak Harry mulai mengerayangi tubuh Santi di sofa seberang. Sedangkan Santi tampak ogah-ogahan melayaninya.</p>
<p>&#8220;Sebentar Pak.. Santi mau lihat filmnya dulu&#8221;</p>
<p>Aku tersenyum mendengar alasan Santi ini. Sementara itu Susan minta ijin ke dapur sebentar. Akupun mencoba menikmati adegan di layar TV. Meskipun sebenarnya aku tidak perlu lihat yang seperti ini, mengingat tubuh Susan sudah sangat mengundang gairahku. Tak lama akupun merasa ingin buang air kecil, sehingga akupun pamitan ke belakang.</p>
<p>Setelah dari toilet, aku berjalan melintasi dapur untuk kembali ke ruang keluarga. Kulihat di dalam, Susan sedang berkacak pinggang memarahi gadis kecil pembantunya tadi.</p>
<p>&#8220;Ampun non.. Sri nggak sengaja&#8221; si gadis kecil memohon belas kasihan pada majikannya, Susan yang cantik itu.<br />
&#8220;Nggak sengaja nggak sengaja. Enak saja kamu bicara ya. Itu gelas harganya lebih dari setahun gaji kamu tahu!!&#8221; bentak Susan.<br />
&#8220;Gajimu aku potong. Biar tau rasa kamu..&#8221;</p>
<p>Si gadis kecil itu terdiam sambil terisak-isak. Sementara wajah Susan menampakkan kepuasan setelah mendamprat pembantunya habis-habisan. Mungkin betul kata orang, kalau wanita kurang dapat menyalurkan hasrat seksualnya, cenderung menjadi pemarah. Melihat adegan itu, aku kasihan juga melihat si gadis pembantu itu. Tetapi entah mengapa justru hasrat birahiku semakin timbul melihat Susan yang sepertinya lemah lembut dapat bersikap galak seperti itu.</p>
<p>&#8220;Dasar bedinde.. Verveillen!!&#8221; Susan masih terus berkacak pinggang memaki-maki pembantunya. Dengan tubuh yang putih bersih dan tinggi, kontras sekali melihat Susan berdiri di depan pembantunya yang kecil dan hitam.<br />
&#8220;Ampun non.. Nggak akan lagi non..&#8221;<br />
&#8220;Oh Pak Robert..&#8221; kata Susan ketika sadar aku berada di pintu dapur. Diturunkannya tangan dari pinggangnya dan beranjak ke arahku.<br />
&#8220;Sedang sibuk ya?&#8221; godaku.<br />
&#8220;Iya nih sedang kasih pelajaran ik punya pembantu&#8221; jawabnya sambil tersenyum manis.<br />
&#8220;Yuk kita kembali&#8221; lanjutnya.</p>
<p>Kamipun kembali ke ruang keluarga. Kulihat Santi masih menonton adegan di layar sementara Pak Harry mengelus-elus pahanya. Aku dan Susanpun langsung berciuman begitu duduk di sofa. Aku melakukan &#8220;french kiss&#8221; dan Susanpun menyambut penuh gairah.</p>
<p>Kutelusuri lehernya yang jenjang sambil tanganku meremas buah dadanya yang membusung padat. Susanpun melenguh kenikmatan. Tangannya meremas-remas kemaluanku. Dia kemudian jongkok di depanku yang masih duduk di sofa, sambil membuka celanaku. Celana dalamku dielusnya perlahan sambil menatapku menggoda. Kemudian disibakkannya celana dalamku ke samping sehingga kemaluankupun mencuat keluar.</p>
<p>&#8220;Oh..my god.. Bener kata Santi.. Very big.. I like it..&#8221; katanya sambil menjilat kepala kemaluanku.</p>
<p>Kemudian dibukanya celana dalamku, sehingga kemaluankupun bebas tanpa ada penghalang sedikitpun di depan wajahnya. Dielus-elusnya seluruh kemaluan termasuk buah zakarku dengan tangannya yang halus. Tingkah lakunya seperti anak kecil yang baru mendapat mainan baru.</p>
<p>Kemaluankupun mulai dihisap mulut Susan dengan rakus. Sambil mengulum dan menjilati kemaluanku, Susan mengerang,emmhh.. emhh, seperti seseorang yang sedang memakan sesuatu yang sangat nikmat. Kuelus-elus rambutnya yang hitam dan diikat ke belakang itu.</p>
<p>Sambil menikmati permainan oral Susan, kulihat suaminya sedang mendapat handjob dari Santi. Tampak Santi mengocok kemaluan Pak Harry dengan cepat, dan tak lama terdengar erangan nikmat Pak Harry saat dia mencapai orgasmenya. Santipun kemudian meninggalkan Pak Harry, mungkin dia pergi ke toilet untuk membersihkan tangannya.</p>
<p>Sementara itu Susan masih dengan bernafsu menikmati kemaluanku yang besar. Memang kalau kubandingkan dengan kemaluan suaminya, ukurannya jauh berbeda. Apalagi setelah dia mengalami orgasme, tampak kemaluan Pak Harry sangat kecil dan tertutup oleh lemak perutnya yang buncit itu. Tak heran bila istrinya sangat menikmati kemaluanku.</p>
<p>Tak lama Santipun kembali muncul di ruang itu, dan menghampiriku. Susan masih berjongkok di depanku sambil mempermainkan lidahnya di batang kemaluanku. Santi duduk di sampingku dan mulai menciumiku. Dibukanya bajuku dan puting dadakupun dihisapnya. Nikmat sekali rasanya dihisap oleh dua wanita cantik istri orang ini. Seorang di atas yang lainnya di bawah. Sementara Pak Harry tampak menikmati pemandangan ini sambil berusaha membangkitkan kembali senjatanya yang sudah loyo.</p>
<p>Kuangkat baju Santi dan juga BHnya, sehingga buah dadanya menantang di depan wajahku. Langsung kuhisap dan kujilati putingnya. Sementara tanganku yang satu meremas buah dadanya yang lain. Sementara Susan masih mengulum dan menjilati kemaluanku.</p>
<p>Setelah puas bermain dengan kemaluanku, Susan kemudian berdiri. Dia kemudian melepaskan pakaiannya hingga hanya kalung berlian dan hak tingginya saja yang masih melekat di tubuhnya. Buah dadanya besar dan padat menjulang, dengan puting yang kecil berwarna merah muda. Aku terkagum dibuatnya, sehingga kuhentikan kegiatanku menghisapi buah dada Santi. Susan kemudian menghampiriku dan kamipun berciuman kembali dengan bergairah.</p>
<p>&#8220;Ayo isap susu ik &#8221; pintanya sambil menyorongkan buah dada sebelah kanannya ke mulutku. Tak perlu dikomando lagi langsung kuterkam buah dadanya yang kenyal itu. Kuremas, kuhisap dan kujilati sepuasnya. Susanpun mengerang kenikmatan.</p>
<p>Setelah itu, dia kembali berdiri dan kemudian berbalik membelakangiku. Diapun jongkok sambil mengarahkan kemaluanku ke dalam vaginanya yang berambut tipis itu. Kamipun bersetubuh dengan tubuhnya duduk di atas kemaluanku menghadap suaminya yang masih berusaha membangunkan perkakasnya kembali. Kutarik tubuhnya agak kebelakang sehingga aku dapat menciumi kembali bibirnya dan wajahnya yang cantik itu.</p>
<p>&#8220;Eh.. Eh.. Eh..&#8221; dengus Susan setiap kali aku menyodokkan kemaluanku ke dalam vaginanya. Aku terus menyetubuhinya sambil meremas-remas buah dadanya dan sesekali menjilati dan menciumi pundaknya yang mulus.</p>
<p>Sementara itu Santi bersimpuh di ujung sofa sambil meraba-raba buah zakarku, sementara aku sedang menyetubuhi Susan. Terkadang dikeluarkannya kemaluanku dari vagina Susan untuk kemudian dikulumnya. Setelah itu Santi memasukkan kembali kemaluanku ke dalam liang surga Susan.</p>
<p>Setelah beberapa menit, aku berdiri dan kuminta Susan untuk menungging di sofa. Aku ingin menggenjot dia dari belakang. Kusetubuhi dia &#8220;doggy-style&#8221; sampai kalung berlian dan buah dadanya yang besar bergoyang-goyang menggemaskan. Kadang kukeluarkan kemaluanku dan kusodorkan ke mulut Santi yang dengan lahap menjilati dan mengulumnya. Benar-benar nikmat rasanya menyetubuhi dua wanita cantik ini.</p>
<p>&#8220;Ahh.. Yes.. Yes.. Aha.. Aha.. That&#8217;s right.. Aha.. Aha..&#8221; begitu erangan Susan menahan rasa nikmat yang menjalari tubuhnya. Hal itu menambah suasana erotis di ruangan itu.</p>
<p>Sementara Pak Harry rupanya telah berhasil membangunkan senjatanya. Dihampirinya Santi dan ditariknya menuju sofa yang lain di ruangan itu. Santipun mau tak mau mengikuti kemauannya. Memang sudah perjanjian bahwa aku bisa menikmati istrinya sedangkan Pak Harry bisa menikmati &#8220;istriku&#8221;.</p>
<p>Sementara itu, aku masih menggenjot Susan secara doggy-style. Sesekali kuremas buah dadanya yang berayun-ayun akibat dorongan tubuhku. Kulihat Pak Harry tampak bernafsu sekali menyetubuhi Santi dengan gaya missionary. Tak beberapa lama kudengar erangan Pak Harry. Rupanya dia sudah mencapai orgasme yang kedua kalinya.</p>
<p>Santipun tampak kembali pergi meninggalkan ruangan. Sementara aku masih menyetubuhi Susan dari belakang sambil berkacak pinggang. Setelah itu kubalikkan badannya dan kusetubuhi dia lagi, kali ini dari depan. Sesekali kuciumi wajah dan buah dadanya, sambil terus kugenjot vaginanya yang sempit itu.</p>
<p>&#8220;Ohh.. Aha.. Aha.. Ohh god.. I love your big cock..&#8221; Susan terus meracau kenikmatan.</p>
<p>Tak lamapun tubuhnya mengejang dan dia menjerit melepaskan segala beban birahinya. Akupun sudah hampir orgasme. Aku berdiri di depannya dan kusuruh dia menghisap kemaluanku kembali. Sementara, aku lirik ke arah Pak Harry, dia sedang memperhatikan istrinya mengulumi kemaluanku. Kuremas rambut Susan dengan tangan kiriku, dan aku berkacak pinggang dengan tangan kananku.</p>
<p>Tak lama akupun menyemburkan cairan ejakulasiku ke mulut Susan. Diapun menelan spermaku itu, walaupun sebagian menetes mengenai kalung berliannya. Diapun menjilati bersih kemaluanku.</p>
<p>&#8220;Thanks Robert.. I really enjoyed it&#8221; katanya sambil membersihkan bekas spermaku di dadanya.<br />
&#8220;No problem Susan.. I enjoyed it too.. Very much&#8221; balasku.</p>
<p>Setelah itu, kamipun kembali mengobrol beberapa saat sambil menikmati desert yang disediakan. Kamipun berjanji untuk melakukannya lagi dalam waktu dekat.</p>
<p>Dalam perjalanan pulang, Santi tampak kesal. Dia diam saja di dalam mobil. Akupun tidak begitu menghiraukannya karena aku sangat puas dengan pengalamanku tadi. Akupun bersenandung kecil mengikuti alunan suara Al Jarreau di tape mobilku.</p>
<p>&#8220;We&#8217;re in this love together..&#8221;<br />
&#8220;Kenapa sih sayang?&#8221; tanyaku ketika kami telah sampai di depan rumahnya.<br />
&#8220;Pokoknya Santi nggak mau lagi deh&#8221; katanya.<br />
&#8220;Habis Santi nggak suka sama Pak Harry. Udah gitu mainnya cepet banget. Santi nanggung nih.&#8221;</p>
<p>Akupun tertawa geli mendengarnya.</p>
<p>&#8220;Kok ketawa sih Pak Robert.. Ayo.. Tolongin Santi dong.. Santi belum puas.. Tadi Santi horny banget lihat bapak sama Susan make love&#8221; rengeknya.<br />
&#8220;Wah sudah malam nih.. Besok aja ya.. Lagian saya ada janji sama orang&#8221;.<br />
&#8220;Ah.. Pak Robert jahat..&#8221; kata Santi merengut manja.<br />
&#8220;Besok khan masih ada sayang&#8221; hiburku.<br />
&#8220;Tapi janji besok datang ya..&#8221; rengeknya lagi saat keluar dari mobilku.<br />
&#8220;OK so pasti deh.. Bye&#8221;</p>
<p>Sebenarnya aku tidak ada janji dengan siapa-siapa lagi malam itu. Hanya saja aku segan memakai Santi setelah dia disetubuhi Pak Harry tadi. Setidak-tidaknya dia harus bersih-bersih dulu.. He.. He.. Mungkin besok pagi saja aku akan menikmatinya kembali, karena Pak Arief toh masih beberapa hari lagi di luar negeri.</p>
<p>Kukebut mobilku mengarungi jalan tol di dalam kota. Semoga saja aku masih dapat melihat film bagus tayangan HBO di TV nanti.</p>
<p>Selingkuh Dengan istri bos ini bisa jadi bukan selingkuh, coz permainan seks gue terjadi didepan suaminya seolah menyetujui apa yang terjadi dengan gue dan istrinya.</p>
<h4>Cerita Dewasa | Cerita Seks</h4>*<a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-istri-bos.html" title="cerita porn bos">cerita porn bos</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-istri-bos.html" title="cerita bos porn">cerita bos porn</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-istri-bos.html" title="Kusetubuhi istri bosku">Kusetubuhi istri bosku</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-istri-bos.html" title="Kumpulan cerita dewasa dengan judul istri selingkuh">Kumpulan cerita dewasa dengan judul istri selingkuh</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-istri-bos.html" title="kok bisa bos selingkuh dgn satpam">kok bisa bos selingkuh dgn satpam</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-istri-bos.html" title="istriku selingkuh dengan bosku">istriku selingkuh dengan bosku</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-istri-bos.html" title="istriku di ajak doggy stile oleh tman sex dewasa panas slingkuh">istriku di ajak doggy stile oleh tman sex dewasa panas slingkuh</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-istri-bos.html" title="istri majikan mintak setubuh">istri majikan mintak setubuh</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-istri-bos.html" title="Gairah sex bosku">Gairah sex bosku</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-istri-bos.html" title="di tuggu lama rupanya asyik selingkuh">di tuggu lama rupanya asyik selingkuh</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-istri-bos.html" title="ceritan itri bosku">ceritan itri bosku</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-istri-bos.html" title="menciumi bos">menciumi bos</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-istri-bos.html" title="ml sama bosku">ml sama bosku</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-istri-bos.html" title="Ngentot selingkuh dg Santi">Ngentot selingkuh dg Santi</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-istri-bos.html" title="www ML istri bos lg hamil com">www ML istri bos lg hamil com</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-istri-bos.html" title="www cerita sex istri dgn bos com">www cerita sex istri dgn bos com</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-istri-bos.html" title="www cerita selingkuh dgn istri bos">www cerita selingkuh dgn istri bos</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-istri-bos.html" title="www cerita ml dengan bos">www cerita ml dengan bos</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-istri-bos.html" title="www cerita fotomodel ml dgn bos">www cerita fotomodel ml dgn bos</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-istri-bos.html" title="video porno istri selingkuh">video porno istri selingkuh</a>*<!-- SEO SearchTerms Tagging 2 Plugin -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-istri-bos.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mesum dengan Karyawati pabrik</title>
		<link>http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/mesum-dengan-karyawati-pabrik.html</link>
		<comments>http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/mesum-dengan-karyawati-pabrik.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Feb 2011 18:09:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[bokep]]></category>
		<category><![CDATA[jilat memek]]></category>
		<category><![CDATA[karywati cantik]]></category>
		<category><![CDATA[karywati pabrik]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[memek basah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritadewasa.modelperawan.info/?p=184</guid>
		<description><![CDATA[Lama tak melihat kondisi rumah, dan jika melihat akhirnya aku ingat kembali tentang pengalamanku yang mesum dengan karyawati pabrik. Pengalaman pribadi yg terjadi beberpa tahun silam di kota kelahiran ane. Kota kelahiran ane emang kota industri, so banyak sekali pabrik dan kontrakan yang tersebar di seluruh pelosok kota. Melihat peluang bisnis kontrakan yg cukup menjanjikan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lama tak melihat kondisi rumah, dan jika melihat akhirnya aku ingat kembali tentang pengalamanku yang mesum dengan karyawati pabrik. Pengalaman pribadi yg terjadi beberpa tahun silam di kota kelahiran ane. Kota kelahiran ane emang kota industri, so banyak sekali pabrik dan kontrakan yang tersebar di seluruh pelosok kota. Melihat peluang bisnis kontrakan yg cukup menjanjikan, sang bokap pun berinvestasi di dunia rumah kontrakan untuk para pekerja. Alhasil, semasa kontrakan dibangun pun banyak para peminat yg panjer dan bahkan melunasi sewa untuk sebulan pertama. Maklu lokasi rumah berdekatan dengan pabrik konveksi yg katanya terbesar di Asia Tenggara. disinilah ane menjadi penikmat seks dari karyawati-karyawati pabrik yang cantik dan bahenol.</p>
<p><div class="wp-caption alignnone" style="width: 510px"><img alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_CNsK6aBqYBs/TFPkhR_DEyI/AAAAAAAAAPM/8-0cpDDGq-E/s1600/memek-bugil-anak-smu-17-tahun.jpg" title="Karyawati pabrik" width="500" height="378" /><p class="wp-caption-text">karywati cantik</p></div><br />
Singkatnya, para pengontrak rumah kebanyakan karyawati pabrik garmen tsb. Ada seorang perempuan asal kota P di sumatera selata. Wajahnya cantik, berjilbab, kulitnya putih dan bodinya pun semok. Karena bokap sudah tua, ia mempercayakan ane utk mengurus kontrakan. Dari nagih sewa, perbaikan bangunan walau bkn ane yg kerjain, sampe ngurusin nerima pengontrak baru. Dengan modal tsb, ane nyoba deketin do&#8217;i. Walhasil tak bertepuk sebelah tangan dan kita pun jadian. Biarpun kita udah jadian, ga ada peristiwa penting yg terjadi kecuali sekedar ngobrol, jalan-jalan malam minggu dan nonton. Nyium pun cuma cium tangan kalo dia mau pergi kerja. Sampai suatu saat ketika keluarga harus pergi ke Bandung karena Kakek meninggal.</p>
<p>Sore itu cewe ane, sebut aja Bunga, baru pulang kerja dan ane baru abis gantiin keran rumah sebelahnya. &#8220;Pulang de?&#8221; kataku membuka pembicaraan &#8220;Eh iya bang, dari mana kok bawa-bawa perabotan?&#8221; tanya dia sambil mencium tanganku. &#8220;Ini, abis gantiin keran di kamar mandi Mbak erna, patah &#8230;&#8221; kataku sambil masuk kamarnya. Tercium aroma badannya yang berkeringat dan membuat voltase libido sedikit naik. &#8220;Aku nak mandi dulu bang, abang buatlah kopi kalo mau. Udah makan blom? kan ema lagi pergi?&#8221;. &#8220;udah, tadi masak mie&#8221; kataku sambil ngeloyor kebelakang dan membuat dua gelas kopi. sementara kubuat kopi, Bunga masuk kamar mandi dan terdengar suara air menyiram tubuhnya. Kunyalakan TV d depan sambil menikmati rokok dan kopiku. tak lama ia keluar dari kamar mandi dan astaga, ia hanya mengenakan handuk yg diliitkan di badannya. Seumur pacaran baru kali ini aku lihat dia seperti ini. kalo pake celana pendek sih sering, tapi ini, pemandangan didepanku membuat hatiku berdebar keras. &#8220;Bang tolong tutup pintunya, aku mau pake baju. tar antar aku ke A**a yah, ada yg pingi dibeli&#8221;. Tanpa menyahut aku tutup pintu dan tiba-tiba terlintas pikiran pingn melihat tubuhnya yg putih itu. Ku masuki ruangan belakang dan WAAAAAWWWW,&#8230; pemandangan indah terbentang didepanku mengalahkan pemandangan di puncak. Kulit putih dan pantat yg semok bulat dan montok, gilaaa&#8230; langsung penisku bergerak naik. Dia belum sadar bahwa aku ada dibelakangnya dan kupeluk dia dari belang sambi mencium leher belakangnya.<br />
&#8220;Abaaaang, apa-apan sih!!&#8221; katanya sambil menarik handuknya. &#8220;Sana keluar dulu aku mau pake baju&#8221;, &#8220;kamu cantik de!&#8221; kataku merayu dan terus mendekati dia. Tak tahu bagaimana datangnya keberanian itu, kukecup bibirnya lalu kulumat sebentar karena dia mendorong badanku. &#8220;Bang, jangan macam-macam ah&#8230;.! aku lapor sama mak, mati kau!!&#8221; ancamnya. iya deh akhirnya aku ngeloyor lagi kedepan. Tak lama ia menyusul. ia memakai baju daster warna kuning cerah. Kontras dengan kulitnya yg putih. Matanya terlihat seperti habis menangis dan terus terang aku sangat ketakutan.&#8221;Kamu kenapa de?, maafin abang kalo abang berlaku lancang&#8230;.!&#8221;, &#8220;bang, abang marah ga sama aku tadi aku bentak?&#8221; ya tuhan, digamparin aja aku rela, apalagi cuma dibentak seperti itu. &#8220;Ya enggak lah de, abang justru minta maaf&#8221; dan kami berpelukan lama. kuangkat mukanya dan kucium keningnya, &#8220;udah jangan nangis, tuh diminum kopinya, tar keburu dingin!&#8221;. Bunga cuma duduk sambil memegangi lututnya. dan lagi &#8211; lagi pemandangan indah kulihat. karena posisi daster yg mengembang aku dapat melihat CDnya dengan jelas. kuhampiri dan kuraih bahunya sambil kukecup lagi keningnya. ia hanya emandangiku dengan matanya yg bulat. Penasaran, kucoba lagi untuk mencium bibirnya. Dia diam!!! hanya memberikan saja bibirnya kulumat dan kucium.</p>
<p>Konsentrasiku buyar saat dia menarik bibirnya, &#8220;bang, abang benar mau serius dengan aku?&#8221;, &#8220;Ya dong aku serius, klo ga serius mana mungkin aku bilang sama emak kau pacaran dengan aku&#8221;. &#8220;Aku takut abang tinggalin aku&#8221;. Hanya orang bodoh yg mau meninggalkan mu dek, jawabku dalam hati. Kucium lagi pimpinya dan ia mencium bibirku dengan lembut dan kubalas. Entah berapa lama kita saling menukar ludah dan salaing enusap punggung. Voltaseku sudah diatas beban puncak!!! kuangkat tubuhnya dan kugendong ke ruangan belakang yg berfungsi sebagai kamar tidur. Kurebahkan tubhnya di kasur tanpa melepaskan bbirku dari bibirnya. ia hanya melenguh dan megerang saat kucoba meremas toketnya. tanpa kusadari, bagian bawah tubuhnya sudah tersingkap dan kuusap usap hanya yg mulus itu. Tapi untung aku sadar bahwa pintu ga dikunci, bisa gawat klo ada yg nerobos masuk. &#8220;De abang kunci pintu dulu ya?&#8221; ia tidak menjawab hanya mengangguk lemah. Setelah mengunci pintu dan melihat keadaan di sekitar depan kamar bunga, aku melangkah ke belakang menghampiri kembalai ladang yg sedang aku garap. ternyata bunga masih tidur terlentang dengan posisi bagian bawah tersingkap dan cdnya membuat aku semangkin susah utk menahan diri. Kurebahkan badan disebeahnya dan langsung kulumat lagi bibirnya. Ia pun melingkarkan tangannya memeluk leherku. aku berupaya untuk bisa melepas bra atau meraih toketnya. dan ia pun menyerah. ia mengangkat tbuhnya agar aku leluasa melepas dasternya. Bunga sekarang hanya memnggunakan bra dan cd saja sedang aku masih berakaian lengkap. Kulepas satu persatu pakaianku tinggal cd saja. Kuciumi dan kujilati bdannya sampai ia menggelinjang kegelian. &#8220;baaannnngggg, uadah ah geli&#8230; aduuuh&#8230; sssshhhh&#8230;&#8221; hanya itu yg terucap lemah dari bibirnya. Aku terus bergerak mejilati seluruh tubuhnya sampai darah perut dan tepat berada di depan vaginanya, kusingkap cdnya agar aku bisa melihat apa yg ada di belakang cd itu. Sebongkah vagina merah muda yg ditumbuhi bulu lembut dan jarang nampak didepanku dan membuat aku ingin melakukan adengan yg sering aku lihat di video bokep.</p>
<p>Kujilati permukaan memek Bunga dengan lembut. Ia hanya mendesah dan menggelinjah gelinjang. tak sabar kutarik cdnya hingga benar-benar lepas sekarang dan aku terus menjilati vaginanya dan terkadang aku permainkan daerah klitorisnya yg memerah. Tiba-tiba aku merasa kpalaku didorong, &#8220;Baaaanggg, aku pengin kencing&#8230;&#8221; dia mau orgasme, dan aku ga mau nurut. Terus saja aku jilatin dan permainkan klitorinysa dan tiba tiba&#8230;. seeerrrrrrrrr&#8230;.. crooooottt&#8230;.croooot&#8230; mukaku ditembak cairan hangat dari memeknya yg merah. ia pun melenguh panjang sambil meregang menikmati orgasmenya. Tak buang waktu lagi kubuka cd ku dan kuarahkan ke memeknya yg basah kuyup. &#8220;Awwwww&#8230;. sssakkkiiit bang, jangan ah &#8230;&#8221; katanya. Lagi lagi tak kudengar ocehannya. Aku terus berusaha mendorong dan memasukkan kontolku ke lubang sanggama Bunga. dan, blesssss,,, crkkkkk.. seperti menembus sesuatu dan dibarengi dengan erangan kesakitan bunga, lepaslah dinding keperawanannya. Disela kontolku yg basah kulihat cairan merah mengalir dan melumuri sebagian kontolku. Waduh, masih perawan nih, kataku&#8230;<br />
Bunga terus merintih menangis kesakitan. Tapi aku ga peduli. kuangkat pantatku sedikit dan kuturunkan lagi berulang ulang. crek&#8230;crek&#8230;. crek&#8230;. bunyinya ditingkahi erangan bunga. kulumat bibirnya agar tidak bersuara. Sekitar 5 menit kupompa dia dia dengan lembut. dan sekarang keliatannya dia mulai menikmati permainan ini. Kucabut kontolku dari memeknya dan terdengar suara PLOP!!!&#8230;</p>
<p>Kuseka permukaan vagina Bunga yg berlumur darah. Stlh bersih, kuarahkan lagi kontolku ke arah memeknya dan kutancap lagi. Kali ini bunga sudah tidak merintih, tapi ia terus menciumi mukaku dan kadang ia menggigit beberapa bagian badanku seperti tangan dan dadaku dengan lembut. kulakukan lagi acara mompa memek Bunga. Keplok &#8230;. plok &#8230; plok &#8230;. plok&#8230; creeek..crek&#8230; suara tubuh kami beradu. Bunga terus mendesah dan merintih keenakan sementara kontolku terus maju mundur masuk ke memeknya. 5 menit ku entot dia, terasa aku mau orgasme, &#8220;de abang mau kluar&#8230;. kluarin di dalem apa diluar nih??&#8221; tanyaku&#8230;. &#8220;terseraaaahhhh, mmmhhh&#8230;. hmmmm&#8230; aaah &#8230; ah&#8230; ahhh..&#8221; jawabnya terengah. kuteruskan lagi dan sesaat sebelum spermaku muncrat, kutarik dan kukocok diatas perutnya dan duarrrrr&#8230;. pejuhku muncrat melumeri perut dan sebagian toketnya.</p>
<p>Setelah kejadian itu, kami sering mencari saat yg tepat untuk bercinta. Dirumahku, dikamar Bunga bahkan di kebun belakangpun kami pernah lakukan di malam hari. Sampai satu saat, &#8220;Bang aku tadi beli test pack&#8221;, &#8220;Mangnya kenapa???&#8221; tanyaku terkejut. &#8220;Dah 2 bulan aku ga dapet mens..&#8221; Haiyaaaaa&#8230;.. maaaakkkk&#8230;. puyeng &#8230;. tekdung dia.. &#8220;Aku dah test, hasilnya positif, gimana bang???&#8221;. Aku cuma diam, kuhirup rokok ku dalam dalam dan menghembuskannya terpaksa. &#8220;Aku akan nikahi kamu&#8221; jawabku. &#8220;Besok akan aku ajak abah dan emak ke palembang meminang kamu. Kamu jangan khawatir..&#8221;. Ia tersenyum dan mencium bibirku sambil memeluk aku.<br />
Maamnya kuutarakan keinginanku pada abah dan ema. Singkatnya mereka menyetujui rencanaku. Namun abah merasa perlu mempersiapkan beberapa hal sebelum datang meminang Bunga. Di akhir pembicaraan, kami sepakat minggu depan berangkat ke palembang.</p>
<p>Kabar baik ini langsung kusampaikan pada Bunga. Ia nampak sangat bahagia dan memelukku sambil menciumi pipiku. &#8220;Makasih abang, abang memang selalu menepati janji&#8221;. Kepeluk dia dan kulumat bibirnya sampai dia gelagapan&#8230;. sedang asyik bercumbu, terdengar suara emak memanggil. Kuhampiri dan ternyata emak ingin bicara dengan Bunga. Sebelum menghampiri emak, kusampaikan sama Bunga, &#8220;jgn bilang2 ema kau hamil!&#8221;, &#8220;ya enggaklah bang. Ini cuma kita yg tau&#8221;. Emak ngobrol dengan bunga sampai hampir jam 12 malam. Kebetulan besok dia libur. Sedang aku sudah tertidur di ruang tamu. Tiba-tiba aku merasa ada yg mengusap kepalaku dan ketika kubuka mataku, ternyata bidadariku berada disamping dan berkata, &#8220;Bang pindah tidurnya, banyak nyamuk&#8230;&#8221; karena masih mengantuk aku menurut berjlan ke kamar tanpa kusadari Bunga mengikutiku kekamar dan setibanya dikamar ia langsung memeluk aku. &#8220;Bang, aku pingin&#8230;.&#8221; katanya. tanpa ba bi bu lagi ia langsung melucuti kain sarungku dan mengusap usap penisku. Mendapat perlakuan seperti itu, penisku langsung tegak siap menunggu komando. Kutarik bunga hingga posisi tubuhnya<br />
menduduki wjahku. Langsung kujilati memeknya yg indah dan kami melalui malam yg indah. Malam pengantin yang semestinya beberapa bulan lagi.</p>
<p>Begitulah nikmatnya memek karyawati pabrik, aku ingin mencoba kembali dengan <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info">cerita dewasa</a> yang lain tentu dengan beberapa karyawati pabrik yang lebih cantik, tapi itu semua tak kan terjadi, karena tak ada kepuasan pun yang ku dapat, sekarang aku benar-benar bahagia dengan istri tercinta.</p>
<h4>Cerita Dewasa | Cerita Seks</h4>*<a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/mesum-dengan-karyawati-pabrik.html" title="cerita sex karyawati">cerita sex karyawati</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/mesum-dengan-karyawati-pabrik.html" title="cerita sex di pabrik">cerita sex di pabrik</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/mesum-dengan-karyawati-pabrik.html" title="cerita seks karyawati">cerita seks karyawati</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/mesum-dengan-karyawati-pabrik.html" title="cerita seks di pabrik">cerita seks di pabrik</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/mesum-dengan-karyawati-pabrik.html" title="Ngentot gadis pabrik">Ngentot gadis pabrik</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/mesum-dengan-karyawati-pabrik.html" title="cerita sexs mesum">cerita sexs mesum</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/mesum-dengan-karyawati-pabrik.html" title="cerita dewasa karyawati">cerita dewasa karyawati</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/mesum-dengan-karyawati-pabrik.html" title="cerita dewasa pabrik">cerita dewasa pabrik</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/mesum-dengan-karyawati-pabrik.html" title="ngentot dengan karyawati pabrik">ngentot dengan karyawati pabrik</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/mesum-dengan-karyawati-pabrik.html" title="cerita dewasa buruh pabrik">cerita dewasa buruh pabrik</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/mesum-dengan-karyawati-pabrik.html" title="mompa memek">mompa memek</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/mesum-dengan-karyawati-pabrik.html" title="cerita sek karyawati">cerita sek karyawati</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/mesum-dengan-karyawati-pabrik.html" title="Cerita sek dengan karyawati">Cerita sek dengan karyawati</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/mesum-dengan-karyawati-pabrik.html" title="memek dalam bunga">memek dalam bunga</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/mesum-dengan-karyawati-pabrik.html" title="kumpulan cerita sex buruh pabrik">kumpulan cerita sex buruh pabrik</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/mesum-dengan-karyawati-pabrik.html" title="kump cerita sex karyawan pabrik">kump cerita sex karyawan pabrik</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/mesum-dengan-karyawati-pabrik.html" title="kisah nyata sex karyawati">kisah nyata sex karyawati</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/mesum-dengan-karyawati-pabrik.html" title="Janda pingi sex">Janda pingi sex</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/mesum-dengan-karyawati-pabrik.html" title="Entot memek pabrik">Entot memek pabrik</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/mesum-dengan-karyawati-pabrik.html" title="Ceritasexkaryawatipabrik com">Ceritasexkaryawatipabrik com</a>*<!-- SEO SearchTerms Tagging 2 Plugin -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/mesum-dengan-karyawati-pabrik.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selingkuh Dengan Dokter kandungan Bag II</title>
		<link>http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-dokter-kandungan-bag-ii.html</link>
		<comments>http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-dokter-kandungan-bag-ii.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Feb 2011 01:29:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[dokter binal]]></category>
		<category><![CDATA[dokter nakal]]></category>
		<category><![CDATA[istri selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[ml dengan dokter]]></category>
		<category><![CDATA[perselingkuhan istri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritadewasa.modelperawan.info/?p=162</guid>
		<description><![CDATA[Melanjutkan Cerita Sebelumnya yang berjudul Selingkuh Dengan Dokter kandungan , kami memberikan langsung deh tanpa basa basi kisah selanjutnya yang diceritakan langsung oleh sang istri selingkuh alias pelaku. Sambil kami saling melumat dia mendorongkan kontolnya, aku mendorongkan memekku menjemputnya. Saat akhirnya.. Blezzhh.. Kami langsung saling merintih dan berdesahan. Itulah simponi birahi di kamar Novotel di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Melanjutkan Cerita Sebelumnya yang berjudul Selingkuh Dengan Dokter kandungan , kami memberikan langsung deh tanpa basa basi kisah selanjutnya yang diceritakan langsung oleh sang istri selingkuh alias pelaku.</p>
<p><img alt="Seks dengan dokter" src="http://metroaktual.com/images/berita/posisi-seks.jpg" title="Seks hamil" class="alignnone" width="400" height="250" /><br />
Sambil kami saling melumat dia mendorongkan kontolnya, aku mendorongkan memekku menjemputnya. Saat akhirnya..<br />
Blezzhh..<br />
Kami langsung saling merintih dan berdesahan. Itulah simponi birahi di kamar Novotel di lantai 5 di pagi hari ini, sementara itu, mungkin suamiku sedang asyik berdebat bersama anggota teamnya di lantai 2.</p>
<p>&#8220;Sekarang gantian sayang, biar aku yang numpakin kamu, yaa..&#8221; suara gemetar Ronad nampak menahan birahinya.</p>
<p>Aku dibalikannya dengan tetap mempertahankan lengkungan tubuhku hingga jadi nungging dengan kepalaku bertumpu pada kasur. Sesudah sedikit dia betulkan posisiku dan kembali lebih singkapkan busana rapetku, dengan setengah berdiri dia mengangkangin aku mulai dari arah pantatku. Kontolnya dia tusukkan ke memekku.<br />
Duh, duh, duh..<br />
Apa lagi ini. Kenapa gatalku langsung dengan cepat melanda memekku. Aku membayangkan bibir kemaluanku pasti dengan haus menunggu kepala kontol gede itu. Dan aku merasakan saat ujungnya mendorong aku hingga akhirnya amblas menghunjam ke dalamnya. Dalam hatiku aku berfikir, kok macam anjing kawin, ya. Kemudian Ronad mulai kembali memompa. Huuhh.. Jangan lagi tanya betapa nikmatnya.</p>
<p>Aku seperti diombang-ambingkan gelombang Lautan Teduh. Setiap tusukkan aku sambut dengan cengkeraman memekku, dan akibatnya saraf-saraf pekaku merangsang gelinjang nikmat birahiku. Dan saat kontolnya dia tarik keluar, dinding kemaluanku menahan sesak hingga kembali saraf-saraf pekaku melempar gelinjang nikmat birahi. Keluar, masuk, keluar, masuk, keluar, masuk.. Aku semakin nggak lagi mampu menahan kegelianku. Tangan-tanganku meremasi tepi-tepi kasur untuk menahan deraan geli-geli nikmat itu. Aku membiarkan air liurku meleleh saat aku terus menjerit kecil dan mendesah-desah. Mataku tak lagi nampak hitamnya. Aku lebur melayang dalam nikmatnya kontol yang keluar masuk menembusi memekku ini.</p>
<p>Dan saat tusukkannya makin cepat menggebu, aku tahu, dia akan meraih orgasmenya mendahului orgasmeku. Kubiarkan. Bahkan kudorong dengan desahan dan rintihanku yang disebabkan rasa pedih dan panasnya gesekkan cepat batang kontolnya yang sesak menembusi kemaluanku ini.</p>
<p>Akhirnya dia menumpahkan berliter-liter spermanya ke memekku. Bunyi, plok, plok, plok bijih pelernya yang memukuli kemaluanku tidak kunjung henti. Dia tahu aku belum orgasme. Dia tetap mempertahankan irama tusukkan karena tahu aku demikian menikmati gaya anjing ini. Limpahan cairan yang membecek pada kemaluanku tidak mengurangi nikmatnya tusukkan. Bahkan licinnya batang keluar masuk ini merangsang gelinjangku dengan sangat hebatnya. Aku meliuk dan menaik turunkan pantatku. Aku benar-benar menjadi anjing betina yang memeknya dikocok-kocok jantannya. Aku merintih dengan sangat hebat dan berteriak histeris saat orgasmeku datang menyongsong tusukkan-tusukkan pejantan ini. Aku mendapatkan sensasi nikmat birahinya anjing betina. Aku tak kunjung usai juga. Aku mengimpikan orgasme yang beruntun.</p>
<p>Ronadpun demikian pula. Sanggama kali ini bersambung tanpa jeda walaupun kami telah meraih orgasme-orgasme kami. Genjotan dan pompaan terus kencang dan semakin cepat. Kami dilanda histeris bersamaan. Kami berguling-guling. Ronad menyeret aku ketepian ranjang. Dengan tetap berposisi nungging, Ronad menembusi memekku dengan berdiri dari lantai. Kontol itu, duh.. sangat legit rasanya. Hunjamannya langsung merangsek hingga menyentuh tepian peranakanku.</p>
<p>Ujung-ujungnya mentok menyentuhi dinding rahimku. Aku nggak tahan.. Ronaadd.. Edan, kami bersanggama tanpa putus selama lebih dari 40 menit. Aku kagum akan ketahanan Ronad yang 52 tahun itu. Kontolnya tetap ngaceng dan mengkilat-kilat saat akhirnya kami istirahat sejenak. Baru kali ini secara gamblang dan jelas aku menyaksikan kontol lelaki.</p>
<p>Selama ini aku dan suamiku selalu bersanggama dalam gelap atau remang-remang. Dan kami merasa seakan tabu untuk melihati kemaluan-kemaluan kami. Aku sendiri masih malu saat Ronad melihati dan ngutik-utik kelentitku. Dan kini aku heran, kenapa demikian susah untuk tak melihati kontol Ronad ini. Aku heran, kenapa barang ini bisa menghantarkan aku pada kenikmatan yang demikian dahsyatnya.</p>
<p>Jam 10 pagi Ronad pamit. Dia bilang mesti ke rumah sakit memenuhi janji dengan pasiennya. Aku nggak akan mencegahnya. Dia akan kembali nanti jam 3 sore. Aku nggak komentar. Suamiku telepon, dia ngajak aku makan siang di restoran, dia akan menunggu aku di bawah.</p>
<p>Sesudah aku mandi aku keluar kamar dan turun. Aku jaga agar penampilanku nampak tetap segar. Pergulatan seksual yang penuh hasrat dan nafsu birahi antara aku dan Ronald yang pemerkosaku telah meninggalkan berbagai rasa pedih di selangkanganku. Setiap aku melangkah gesekan antara paha juga terasa nyeri. Aku harus bisa mengatasi ketidak nyamanan ini.</p>
<p>Ternyata hingga jam 6 sore Ronad tidak balik. Mungkin ada krisis di rumah sakitnya. Anehnya, aku merasa kesepian. Aku telah terjebak dalam nikmatnya perkosaan. Aku gelisah selama jam-jam menunggu ketukan di pintu. Aku merasa sangat didera nafsu birahiku. Aku ketagihan. Aku sangat ketagihan akan legit kontolnya. Terbayang dan seakan aku merasai kembali legit itu menyesaki memekku.</p>
<p>Walaupun resah melandaku aku mengiyakan saat suamiku mengajak aku jalan-jalan bersama teman-temannya ke Molioboro. Acaranya kami makan lesehan di jalan yang demikian terkenal di dunia itu. Sepanjang jalan dan makan aku banyak melamun. Suamiku nampak prihatin. Dia tetap hanya mengira aku kurang sehat dan dilanda rasa bosan. Dia merangkuliku dengan mesra. Aku berpikir dan melayang ke arah yang beda. Ah, Ronad, dimana kamu.. Malam itu suamiku mencumbuiku. Aku harus memberikan respon yang sebaik dan senormal mungkin. Aku merasakan betapa bedanya saat kemaluan suamiku memasuki kemaluanku. Aku tidak merasakan apa-apa. Hambar. Aku iba padanya.</p>
<p>Tetapi sebagaimana yang biasa aku lakukan, kini aku berpura nikmat, seakan aku meraih orgasme. Dan suamiku demikian bernafsu memompakan kontol kecilnya hingga spermanya muncrat. Malam itu dia tidur dengan penuh damai dan senyuman. Sementara aku tetap gelisah, terganggu pikiran dan bayang-bayang Ronad.</p>
<p>Besoknya, secepat suamiku pergi ke penataran aku sudah tak sabar menunggu pintu. Aku ingin ada perkosaan kembali. Ah, aku benar-benar khianat sekarang. Aku benar-benar kehilangan harkatku. Aku benar-benar bukan lagi diriku sebagaimana yang orang kenal selama ini. Aku adalah istri yang selingkuh, adalah perempuan penyeleweng.</p>
<p>Ketika 30 menit berlalu dan pintu tak ada yang mengetuk, aku nekad. Kuputar telepon kamar Ronad. Dia nggak cepat mengangkatnya. Aku mulai kesal. Ah, akhirnya Ronad bicara.</p>
<p>&#8220;Maafin aku sayang, baru selesai mandi, nih. Tadi malam sampai jam 11 malam. Pasien-pasienku ngantre, ada yang datang dari Wonosobo, Semarang. Aku nggak mungkin meninggalkannya, khan?!&#8221;.<br />
&#8220;Bagaimana kalau aku yang ke kamarmu?&#8221; Gila, aku sudah sedemikian nekadnya.<br />
&#8220;Boleh, ayo, biar aku bukain pintu. Kamu langsung masuk sebelum ada orang lain lihat, OK?&#8221;.</p>
<p>Aku cepat merapikan pakaianku kemudian dengan cepat bergegas ke kamarnya. Benar, dia barusan mandi. Handuknya masih melilit di tubuhnya. Kuperhatikan dadanya yang bidang dan bersih. Ah, kenapa aku nggak pernah memperhatikan benar selama 2 hari ini. Bukankah dia sangat sensual. Mungkin karena kepanikanku yang selalu mengiringiku saat jumpa dan bersama dia. Kami langsung saling berpelukan dan melumat bertukar lidah dan ludah.</p>
<p>Aku merasa diriku menjadi sangat agresif dan nggak pakai malu-malu lagi. Dengan cara seloroh, kukait ikatan handuknya hingga lepas ke lantai. Selintas tampak pemandangan yang sangat erotis di cermin besar kamar Ronad. Aku yang berbusana serba tertutup lengkap dengan kaca mata dan kerudung di kepala sedang berpelukan dengan lelaki yang bukan suamiku yang dalam keadaan telanjang bulat. Nampak jelas jembutnya yang tebal menyentuh pusarnya.</p>
<p>Aku mencoba tertawa dalam pesona birahi saat mengamati kontolnya yang sudah mengkilat dan tegak ngaceng itu. Ronad tertawa pula sambil menggapai tanganku dan diarahkan untuk meremasi kontol itu,</p>
<p>&#8220;Ayolah, sayang, pegang. Pegang saja, enak, lho. Nah, achh.. Enak banget tanganmu sayang..&#8221; dan dengan sedikit merinding aku mencoba menggenggamnya. Aneh dan gila dan tak pernah mimpi bahwa aku akan secara agresif akan meraih kontol lelaki yang bukan suamiku ini. Dan tiba-tiba Ronad menekan bahuku. Dia menyuruh aku untuk jongkok,</p>
<p>&#8220;Pandangilah, sayang. Kontolku ini milikmu. Pandangilah. Indah sekali lho, ayo. Pandangilah milikmu ini&#8221;, tekanannya itu sesungguhnya merupakan sebagian dari harapan dan keinginan nafsuku kini. Aku berjongkok pada lututku hingga kontolnya tepat berada tepat di depan wajahku.</p>
<p>&#8220;Elusilah, dia akan semakin tegak dan membesar. Indah, kan..?&#8221;.</p>
<p>Ah, aku sangat kesetanan menyaksikannya. Ini merupakan sensasi lagi bagiku. Dan tangan Ronad tak henti. Dia meraih kepalaku yang seutuhnya masih berkerudung dan menariknya untuk mendekatkan wajahku ke kontolnya itu. Aku tersihir. Aku pasrah dengan tangannya yang mengendalikan kepalaku hingga kontol itu menyentuh wajahku, menyentuh hidungku. Kilatannya seakan memanas dan mengepulkan aroma. Aku mencium sesuatu yang sangat merangsang sanubariku. Bau kontol itu menyergap hidungku. Tangan Ronad tak juga henti.</p>
<p>&#8220;Cium saja, ini punyamu, kok. Ciumlah. Ayoo, ciumlah&#8221;. Ah, untuk kesekian kali aku ikut saja maunya. Ah, kontol itu menyentuh bibirku.<br />
&#8220;Ayo, cium, nggak apa-apa. Ayoo, sayang. Ciumlah. Ayoo..&#8221;</p>
<p>Aku merem saat mulutku sedikit menganga menerima ujung mengkilat-kilat itu, sementara dorongan tangannya membuat gigiku akhirnya tersentuh ujung itu.</p>
<p>&#8220;Ayoo, sayang..&#8221;.</p>
<p>Dan aku, dan mulutku, dan lidahku, dan hatiku, dan sanubariku, dan akuu.. Akhirnya menerima kontol Ronad menembusi bibirku, menyeruaki mulutku. Aku menerima terpaan getar nikmat yang membuat tubuhku merinding dan menggelinjang. Aku didorong oleh kekuatan macam apa ini, saat aku menerima adanya norma baru, yang selama ini merupakan sangat tabu bagiku, dan sangat menjijikkan bagi penalaranku. Bahkan aku menerima dengan sepenuh hasrat dan nafsu birahiku.<br />
Aa.. Aku.. aku.. Mulai mencium dan melumat kontol Ronad..</p>
<p>&#8220;Ah, sayang, kamu nampak begitu indah, sayangg.. Indah sekali, sayang.. Sangat indah, sayang.. Indah banget sayang..&#8221;, Ronad meracau tidak menyembunyikan kenikmatan libido erotisnya saat melihati aku mengulum dan menjilati kontolnya.<br />
&#8220;Terus, sayang.. Terus.. Enak sekali, sayang.. Teruss..&#8221;.</p>
<p>Dan aku menunjukkan gerakan melumat dan menjilat secara sangat intens. Terkadang aku cabut kontol itu untuk aku lumati batangnya yang penuh belukar otot-otot. Tanganku tak bisa lagi diam. Sementara tangan kananku menyangga kontolnya dan mengedalikan kemana mauku, tangan kiriku mengelusi bijih pelirnya dan sesekali naik meraupi jembutnya yang sangat tebal itu.</p>
<p>Duh.. Aku menemukan keindahan, erotisme dan pesona birahi yang tak bisa kuungkapkan dalam kata-kata. Aku hanya bisa tangkap dengan hirupan hidungku, dengan rasa asin di lidahku, dengan keras-keras kenyal dalam genggamanku, dengan nafas memburuku. Aku benar-benar larut dalam pesona dahsyat ini.</p>
<p>Dan ketika aku rasakan Ronad mulai menggoyangkan pantatnya menyanggamai mulutku, dan ketika kudengar dia mulai benar-benar merintih dan mendesah yang membuat aku semakin terbakar oleh libidoku yang memang telah menyala-nyala aku menyadari bahwa macam nikmat birahi itu demikian banyaknya. Aku nggak pernah merasakan macam ini sebelumnya.</p>
<p>Membayangkan saja aku tabu dan jijik. Dan ketika kini aku justru begitu intens melakukannya, tiba-tiba hadir begitu saja keinginanku untuk mempersembahkan kenikmatan yang hebat bagi lelaki bukan suamiku ini. Aku akan biarkan apabila dia menghendaki memuncratkan air maninya ke mulutku. Aku pengin merasakan, bagaimana semprotan hangatnya menyiram langit-langit<br />
mulutku. Aku pengin merasakan rasa pejuh dan spermanya di lidahku. Aku pengin merasakan bagaimana berkedutnya kontol Ronad dalam mulutku saat spermanya terpompa keluar dari kontolnya.</p>
<p>Dan saat goyangan maju mundur pantatnya makin mengencang, tangannya mulai dengan benar-benar membuat kulit kepalaku pedih karena jambakan dan remasannya karena menahan nikmat tak terperikan dari kuluman dan jilatanku, aku sudah benar-benar menunggu kesempatan itu. Aku sendiri melenguh dan merintih dalam penantian itu.</p>
<p>Dan dengan iringan teriakan histerisnya yang keluar terbata-bata dari mulut Ronad, akhirnya sebuah kedutan besar menggoncang rongga mulutku. Cairan kental panas luber menyiprat dan menyemprot-nyemprot langit-langit mulutku. Tak henti-hentinya. Entah 7 atau 8 kedutan yang selalu diikuti dengan semprotan air mani hangat. Mulutku langsung penuh. Terlintas kembali rasa jijik. Aku ingin muntahkan apabila kedutan itu habis. Tetapi ternyata itu lain dengan apa yang terlintas dalam benak, nafsu dan tingkah Ronad.</p>
<p>Tangannya meraih dan menekan kepalaku untuk lebih menghunjamkam kontolnya hingga menyentuh tenggorokanku. Dan pada saat yang bersamaan dengan penuhnya air mani di mulutku, tangannya dengan kuat membekap hidungku. Sungguh kasar dan sadis dokterku ini. Seperti saat seseorang mencekoki jamu pada anaknya, aku dipaksanya menelan semua air mani yang tumpah dalam mulutku. Aku gelagapan dan hanya punya satu pilihan agar tidak tersedak.</p>
<p>Kutelan semua cairan kentalnya. Uhh.. uh.. uh.. Ronad.. Kamu gila benar sih.. Sesudah yakin semua air maninya telah tertelan dan mengaliri tenggorokanku dia lepaskan bekapan hidungku. Aku langsung menarik nafas panjang. Aku pandangi dia. Aku heran dengan perilaku kasarnya itu. Dia menyadari betapa pandangan heranku,</p>
<p>&#8220;Maaf, zus, aku jadi kasar, aku nggak mampu menahan nafsuku.. Aku sangat ingin menyaksikan zus yang cantiknya dari ujung kepala hingga ujung kaki menelani air maniku. Maafin saya, ya, zus. Sayang..&#8221;, aku melihati matanya dan mengangguk kecil.</p>
<p>Sesungguhnyalah aku tak begitu kecewa. Bahkan aku merasakan, betapa air mani itu juga sangat nikmat rasanya. Rasanya mengingatkan pada kelapa muda yang sangat muda. Kukatakan padanya apa yang kurasakan.</p>
<p>&#8220;Yaa.. memang, air mani itu, khan, hormon, bersih dan sehat. Air mani itu protein juga&#8221;, katanya.</p>
<p>Aku percaya akan pengetahuan dokternya. Aku bisa ketagihan, nih. Mungkinkah aku minum sperma suamiku? Ah, jangan, nanti dia malahan curiga, dari mana aku belajar macam ini?! Bercumbu di kamar Ronad memberikan rasa lebih aman dan tenang bagiku. Aku nggak merasa diburu waktu atau khawatir sewaktu-waktu suamiku muncul di pintu. Sampai jam 11.40 kami terus menerus saling mencumbu.</p>
<p>Pada akhir percumbuan tadi Ronad menunjukkan padaku bagaimana tampilan kontolnya saat ejakulasi. Menjelang muncrat sesudah gencar memompa kemaluanku dia cabut kontolnya. Dengan mengarahkan ujungnya ke mukaku dia kocok dengan tangannya kontolnya. Aku perhatikan bagaimana kontol itu semakin membengkak dan sangat mengkilat-kilat kepalanya.</p>
<p>Aku menyiapkan wajahku untuk menerima terpaan semprotan air mannya. Kusaksikan bagaimana batang itu menganguk-angguk setiap semprotan itu muncrat keluar. Dan aku rasakan sangat sensasional saat dia muntahkan air maninya menyemproti mukaku, rambutku, kaca mataku dan membasahi bagian tubuhku lainnya.</p>
<p>Aku kembali ke kamarku dan mandi untuk menunggu suamiku dari penatarannya. Aku panggil pelayan hotel untuk mencuci semua pakaianku yang bekas aku pakai bersama Ronad. Siang itu suamiku kembali mengajak aku makan di restoran. Suamiku memberi tahu bahwa besok merupakan hari terakhir penataran yang akan selesai dan ditutup pada siang hari. Suamiku bilang akan langsung pulang untuk mengejar sore harinya sudah sampai di rumah. Rencana hari ini penataran akan berhenti jam 3 sore.</p>
<p>Rombongan suamiku telah menyiapkan bus AC untuk bersama-sama melihat Keraton Yogya. Kemungkinan rombongan yang didalamnya ada Pak Gubernur Jawa Tengah akan disambut langsung oleh Sultan Yogya. Aku diminta untuk bersiap-siap menyertai dan mendampingi Ibu Gubernur. Aku tanyakan tepatnya waktu, suamiku menjawab jam 3.20 tepat rombongan akan meninggalkan hotel. Aku boleh bersiap-siap hingga menjelang jam 3 sore itu. Mungkin suamiku tidak akan naik ke kamar, jadi aku diharapkan telah berada di lobby pada jam tersebut.</p>
<p>Terus terang aku tidak &#8220;happy&#8221; dengan rencana itu. Bukankah berasyik masyuk dengan Ronad akan jauh lebih mengasyikkan?! Tetapi aku tidak memiliki alasan untuk menolaknya. Begitu suamiku kembali ke ruang penataran, aku menelpon Ronad dari lobby dan kusampaikan programku sore ini. Dia menunggu aku di kamarnya. Kami sepakat untuk memuas-muaskan diri sampai jam 2.30. Aku sudah perhitungkan dalam 15 menit aku bisa merapikan diri dengan busana santai, sekedar jeans dan blus yang praktis, dan turun ke lobby 10 menit sebelum waktunya</p>
<p>Begitulah, aku merasa semakin dikejar keterbatasan. Aku merasa betapa kesempatan berasyik masyuk tinggal sesaat di siang hari ini dan besok di siang hari pula. Aku menjadi terpana ketika berpikir betapa selama mengikuti suami kali ini aku telah memasuki petualangan yang sangat berbahaya bagi kehidupan rumah tanggaku, kehidupan duniaku maupun alam fanaku nanti.</p>
<p>Aku heran sendiri, kok mampu berbuat macam ini, melakukan penyelewengan langsung di belakang suamiku yang tengah berjuang untuk meningkatkan kehidupan kami bersama. Tetapi aku memang sedang dilanda mabok. Kenikmatan birahi ini demikian memabokkan aku. Meraih orgasme dari orang yang bukan suamiku yang pada awalnya bukan mauku. Tetapi perkosaan yang tak mampu aku lawan ini telah merubah aku menjadi istri yang nyeleweng. Dan kini justru aku yang seakan ketagihan dan berbalik mengejar sang pemerkosa itu dengan sepenuh nafsu birahiku. Kenapa aku mesti mengalami dan melewati peristiwa macam ini.<br />
Ah.. aku jadi linglung kalau memikirkannya. Biarlah apa yang terjadi, terjadilah.. Siang itu aku nampak terlampau merangsek Ronad untuk mengejar kepuasan nafsu birahiku. Aku sudah tidak menghitung-hitung risiko. Aku demikian larut dalam kenikmatan kontol Ronad. Edan.</p>
<p>Sore harinya suamiku kembali mengajak aku makan lesehan di Malioboro. Dan malam harinya dia mecumbu aku. Aku merasa tak ada gairah sama sekali. Suamiku merasakan sikapku ini.</p>
<p>&#8220;Udahlah ma, besok kan sudah nyampai di rumah lagi&#8221; Kasihan suamiku yang demikian memprihatinkan aku.</p>
<p>Besoknya, waktu yang semakin sempit merembet tak mungkin kuhindari. Begitu suamiku pergi ke lantai 2, aku tak sabar lagi. Aku ketuk pintu Ronad. Kami langsung berpagutan. Aku merasakan waktu semakin mendekati habis, semakin menyala-nyala nafsu seksualku. Aku semakin merangsang untuk merangseki Ronad. Kini akulah yang mendorongnya ke ranjang. Kini akulah yang seakan memperkosanya.</p>
<p>Kulepasi celananya, kemejanya, celana dalamnya. Kuciumi tubuhnya, dadanya, ketiaknya, perutnya, selangkangannya. Aku jadi sangat liar dan buas. Akulah yang menyanggamai dia. Dia serahkan tubuhnya untuk kepuasanku. Aku naik ke atas kontolnya. Dengan setengah menduduki tubuhnya, aku masukkan kemaluannya yang telah tegang dan kaku menembus memekku. Aku pompa dengan cepat dan penuh nafsuku. Aku dapatkan orgasmeku hanya dalam 3 menit sejak aku mulai memompa. Aku menjadi demikian blingsatan dalam gelinjang birahi yang tak lagi terkendali. Ronad nampaknya menikmati ulah keblingsatanku ini. Aku rubuh ke sampingnya.</p>
<p>Selanjutnya Ronad mengambil alih. Kontolnya yang belum terpuaskan dia tusukkan ke memekku kembali. Dia pompakan dengan cepatnya. Rasa pedih dan perih pada bibir-bibir kemaluanku semakin terasa menyiksaku. Aku merintih dan mengaduh-aduh kesakitan. Ronad justru nampak sangat menikmati kesakitanku. Dia balikkan tubuhku dan angkat pantatku hingga aku nungging tinggi-tinggi. Aku tahu dia ingin aku menjadi anjing betinanya. Tetapi.. Acchh, .. Tidak.. tidakk.. jangann..</p>
<p>Rupanya Ronad tidak hendak menyanggamai kemaluanku. Dia menjilati anusku. Uhh.. aku tak pernah membayangkan sebelumnya. Dia menciumi dan menusuk-nusukkan lidahnya ke lubang pembuangan taiku. Dia nampak sangat menikmati aroma pantatku itu, sambil kedua tangannya merabai dan kemudian memerasi buah dadaku.</p>
<p>Oohh.. ampuunn.. Ronadd.. Kenapa kamu selalu memberikan sensasi yang serba dahsyat padaku.. Kenapa kamu selalu memberikan pembelajaran berbagai nikmat sensasional begini macam padaku.. Ronaadd.. Jangann..!!</p>
<p>Aku rasakan bagaimana ujung lidahnya menyapu bibir-bibir analku. Aku rasakan bagaimana bibir Ronad mengecupi lubang anusku. Aku rasakan bagaimana hidungnya berusaha menyergapi segala rupa aroma yang menyebar dari pantatku. Aku rasakan bagaimana ludahnya membasahi hingga kuyup seluruh wilayah di seputar analku ini.</p>
<p>Dan puncak dari segala puncak ketakutanku akhirnya datang. Ronad bangkit. Dia setengah jongkok mengangkangi pantatku. Aku masih berpikir bahwa dia hendak menusukkan kontolnya ke memekku. Aku masih berpikir dan membayangkan nikmat jadi anjing betinanya Ronad. Aku masih berpikir bagaimana sesak dan legitnya kontol Ronad menusukki kemaluanku dengan cara nungging anjing ini. Aku sama sekali tidak berpikir lain..</p>
<p>Tiba-tiba, tanpa kompromi, kontol Ronad didesak-desakkanya ke pantatku. Dia hendak melakukan sodomi padaku. Edan kau Ronad, bajingan kauu.. Kamu bisa membunuh aku Ronad.. Nggak! Nggak akan aku rela melayani maumu ini Ronad.. Biar mati aku akan lawan kamu Ronad.. Aku nggak akan berikan pantatku untuk kepuasan nafsu biadabmu Ron..</p>
<p>Aku berguling. Kutendang perutnya, dia mengelak. Kucakar tangan dan dadanya, dia pegang tangan-tanganku, kugigit bahunya yang rebah ke wajahku, dia berkelit. Aku teriak-teriak, dia membiarkan. Kupingnya sangat menimati teriakkanku. Dia terus merenggutku dengan tanpa bicara. Aku terus menggeliat-geliat untuk melawannya.</p>
<p>Tiba-tiba, aku nggak tahu dari mana dia mengambilnya, dia keluarkan borgol. Borgol itu borgol besi yang aku sering lihat di TV digunakan polisi saat menangkap maling atau penjahat. Tangan kiriku direnggut paksa dan diborgolkannya ke kisi-kisi ranjang Novotel. Berhasil. Kemudian dia renggut kembali tangan kananku, dia keluarkan borgol yang kedua untuk memborgolkan tangan kanan ini ke kisi-kisi yang lain. Aku langsung dilanda cemas ketakutan yang amat sangat.</p>
<p>Akankah dia melukai aku? Aku panik. Sangat panik. Aku sangat histeris ketakutan. Aku memohon dengan tangisan panikku.</p>
<p>&#8220;Jangan.. jangan Ronad.. ampuni akuu.. Jangan borgol aku.. Ampuni aku Ronad..&#8221;, aku menghiba dalam histeris.</p>
<p>Kini benar-benar aku seperti hewan yang dilumpuhkan yang siap menunggu penyembelihan. Akankan aku jadi hewan korban kebiadaban Ronad?</p>
<p>&#8220;Sayang, jangan takut.. Aku nggak akan sakiti kamu.. Kamu akan aku berikan kenikmatan yang tak akan pernah kamu lupakan..&#8221;</p>
<p>Aku masih menangis minta belas kasihannya..</p>
<p>Kini dia mendekat ke tubuhku. Dia gulingkan setengah miring pantatku. Dia angkat kakiku hingga melipat ke arah dadaku. Dan kembali pantatku menjadi terpampang. Kemudian dengan merapat dari arah punggungku, Ronad memeluk tubuhku. Kemudian kembali kurasakan kontolnya merapat ke arah pantatku. Dia akan terus melakukan sodomi padaku. Apa dayaku. Aku yang kini terangket, tak lagi mampu melawan dengan cara apapun.</p>
<p>Saat dia tusuk-tusukkan kontolnya ke lubang pantatku aku mulai merasakan betapa pedih dan sakitnya. Aku rasakan seakan berjuta saraf-saraf peka di lubang analku sepertinya hancur oleh tempaan ujung kontolnya yang demikian keras itu. Aku menangis kesakitan dan penuh iba. Ronald tahu, karena dia adalah dokter. Dia hentikan tusukkannya. Dia ambil ludahnya dan dioleskan ke lubang duburku. Beberapa kali dia lakukan sebelum kemaluannya kembali untuk berusaha menembusinya lagi. Saat aku kembali berteriak sakit, dia membisikkan ketelingaku.</p>
<p>&#8220;Kamu mesti santai, kendorkan saraf-sarafmu, jangan tegang, jangan khawatir. Kamu percaya padaku, khan?&#8221;.</p>
<p>Duh, suara Ronald langsung membiusku. Aku percaya padanya. Dan sesungguhnyalah aku sangat berhasrat padanya. Akupun berusaha untuk lebih tenang. Toh aku nggak bisa berbuat lain. Tangan-tanganku terborgol dan Ronald telah demikian melumpuhkan aku. Kemudian aku merasakan seperti ada pemukul soft ball yang memaksakan menembusi anusku. Aku yakin pantatku mulai terluka, mungkin berdarah. Beberapa kali aku rasakan Ronad mengulangi melumasi lubangku dengan ludahnya.</p>
<p>Akhirnya setelah beberapa kali dan sedikit demi sedikit menyodok masuk, kontol Ronad berhasil tembus tertanam dalam lubang taiku. Aku mungkin kelenger. Aku tak mampu lagi merasakan sakit atau tidak sakit lagi. Aku lunglai dalam rasa panas dan pedas yang amat sangat. Aku tak mampu lagi berontak atau melawan. Aku benar-benar jadi pesakitan. Aku adalah korban keganasan Ronald.</p>
<p>Dan saat Ronad mulai memompakan kontolnya, aku benar-benar pingsan. Entah berapa lama. Aku terbangun saat aku rasakan ada air yang menyiram wajah dan mulutku hingga aku gelagapan. Pelan-pelan aku membuka mataku. Aku belum melihat apa-apa. Aku masih mengingat-ingat apa yang telah terjadi. Kulihat ada bayang-bayang gelap yang hampir menutupi wajahku. Dan.. Biadab, anjiingg.. Begundal busuk kau Ronaadd..</p>
<p>Dia benar-benar gila. Dia tengah menduduki aku dengan kontolnya yang mengarah dan mengencingi wajah dan mulutku. Sebagian air kencingnya masuk kemulutku dan tertelan hingga membuat aku gelagapan tersedak-sedak. Kudengar samar-samar.</p>
<p>&#8220;Minum, ini sundal, minum kencingku. Ayoo.. Minum.. Air segar inii.. minum perempuan sial.. Minum kencingku sundalku..&#8221;</p>
<p>Tangannya membekap hidungku yang langsung membuat mulutku ternganga mencari nafas. Dan pada saat yang bersaman air kencing itu deras ngucur ke mulutku. Bagaimanapun aku tak terpaksa menelannya. Aku gelagapan setengah mati dan kembali pingsan.</p>
<p>Entah berapa lama aku kelenger.. Hingga kudengar bunyi telepon keras berdering.. Kubiarkan telpon itu terus berdering hingga berhenti dengan sendirinya.. Badanku, celana jeans dan blusku, seprei ranjang, selimut, bantal, semuanya basah. Bau anyir dan pesing memenuhi kamar. Aku jadi ingat, itu air kencing. Aku juga jadi ingat tanganku, telah lepas dari borgolku.</p>
<p>Aku jadi ingat saat terakhir yang aku ingat, Ronad menduduki dadaku dan kencing ke wajah dan mulutku..<br />
Kemana dia sekarang..??<br />
Dimana Ronad bajingan itu..??</p>
<p>Tiba-tiba rasa mual langsung menyergap aku. Aku tak mampu menahan ingatan itu dan mualku makin menjadi-jadi. Aku muntah-muntah. Telpon kembali berdering keras. Dengan terseok aku bangkit dari ranjang dan kuraih telepon,</p>
<p>&#8220;Cepat balik ke kamarmu, penataran sudah selesai, suamimu sedang menuju ke lift untuk kembali ke kamar. Cepat..!!&#8221; itu suara Ronad.</p>
<p>Telepon langsung putus. Aku panik. Kusambar apa yang kuingat. Aku keluar kamar Ronad dan kembali ke kamarku. Tanganku gemetar tak keruan saat memasukkan kunci pintu. Aku berkejaran dengan suamiku. Aku berkejaran dengan nasibku. Aku berkejaran dengan keutuhan keluargaku. Aku berkejaran dengan martabatku.. Dengan terseok aku berlari ke kamarku dan langsung masuk kamar mandi dan mengunci pintunya. Ah.. ini semua adalah hasil kebodohanku.. Aku benar-benar keluar dari siksaan neraka jahanam..</p>
<p>Kudengar seseorang membuka pintu kamar.</p>
<p>&#8220;Ma, kok pintunya nggak dikunci..?&#8221; terdengar suara suamiku.</p>
<p>Ah, ademnya.. damainya.. Shower dingin di kamar mandi langsung membuat kesadaranku kembali utuh. Saat aku keluar kamar mandi suamiku menjemputku dan mencium aku dengan sepenuh cinta dan kerinduannya.</p>
<p>&#8220;Kita pulang, Ma. Ayo cepetan dandan, teman-teman sudah menunggu makan siang. Aku telepon ke kamar tadi. Kemana kamu, Ma? Shopping? Jalan-jalan?&#8221;</p>
<p>Ah.. Suamiku.. Cinta sejatiku.. Orang yang kuingkari.. Yang aku khianati..</p>
<p>Sejak saat itu aku tak pernah berjumpa lagi dengan Ronald. Tak aku pungkiri, hingga kini aku masih merindukan kontolnya yang gede panjang itu. Aku masih terobsesi padanya. Aku sering membayangkan betapa kekerasan dan kekasarannya memberikan nikmat syahwatku. Dalam keadaan sendiri aku sering mencoba ber-masturbasi. Aku merindukan orgasme beruntun yang kudapatkan dari dia.</p>
<p>Akhirnya Tamat Juga Cerita Dewasa Ini dan semoga bermanfaat bagi anda. </p>
<h4>Cerita Dewasa | Cerita Seks</h4>*<a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-dokter-kandungan-bag-ii.html" title="cerita sex dokter kandungan">cerita sex dokter kandungan</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-dokter-kandungan-bag-ii.html" title="kontol dokter">kontol dokter</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-dokter-kandungan-bag-ii.html" title="cerita panas dewasa dokter selingkuh dengan pasien">cerita panas dewasa dokter selingkuh dengan pasien</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-dokter-kandungan-bag-ii.html" title="Kontolku ngaceng memek anjing betina ku entot">Kontolku ngaceng memek anjing betina ku entot</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-dokter-kandungan-bag-ii.html" title="cerita seks memek ku di entot 3 kontol">cerita seks memek ku di entot 3 kontol</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-dokter-kandungan-bag-ii.html" title="memekku dientot terus">memekku dientot terus</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-dokter-kandungan-bag-ii.html" title="tusuk memekku">tusuk memekku</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-dokter-kandungan-bag-ii.html" title="memek digenjot dibelakang suami">memek digenjot dibelakang suami</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-dokter-kandungan-bag-ii.html" title="Memekku dientot dilantai">Memekku dientot dilantai</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-dokter-kandungan-bag-ii.html" title="Memek didesak kontol gede">Memek didesak kontol gede</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-dokter-kandungan-bag-ii.html" title="memek kontol dokter">memek kontol dokter</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-dokter-kandungan-bag-ii.html" title="Memekku dientot dokter">Memekku dientot dokter</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-dokter-kandungan-bag-ii.html" title="Memekku Dientot kontol anjing">Memekku Dientot kontol anjing</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-dokter-kandungan-bag-ii.html" title="KETAGIHAN KONTOL DOKTER">KETAGIHAN KONTOL DOKTER</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-dokter-kandungan-bag-ii.html" title="memekku diolesi">memekku diolesi</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-dokter-kandungan-bag-ii.html" title="memekku kencing">memekku kencing</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-dokter-kandungan-bag-ii.html" title="Memekku ketagihan dientot banyak kontol besar">Memekku ketagihan dientot banyak kontol besar</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-dokter-kandungan-bag-ii.html" title="memekku ketagihan kontol">memekku ketagihan kontol</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-dokter-kandungan-bag-ii.html" title="memek basah orgasme kontol gede">memek basah orgasme kontol gede</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-dokter-kandungan-bag-ii.html" title="memek bag">memek bag</a>*<!-- SEO SearchTerms Tagging 2 Plugin -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-dokter-kandungan-bag-ii.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selingkuh Dengan Dokter kandungan</title>
		<link>http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-dokter-kandungan.html</link>
		<comments>http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-dokter-kandungan.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Feb 2011 01:16:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[cerita selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[dokter kandungan]]></category>
		<category><![CDATA[dokter nakal]]></category>
		<category><![CDATA[ml dengan dokter]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritadewasa.modelperawan.info/?p=160</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah cerita dewasa yang cukup panjang, karena itu kami membaginya menjadi 2 seri, alias bersambung, cerita bersambung ini diceritakan langsung oleh sang pelaku wanita yang menikmati selingkuh dengan dokter kandungan. Berikut cerita selengkapnya. Pada hari Minggu, 25 Nopember malam aku bersama suami telah berada di restoran Novotel Yogyakarta yang terkenal itu. Aku perhatikan semua [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini adalah cerita dewasa yang cukup panjang, karena itu kami membaginya menjadi 2 seri, alias bersambung, cerita bersambung ini diceritakan langsung oleh sang pelaku wanita yang menikmati selingkuh dengan dokter kandungan. Berikut cerita selengkapnya.</p>
<p>Pada hari Minggu, 25 Nopember malam aku bersama suami telah berada di restoran Novotel Yogyakarta yang terkenal itu. Aku perhatikan semua kursi dipenuhi pengunjung. Secara ala kadarnya aku diperkenalkan dengan teman-teman suamiku yang juga datang bersama istri mereka. Dalam kerumunan meja besar untuk rombongan suamiku ini kami nampaknya merupakan pasangan yang paling muda dalam usia. Dan tentu saja aku menjadi perempuan yang termuda dan nampaknya juga paling cantik. Sementara ibu-ibu yang lain rata-rata sudah nampak ber-cucu atau buyut barangkali. Dan akhirnya aku tidak bisa begitu akrab dengan para istri-istri yang rata-rata nenek-nenek itu. Mungkin duniaku bukan lagi dunia mereka. Cara pandang dan sikap kehidupanku sudah jauh beda dari masa mereka.</p>
<p>Karena paling muda suamiku kebagian kamar yang paling tinggi di lantai 5, sementara teman-temannya kebanyakan berada di lantai 2 atau 3. Bagiku tak ada masalah, bahkan dari kamarku ini aku bisa lebih leluasa melihat Yogyakarta di waktu malam yang gebyar-gebyar penuh lampu warna-warni.</p>
<p>Malam itu kami serasa berbulan madu yang kedua. Kami bercumbu hingga separoh malam sebelum tidur nyenyak hingga saat subuh datang. Pagi harinya kami sempat sedikit jalan-jalan di taman hotel yang cukup luas itu untuk menghirup udara pagi sebelum kami sarapan bersama. Jadwal penataran suamiku sangat ketat, maklum disamping setiap session selalu diisi oleh pembicara tamu atau ahli dari Jakarta, juga dihadiri oleh pejabat penting dari berbagai tingkatan dan wilayah setanah air. Setiap pagi suamiku harus sudah berada di tempat seminar di lantai 2 pada jam 7 pagi. Apalagi sebagai anggota rombongan yang termuda dia seperti kena pelonco, segala hal yang timbul selalu larinya ke dia. Untung suamiku bertype &#8220;positive thinking&#8221; dan selalu penuh semangat dalam melaksanakan semua tugasnya.</p>
<p>Sesaat setelah suamiku memasuki ruang penataran aku sempatkan jalan-jalan di seputar hotel kemudian mencari book store untuk membeli koran pagi. Sesudah duduk sebentar di lobby aku balik ke kamar untuk mencoba telpon ke rumah sekedar &#8216;check rechek&#8217; kegiatan pelayanku di rumah. Kemudian duduk santai membaca koran di balkon kamarku yang berpanorama atap-atap kampung Yogyakarta sambil minum coklat instant yang tersedia di setiap kamar Novotel ini.</p>
<p>Bosan membaca koran aku buka channel TV sana-sini yang juga membosankan. Aku berpikir mau apa lagi, nih. Akhirnya sekitar jam 9 pagi aku berpikir sebaiknya aku turun ke lobby sambil mencuci mata melihat etalase toko di seputarnya. Aku keluar kamar melangkah di koridor yang panjang untuk menuju lift. Bersamaan dengan itu kulihat kamar di depan kamarku pintunya terbuka dan nampak sepintas di dalamnya ada seseorang setengah umur sedang sibuk menulis.</p>
<p>Dia sempat menengok ke arahku sebelum aku bergerak menuju lift. Hal yang lumrah di dalam hotel yang tamunya dari segala macam orang dan asal. Tak terbersit pikiran apapun pada apa yang barusan tampak oleh mataku. Aku adalah type perempuan yang berpribadi dan paling teguh menjaga diri sendiri baik karena kesadaran sosial budayaku maupun kesadaran akan etika moral yang berkaitan dengan nilai-nilai kesetiaan seorang istri pada suaminya.</p>
<p>Kembali aku jalan-jalan di seputar lobby, di shopping arcade yang menampilkan berbagai rupa barang dagangan pernik-pernik menarik, ada parfum, ada accessories, ada boutique. Ah.. aku nggak begitu tertarik dengan semua itu. Aku punya pandangan sendiri bagaimana membuat hidup lebih nyaman dan punya nilai. Aku memang tidak tertarik dengan pola hidup khalayak. Aku menyenangi keindahan yang serba alami. Kalau toh ada poles di sana, itu adalah &#8216;touch&#8217; yang lahir dari sikap budaya sebagaimana manusia yang memang memiliki rasa dan pikir.</p>
<p>Demikian pula yang berkaitan dengan kecantikan. Aku sangat menyadari bahwa basis tampilanku adalah perempuan yang cantik. Dan hal itu terbukti dari banyak orang yang sering secara langsung ataupun tidak langsung memberikan komentar dan penghargaan atas kecantikanku serta sikapku pada kecantikanku itu. Aku ingin kecantikkan yang juga memancar dari sikap budayaku. Dengan demikian aku akan selalu cantik dalam keadaan apapun. Oleh karenanya aku sangat menyukai &#8216;touch&#8217; yang sangat mencerminkan kemuliaan pribadi. Buatku hidup ini sangat tinggi maknanya dan perlu disikapi secara mulia, khas dan penuh kepribadian.</p>
<p>Sesudah 1 jam jalan dan lihat sana-sini kembali aku dilanda rasa bosan yang menuntunku untuk balik ke kamar saja. Aku memasuki kembali lift menuju kamarku di lantai 5. Aku masih melihat kamar depanku yang tetap pintunya terbuka. Aku membuka pintuku dan masuk. Aku sedang hendak mengunci kembali kamarku ketika terdengar dari luar sapaan halus.</p>
<p>&#8220;Selamat pagi&#8221;</p>
<p>Yang spontan aku jawab selamat pagi pula sambil membuka sedikit pintuku. Kulihat lelaki dari kamar depanku itu dan begitu cepat menyisipkan tangannya ke celah pintu dan meraih daunnya, kemudian dengan sangat sigap pula masuk menelusup ke kamar sebelum aku menyadari dan mempersilahkannya.</p>
<p>Hal yang sungguh sangat tidak mengenakkan aku. Aku tidak terbiasa berada dalam sebuah ruangan tertutup dengan lelaki lain yang bukan suamiku. Tetapi peristiwa itu rasanya berlangsung demikian cepat. Bahkan kemudian lelaki itu merapatkan dan langsung mengunci pintuku hingga kini benar-benar aku bersamanya dalam kamar tertutup dan terkunci ini. Ini adalah sebuah kekeliruan yang besar. Aku langsung marah dan berusaha menolaknya keluar dengan meraih kunci di pintu. Tetapi kembali dia lebih sigap dari aku.</p>
<p>&#8220;Tenang, zus, jangan takut. Aku nggak akan menyakiti zus, kok. Aku cuma sangat kagum dengan kecantikan yang zus miliki. Benar-benar macam kecantikan yang lahiriah maupun kecantikkan dari dalam batin. Inner beauty. Khayalanku menjadi melambung jauh setiap melihat zus. Sejak semalam di meja makan saat makan malam, kebetulan aku berada di samping meja makan rombongan suami zus, aku lihat tangan-tangan lentik zus. Aku pastikan zus sangat cantik. Dan pagi tadi saat zus jalan-jalan di taman bersama suami dan kemudian juga jalan-jalan di sekitar lobby kembali aku sangat mengagumi penampilan zus. Aku sangat terpesona dan tak mampu menahan diriku. Aku kepingin sekali tidur bersama zus, pagi ini&#8221;.</p>
<p>Orang itu memandangkan matanya tajam ke mataku. Omongan orang itu benar-benar biadab, tak punya malu. Apalagi rasa hormat. Dia seakan begitu yakin pasti menang atasku. Edan! Kok ada orang edan macam ini. Omongan panjangnya kurasakan sangat merendahkan diriku, kurang ajar, mengerikan dan menakutkan. Limbung dan ketakutan yang amat sangat langsung melanda sanubariku. Bulu kudukku merinding. Aku sepertinya jatuh dari ketinggian tanpa tahu akhirnya. Rasa sesak nafasku demikian menekan emosiku. Aku merasa begitu sangat lemah, terbatas dan tak punya pilihan.</p>
<p>Jangan harap kebaikan dari lelaki biadab ini. Dia jelas tidak menyadari dan paham betapa aku mengagungkan nilai-nilai hidup ini. Dia tidak tahu betapa aku selalu takut pada pengkhianatan dan pengingkaran terhadap kesetiaanku pada suami. Aku sama sekali tak pernah siap akan hal-hal yang sebagaimana kuhadapi saat ini. Sungguh edan!!</p>
<p>Kemudian dengan kalemnya dia raih tangan dan pinggangku untuk memelukku. Harga diri dan martabatku langsung bangkit marah. Aku berontak dan melawannya habis-habisan. Tanganku meraih apapun untuk aku pukulkan pada lelaki itu. Kutendangkan kakiku ke tubuhnya sekenanya, kucakarkan kukuku pada tubuhnya sekenanya pula. Tetapi.. Ya ampuunn.. Dia sangat tangguh dan kuat bagiku.</p>
<p>Lelaki itu berpostur tinggi pula dan mengimbangi tinggiku, dan usianya yang aku rasa tidak jauh beda dengan usia suamiku disertai dengan otot-otot lengannya yang nampak gempal saat menahan pegangan tanganku yang terus berontak dan mencakarinya.</p>
<p>Dia seret dan paksa aku menuju ke ranjang. Aku setengah dibantingkannya ke atasnya. Dan aku benar-benar terbanting. Kacamataku terlempar entah ke mana. Teriakanku sia-sia. Aku rasa kamar Novotel ini kedap suara sehingga suaraku yang sekeras apapun tidak akan terdengar dari luar. Karena perlawananku yang tak kenal menyerah dia dengan cepat meringkus tangan-tanganku dan mengikatnya dengan dasi suamiku yang dia temukan dan sambar dari tumpukan baju dekat ranjang hotel.</p>
<p>Dia ikat tanganku ke backdrop ranjang itu. Aku meraung, menangis dan berteriak sejadi-jadinya hingga akhirnya dia juga sumpel mulutku, entah pakai apa, sehingga aku tak mampu lagi bergerak banyak maupun berteriak. Sesudah itu dia tarik tungkai kakiku mengarah ke dirinya. Dia nampak berusaha menenangkan aku, dengan cara menekan mentalku, seakan meniupi telingaku. Dia berbisik dalam desahnya,</p>
<p>&#8220;Ayolah, zus, jangan lagi memberontak. Nanti lelah saja. Percuma khan, Waktu kita nggak banyak. Sebentar lagi suami zus istirahat makan siang. Dan bukankah dia selalu menyempatkan untuk menjemput zus untuk makan bersama?!&#8221;.</p>
<p>Aku berpikir cepat menyadari kata-katanya itu dan menjadi sangat khawatir. Ini orang memang betul-betul lihay. Mungkin memang tukang perkosa profesional. Dia seakan tahu dan menghitung semuanya. Dia bisa melemparkan isue yang langsung menekan. Dia tahu bahwa aku tidak mau kehilangan suamiku. Dan dia juga tahu, kalau toh kepergokpun, dia tak akan merugi. Hampir tak pernah dengar ada suami yang melapor istrinya diperkosa orang. Yang ada hanyalah seorang suami yang menceraikan istrinya tanpa alasan yang jelas. Disinilah bentuk tekanan lelaki biadab ini padaku. Sementara itu tindakan brutalnya terus dilakukannya.</p>
<p>Dia robek blusku dengan kekerasannya untuk menelanjangi dadaku. Dia hentakkan kutangku hingga lepas dan dilemparkannya ke lantai. Kemudian dengan seringainya dia menelusurkan mukanya. Dia benamkan wajahnya ke ketiakku. Dia menciumi, mengecup dan menjilati lembah-lembah ketiakku. Dari sebelah kanan kemudian pindah ke kiri. Yang kurasakan hanyalah perasaan risih yang tak terhingga. Suatu perasaan yang terjadi karena tiba-tiba ada sesuatu, entah setan, binatang atau orang telah merangseki tubuhku ini.</p>
<p>Tangan-tangannya menjamah dan menelusup kemudian mengelusi pinggulku, punggungku, dadaku. Tangannya juga meremas-remas susuku. Dengan jari-jarinya dia memilin puting-puting susuku. Disini dia melakukannya mulai dengan sangat pelan.<br />
Ah.. Bukan pelan, tt.. tetapi.. lembut. Dd.. dan.. dan demikian penuh perasaan. Kurang ajaarr..! D.. dd.. dia pikir bisa menundukkan aku dengan caranya yang demikian itu. Aku terus berontak dalam geliat.. Tetapi aku bagai kijang yang telah lumpuh dalam terkaman predatornya. Aku telah rebah ke tanah dan cakar-cakar predatorku telah menghunjam di urat leherku. Kini aku hanyalah seonggok daging konsumsi predatorku.</p>
<p>Aku sesenggukan melampiaskan tangisku dalam sepi. Tak ada suara dari mulutku yang tersumpal. Yang ada hanya air mataku yang meleleh deras. Aku memandang ke-langit-langit kamar Novotel. Aku demikian sakit atas ketidak adilan yang sedang kulakoni. Kini lelaki itu melihati aku. Aku menghindarkan tatapan matanya. Dia menciumi pipiku dan menjilat air mataku,</p>
<p>&#8220;Duhh, sayangkuu.. kamu cantik banget, siihh.. &#8220;, orang ini benar-benar kasmaran padaku.</p>
<p>Dia juga menciumi tepian bibirku yang tersumpal. Kini kengerian dari kebiadaban berikutnya datang menyusul. Tangannya sigap menyibakkan gaun penutup wilayah rahasiaku. Tangan lainnya mencapai pahaku dan mulai meraba-raba kulitku yang sangat halus karena tak pernah kulewatkan merawatnya. Lelaki ini tahu kehalusan kulitku. Dia merabanya dengan pelan dan mengelusinya semakin lembut. Ucchh.. Betapa aku dilanda perasaan malu yang amat sangat. Aku yang tak pernah menunjukkan auratku selama ini, tiba-tiba ada seorang lelaki asing yang demikian saja merabaiku dan menyingkap segala kerahasiaanku.</p>
<p>Kemudian dia kembali melanjutkan kebiadabannya, dia merenggut dan merobek gaunku. Dia tarik dari haribaan tubuhku. Dia campakkan ke lantai sebagaimana kutangku tadi. Dan kini aku hanyalah perempuan yang hina dengan setengah telanjang dan siap dalam perangkap lumatannya. Aku merasakan sepertinya dia telah merobeki jiwaku dan mencampakannya ke lantai kehinaan perempuan.</p>
<p>Aku merasakan betisku, pahaku kemudian gumpalan bokongku dirambati tangan-tangannya. Berontakku sekali lagi hanyalah kesia-siaan. Dia menindih berat dengan dadanya. Wajahnya mendekat hingga kurasakan nafasnya yang meniupkan angin ke selangkanganku. Lelaki itu mulai menenggelamkan wajahnya ke selangkanganku. Bukan main. Belum pernah ada seorangpun berbuat macam ini padaku. Juga tidak begini suamiku selama ini.<br />
Edan. Edaann..!!<br />
Aku tak kuasa menolak semua ini. Segala berontakku kandas. Kemudian aku merasakan lidahnya menyapu pori-pori selangkanganku. Edaann..!!</p>
<p>Lidah itu sangat pelan menyapu dan sangat lembut. Sesaat sepertinya aku berada di persimpangan jalan. Di depan mataku ada 2 potret. Aku membayangkan suamiku dan sekaligus lelaki ini.<br />
Salahkah aku?<br />
Dosakah aku?<br />
Siapa yang salah?<br />
Kenapa aku ditinggal sendirian di kamar ini?<br />
Kenapa mesti ada lelaki ini?<br />
Aku berpusing. Duniaku seakan-akan berputar dan aku tergiring pada tepian samudra yang sangat mungkin akan menelan dan menenggelamkan aku. Aku mungkin sedang terseret dalam sebuah arus yang sangat tak mampu kulawan. Aku merasakan lidah-lidah lelaki ini seakan menjadi seribu lidah. Seribu lidah lelaki ini menjalari semua bagian-bagian rahasiaku. Seribu lidah lelaki inilah yang menyeretku ke tepian samudra kemudian menyeret aku untuk tertelan dan tenggelam.</p>
<p>Ammpuunn.. Bayangan kengerian akan ingkarnya kesetiaan seorang istri menerkam aku. Keringatku meluncur deras. Aku tak bisa pungkiri. Aku sedang jatuh dalam lembah nikmat yang sangat dalam.. Aku sedang terseret dan tenggelam dalam samudra nafsu birahiku. Aku sedang tertelan oleh gelombang nikmat syahwatku.<br />
Salahkah akuu..??<br />
Salahkah..??</p>
<p>Dan saat kombinasi lidah yang menjilati selangkanganku dan sesekali dan jari-jari tangannya yang mengelusi paha di wilayah puncak-puncaknya rahasiaku, aku semakin tak mampu menyembunyikan rasa nikmatku. Isak tangisku terdiam, berganti dengan desahan dari balik kain yang menyumpal mulutku. Dan saat kombinasi olahan bibir dan lidah dipadukan dengan bukan lagi sentuhan tetapi remasan pada kemaluanku, desahanku berganti dengan rintihan yang penuh derita nikmat birahi. Aku telah tenggelam.</p>
<p>Dan gelombang itu kini menggoyang pantatku. Aku menggelinjang. Aku histeris ingin..<br />
Yaa.. Aku ingin!<br />
Aku punya ingin menjemputi ribuan lidah dan jari-jari lelaki ini. Ampuunn..!!<br />
Masih adakah aku??<br />
Dan ah.. Pintarnya lelaki ini. Dia begitu yakin bahwa aku telah tenggelam. Dia begitu yakin bahwa aku telah tertelan dalam syahwatku. Dia renggut sumpal di mulutku.</p>
<p>&#8220;Ayolah, sayang.. mendesahlah.. merintihlah.. Ambil nikmatmu. Teguk haus birahimu..&#8221;,</p>
<p>Aku mendesah dan merintih sangat histeris. Kulepaskan dengan liar derita nikmat yang melandaku. Aku kembali menangis dan mengucurkan air mata. Aku kembali berteriak histeris. Tetapi kini aku menangis, mengucurkan air mata dan berteriak histeris beserta gelinjang syahwatku. Aku meronta menjemput nikmat. Aku menggoyang-goyangkan pinggul dan pantatku dalam irama nafsu birahi yang menerjangku.</p>
<p>Dan sejak saat itu aku memasuki wilayah tak terhingga, tanpa batasan norma sekaligus meninggalkan batasan-batasan yang selama ini kupertahankan dengan sangat teguhnya. Aku memasuki suatu wilayah yang terbersit sepintas, bahwa aku sebenarnya pernah menginginkan nilai macam ini, nilai dimana tak ada kekhawatiran, ketakutan, rasa salah dan rasa mengkhianati. Aku memasuki wilayah dimana aku eksis secara murni menjadi diriku. Mungkin semacam ini alamiahku, yang adalah mahkluk untuk dipenuhi keinginan nafsu dan birahi yang demikian bebas tanpa kendali. Bahkan aku merasa ini adalah hak. Hak-ku. Aku merasa ber-hak untuk mendapatkannya.</p>
<p>Dan ke-tak terhingga-an serta ke-tak terbatas-an itu merayap menuju puncaknya ketika aku diterpa rasa dingin menggigil serta gemetar seluruh tubuhku yang disebabkan bibir lelaki itu merambah turun meluncur melewati perutku dan langsung menghunjam terperosok ke-kemaluanku. Aku tak mampu mengendalikan diriku lagi. Aku bergoncang-goncang mengangkati pantatku untuk mendorong dan menjemputi bibirnya karena kegatalan yang amat sangat pada kemaluanku. Dengan serta merta pula aku berusaha menjilati buah dadaku sendiri menahan gelinjang nikmat yang melanda nafsu birahiku. Dan kurasakan betapa kecupan, gigitan dan ruyak lidah lelaki ini membuat gigil dan gemetarku melempar aku ke lupa diri.</p>
<p>Akhirnya karena tak mampu aku menahannya lagi aku merintih.</p>
<p>&#8220;Hauss, mmaass.. Aku hauss..&#8221;</p>
<p>Rintihan itu membuat lelaki itu mendekatkan wajahnya ke wajahku hingga bisa kuraih bibirnya. Aku rakus menyedotinya. Kehausanku yang tak bisa kubendung membuat aku ingin melumati mulutnya. Aku berpagut dengan pemerkosaku. Aku melumat mulutnya sebagaimana sering aku melumati mulut suamiku saat aku sudah sangat di puncak birahiku. Aku benar-benar dikejar badai birahiku. Aku benar-benar gelisah gelombang syahwatku. Biasanya kalau sudah begini suamiku langsung tahu. Dia akan menusukkan penisnya ke vaginaku untuk menutup kegairahanku. Dia akan menjejalkan kontolnya dan memekku pasti cepat menjemputnya.</p>
<p>Dan kini aku benar-benar menunggu lelaki itu memasukkan kontolnya ke kemaluanku pula. Aku sebenar-benarnya berharap karena sudah tidak tahan merasakan badai birahiku yang demikian melanda seluruh organ-organ peka birahi di tubuhku. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang sama sekali diluar dugaanku. Aku sama sekali tak menduga, karena memang aku tak pernah punya dugaan sebelumnya. Kemaluan lelaki ini demikian gedenya.</p>
<p>Rasanya ingin tanganku meraihnya, namun belum lepas dari ikatan dasi di backdrop ranjang ini. Yang akhirnya kulakukan adalah sedikit mengangkat kepalaku dan berusaha melihati kemaluan itu. Ampuunn.. Sungguh mengerikan. Rasanya ada pisang tanduk gede dan panjang yang sedang dipaksakan untuk menembusi memekku. Aku menjerit tertahan. Tak lagi aku sempat memandangnya.</p>
<p>Lelaki ini sudah langsung menerkam kembali bibirku. Dia kini berusaha meruyakkan lidahnya di rongga mulutku sambil menekankan kontolnya untuk menguak bibir vaginaku. Selama ini aku pikir kontol suamiku itulah pada umumnya kemaluan lelaki itu. Kini aku dihadapkan kenyataan betapa besar kontol di gerbang kemaluanku saat ini, yang terus berusaha mendesaki dan menembusi kemaluanku tetapi tak kunjung berhasil. Aku sendiri sudah demikian kehausan dan tanpa malu lagi mencoba merangsekkan lubang kemaluanku tetapi tak juga berhasil.</p>
<p>Cairan-cairan yang mestinya melicinkanpun belum bisa membantu lincirnya kontol itu memasuki kemaluanku. Tetapi lelaki ini ada cara. Dia meludah pada tangannya untuk kemudian menambahi lumuran pelicin pada bibir kemaluanku. Dia lakukan 2 atau 3 kali. Dan sesudahnya dia kembali menyorongkan ujung kontolnya yang dengan serta merta aku menyambutnya hingga..<br />
Blezzhh..<br />
Ampuunn.. Kenapa sangat nikmat begini, ya, ampuunn.. Kemana nikmat macam ini selama ini..??<br />
Kemana nikmat dari suamiku yang seharusnya kudapatkan selama ini..??<br />
Kenapa aku belum pernah merasakan nikmat macam ini..??</p>
<p>Kombinasi ke-sesakkan karena cengkeraman kemaluanku pada bulatan keras batang besar kontol lelaki ini sungguh menyuguhkan sensasi terbesar dalam seluruh hidupku selama ini. Aku rasanya terlempar melayang kelangit tujuh. Aku meliuk-liukkan tubuhku, menggeliat-liat, meracau dan mendesah dan merintih dan mengerang dan.. Aku bergoncang dan bergoyang tak karuan.. Ya, ampuunn.. Orgasmeku dengan cepat menghampiri dan menyambarku. Aku kelenger dalam kenikmatan tak bertara. Lelaki ini langsung mematerikan nilai tak terhingga pada sanubariku. Aku masih kelenger saat dia mengangkat salah satu tungkai kakiku untuk kemudian dengan semakin dalam dan cepat menggenjoti hingga akhirnya muntah dan memuntahkan cairan panas dalam rongga kemaluanku.</p>
<p>Uhh.. Nikmat inii.. Uucchh..</p>
<p>Kami langsung roboh. Hening sesaat. Aneh, aku tak merasa menyesal, tak merasa khawatir, tak merasa takut. Ada rasa kelapangan dan kelegaan yang sangat longgar. Aku merasakan seakan menerima pencerahan. Memahami arti nikmat yang sejati dari peristiwa ranjang. Demikian membuat aku seakan di atas rakit yang sedang hanyut dalam sungai dalam yang sangat anteng. Aku bahkan tertidur barang 5 menit.</p>
<p>Aku bangun karena dering telpon. Itu pasti suamiku. Aku langsung cemas. Lelaki itu tak lagi berada di sampingku. Aku coba tengok ke kamar mandi sebelum menjawab telepon. Tak juga kutemui. Ternyata itu telepon dari kamar di depanku, telepon dari lelaki itu.</p>
<p>&#8220;Zus, cepat mandi, 15 menit lagi suamimu kembali ke kamar, saatnya mereka istirahat&#8221;.</p>
<p>Ah, bijak juga dia. Aku rapikan ranjang dan sepreinya, kemudian cepat mandi. Siang itu aku usul pada suamiku untuk makan di kamar saja, badanku agak nggak enak, kataku. Memang badanku agak lemes sejak aku mendapatkan orgasmeku yang bukan main dahsyatnya tadi.</p>
<p>Dan aku merasakan ada kelegaan sedikit, tak ada nampak bekas-bekas ulah lelaki itu pada bagian-bagian peka tubuhku. Saat ketemu di siang itu suamiku nampak menunjukkan sedikit prihatin padaku. Dia tahu aku dilanda rasa bosan menunggu. Dia sarankan aku jalan-jalan ke Molioboro atau tempat lainnya yang tak begitu jauh dari hotel. Aku mengangguk setuju.<br />
Ah.. Akhirnya aku dapat ide.</p>
<p>Menjelang jam 1 siang suamiku kembali ke ruang penataran di lantai 2, dan jam 1 lebih 5 menit lelaki itu kembali menelponku, aku nggak menjawab langsung kututup. Aku kembali merasa ketakutan pada apa yang aku pahami selama ini. Aku tak akan melanggarnya lagi. Yang sudah, ya, sudah. Masak aku mesti sengaja mengulangi kesalahanku lagi. Tetapi tiba-tiba ada ketukan di pintu. Aku curiga, lelaki itu datang lagi. Dan aku nggak tahu, kenapa aku ingin tahu. Aku ingin tahu siapa yang mengetuk itu, walaupun aku sudah hampir pastikan dia sang lelaki yang tak kukenal itu.</p>
<p>Kuintip dari lubang lensa kecil di pintu. Dan benar, dia lagi. Dari dalam aku teriak kasar, mau apa kamu, yang dia sahuti dengan halus.</p>
<p>&#8220;Sebentar saja zus, aku mau bicara. Sebentar saja, zus, ayo dong, bukain pintu&#8221;, pintanya.</p>
<p>Aku jadi ingat akan gelinjang nikmat yang aku terima darinya. Aku juga ingat betapa kontolnya tak pernah kurasakan nikmat macam itu. Aku juga ingat betapa lidahnya yang menyelusuri gatal bukit dadaku. Dan aku ingat pula betapa gigitan kecilnya pada pentilku demikian merangsang dan menggetarkan seluruh tubuhku. Kini aku lihat kembali bibir edan itu dari lubang pintu ini. Dan tanpa bisa kuhindarkan tangan kananku menggerakkan turun handle pintu ini. Dan, clek, terbuka celah sempit di ambang pintu. Dan dengan cepat, sret, tangan lelaki itu cepat menyelip di celah ambang itu.</p>
<p>&#8220;Sebentar, saja zus, perbolehkan aku masuk&#8221;</p>
<p>Dia tidak menunggu ijinku. Kakinya langsung mengganjal pintu dan dengan kaki lainnya mendorong, dia masuk. Kembali dia memeluki aku, lantas menciumi bibirku, lantas menyingkap gaunku, lantas melepasi kutangku, lantas memerosotkan celana dalamku. Lantas mengelusi pantatku, pahaku, meremasi kemaluanku kembali, bibirnya terus melumati bibirku.</p>
<p>Kacamataku diangkatnya. Itulah rangkaian serangannya padaku. Pada awalnya aku kembali berusaha berontak dan melawan, walaupun kali ini tidak segigih pada peristiwa pagi tadi. Dan aku yang memang bersiap untuk &#8220;keok&#8221; langsung takluk bersimpuh saat tangan ototnya meremasi wilayah peka di selangkanganku.</p>
<p>Kali ini dia gendong aku menuju ke-ranjang dan sama-sama berguling di atasnya. Tetapi kali ini dia tidak menelanjangi aku. Dia hanya singkapkan gaunku, kemudian dia memelukku dari arah punggungku. Dia lumati kudukku yang langsung membuat aku menjadi sedemikian merinding dan tanpa kuhindarkan tanganku jadi erat memegangi tangannya. Suatu kali ciuman di kudukku demikian membuat aku tergelinjang hingga aku menengokkan leherku untuk menyambar bibirnya. Kami saling berpagut dengan buasnya.</p>
<p>Lelaki itu rupanya ingin menambah khasanah nikmat seksual baru padaku. Aku tak tahu kapan dia melepasi celananya, tahu-tahu kontolnya sudah menyodokki kemaluanku dari arah belakangku. Dengan posisi miring serta satu tungkai kakiku dia peluk ke atas, kontolnya menyerbu memekku dan..<br />
Blezzhh.. Blezzhh.. Blezzhh..<br />
Dia kembali memompa. Rupanya kemaluanku sudah cepat adaptasi, kontol gedenya tak lagi kesulitan menembusi memekku ini.</p>
<p>Posisi ini, duh.. Nikmatnya tak alang kepalang. Macam ini sungguh menjadi kelengkapan sensasi perkosaannya padaku yang kedua. Ah, entah, ini masih bisa disebut sebagai perkosaannya padaku atau sudah menjadi penyelewenganku pada suamiku. Rasanya sudah tak lagi penting buatku yang kini sedang demikian sepenuhnya menikmati kerja lelaki ini pada tubuhku. Beberapa kali dia membetulkan singkapan gaunku yang menghalangi pompaan kontolnya pada kemaluanku.</p>
<p>Sesudah beberapa lama dalam nikmat posisi miring, diangkatnya tubuhku menindih tubuhnya. Posisi baru ini menuntut aku yang harus aktif bergerak. Terlintas rasa maluku. Tak pernah aku berlaku begini. Biasanya aku merupakan bagian yang pasif dalam ulah sanggama dengan suamiku, tetapi kali ini.</p>
<p>&#8220;Ayo, sayang, naik turunkan pantatmu, sayang, ayoo..&#8221;</p>
<p>Lelaki itu setengah memaksa aku untuk menaik turunkan pantatku dalam menerima tembusan kontolnya dari bawah tubuhku. Dan sesungguhnya aku yang memang sangat kegatalan menunggu sodokkan-sodokkannya kini berusaha menghilangkan rasa maluku dan mencoba memompa. Uh.., sungguh tak terduga nikmatnya. Aku mengerang dan merintih setengah berteriak setiap kali aku menurunkan pantatku dan merasakan betapa kontol gede itu meruyak di dalam rongga kemaluanku, menggeseki saraf-saraf gatal di dalamnya.</p>
<p>&#8220;Sayang, coba kamu duduk tegak dengan terus memompa, kamu akan merasakan sangat nikmat. Saya jamin pasti kamu nggak mau berhenti nantinya&#8221;, begitulah dia antara menghimbau dan memerintah aku yang dengan tangannya mengangkat tubuhku tanpa melepaskan kontolnya dari kemaluanku.</p>
<p>Dan dengan aku berposisi duduk membelakangi dia dan tanganku yang bertumpu pada dadanya, aku kembali memompa. Ah.., dia benar lagi. Ini kembali menjadi sensasi seksualku, karena aku sekarang melihat betapa diriku nampak di cermin kamarku dengan kerudung rambutku yang sudah awut-awutan dan demikian basah oleh keringatku. Aku seperti main enjot-enjotan naik-turun di atas kuda-kudaan.</p>
<p>Sepintas ada malu pada ulahku itu. Kok, bisa-bisanya, hanya dalam waktu satu hari aku melakukan hubungan mesum perkosaan atau penyelewengan, entahlah, dengan lelaki yang tak kukenal ini. Dan yang terjadi kemudian adalah genjotan naik turunku semakin cepat saja. Aku merasakan betapa kegatalan yang sangat menguasai rongga kemaluanku. Serta dengan menyaksikan diriku sendiri pada cermin yang tepat di mukaku, nafsu birahiku langsung melonjak dan mendorong gelinjangku kembali mendekati orgasmeku yang kedua dalam tempo tidak lebih dari 4 jam ini.</p>
<p>Dan saat orgasme itu akhirnya benar-benar hadir, aku kembali berteriak histeris mengiringi naik turunnya pantatku yang demikian cepat. Kontol yang keluar masuk pada lubang kemaluanku nampak seperti pompa hidrolik pada mesin lokomotif yang pernah aku lihat di stasiun Gambir.</p>
<p>Lelaki itu juga membantu cepatnya keluar masuk kontolnya. Aku kembali rubuh. Sementara dia, lelaki yang belum memuasi dirinya itu menyeretku ke tepian kasur dan meneruskan pompaannya hingga menyusul mencapai titik klimaksnya. Dia cengkeram pahaku dan kurasakan kedutan-kedutan kontolnya menyemprotkan cairan kental panas pada kemaluanku kembali.</p>
<p>Saat jeda, dia menceritakan siapa dirinya. Dia adalah seorang dokter kandungan. Dia sangat tahu seluk beluk persenggamaan. Dia tahu gaya-gaya dalam meraih nikmat sanggama. Dia tahu titik-titk peka pada tubuh perempuam. Dia tahu mana yang baik dan buruk. Dia puji aku setengah mati, betapa otot-otot kemaluanku demikian kencang mencengkeram kontolnya. Namanya Dr. Ronald, 52 tahun, asli Malang. Dia buka praktek di beberapa kota. Minggu terakhir di setiap bulan dia berada di Yogya untuk melayani pasien di beberapa rumah sakit di Yogya. Dia memang tidak ada giliran ke kotaku.</p>
<p>Aku boleh panggil Ron saja atau Ronad. Aku pikir dia adalah lelaki yang luar biasa. Dan aku lega saat dia mengenalkan dirinya. Aku lega karena dia termasuk orang terpelajar dan punya identitas. Dia tidak liar. Dan dia bilang bertanggung jawab apabila ada hal yang nggak benar padaku karena bersanggama dengannya. Dia memberikan aku kartu nama. Aku terima dan tak kuatir pada suamiku, karena dia dokter kandungan, yang mungkin saja aku dapatkan dari referensi teman-temanku.</p>
<p>Sore itu dia memberikan aku sekali lagi orgasme. Huh.. sungguh melelahkan dan sekaligus sangat memuaskan aku. Dan yang paling mengesankan bagiku, sesiang hari ini dalam 3 kali persanggamaan aku meraih 6 kali orgasme. Aku nggak tahu lagi, bagaimana aku harus bersikap padanya.</p>
<p>Saat suamiku pulang, kamarku sudah kembali rapi, seakan tak ada yang terjadi. Aku sudah mandi dan dandan agar tidak menampakkan kelelahanku. Dan malam itu aku bersama suamiku kembali makan malam bersama. Di pojok ruang makan kulihat meja dengan 4 kursi yang hanya diduduki seorang, dr. Ronad. Dia nampak tidak berusaha memandang aku. Dia menyibukkan dirinya dengan bacaan dan tulis menulis. Sungguh suatu kamuflase yang hebat.</p>
<p>Pada keesokan harinya, hanya 10 menit sesudah suamiku turun ke lantai 2 untuk mengikuti penataran di hari ke dua, dr. Ronad kembali mengetuk pintu. Kembali aku menghadapi peperangan bathinku. Masa, perkosaan bisa terjadi sekian kali berturut-turut, dan sementara itu, apabila disebut sebagai penyelewengan, bagaimana perempuan tegar dan berkepribadian seperti aku ini demikian mudah runtuh oleh nikmatnya perselingkuhan. Tetapi bayangan dan segala macam keraguanku itu hanyalah menjadi awal dari elusan dan rabaan batin yang langsung membangkitkan naluriah nafsu birahiku. Aku sudah mulai berselingkuh sebelum perselingkuhan itu di mulai. Aku telah benar-benar runtuh. Aku bukakan pintu untuk Ronad.</p>
<p>Rasa harga diriku yang masih tersisa mendramatisir keadaanku. Aku bertindak seakan menolak saat Ronad menggendong aku dari ambang pintu ke peraduanku. Tetapi segala ocehanku langsung bungkam saat bibirnya melumat bibirku. Segala tolakan tanganku langsung luruh saat tangannya memilin pentil-pentilku. Segala hindar dan elak tubuhku langsung sirna saat pelukan tangannya yang kekar merabai pinggul dan bokongku. Dan segala keinginan untuk &#8220;Tidak!&#8221; langsung musnah saat kombinasi lumatan di bibir, pelukan di pinggul, rabaan pada pantatku merangsek dengan sertaan nafasnya yang memburu. Aku aktip menunggu Ronad melahapku.</p>
<p>Dia mengulangi awal yang seperti kemarin, merangkul dan memulai dari belakang punggungku, memelukku kemudian menjilati kudukku. Aku meronta bukan untuk melawan, tetapi meronta karena menerima kenikmatan. Aku menengokkan leherku hingga bisa meraih wajahnya. Kulumati bibirnya. Dan seperti kemarin, setelah menyingkap busana yang menutup bokongku hingga paha dan memekku terpampang, tahu-tahu kontolnya sudah telanjang menyelip dari celah celana dalamku, siap berada di gerbang kemaluanku. </p>
<p>wew&#8230; sudah cukup capek nih nulis cerita, sambung ke postingan berikutnya ya temen temen&#8230;</p>
<h4>Cerita Dewasa | Cerita Seks</h4>*<a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-dokter-kandungan.html" title="KISAH SELINGKUHAN dokter kandungan">KISAH SELINGKUHAN dokter kandungan</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-dokter-kandungan.html" title="cerita mesum dokter kandungan">cerita mesum dokter kandungan</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-dokter-kandungan.html" title="cerita selingkuh dokter kandungan">cerita selingkuh dokter kandungan</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-dokter-kandungan.html" title="seks dewasa dokter kandungan">seks dewasa dokter kandungan</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-dokter-kandungan.html" title="Selingkuhdokterkandungan">Selingkuhdokterkandungan</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-dokter-kandungan.html" title="Cerita dokter">Cerita dokter</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-dokter-kandungan.html" title="kisah aku istri yang menikmati selingkuh">kisah aku istri yang menikmati selingkuh</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-dokter-kandungan.html" title="kisah mesum dokter kandungan">kisah mesum dokter kandungan</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-dokter-kandungan.html" title="istri yang memberontak dan selingkuh">istri yang memberontak dan selingkuh</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-dokter-kandungan.html" title="istri dokter yg diperkosa">istri dokter yg diperkosa</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-dokter-kandungan.html" title="istri dokter selingkuh cerita dewasa">istri dokter selingkuh cerita dewasa</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-dokter-kandungan.html" title="Istriku selingkuh dengan temannya di depanku">Istriku selingkuh dengan temannya di depanku</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-dokter-kandungan.html" title="isteri selingkuh kontol gede">isteri selingkuh kontol gede</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-dokter-kandungan.html" title="ibu selingkuh di depanku">ibu selingkuh di depanku</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-dokter-kandungan.html" title="Gedenya kontol dokter">Gedenya kontol dokter</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-dokter-kandungan.html" title="dokter kandungan sex">dokter kandungan sex</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-dokter-kandungan.html" title="Dokter kandungan Cerita dewasa">Dokter kandungan Cerita dewasa</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-dokter-kandungan.html" title="diperkosa dokter kandungan-cerita sex">diperkosa dokter kandungan-cerita sex</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-dokter-kandungan.html" title="di paksa melayani ibu ibu stw">di paksa melayani ibu ibu stw</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-dokter-kandungan.html" title="CRITA DOKTER KANDUNGAN MESUM">CRITA DOKTER KANDUNGAN MESUM</a>*<!-- SEO SearchTerms Tagging 2 Plugin -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-dokter-kandungan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pergaulan Bebas Mahasiswa</title>
		<link>http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/pergaulan-bebas-mahasiswa.html</link>
		<comments>http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/pergaulan-bebas-mahasiswa.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 Jan 2011 04:36:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[ayam kampus]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan seks]]></category>
		<category><![CDATA[mahasiswa ganteng]]></category>
		<category><![CDATA[mahasiswi cantik]]></category>
		<category><![CDATA[seks dengan teman]]></category>
		<category><![CDATA[seks kampus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritadewasa.modelperawan.info/?p=143</guid>
		<description><![CDATA[Pergaulan bebas mahasiswa indonesia sudah mencapai pada tarap yang sangat menghawatirkan, dengan seks sebagai hal yang dianggap biasa, seperti dalam cerita ini, walau hanya berteman dan baru kenal, hubungan seks bisa berjalan suka sama suka. Kenalkan, namaku Tama. Aku adalah seorang mahasiwa tingkat 3 di sebuah perguruan negeri tinggi di Kota Bandung. Postur tubuhku biasa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pergaulan bebas mahasiswa indonesia sudah mencapai pada tarap yang sangat menghawatirkan, dengan seks sebagai hal yang dianggap biasa, seperti dalam cerita ini, walau hanya berteman dan baru kenal, hubungan seks bisa berjalan suka sama suka.</p>
<p><img alt="foto mahasiswi bugil" src="http://4.bp.blogspot.com/_k9AaMFPJaFw/TGIueHZL6cI/AAAAAAAAAZ8/KmFlM-gcss0/s1600/mahasiswa1.jpg" title="Mahasiswi bugil" class="alignnone" width="576" height="768" /><br />
Kenalkan, namaku Tama. Aku adalah seorang mahasiwa tingkat 3 di sebuah perguruan negeri tinggi di Kota Bandung. Postur tubuhku biasa saja, tinggi 173 cm dengan berat 62 kg, namun karena aku ramah, lumayan pintar, serta lumayan kaya maka aku cukup terkenal di kalangan adik maupun kakak kelas jurusanku.</p>
<p>Pagi itu aku tergesa â€“ gesa memarkir Honda Accordku di parkiran kampus. Setengah berlari aku menuju ke gedung kuliah yang berada sekitar 400 m dari parkiran tersebut, sambil mataku melirik ke jam tangan Albaku yang telah menunjukkan pukul 8.06. Shit..! Kalau saja tadi malam aku tidak nekat menonton pertandingan bola tim favoritku (Chelsea) sampai pukul 2 larut malam pasti aku tidak akan terlambat seperti ini.</p>
<p>â€œKalau saja pagi ini bukan Pak Noel yang mengajar, tentu saja aku masih berjalan santai menuju ruang kuliah. Ya, Pak Noel yang berusia sekitar 40 tahunan memang sangat keras dalam urusan disiplin, terlambat sepuluh menit saja pastilah pintu ruangan kuliah akan dikuncinya. Kesempatan â€œtitip absenâ€ pun nyaris tidak ada karena ia hampir selalu mengecek daftar peserta hadir. Parahnya lagi, kehadiran minimal 90% adalah salah satu prasyarat untuk dapat lulus dari mata kuliah ajarannya.â€<br />
Tersentak dari lamunanku, ternyata tanpa sadar aku sudah berada di gedung kuliah, namun tidak berarti kesulitanku terhenti sampai disini. Ruanganku berada di lantai 6, sedangkan pintu lift yang sedari tadi kutunggu tak kunjung terbuka.<br />
Mendadak, dari belakang terdengar suara merdu menyapaku. â€œHai Tama..!â€ Akupun menoleh, ternyata yang menyapaku adalah adik angkatanku yang bernama Dwi. â€œHai jugaâ€ jawabku sambil lalu karena masih dalam keadaan panik. â€œKerah baju kamu terlipat tuhâ€ kata Dwi. Sadar, aku lalu membenarkan posisi kerah kemeja putihku serta tak lupa mengecek kerapihan celana jeansku. â€œUdah, udah rapi kok. Hmm, pasti kamu buru â€“ buru ya?â€ kata Dwi lagi. â€œIya nih, biasa Pak Noelâ€ jawabku. â€œMmhâ€ Dwi hanya menggumam.</p>
<p>Setelah pintu lift terbuka akupun masuk ke dalam lift. Ternyata Dwi juga melakukan hal yang sama. Didalam lift suasananya sunyi hanya ada kami berdua, mataku iseng memandangi tubuh Dwi. Ternyata hari itu ia tampil sangat cantik. Tubuh putih mulusnya setinggi 167 cm itu dibalut baju kaos Gucci pink yang ketat, memperlihatkan branya yang berwarna hitam menerawang dari balik bajunya. Sepertinya ukuran payudaranya cukup besar, mungkin 34D. Ia juga mengenakan celana blue jeans Prada yang cukup ketat. Rambutnya yang lurus sebahu terurai dengan indahnya. Wangi parfum yang kutebak merupakan merk Kenzo Intense memenuhi udara dalam lift, sekaligus seperti beradu dengan parfum Boss In Motion milikku. Hmm pikirku, pantas saja Dwi sangat diincar oleh seluruh cowo di jurusanku, karena selain ia masih single tubuhnya juga sangat proporsional. Lebih daripada itu prestasi akademiknya juga cukup cemerlang. Namun jujur diriku hanya menganggap Dwi sebagai teman belaka. Mungkin hal itu dikarenakan aku baru saja putus dengan pacarku dengan cara yang kurang baik, sehingga aku masih trauma untuk mencari pacar baru.</p>
<p>Tiba â€“ tiba pintu lift membuka di lantai 4. Dwi turun sambil menyunggingkan senyumnya kepadaku. Akupun membalas senyumannya. Lewat pintu lift yang sedang menutup aku sempat melihat Dwi masuk ke sebuah ruang studio di lantai 4 tersebut. Ruang tersebut memang tersedia bagi siapa saja mahasiwa yang ingin menggunakannya, AC didalamnya dingin dan pada jam pagi seperti ini biasanya keadaannya kosong. Aku juga sering tidur didalam ruangan itu sehabis makan siang, abisnya sofa disana empuk dan enak sih. Heheheâ€¦<br />
Setelah itu lift pun tertutup dan membawaku ke lantai 6, tempat ruang kuliahku berada. Segera setelah sampai di pintu depan ruang kuliahku seharusnya berada, aku tercengang karena disana tertempel pengumuman singkat yang berbunyi â€œkuliah Pak Noel ditunda sampai jam 12. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih. Ttd: Tata Usaha Departemenâ€</p>
<p>Sialan, kataku dalam hati. Jujur saja kalau pulang lagi ke kostan aku malas, karena takut tergoda akan melanjutkan tidur kembali. Bingung ingin melakukan apa selagi menunggu, aku tiba â€“ tiba saja teringat akan Dwi. Bermaksud ingin membunuh waktu dengan ngobrol bersamanya, akupun bergegas turun kelantai 4 sambil berharap kalau Dwi masih ada disana.<br />
Sesampainya di lantai 4 ruang studio, aku tidak tahu apa Dwi masih ada didalam atau tidak, karena ruangan itu jendelanya gelap dan ditutupi tirai. Akupun membuka pintu, lalu masuk kedalamnya. Ternyata disana ada Dwi yang sedang duduk disalah satu sofa didepan meja ketik menoleh ke arahku, tersenyum dan bertanya â€œHai Tama, ngga jadi kuliah?â€ â€œKuliahnya diundurâ€ jawabku singkat. Iapun kembali asyik mengerjakan sesuatu dengan laptopnya. Aku memandang berkeliling, ternyata ruangan studio selebar 4X5 meter itu kosong, hanya ada suaraku, suara Dwi, dan suara AC yang bekerja. Secara tidak sadar aku mengunci pintu, mungkin karena ingin berduaan aja dengan Dwi. Maklum, namanya juga cowo, hueheheâ€¦<br />
Penasaran, aku segera mendekati Dwi. â€œHi Dwi, lagi ngapain sendirian disini?â€ â€œOh, ini lagi ngerjain tugas. Abis dihimpunan rame banget sih ,jadi aku ga bisa konsentrasi.â€ â€œEh, kebetulan ada Tama, udah pernah ngambil kuliah ini kan?â€ Tanya Dwi sambil memperlihatkan tugas di layar laptopnya. Aku mengangguk singkat. â€œBisa ajarin Dwi ngga caranya, Dwi dari tadi gak ketemu cara ngerjainnya nih?â€ pinta Dwi. Akupun segera mengambil tempat duduk disebelahnya, sambil mengajarinya cara pengerjaan tugas tersebut. Daripada aku bengong, pikirku. Mulanya saat kuajari ia belum terlalu mengerti, namun setelah beberapa lama ia segera paham dan tak lama berselang tugasnya pun telah selesai.</p>
<p>â€œWah, selesai juga. Ternyata gak begitu susah ya. Makasih banget ya Tama, udah ngerepotin kamu.â€ Kata Dwi ramah. Iapun menutup laptop Toshibanya dan mengemasnya. â€œApa sih yang ngga buat cewe tercantik di jurusan iniâ€ kataku sekedar iseng menggoda. Dwi pun malu bercampur gemas mendengar perkataanku, dan secara tiba â€“ tiba ia berdiri sambil berusaha menggelitiki pinggangku. Aku yang refleksnya memang sudah terlatih dari olahraga karate yang kutekuni selama ini pun dapat menghindar, dan secara tidak sengaja tubuhnya malah kehilangan keseimbangan serta pahanya mendarat menduduki pahaku yang masih duduk. Secara tidak sengaja tangan kanannya yang tadinya ingin menggelitikiku menyentuh kemaluanku. Spontan, adik kecilku pun bangun. â€œIih, Tama kok itunya tegang sih?â€ kata Dwi sambil membenarkan posisi tangannya. â€œSori yaâ€ kataku lirih. Kami pun jadi salah tingkah, selama beberapa saat kami hanya saling bertatapan mata sambil ia tetap duduk di pangkuanku.</p>
<p>Melihat mukanya yang cantik, bibirnya yang dipoles lip gloss berwarna pink, serta matanya yang bulat indah membuatku benar â€“ benar menyadari kecantikannya. Ia pun hanya terus menatap dan tersenyum kearahku. Entah siapa yang memulai, tiba â€“ tiba kami sudah saling berciuman mulut. Ternyata ia seorang pencium yang hebat, aku yang sudah berpengalamanpun dibuatnya kewalahan. Harum tubuhnya makin membuatku horny dan membuatku ingin menyetubuhinya.<br />
Seolah mengetahui keinginanku, Dwi pun merubah posisi duduknya sehingga ia duduk di atas pahaku dengan posisi berhadapan, daerah vaginanya yang masih ditutupi oleh celana jenas menekan penisku yang juga masih berada didalam celanaku dengan nikmatnya. Bagian dadanya pun seakan menantang untuk dicium, hanya berjarak 10 cm dari wajahku. Kami berciuman kembali sambil tanganku melingkar kepunggungnya dan memeluknya erat sekali sehingga tonjolan dibalik kaos ketatnya menekan dadaku yang bidang. â€œmmhh.. mmmhh..â€ hanya suara itu yang dapat keluar dari bibir kami yang saling beradu.</p>
<p>Puas berciuman, akupun mengangkat tubuh Dwi sampai ia berdiri dan menekankan tubuhnya ke dinding yang ada dibelakangnya. Akupun menciumi bibir dan lehernya, sambil meremas â€“ remas gundukan payudaranya yang terasa padat, hangat, serta memenuhi tanganku. â€œAaah, Tamaâ€¦â€ Erangannya yang manja makin membuatku bergairah. Kubuka kaos serta branya sehingga Dwi pun sekarang telanjang dada. Akupun terbelalak melihat kecantikan payudaranya. Besar, putih, harum, serta putingnya yang berwarna pink itu terlihat sedikit menegang. â€œTamaâ€¦â€ katanya sambil menekan kepalaku kearah payudaranya. Akupun tidak menyia â€“ nyiakan kesempatan baik itu. Tangankupun meremas, menjilat, dan mencium kedua belah payudaranya. Kadang bibirku mengulum putting payudaranya. Kadang bongkahan payudaranya kumasukkan sebesar mungkin kedalam mulutku seolah aku ingin menelannya, dan itu membuat badan Dwi menggelinjang. â€œAaahhâ€¦ SShhhâ€¦â€ aku mendongak keatas dan melihat Dwi sedang menutup matanya sambil bibirnya mengeluarkan erangan menikmati permainan bibirku di payudaranya. Seksi sekali dia saat itu. Putingnya makin mengeras menandakan ia semakin bernafsu akan â€œpekerjaankuâ€ di dadanya.<br />
Puas menyusu, akupun menurunkan ciumanku kearah pusarnya yang ternyata ditindik itu. Lalu ciumanku makin mengalir turun ke arah selangkangannya. Akupun membuka jeansnya, terlihatlah celana dalamnya yang hitam semi transparan itu, namun itu tak cukup untuk menyembunyikan gundukan vaginanya yang begitu gemuk dari pandanganku. Akupun mendekatkan hidungku ke arah vaginanya, tercium wangi khas yang sangat harum. Ternyata Dwi sangat pintar dalam menjaga bagian kewanitaannya itu. Sungguh beruntung diriku dapat merasakan miliknya Dwi.</p>
<p>Akupun mulai menyentuh bagian depan celana dalamnya itu. Basah. Ternyata Dwi memang sudah horny karena servisku. Jujur saja aku merasa deg â€“ degan karena selama ini aku belum pernah melakukan seks dengan kedelapan mantan pacarku, paling hanya sampai taraf oral seks. Jadi ini boleh dibilang pengalaman pertamaku. Dengan ragu â€“ ragu akupun menjilati celana dalamnya yang basah tersebut. â€œMmhhhâ€¦ Ooggghhâ€¦â€ Dwi mengerang menikmati jilatanku. Ternyata rasa cairan kewanitaan Dwi gurih, sedikit asin namun enak menurutku. Setelah beberapa lama menjilati, ternyata cairan kewanitaannya makin banyak meleleh.</p>
<p>â€œBuka aja celana dalamkuâ€ kata Dwi. Mendengar restu tersebut akupun menurunkan celana dalamnya sehingga sekarang Dwi benar â€“ benar bugil, sedangkan aku masih berpakaian lengkap. Benar â€“ benar pemandangan yang indah. Vaginanya terpampang jelas di depan mataku, berwarna pink kecoklatan dengan bibirnya yang masih rapat. Bentuknya pun indah sekali dengan bulunya yang telah dicukur habis secara rapi. Bagai orang kelaparan, akupun segera melahap vaginanya, menjilati bibir vaginanya sambil sesekali menusukkan jari tengah dan jari telunjukku ke dalamnya. Berhasil..! Aku menemukan G-Spotnya dan terus memainkannya. setelah itu Dwi terus menggelinjang, badannya mulai berkeringat seakan tidak menghiraukan dinginnya AC di ruangan ini. â€œEmmh, please donâ€™t stopâ€ kata Dwi dengan mata terpejam. &#8220;OOuucchh&#8230;&#8221; Rintih Dwi di telingaku sambil matanya berkerjap-kerjap merasakan nikmat yang menjalari tubuhnya.&#8221;Ssshhh&#8230;Ahhh&#8221;, balasku merasakan nikmatnya vagina Dwi yang makin basah. Sambil terus meremas dada besarnya yang mulus, adegan menjilat itu berlangsung selama beberapa menit. Tangannya terus mendorong kepalaku, seolah menginginkanku untuk menjilati vaginanya secara lebih intens. Pahanya yang putih pun tak hentinya menekan kepalaku. Tak lama kemudian, â€œUuuhhh.. Dwi mau keâ€¦ luâ€¦ arâ€¦â€ seiring erangannya vaginanya pun tiba â€“ tiba membanjiri mulutku mengeluarkan cairan deras yang lebih kental dari sebelumnya, namun terasa lebih gurih dan hangat. Akupun tidak menyia â€“ nyiakannya dan langsung meminumnya sampai habis. â€œSlruupppâ€¦â€ suaranya terdengar nyaring di ruangan tersebut. Nafas Dwi terdengar terengah â€“ engah, ia menggigit bibirnya sendiri sambil seluruh tubuhnya mengkilat oleh keringatnya sendiri. Setelah tubuhnya berhenti bergetar dan jepitan pahanya mulai melemah akupun berdiri dan mencium bibirnya, sehingga ia merasakan cairan cintanya sendiri.</p>
<p>â€œMmhh, Tamaâ€¦ makasih ya kamu udah bikin Dwi keluar.â€ â€œkamu malah belum buka baju sama sekali, curangâ€ kata Dwi. â€œGantian sini.â€ Setelah berkata lalu Dwi mendorong tubuhku sehingga aku duduk diatas sofa. Iapun berjongkok serta melepaskan celana jeans serta celana dalamku. Iapun kaget melihat batang penisku yang berukuran cukup â€œwah.â€ Panjangnya sekitar 16 cm dengan diameter 5 cm. kepalanya yang seperti topi baja berwarna merah tersentuh oleh jemari Dwi yang lentik. â€œTama, punya kamu gede bangetâ€¦â€ setelah berkata maka Dwi langsung mengulum kepala penisku. Rasanya sungguh nikmat sekali. â€œmmh Dwi kamu nikmat bangetâ€¦â€ kataku. Iapun menjelajahi seluruh penjuru penisku dengan bibir dan lidahnya, mulanya lidahnya berjalan menyusuri urat dibawah penisku, lalu bibirnya yang sexy mengulum buah zakarku. â€œaahâ€¦ uuhhâ€¦ â€ hanya itu yang dapat kuucapkan. Lalu iapun kembali ke ujung penisku dan berusaha memasukkan penisku sepanjang â€“ panjangnya kedalam mulutnya. Akupun mendorong kepalanya dengan kedua belah tangannya sehingga batang penisku hampir 3/4nya tertelan oleh mulutnya sampai ia terlihat hamper tersedak. Sambil membuka bajuku sendiri aku mengulangi mendorong kepalanya hingga ia seperti menelan penisku sebanyak 5 â€“ 6 kali.</p>
<p>Puas dengan itu ia pun berdiri dan duduk membelakangiku, tangannya membimbing penisku memasuki liang kemaluannya. â€œTama sayang, aku masukin ya..â€ kata Dwi bergairah. Lalu iapun menduduki penisku, mulanya hanya masuk 3/4nya namun lama â€“ lama seluruh batang penisku terbenam ke dalam liang vaginanya. Aah, jadi ini yang mereka katakana kenikmatan bercinta, rasanya memang enak sekali pikirku. Iapun terus menaik â€“ turunkan vaginanya sambil kedua tangannya bertumpu pada dadaku yang bidang. â€œPak.. pakâ€¦ pak.. sruut.. srutt..â€ bunyi paha kami yang saling beradu ditambah dengan cairan kewanitaannya yang terus mengalir makin menambah sexy suasana itu. Sesekali aku menarik tubuhnya kebelakang, sekedar mencoba untuk menciumi lehernya yang jenjang itu. Lehernya pun menjadi memerah di beberapa tempat terkena cupanganku.</p>
<p>â€œDwi, ganti posisi dongâ€ kataku. Lalu Dwi berdiri dan segera kuposisikan dirinya untuk menungging serta tangannya bertumpu pada meja. Dari posisi ini terlihat liang vaginanya yang memerah tampak semakin menggairahkan. Akupun segera memasukkan penisku dari belakang. â€œaahh, pelan â€“ pelan sayangâ€ kata Dwi. Akupun menggenjot tubuhnya sampai payudaranya berguncang â€“ guncang dengan indahnya. â€œAaahhkk&#8230;Tama&#8230;Ooucchhhkgg..Ermmmhhh&#8221; suara Dwi yang mengerang terus, ditambah dengan cairannya yang makin banjir membuatku semakin tidak berdaya menahan pertahanan penisku. â€œOoohh&#8230;yeahh ! fu*k me like that&#8230;uuhh&#8230;iâ€™m your bitch now !â€ erang Dwi liar.<br />
&#8220;Aduhh.. aahh.. gila Dwi.. enak banget!&#8221; ceracauku sambil merem-melek. &#8220;Oohh.. terus Tama.. kocok terus&#8221; Dwi terus mendesah dan meremas-remas dadanya sendiri, wajahnya sudah memerah saking terangsangnya. &#8220;Yak.. dikit lagi.. aahh.. Tama.. udah mau&#8221; Dwi mempercepat iramanya karena merasa sudah hampir klimaks. &#8220;Dwi.. Aku juga.. mau keluar.. eerrhh&#8221; geramku dengan mempercepat gerakan.</p>
<p>&#8220;Enak nggak Tama?&#8221; tanyanya lirih kepadaku sambil memalingkan kepalanya kebelakang untuk menatap mataku. &#8220;Gila.. enak banget Dwi.. terusin sayang, yang kencang..&#8221; Tanganku yang masih bebas kugerakkan kearah payudaranya untuk meremas â€“ remasnya. Sesekali tanganku memutar arah ke bagian belakang untuk meremas pantatnya yang lembut.<br />
â€œuuhh.. sshh.. Dwi, aku udah ga tahan nih. Keluarin dimana?â€ tanyaku. â€œuuhhh.. mmh.. ssshh.. Keluarin didalam aja ya, kita barenganâ€ kata Dwi. Makin lama goyangan penisku makin dalam dan makin cepat.. &#8220;Masukin yang dalem dooo&#8230;ngg&#8230;&#8221;, pintanya. Akupun menambah kedalaman tusukan penisku, sampai pada beberapa saat kemudian. â€œaahhâ€¦ Tama.. kita keluarin sekarangâ€¦â€ Dwi berkata sambil tiba â€“ tiba cekikan vaginanya pada penisku terasa sangat kuat dan nikmat. Iapun keluar sambil tubuhnya bergetar. Akupun tak mampu membendung sperma pada penisku dan akhirnya kutembakkan beberapa kali ke dalam liang vaginanya. Rasa hangat memenuhi penisku, dan disaat bersamaan akupun memeluk Dwi dengan eratnya dari belakang.</p>
<p>Setelah beberapa lama tubuh kami yang bercucuran keringat menyatu, akhirnya akupun mengeluarkan penisku dari dalam vaginanya. Aku menyodorkan penisku ke wajah Dwi dan ia segera mengulum serta menelan habis sperma yang masih berceceran di batang penisku. Aku menyandarkan tubuhku pada dinding ruang studio dan masih dengan posisi jongkok dihadapanku Lydia tersenyum sambil terus mengocok batang penisku tetapi semakin lama semakin cepat. Nafasku memburu kencang dan jantungku berdegub semakin tak beraturan dibuatnya, walaupun aku sangat sering masturbasi, tapi pengalaman dikocok oleh seorang cewek adalah yang pertama bagiku, apalagi ditambah pemandangan dua susu montok yang ikut bergoyang karena gerakan pemiliknya yang sedang menocok penisku bergantian dengan tangan kiri dan kanannya.</p>
<p>&#8220;Dwi.. mau keluar nih..&#8221; kataku lirih sambil memejamkan mata meresapi kenikmatan hisapan Dwi. &#8220;Bentar, tahan dulu Tama..&#8221;jawabnya sambil melepaskan kocokannya. &#8220;Loh kok ngga dilanjutin?&#8221; tanyaku. Tanpa menjawab pertanyaanku, Dwi mendekatkan dadanya ke arah penisku dan tanpa sempat aku menebak maksudnya, dia menjepit penisku dengan kedua payudaranya yang besar itu. Sensasi luar biasa aku dapatkan dari penisku yang dijepit oleh dua gundukan kembar itu membuatku terkesiap menahan napas.<br />
Sebelum aku sempat bertindak apa-apa, dia kembali mengocok penisku yang terjepit diantara dua susunya yang kini ditahan dengan menggunakan kedua tangannya. Penisku serasa diurut dengan sangat nikmatnya. Terasa kurang licin, Dwi pun melumuri payudaranya dengan liurnya sendiri. â€œGila Dwi, kamu ternyata liar banget..â€ Dwi hanya menjawab dengan sebuah senyuman nakal.</p>
<p>Kali ini seluruh urat-urat dan sendi-sendi di sekujur tubuhku pun turut merasakan kenikmatan yang lebih besar daripada kocokan dengan tangannya tadi. &#8220;Enak nggak Tama?&#8221; tanyanya lirih kepadaku sambil menatap mataku. &#8220;Gila.. Bukan enak lagi.. Tapi enak banget Sayang.. Terus kocok yang kencang..&#8221; Tanganku yang masih bebas kugerakkan kearah mulutnya, dan ia langsung mengulum jariku dengan penuh nafsu. &#8220;Ahh.. ohh..&#8221; desahnya pelan sambil kembali memejamkan matanya. Kocokan serta jepitan susunya yang semakin keras semakin membuatku lupa daratan.<br />
Tak lama kemudian, â€œaahâ€¦ Dwi aku mau keluar lagiâ€¦â€ setelah berkata begitu akupun menyemprotkan beberapa tetes spermaku kedalam mulutnya yang langsung ditelan habis oleh Dwi. Iapun lalu menciumku sehingga aku merasakan spermaku sendiri.</p>
<p>Setelah selesai, kami pun berpakaian lagi. Tak lupa aku mengucapkan terima kasih kepadanya, lalu akupun pulang kekostan setelah mengantarkan Dwi ke kostannya menggunakan mobilku. Dialam mobil ia berkata bahwa ia sangat puas setelah bercinta denganku serta menginginkan untuk mengulanginya kapan â€“ kapan. Akupun segera menyanggupi dan mencium mesra bibirnya. Setelah itu aku mengarahkan mobilku ke kostanku yang berada di daerah Dago. Soal kuliahnya Pak Noel, aku sudah cuek karena hari itu aku mendapatkan anugerah yang tidak terkira, yaitu bisa bercinta dengan Dwi.</p>
<p>Tamat Juga cerita dewasa ini, nantikan lanjutan cerita cerita l;ainnya yang lebih panas dan seru.</p>
<h4>Cerita Dewasa | Cerita Seks</h4>*<a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/pergaulan-bebas-mahasiswa.html" title="cerita setengah baya â">cerita setengah baya â</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/pergaulan-bebas-mahasiswa.html" title="cerita seks bebas oleh pak guru">cerita seks bebas oleh pak guru</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/pergaulan-bebas-mahasiswa.html" title="Tabel Nomor ukuran baju karate">Tabel Nomor ukuran baju karate</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/pergaulan-bebas-mahasiswa.html" title="sek bebas indonesia">sek bebas indonesia</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/pergaulan-bebas-mahasiswa.html" title="pergaulan bebas mahasiswa bandung">pergaulan bebas mahasiswa bandung</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/pergaulan-bebas-mahasiswa.html" title="model bebas cerita seks">model bebas cerita seks</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/pergaulan-bebas-mahasiswa.html" title="kumpulan cerita pacaran sex bebas smu bandung">kumpulan cerita pacaran sex bebas smu bandung</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/pergaulan-bebas-mahasiswa.html" title="abg seks">abg seks</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/pergaulan-bebas-mahasiswa.html" title="Cerita seks stw gemuk - aku pernah karate">Cerita seks stw gemuk - aku pernah karate</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/pergaulan-bebas-mahasiswa.html" title="cerita seks mahasiswi bandung">cerita seks mahasiswi bandung</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/pergaulan-bebas-mahasiswa.html" title="cerita sek mahasiswa bandung">cerita sek mahasiswa bandung</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/pergaulan-bebas-mahasiswa.html" title="cerita dewasa dwi">cerita dewasa dwi</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/pergaulan-bebas-mahasiswa.html" title="Aku langsung mencium bibirnya dan meremas kedua susunya">Aku langsung mencium bibirnya dan meremas kedua susunya</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/pergaulan-bebas-mahasiswa.html" title="telanjang">telanjang</a>*<!-- SEO SearchTerms Tagging 2 Plugin -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/pergaulan-bebas-mahasiswa.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seks Tertangkap Basah</title>
		<link>http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/seks-tertangkap-basah.html</link>
		<comments>http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/seks-tertangkap-basah.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Jan 2011 13:52:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[ngintip orang ngeseks]]></category>
		<category><![CDATA[video bokep]]></category>
		<category><![CDATA[video seks]]></category>
		<category><![CDATA[video seks tertangkap basah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritadewasa.modelperawan.info/?p=130</guid>
		<description><![CDATA[Anda mungkin bagian dari saksi tentang seks yang tertangkap basah melalui video seks yang banyak beredar dikalangan kita, banyak orang merekam adegan seks tersembunyi dengan kamera hp. dan tanpa disadari sang pelaku adegan seks video mereka tersebar luas, tapi cerita seks kali ini agak berbeda, selamat membaca. Saya ingin bercerita kejadian nyata yang merupakan pengalaman [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Anda mungkin bagian dari saksi tentang seks yang tertangkap basah melalui video seks yang banyak beredar dikalangan kita, banyak orang merekam adegan seks tersembunyi dengan kamera hp. dan tanpa disadari sang pelaku adegan seks video mereka tersebar luas, tapi cerita seks kali ini agak berbeda, selamat membaca.</p>
<p>Saya ingin bercerita kejadian nyata yang merupakan pengalaman pahit saya, saya adalah overseas student. Saya mempunyai seorang teman baik orangnya itu cantik sekali tingginya kira kira 164 cm. Tubuhnya indah, rambutnya hitam panjang, kulitnya kuning langsat. Pada awalnya kami cuma berteman biasa berkenalan di sekolah. Dia lebih tua dari saya, orang bukan dari Indonesia. Dia jadi saya anggap sebagai kakak, saya tidak mempunyai kakak perempuan di rumah dan saya ingin sekali. Makin lama hubungan kami semakin dekat, saya akui saja saya ada rada-rada suka sedikit sama dia, orangnya manis sekali, hubungan kami berlangsung baik sampai pada suatu hari saya datang ke rumahnya sewaktu pulang sekolah, saya diajak masuk ke kamarnya. Saya sih tak curiga soalnya ini bukan yang pertama kali.</p>
<p>Saya diminta menunggu, katanya sih dia mau mandi dulu. Waktu itu saya menunggu sekitar 10 menit sesudah itu mendadak dia keluar dari kamar mandi hanya mengenakan sehelai handuk dililitkan ke tubuhnya yang indah, terlihatlah lekuk-lekuk tubuhnya dan pahanya yang indah. Itulah yang membuat saya terangsang sekali. Dia tersenyum pada saya, saya tambah bengong, saya mohon pamit eh pas sampai di luar rumahnya, saya ada ketinggalan barang sepertinya payung saya di kamar dia, jadi saya balik lagi masuk. Sewaktu saya kembali, gila&#8230;, yang membuat saya kaget apa yang saya lihat, dia sedang tiduran di ranjangnya cuma mengenakan selembar selimut, tangannya memegang seperti satu bantal kecil dielus-elusi ke dalam selangkangannya yang ditutupi selimut. Eh dia lihat saya mukanya langsung merah padam, &#8220;Loh kok kamu balik lagi&#8221;, dia tanya dengan perasaan malu tangannya menutupi tubuhnya yang setengah telanjang. Saya melongo tak kusangka dia mempunyai nafsu yang besar untuk bermasturbasi padahal selama ini dia di sekolah orangnya alim, sopan, pendiam dan pemalu. &#8220;Loh kok di rumah bisa begini ya?&#8221; Tak saya rasa darah kelakian saya memuncak, penis saya waktu itu tegang sekali langsung saja saya dekati ke ranjangnya. Matanya menatap saya dengan pandangan kosong, bibir manisnya itu terbuka sedikit kaget. Saya langsung peluk dia, langsung saya embat mulutnya. Saya sudah berada di atas tubuhnya, dia sepertinya diam saja, langsung tangan saya meraba selimut itu lalu melemparkannya ke lantai. Mukanya langsung merah sekali, tangan saya memeluk pinggangnya yang ramping, mulut saya menciumi lehernya, saya remas juga payudaranya. Dia langsung serba salah tapi sepertinya terangsang juga dia memeluk saya, dia peluk saya lalu juga kami berdua dalam posisi duduk berpelukan di atas ranjang. Dia langsung menekan saya, tangannya meraba penis saya yang mengeras lalu di usap-usap.</p>
<p>Saya tidak tahan langsung buka baju seragam saya sampai polos. Dia langsung saya terjang, kakinya saya buka lebar. Saya mengincar vaginanya yang bulunya sangat indah. Saya lihat vaginanya yang perawan itu baunya bikin orang tambah nafsu. Saya jilati sampai habis. Dia cuma berkejap-kejap sambil mengeluarkan suara memelas. Saya tidak peduli langsung saja merasakan vaginanya sudah basah. Saya langsung arahkan penis saya ke vaginanya dia langsung teriak, &#8220;Please don&#8217;t!&#8221;, sembari tangannya menutupi lubang kewanitaannya tapi saya paksa, saya tepis tangannya, dia tak bisa melawan sudah terlalu terangsang. Saya tekan penis saya, bless masuknya susah juga tapi sudah masuk juga penis saya tak terlalu besar, sempit sekalii! maklum perawan. Dia menjerit kesakitan lama kelamaan jeritan itu menjadi desahan nikmat, saya majukan penis saya maju mundur. Posisi dia dalam keadaan duduk dan kaki terbuka lebar. Tangan saya mengincar pinggangnya dan saya peluk erat-erat, kakinya dilingkarkan ke pantat saya. Penis saya sudah maju mundur, tak lama kemudian saya merasakan surga di langit, &#8220;aahh ahh&#8221;, sepertinya ada cairan yang ingin mengalir keluar, Dia mendesah keras sekali seperti sudah orgasme, juga saya rasakan cairan yang keluar dari penis saya, &#8220;Sret.. sret&#8221;, banyak sekali di dalam vaginanya. Dia langsung memegang penis saya pakai tangannya langsung ditarik keluar. Penis saya penuh dengan bercak-bercak darah dan sperma, saya kaget sekali dengan perasaan takut, dia merasakan perih di vaginanya, maklum saya tidak berpengalaman, ini pertama kalinya saya sanggama.</p>
<p>Dia menangis seraya menyesali semua ini, dia berkata bahwa saya gila merenggut keperawanannya. Dia langsung menjelaskan dengan pilu bahwa dia sering melakukan onani karena dia hanya ingin memuaskan nafsu seks-nya terhadap dirinya sendiri, dia tidak menginginkan berhubungan seks terhadap laki-laki sebelum nikah, bagaimana jika orang tuanya tahu soal ini? Asap memang tak bisa dibungkus, pintu yang tak terkunci itu dimasuki seseorang yang tak lain adalah ibunya sendiri masuk ke kamarnya, langsung ibunya menampar wajah putrinya, saya takut sekali, waktu itu kami sudah berpakaian. Ibunya langsung menyemprot anaknya dengan bahasa cantonese yang saya tak mengerti. Saya merasa pilu sekali, dengan matanya yang berkaca-kaca dia memberikan isyarat pada saya supaya saya buru-buru lari pulang. Sewaktu saya sampai pintu depan, saya mendengar bunyi gamparan berkali-kali. Keluarganya tak mau mengungkit-ungkit masalah ini lagi dan dia tak memberitahukan siapa yang telah memperkosanya.</p>
<p>Waktu cepat berlalu, dia pindah sekolah untuk menghindari tabu kita sudah kehilangan kontak dan kurasa dia juga benci pada saya, kejadian itu sudah berlangsung lama tapi tetap mengenang di hati saya, saya tahu sekarang dia sudah tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik jelita. Mudah baginya untuk mendapatkan pacar tapi tak mungkin dia mendapatkan keperawannya kembali. Oh, Tuhan, umatmu yang berdosa ini, tolong maafkan nafsu khilafku ini, saya sangat menyesal.</p>
<p>Nah bagi anda yang pernah menonton video vokep tertangkap basah berdoalah semoga anda bukan bagian dari cerita itu, karena tentu akan sangat memalukan bagi anda dan pasangan. TAMAT</p>
<h4>Cerita Dewasa | Cerita Seks</h4>*<a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/seks-tertangkap-basah.html" title="cerita sex tertangkap basah">cerita sex tertangkap basah</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/seks-tertangkap-basah.html" title="kekasih;cantik jelita;bercinta;mengerang">kekasih;cantik jelita;bercinta;mengerang</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/seks-tertangkap-basah.html" title="Kuembat semua perawan itu">Kuembat semua perawan itu</a>*<!-- SEO SearchTerms Tagging 2 Plugin -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/seks-tertangkap-basah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selingkuh dengan Tetangga</title>
		<link>http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-tetangga.html</link>
		<comments>http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-tetangga.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Jan 2011 15:57:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[cerita perselingkuhan]]></category>
		<category><![CDATA[cerita selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[ibu muda]]></category>
		<category><![CDATA[ibu rumah tangga]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritadewasa.modelperawan.info/?p=117</guid>
		<description><![CDATA[Mirna adalah seorang tetangga dari pengarang, dalam cerita seks ini mirna digambarkan sebagai sosok ibu muda yang baik, sopan dan ramah, tapi siapa sangka nafsu besar yang dimiliki mirna ternyata tertutup oleh keramahannya. Setelah sebelumnya cerita tentang istriku tukang selingkuh, berikut tentang perselingkuhan seorang ibu muda. Kejadian ini terjadi sekitar satu bulan yang lalu. Waktu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mirna adalah seorang tetangga dari pengarang, dalam cerita seks ini mirna digambarkan sebagai sosok ibu muda yang baik, sopan dan ramah, tapi siapa sangka nafsu besar yang dimiliki mirna ternyata tertutup oleh keramahannya. Setelah sebelumnya cerita tentang istriku tukang selingkuh, berikut tentang perselingkuhan seorang ibu muda.</p>
<p><img class="alignnone" title="Ibu muda" src="http://4.bp.blogspot.com/_3312LCVz0FI/TFB49_3uowI/AAAAAAAAATg/2K2MYwhB33g/s1600/Video_Mesum_Janda_Borneo_Kesepian.png" alt="Ibu Muda selingkuh" width="176" height="144" /><br />
Kejadian ini terjadi sekitar satu bulan yang lalu. Waktu itu saya beserta dua orang teman kantor sedang makan siang di sebuah restoran di bilangan Kemang. Ketika saya hendak membayar makanan, saya mengantri di belakang seorang wanita cantik yang sedang menggendong anak kecil. Karena agak lama, saya menegurnya. Ketika ia menengok ke arah saya, saya sangat kaget, ternyata ia adalah Mirna.</p>
<p>Nah, Mirna ini adalah istri tetangga saya di komplek rumah saya. &#8220;Eh, Mas Vito. Lagi ngapain Mas..?&#8221; tanyanya. &#8220;Anu, saya sedang makan siang. Kamu sama siapa Mir..? Andre ndak ikut..?&#8221; &#8220;Enggak Mas, dia lagi tugas luar kota. Saya lagi beli makanan, sekalian buat nanti malam. Soalnya si Ijah lagi pulang kampung juga. Ya sudah, saya keluar aja bareng Vina (anaknya-pen).&#8221; &#8220;Kamu bawa mobil..?&#8221; tanya saya. &#8220;Enggak tuh Mas, mobilnya dibawa Mas Andre ke Lampung.&#8221; &#8220;Oo, mau pulang bareng..? Kebetulan saya juga mau langsung pulang, tadi habis tugas lapangan.&#8221; &#8220;Ya sudah nggak apa-apa.&#8221; Singkat cerita, saya dan kedua teman saya langsung pulang ke rumah masing-masing. Sementara saya, Mirna dan Vina pulang bersama di mobil saya. Sesampainya di rumah Mirna yang hanya berjarak 4 rumah dari saya, Mirna mengajak mampir, tapi saya bilang mau pulang dulu, ganti baju dan menaruh mobil. Karena Jenny, istri saya, sedang pergi ke rumah orangtuanya, saya langsung saja pergi ke rumah Mirna dengan memakai celana pendek dan kaos. Ternyata, rumah Mirna tertata cukup apik. Ketika saya masuk, si Mirna hanya memakai piyama mandi. &#8220;Saya ganti baju dulu ya Mas, gerah nih,&#8221; katanya sambil tersenyum. &#8220;Oo.., iya, si Vina mana..?&#8221; tanya saya sambil terpesona melihat kecantikan dan kemulusan body si Mirna. &#8220;Anu Mas, dia langsung tidur pas sampai di rumah tadi, kasihan dia capek, saya ke kamar dulu ya Mas..!&#8221; &#8220;Eh, iya, jangan lama-lama ya,&#8221; kata saya.</p>
<p>Ketika Mirna masuk ke dalam kamar, dia (entah sengaja atau tidak) tidak rapat menutup pintu kamarnya. Merasa ada kesempatan, saya mencoba mengintip. Memang lagi mujur, ternyata di lurusan celah pintu itu, ada kaca lemari riasnya. Wow, untuk ukuran wanita yang telah mempunyai anak berumur 3 tahun, si Mirna ini masih punya bentuk tubuh yang bagus dan indah. Dengan ukuran 34B dan selangkangan yang dicukur, dia langsung membuat &#8220;adik kecil&#8221; saya berontak dan bangun. Dan yang menambah kaget saya, sebelum memakai daster yang hanya selutut, ia hanya memakai celana dalam jenis G-string dan tidak mengenakan BH. Sebelum ia berjalan ke luar kamar, saya langsung lari ke sofa dan pura-pura membaca koran. &#8220;Eh, maaf ya Mas kelamaan.&#8221; kata Mirna sambil duduk setelah sepertinya berusaha untuk membetulkan letak tali celana dalamnya yang menyempil. &#8220;Ndak apa-apa kok, saya juga lagi baca koran. Memangnya Andre berapa hari tugas luar kota..?&#8221; tanya saya yang juga &#8216;sibuk&#8217; membetulkan letak si &#8216;kecil&#8217; yang salah orbit. Sambil tersenyum penuh arti, Mirna menjawab, &#8220;3 hari Mas, baru berangkat tadi pagi. Ngomong-ngomong saya juga sudah 2 hari ini nggak liat Mbak Jenny, kemana ya Mas..?&#8221; &#8220;Dia ke rumah orangtuanya. Seminggu. Bapaknya sakit.&#8221; jawab saya. &#8220;Wah, kesepian dong..?&#8221; tanya Mirna menggoda saya.</p>
<p>Merasa hal ini harus saya manfaatkan, saya jawab saja sekenanya, &#8220;Iya nih, mana seminggu lagi, ndak ada yang nemenin. Kamu mau nemenin saya emangnya..?&#8221; &#8220;Wah tawaran yang menarik tuh..,&#8221; jawab Mirna sambil tersenyum lagi, &#8220;Emangnya Mas mau saya temenin..? Saya kan ada si Vina, nanti ganggu Mas lagi. Mas Vito kan belum punya anak, jadinya santai.&#8221; &#8220;Ndak apa-apa, eh iya, saya mau tanya, kamu ini umur berapa sih? Kok keliatannya masih muda ya..?&#8221; sambil menggeser posisi duduk saya supaya lebih dekat ke Mirna. &#8220;Saya baru 27 kok Mas, saya married waktu 23, pas baru lulus kuliah. Saya diajak married Mas Andre itu pas dia sudah bekerja 3 tahun. Gitu Mas, memang kenapa sih..?&#8221; &#8220;Ndak, saya kok penasaran ya. Kamu sudah punya anak umur 3 tahun, tapi kok badan kamu masih bagus banget, kayak anak umur 20-an gitu.&#8221; kata saya. &#8220;Yah, saya berusaha jaga badan aja Mas. Biar laki-laki yang ngeliat saya pada ngiler,&#8221; katanya sambil tersenyum. &#8220;Wah, kamu ini bisa saja, tapi memang iya sih ya, saya kok juga jadi mau ngiler nih.&#8221; &#8220;Nah kan, mulai macem-macem ya, nanti saya jewer lho..!&#8221; &#8220;Kalo saya macem-macem beneran, emangnya kamu mau jewer apa saya..?&#8221; tanya saya sambil terus melakukan penetrasi dari sayap kanan Mirna.</p>
<p>Merasa saya melakukan pendekatan, Mirna kok ya mengerti. Sambil menghadap ke wajah saya, dia bilang, &#8220;Wah, kalo beneran, saya mau jewer &#8216;burungnya&#8217;-nya Mas Vito, biar putus sekalian.&#8221; &#8220;Memangnya kamu berani..?&#8221; tanya saya, &#8220;Dan lagi saya juga bisa mbales,&#8221; &#8220;Saya berani lho Mas..!&#8221; sambil beneran memegang &#8216;burung&#8217; saya yang memang sudah minta dipegang, &#8220;Terus Mas Vito mbalesnya gimana..?&#8221; &#8220;Nanti saya remes-remes lho toketmu..!&#8221; jawab saya sambil beneran juga melakukan serangan pada bagian dada. Karena merasa masing-masing sudah memegang &#8216;barang&#8217;, kami tidak bicara banyak lagi. Saya langsung mengulum bibir Mirna yang memang lembut sekali dan basah serta penuh gairah. Dan tampaknya, Mirna yang sudah setengah jalan, langsung memasukkan tangannya ke dalam celana saya, tepat memegang &#8216;burung&#8217; saya yang maha besar itu (kata istri saya sih). &#8220;Mas Vito, kon**lnya gede banget.&#8221; kata Mirna sambil terengah-engah. &#8220;Sudah, nikmati aja. Kalo mau diisep juga boleh..!&#8221; kata saya.</p>
<p>Dan tanpa banyak bicara, Mirna langsung membuka 2 pertahanan bawah saya. Dengan seenaknya ia melempar celana pendek dan celana dalam saya, dan langsung menghisap batang kemaluan saya. Ternyata, hisapannya top banget. Tanpa tanggung-tanggung, setengah penis saya yang 18 cm itu dimasukkan semuanya. Dalam hati saya berpikir, &#8220;Maruk juga nih perempuan..!&#8221; Setelah hampir 5 menit, Mirna saya suruh berdiri di depan saya sambil saya lucuti pakaiannya. Tanpa di komando, Mirna melepas celana dalamnya yang mini itu, dan menjejalkan kemaluannya yang tanpa bulu ke mulut saya. Ya sudah, namanya juga dikasih, langsung saja saya ciumi dan saya jilat-jilat. &#8220;Mas, geli Mas,&#8221; kata Mirna sambil terus menggoyang-goyangkan pantatnya. &#8220;Tadi ngasih, sekarang komentar..!&#8221; kata saya sambil memasukkan dua jari tangan saya ke dalam vaginanya yang (ya ampun) peret banget, kayak kemaluan perawan. Masih dalam posisi duduk, saya membimbing pantat dan vagina Mirna ke arah batang kemaluan saya yang makin lama makin keras. Perlahan-lahan, Mirna memasukkan kejantanan saya ke dalam vaginanya yang mulai agak-agak basah. &#8220;Pelan-pelan ya Mir..! Nanti memekmu sobek,&#8221; kata saya sambil tersenyum. Mirna malah menjawab saya dengan serangan yang benar-benar membuat saya kaget. Dengan tiba-tiba dia langsung menekan batang kejantanan saya dan mulai bergoyang-goyang.</p>
<p>Gerakannya yang halus dan lembut saya imbangi dengan tusukan-tusukan tajam menyakitkan yang hanya dapat dijawab Mirna dengan erangan dan desahan. Setelah posisi duduk, Mirna mengajak untuk berposisi Dog Style. Mirna langsung nungging di lantai di atas karpet. Sambil membuka jalan masuk untuk kemaluan saya di vaginanya, Mirna berkata, &#8220;Mas jangan di lubang pantat ya, di memek aja..!&#8221; Seperti anak kecil yang penurut, saya langsung menghujamkan batang kejantanan saya ke dalam liang senggama Mirna yang sudah mulai agak terbiasa dengan ukuran kemaluan saya. Gerakan pantat Mirna yang maju mundur, benar-benar hebat.</p>
<p>Pertandingan antar jenis kelamin itu, mulai menghebat tatkala Mirna &#8216;jebol&#8217; untuk yang pertama kali. &#8220;Mas, aku basah..,&#8221; katanya dengan hampir tidak memperlambat goyangannya. Mendengar hal itu, saya malah langsung masuk ke gigi 4, cepat banget, sampai-sampai dengkul saya terasa mau copot. Kemaluan Mirna yang basah dan lengket itu, membuat si &#8216;Vladimir&#8217; tambah kencang larinya. &#8220;Mir, aku mau keluar, di dalam apa di luar nih buangnya..?&#8221; tanya saya. Eh Mirna malah menjawab, &#8220;Di dalam aja Mas, kayaknya aku juga mau keluar lagi, barengin ya..?&#8221; Sekitar 3 menit kemudian, saya sudah benar-benar mau keluar, dan sepertinya Mirna juga. Sambil memberi aba-aba, saya bilang, &#8220;Mir, sudah waktunya nih, keluarin bareng ya, 1 2 3..!&#8221; Saya memuntahkan air mani saya ke dalam liang vagina Mirna yang pada saat bersamaan juga mengeluarkan cairan kenikmatannya.</p>
<p>Setelah itu saya mengeluarkan batang kejantanan saya dan menyuruh Mirna menghisap dan menjilatinya sekali lagi. Si Mirna menurut saja, sambil ngos-ngosan, Mirna menjilati penis saya. Ketika Mirna sedang sibuk dengan batang kejantanan saya, Vina bangun tidur dan langsung menghampiri kami sambil bertanya, &#8220;Mami lagi ngapain..? Kok Om Vito digigit..?&#8221; Mirna yang tampaknya tidak kaget, malah menyuruh Vina mendekat dan berkata, &#8220;Vina, Mami nggak gigit Om Vito. Mami lagi makan &#8216;permen kojek&#8217;-nya Om Vito, rasanya enak banget deh, asin-asin..&#8221; &#8220;Mami, emangnya permennya enak..? Vina boleh nggak ikut makan..?&#8221; tanya Vina. Sambil mengocok-ngocok penis saya, Mirna berkata, &#8220;Vina nggak boleh, nanti diomelin sama Om Vito, mendingan Vina duduk di bangku ya, ngeliat Mami sama Om Vito main dokter-dokteran.&#8221; Saya yang dari tadi diam saja, mulai angkat bicara, &#8220;Iya, Vina nonton aja ya, tapi jangan bilang-bilang ke Papi Vina, soalnya kasian Mami nanti. Ini Mami kan lagi sakit, jadinya Om kasih permen terus disuntik.&#8221; Sambil terus memegang penis saya yang mulai kembali mengeras, Mirna berkata pada Vina, &#8220;Nanti kalo&#8217; Vina nggak bilang ke papi, Vina Mami beliin baju baru lagi deh, ya? Tuh liat, suntikannya Om Vito mulai keras. Vina diam aja ya, Mami mau disuntik dulu nih..!&#8221; Merasa ada tantangan lagi, saya langsung mencium Mirna dengan lembut di bibirnya yang masih beraroma sperma, sambil meremas buah dadanya yang kembali mengeras. Mirna langsung melakukan gerakan berputar dan langsung telentang sambil tertawa dan berteriak tertahan, &#8220;Babak kedua dimulai, teng..!&#8221; Sementara Vina hanya diam melihat maminya dan saya &#8216;acak-acak&#8217;, walaupun terkadang dia membantu mengelap keringat maminya dan saya.</p>
<p>Itulah pengalaman saya dan Mirna yang masih berlanjut untuk hari-hari berikutnya. Kadang-kadang di rumah saya, dan tidak jarang pula di rumahnya. Kami melakukan berbagai macam gaya, dan di segala ruangan dan kondisi. Pernah kami melakukan di kamar mandi, masih dengan Vina yang ikut nimbrung &#8216;nonton&#8217; pertandingan saya vs maminya. Dan Vina juga diam dan tidak bicara apa-apa ketika papinya pulang dari Lampung. Hal itu malah makin mempermudah saya dan Mirna yang masih sering bersenggama di rumah saya ketika saya pulang kantor, dan ketika istri saya belum pulang dari rumah orangtuanya. Dan saya akan masih terus akan menceritakan pengalaman saya dengan Mirna. Dan nanti akan saya ceritakan pengalaman saya dengan adik Mirna, Rere.</p>
<p>Demikian kiriman kisah petualangan seks dari seorang pemuda, sampai dicerita selanjutnya.</p>
<h4>Cerita Dewasa | Cerita Seks</h4>*<a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-tetangga.html" title="cerita sex dengan tetangga">cerita sex dengan tetangga</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-tetangga.html" title="cerita sex tetangga">cerita sex tetangga</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-tetangga.html" title="cerita seks tetangga">cerita seks tetangga</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-tetangga.html" title="cerita seks dengan tetangga">cerita seks dengan tetangga</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-tetangga.html" title="cerita sex sama tetangga">cerita sex sama tetangga</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-tetangga.html" title="cerita selingkuh dengan tetangga">cerita selingkuh dengan tetangga</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-tetangga.html" title="cerita dewasa selingkuh dgn istri tetangga">cerita dewasa selingkuh dgn istri tetangga</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-tetangga.html" title="cerita mesum sama tetangga">cerita mesum sama tetangga</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-tetangga.html" title="selingkuh dengan tetangga">selingkuh dengan tetangga</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-tetangga.html" title="cerita perselingkuhan keluarga tetangga">cerita perselingkuhan keluarga tetangga</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-tetangga.html" title="Cerita sex selingkuh dengan tetangga">Cerita sex selingkuh dengan tetangga</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-tetangga.html" title="cerita dewasa selingkuh dengan tetangga">cerita dewasa selingkuh dengan tetangga</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-tetangga.html" title="Cerita sex ngentot mirna dan rere">Cerita sex ngentot mirna dan rere</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-tetangga.html" title="cerita sex goyang tetangga">cerita sex goyang tetangga</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-tetangga.html" title="ibu selingkuh dengan pemuda">ibu selingkuh dengan pemuda</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-tetangga.html" title="cerita sex selingkuh tetangga">cerita sex selingkuh tetangga</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-tetangga.html" title="ceritasex dewasa selingkuh">ceritasex dewasa selingkuh</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-tetangga.html" title="certa tetangga">certa tetangga</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-tetangga.html" title="certa sek mirna dan rere">certa sek mirna dan rere</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-tetangga.html" title="cerita sexs sama tetangga">cerita sexs sama tetangga</a>*<!-- SEO SearchTerms Tagging 2 Plugin -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/selingkuh-dengan-tetangga.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pembantuku Daun Muda</title>
		<link>http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/pembantuku-daun-muda.html</link>
		<comments>http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/pembantuku-daun-muda.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Jan 2011 15:22:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[cerita daun muda]]></category>
		<category><![CDATA[cerita seks pembantu]]></category>
		<category><![CDATA[ml dengan pembantu]]></category>
		<category><![CDATA[pembantu binal]]></category>
		<category><![CDATA[pembantuku seksi]]></category>
		<category><![CDATA[seks dengan pembantu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritadewasa.modelperawan.info/?p=115</guid>
		<description><![CDATA[Cerita dewasa yang menjadi perhatian bagi para istri yang memiliki suami dengan pembantu dirumah, jangan sekali-kali memberikan peluang suami sendirian dirumah, karena segala hal bisa terjadi, tak peduli itu pembantu muda, maupun pembantu stw. Seperti cerita berikut ini. Saat itu aku baru saja pulang dari Australia, karena sedang liburan natal dan tahun baru 1998, aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerita dewasa yang menjadi perhatian bagi para istri yang memiliki suami dengan pembantu dirumah, jangan sekali-kali memberikan peluang suami sendirian dirumah, karena segala hal bisa terjadi, tak peduli itu pembantu muda, maupun pembantu stw. Seperti cerita berikut ini.</p>
<p><img alt="Pembantu cantik" src="http://www.tribunnews.com/foto/bank/images/pelajar-sma-mesum.jpg" title="Pembantu Lugu" class="alignnone" width="280" height="220" /><br />
Saat itu aku baru saja pulang dari Australia, karena sedang liburan natal dan tahun baru 1998, aku disuruh pulang oleh kedua orang tuaku karena kedua orang tuaku akan pergi ke Belanda ke rumah pamanku. Setelah kedua orang tuaku pergi tinggal aku dan dua orang pembantu rumah tanggaku yang menghuni rumahku. Pembantuku itu yang satu sudah tua dan yang satu masih muda dan sangat manis wajahnya seperti Paramitha Rusady rambutnya juga panjang.</p>
<p>Suatu malam aku sedang asyik menonton blue film di ruang tengah. Aku nonton sambil beronani ria, aku kocok penisku setelah sebelumnya aku kasih baby oil, semakin lama kocokanku semakin cepat dan, &#8220;Croot.., croot&#8221;, tumpah semua air maniku di lantai, nikmat sekali.., lalu aku akan ke kamar mandi untuk mencuci penisku. Waktu melewati pintu belakang aku melihat bayangan seseorang di dekat pintu dan aku pura-pura tidak tahu baru aku intip setelah di kamar mandi, ternyata bayangan itu si Yanti kembaran Paramitha Rusady, ternyata dia sedang mengintip waktu aku onani tadi. Wah, kurang ajar sekali dia, tapi kelihatannya dia juga menikmati adegan dalam film tsb, karena ternyata dia juga masih menontonnya.</p>
<p>Aku keluar dari kamar mandi dan kubiarkan saja dia mengintip terus lalu kulepas celanaku lagi dan kuhadapkan pada jendela itu biar Yanti dapat menonton penisku yang panjang ini. Lalu aku melakukan onanin lagi dan kudengar nafas Yanti semakin memburu. Lalu dengan tiba-tiba aku mendekati jendela itu dan, &#8220;Ouhh eh.., juragan.., ehm malam-malam begini kok belum tidur&#8221;, tanyanya dengan gugup.<br />
&#8220;Iya baru nonton film kok, ngapain kamu kok di luar ayo sini nemenin aku nonton&#8221;, jawabku sambil menyeret tangannya, lalu wajahnya memerah karena dia melihat penisku yang sedang tegang itu.<br />
&#8220;Ayo duduk disini lho, nggak apa-apa kok jangan malu-malu&#8221;, lalu dia duduk di sofa dan aku duduk disampingnya.<br />
&#8220;Sini tangan kamu pegang ini&#8221; kataku sambil menaruh tangannya di penisku dan dia lalu meremas-remasnya. Tangankupun lalu memegang buah dadanya. Wouw, ternyata dia tidak memakai BH, lalu kupelintir putingnya dan dia menggelinjang keenakkan rupanya.<br />
&#8220;Ayo kamu tiduran aja di sofa&#8221;, kataku dan dia merebahkan badannya lalu kutarik CD-nya maka kelihatan vaginanya yang merangsang, kuelus-elus di sekitar bibirnya yang sudah sangat basah itu, &#8220;Auh.., auh Mas.., Mas ehm&#8221;, dia merintih, aku lalu menciumi vaginanya, aku jilati clitorisnya sambil dua jariku masuk ke vaginanya.</p>
<p>Setelah puas memainkan vaginanya, lalu kuusap-usapkan penisku ke vaginanya dan aku masukkan pelan-pelan. Dia meringis waktu itu wajahnya sungguh merangsang dan, &#8220;Bleess&#8221;, masuk semua penisku dan dia menggelinjang. Aku pompa terus makin lama makin cepat, &#8220;Eihh.., eihh&#8221;, rintihnya tiba-tiba dia mencengkram lenganku dan pinggulnya bergoyang dengan cepat dan aku merasakan kehangatan di penisku.</p>
<p>Lalu aku cabut penisku dan aku lap dulu karena basah sekali, sekarang ganti aku yang duduk, sedang dia duduk di atasku dan kamipun melanjutkannya. Rambutnya yang panjang tergerai menutupi sebagian payudaranya dan matanya setengah terpejam rupanya dia sedang menikmati penisku. Wajahnya jadi sangat merangsang waktu itu kedua tanganku memegang pinggulnya dan aku dorong maju mundur dengan cepat dan aku meraskan bahwa aku akan keluar lalu aku goyang dengan cepat lalu, &#8220;Croot.., croot.., croot&#8221;, sampai lima kali air maniku menyemprot vaginanya. Kemudian Yanti tersenyum padaku kelihatannya dia puas sekali.</p>
<p>Dalam lelahku setelah ngeseks dengan pembantu yanti si pembantu yang lugu, masih daun muda dan cantik, aku merasa bersalah telah tidur dengan pembantu sendiri, walau dia bukan pembantu binal, tapi hasrat seks yang tak terbendunglah yang menjadikan hal ini terjadi. Tamat.</p>
<h4>Cerita Dewasa | Cerita Seks</h4>*<a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/pembantuku-daun-muda.html" title="pembantuku nikmat">pembantuku nikmat</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/pembantuku-daun-muda.html" title="cerita dewasa pembantu muda">cerita dewasa pembantu muda</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/pembantuku-daun-muda.html" title="ngesek pembantu lugu">ngesek pembantu lugu</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/pembantuku-daun-muda.html" title="cerita sex daun muda">cerita sex daun muda</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/pembantuku-daun-muda.html" title="daun muda lugu">daun muda lugu</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/pembantuku-daun-muda.html" title="Cerita sex stw dan daun muda">Cerita sex stw dan daun muda</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/pembantuku-daun-muda.html" title="hasrat seksual pembantu">hasrat seksual pembantu</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/pembantuku-daun-muda.html" title="INTIP PEMBANTU MANDI">INTIP PEMBANTU MANDI</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/pembantuku-daun-muda.html" title="KUPELINTIR">KUPELINTIR</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/pembantuku-daun-muda.html" title="Cerita baru daun muda yg merangsang">Cerita baru daun muda yg merangsang</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/pembantuku-daun-muda.html" title="Ngesex dgn daun-daun muda">Ngesex dgn daun-daun muda</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/pembantuku-daun-muda.html" title="orang tuaku selingkuh dengan pembantu ku intip">orang tuaku selingkuh dengan pembantu ku intip</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/pembantuku-daun-muda.html" title="pembantu ku yang merangsang">pembantu ku yang merangsang</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/pembantuku-daun-muda.html" title="pembantu muda">pembantu muda</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/pembantuku-daun-muda.html" title="Pembantu muda lugu">Pembantu muda lugu</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/pembantuku-daun-muda.html" title="pembantuku tidur merangsang">pembantuku tidur merangsang</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/pembantuku-daun-muda.html" title="pijatan vagina pembantu muda">pijatan vagina pembantu muda</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/pembantuku-daun-muda.html" title="www mas perawani aku malam ini">www mas perawani aku malam ini</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/pembantuku-daun-muda.html" title="cerita sex pembantu muda">cerita sex pembantu muda</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/pembantuku-daun-muda.html" title="Cerita sex pembantu daun muda">Cerita sex pembantu daun muda</a>*<!-- SEO SearchTerms Tagging 2 Plugin -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/pembantuku-daun-muda.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dihotel Bersama Cewek Arab</title>
		<link>http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/dihotel-bersama-cewek-arab.html</link>
		<comments>http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/dihotel-bersama-cewek-arab.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Jan 2011 03:56:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[cewek arab]]></category>
		<category><![CDATA[toket]]></category>
		<category><![CDATA[toket cewek arab]]></category>
		<category><![CDATA[toket gede]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritadewasa.modelperawan.info/?p=103</guid>
		<description><![CDATA[Bercinta dengan cowok arab mungkin udah banyak ceritanya, tapi kali ini sangat berbeda, cerita dewasa antara cowok lokal dengan cewek arab, wow, bagaimana bisa imbang tuh? bukannya cewek arab size nya gede-gede, okelah kita simak aja kisah lengkapnya berikut ini. Aku mendapat tugas ke sebuah kota kabupaten di Kawasan Timur Indonesia. Ada sebuah peluang proyek [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bercinta dengan cowok arab mungkin udah banyak ceritanya, tapi kali ini sangat berbeda, cerita dewasa antara cowok lokal dengan cewek arab, wow, bagaimana bisa imbang tuh? bukannya cewek arab size nya gede-gede, okelah kita simak aja kisah lengkapnya berikut ini.</p>
<p><img alt="toket cewek arab" src="http://www.vistaku.com/videoicon/icon24070701065040106533613.jpg" title="cewek arab" class="alignnone" width="320" height="240" /><br />
Aku mendapat tugas ke sebuah kota kabupaten di Kawasan Timur Indonesia. Ada sebuah peluang proyek baru disana. Aku berangkat dengan seorang Direktur. Setelah bertemu dengan para pejabat yang berwenang dan mengutarakan tujuan kedatangan kami, maka Direktur tersebut pulang terlebih dahulu karena masih ada urusan lain di Jakarta. Tinggalah aku disana mengurus semua perijinan sendirian saja.</p>
<p>Hotel tempatku menginap adalah sebuah hotel yang tidak terlalu besar, namun bersih dan enak untuk tinggal. Letaknya agak sedikit di pinggiran kota, sepi, aman, dan transport untuk kemana-mana relatif mudah. Aku mendapat kamar dilantai 2 yang letaknya menghadap ke laut. Setiap sore sambil beristirahat setelah seharian berputar-putar dari satu instansi ke instansi lainnya aku duduk di teras sambil melihat laut.</p>
<p>Para karyawan hotel cukup akrab dengan penghuninya, mungkin karena jumlah kamarnya tidak terlalu banyak, sekitar 32 kamar. Aku cukup akrab dan sering duduk di lobby, ngobrol dengan tamu lain atau karyawan hotel. Kadang-kadang dengan setengah bercanda aku ditawari selimut hidup oleh karyawan hotel, mulai dari room boy sampai ke security. Mereka heran selama hampir 3 minggu aku tidak pernah bawa perempuan. Aku tersenyum saja, bukan tidak mau bro, tapi pikiranku masih tersita ke pekerjaan.</p>
<p>Tak terasa sudah 3 minggu aku menginap di hotel. Karena surat-surat yang diperlukan sudah selesai, aku bisa sedikit bernafas lega dan mulai mencari hiburan. Tadi malam aku kembali dapat merasakan kehangatan tubuh perempuan setelah bergumul selama 2 ronde dengan seorang gadis panggilan asal Manado. Aku mendapatkannya dari security hotel. Meskipun orangnya cantik dan putih, tetapi permainannya tidak terlalu istimewa karena barangnya terlalu becek dan sudak kendor, tapi lumayanlah buat mengurangi sperma yang sudah penuh.</p>
<p>Dua hari lagi aku akan pulang. Transportasi di daerah ini memang agak sulit. Untuk ke Jakarta aku harus ke ibukota propinsi dulu baru ganti pesawat ke Jakarta. Celakanya dari kota ini ke ibukota propinsi dalam 1 minggu hanya ada 4 penerbangan dengan twin otter yang kapasitasnya hanya 17 seat. Belum lagi cadangan khusus buat pejabat Pemda yang tiba-tiba harus berangkat. Aku yang sudah booking seat sejak seminggu yang lalu, ternyata masih masuk di cadangan nomor 5.</p>
<p>Alternatifnya adalah dengan menaiki kapal laut milik Pelni yang makan waktu seharian untuk sampai ibukota propinsi. Rencanaku kalau tidak dapat seat pesawat terpaksa naik kapal laut.</p>
<p>Sore itu aku ngobrol dengan security, yang membantu mencarikan perempuan, sambil duduk-duduk di cafe hotel. Kami membicarakan gadis Manado yang kutiduri tadi malam. Kubilang aku kurang puas dengan permainannya.</p>
<p>Tiba-tiba saja pandanganku tertuju pada wanita yang baru masuk ke cafe. Wanita itu kelihatan bertubuh tinggi, mungkin 168 cm, badannya sintal dan dadanya membusung. Wajahnya kelihatan bukan wajah Melayu, tapi lebih mirip ke wajah Timur Tengah. Security itu mengedipkan matanya ke arahku.</p>
<p>” Bapak berminat ? Kalau ini dijamin oke, Arab punya,” katanya.</p>
<p>Wanita tadi merasa kalau sedang dibicarakan. Ia menatap ke arah kami dan mencibir ke arah security di sampingku.</p>
<p>“Anis, sini dulu. Kenalan sama Bapak ini,” kata security itu.<br />
“Aku mau ke karaoke dulu,” balas wanita tadi. Ternyata namanya Anis. Anis berjalan kearah meja karaoke dan mulai memesan lagu.</p>
<p>Ruangan karaoke tidak terpisah secara khusus, jadi kalau yang menyanyi suaranya bagus lumayan buat hiburan sambil makan. Tapi kalau pas suara penyanyinya berantakan, maka selera makan bisa berantakan. Untuk karaoke tidak dikenakan charge, hanya merupakan service cafe untuk tamu yang makan disana.</p>
<p>“Dekatin aja Pak, temani dia nyanyi sambil kenalan. Siapa tahu cocok dan jadi,” kata security tadi kepadaku.<br />
Aku berjalan dan duduk didekat Anis. Kuulurkan tanganku, “Boleh berkenalan ? Namaku Jokaw”.<br />
“Anis,” jawabnya singkat dan kembali meneruskan lagunya. Suaranya tidak bagus cuma lumayan saja. Cukup memenuhi standard kalau ada pertunjukan di kampung.</p>
<p>Beberapa lagu telah dinyanyikan. dari lagu dan logat yang dinyanyikan wanita ini agaknya tinggal di Manado atau Sulawesi Utara. Dia mengambil gelas minumannya dan menyerahkan mike ke tamu cafe di dekatnya.</p>
<p>“Sendirian saja nona atau …,” kataku mengawali pembicaraan.<br />
“Panggil saja namaku, A…N…I…S, Anis,” katanya.</p>
<p>kami mulai terlibat pembicaraan yang cukup akrab. Anis berasal dari Gorontalo. Ia memang berdarah Arab. Menurutnya banyak keturunan Arab di Gorontalo. Kuamati lebih teliti wanita di sampingku ini. Hidungnya mancung khas Timur Tengah, kulitnya putih, rambutnya hitam tebal, bentuk badannya sintal dan kencang dengan payudaranya terlihat dari samping membusung padat.</p>
<p>Kutawarkan untuk mengobrol di kamarku saja. Lebih dingin, karena ber-AC, dan lebih rileks serta privacy terjaga. Ia menurut saja. kami masuk ke dalam kamar. Security tadi kulihat mengangkat kedua jempolnya kearahku. Di dalam kamar, kami duduk berdampingan di karpet dengan menyandar ke ranjang sambil nonton TV. Anis masuk ke kamar mandi dan sebentar kemudian sudah keluar lagi.</p>
<p>Kami melanjutkan obrolan. Ternyata Anis seorang janda gantung, suaminya yang seorang pengusaha, keturunan Arab juga, sudah 2 tahun meninggalkannya namun Anis tidak diceraikan. ia sedang mencoba membuka usaha kerajinan rotan dari Sulawesi yang dipasarkan disini. Dikta ini dia tinggal bersama familinya. Ia main ke hotel, karena dulu juga pernah tinggal di hotel ini seminggu dan akrab dengan koki wanita yang bekerja di cafe. dari tadi siang koki tersebut sedang keluar, berbelanja kebutuhan cafe.</p>
<p>Kulingkarkan tangan kiriku ke bahu kirinya. Ia sedikit menggerinjal namun tidak ada tanda-tanda penolakan. aku semakin berani dan mulai meremas bahunya dan perlahan-lahan tangan kiriku menuju kedadanya. Sebelum tangan kiriku sampai di dadanya, ia menatapku dan bertanya, “Mau apa kamu, Jokaw ?” Sebuah pertanyaan yang tidak perlu dijawab.</p>
<p>Kupegang dagunya dengan tangan kananku dan kudekatkan mukanya ke mukaku. Perlahan kucium bibirnya. Ia diam saja. Kucium lagi namun ia belum juga membalas ciumanku.</p>
<p>“Ayolah Anis, 2 tahun tentulah waktu yang cukup panjang bagimu. Selama ini tentulah kamu merindukan kehangatan dekapan seorang laki-laki,” kataku mulai merayunya.</p>
<p>Kuhembuskan napasku ke dekat telinganya. Bibirku mulai menyapu leher dan belakang telinganya.</p>
<p>“Akhh, tidak.. Jangan..,” rintihnya.<br />
“Ayolah Nis, mungkin punyaku tidak sebesar punya suami Arab-mu itu, namun aku bisa membantu menuntaskan gairahmu yang terpendam”.</p>
<p>Ia menyerah, pandangan matanya meredup. Kucium lagi bibirnya, kali ini mulai ada perlawanan balasan dari bibirnya. tanganku segera meremas dadanya yang besar, namun sudah sedikit turun. Ia mendesah dan membalas ciumanku dengan berapi-api. Tangannya meremas kejantananku yang masih terbungkus celana.</p>
<p>Kududukan ia ditepi ranjang. Aku berdiri didepannya. tangannya mulai membuka ikatan pinggang dan ritsluiting celanaku, kemudian menyusup ke balik celana dalamku. Dikeluarkannya kejantananku yang mulai menegang. Dibukanya celanaku seluruhnya hingga bagian bawah tubuhku sudah dalam keadaan polos.</p>
<p>Mulutnya kemudian menciumi kejantananku, sementara tangannya memegang pinggangku dan mengusap kantung zakarku. Lama kelamaan ciumannya berubah menjadi jilatan dan isapan kuat pada kejantananku. Kini ia mengocok kejantananku dengan mengulum kejantananku dan menggerakan mulutnya maju mundur. Aliran kenikmatan segera saja menjalari seluruh tubuhku. Tangannya menyusup ke bajuku dan memainkan putingku. Kubuka kancing bajuku agar tangannya mudah beraksi di dadaku. Kuremas rambutnya dan pantatkupun bergerak maju mundur menyesuaikan dengan gerakan mulutnya.</p>
<p>Aku tak mau menumpahkan sperma dalam posisi ini. Kuangkat tubuhnya dan kini dia dalam posisi berdiri sementara aku duduk di tepi ranjang. Tanpa kesulitan segera saja kubuka celana panjang dan celana dalamnya. Rambut kemaluannya agak jarang dan berwarna kemerahan. Kemaluannya terlihat sangat menonjol di sela pahanya, seperti sampan yang dibalikkan. Ia membuka kausnya sehingga sekarang tinggal memakai bra berwarna biru.</p>
<p>Kujilati tubuhnya mulai dari lutut, paha sampai ke lipatan pahanya. Sesekali kusapukan bibirku di bibir vaginanya. Lubang vaginanya terasa sempit ketika lidahku mulai masuk ke dalam vaginanya. Ia merintih, kepalanya mendongak, tangannya yang sebelah menekan kepalaku sementara tangan satunya meremas rambutnya sendiri. Kumasukan jari tengahku ke dalam lubang vaginanya, sementara lidahku menyerang klitorisnya. Ia memekik perlahan dan kedua tangannya meremas payudaranya sendiri. Tubuhnya melengkung ke belakang menahan kenikmatan yang kuberikan. Ia merapatkan selangkangannya ke kepakalu. Kulepaskan bajuku dan kulempar begitu saja ke lantai.</p>
<p>Akhirnya ia mendorongku sehingga aku terlentang di ranjang dengan kaki masih menjuntai di lantai. Ia berjongkok dan, “Sllruup..”. Kembali ia menjilat dan mencium penisku beberapa saat. Ia naik keatas ranjang dan duduk diatas dadaku menghadapkan vaginanya di mulutku. Tangannya menarik kepalaku meminta aku agar menjilat vaginanya dalam posisi demikian.</p>
<p>Kuangkat kepalaku dan segera lidahku menyeruak masuk ke dalam liang vaginanya. Tanganku memegang erat pinggulnya untuk membantu menahan kepalaku. Ia menggerakan pantatnya memutar dan maju mundur untuk mengimbangi serangan lidahku. Gerakannya semakin liar ketika lidahku dengan intens menjilat dan menekan klitorisnya. Ia melengkungkan tubuhnya sehingga bagian kemaluannya semakin menonjol. tangannya kebelakang diletakan di pahaku untuk menahan berat tubuhnya.</p>
<p>Ia bergerak kesamping dan menarikku sehingga aku menindihnya. Kubuka bra-nya dan segera kuterkam gundukan gunung kembar di dadanya. Putingnya yang keras kukulum dan kujilati. Kadang kumisku kugesekan pada ujung putingnya. Mendapat serangan demikian ia merintih “Jokaw, ayo kita lakukan permainan ini, Masukan sekarang..”.</p>
<p>Tangannya menggenggam erat penisku dan mengarahkan ke lubang vaginanya. Beberapa kali kucoba untuk memasukannya tetapi sangat sulit. Sebenarnya sejak kujilati sedari tadi kurasakan vaginanya sudah basah oleh lendirnya dan ludahku, namun kini ketika aku mencoba untuk melakukan penetrasi kurasakan sulit sekali. Penisku sudah mulai mengendor lagi karena sudah beberapa kali belum juga menembus vaginanya. Aku ingat ada kondom di laci meja, masih tersisa 1 setelah 2 lagi aku pakai tadi malam, barangkali dengan memanfaatkan permukaan kondom yang licin lebih mudah melakukan penetrasi. namun aku ragu untuk mengambilnya, Anis kelihatan sudah di puncak nafsunya dan ia tidak memberikan sinyal untuk memakai kondom.</p>
<p>Kukocokkan penisku sebentar untuk mengencangkannya. Kubuka pahanya selebar-lebarnya. Kuarahkan penisku kembali ke liang vaginanya.</p>
<p>“Jokaw.. Kencangkan dan cepat masukkan,” rintihnya.</p>
<p>Kepala penisku sudah melewati bibir vaginanya. Kudorong sangat pelan. Vaginanya sangat sempit. Entah apa yang menyebabkannya, padahal ia sudah punya anak dan menurut ceritanya penis suaminya satu setengah kali lebih besar dari penisku. Aku berpikir bagaimana caranya agar penis suaminya bisa menembus vaginanya.</p>
<p>Penisku kumaju mundurkan dengan perlahan untuk membuka jalan nikmat ini. Beberapa kali kemudian penisku seluruhnya sudah menembus lorong vaginanya. Aku merasa dengan kondisi vaginanya yang sangat sempit maka dalam ronde pertama ini aku akan kalah kalau aku mengambil posisi di atas. Mungkin kalau ronde kedua aku dapat bertahan lebih lama. Akan kuambil cara lain agar aku tidak jebol duluan.</p>
<p>Kugulingkan badannya dan kubiarkan dia menindihku. Anis bergerak naik turun menimba kenikmatannya. Aku mengimbanginya tanpa mengencangkan ototku, hanya sesekali kuberikan kontraksi sekedar bertahan saja supaya penisku tidak mengecil.</p>
<p>Anis merebahkan tubuhnya, merapat didadaku. Kukulum payudaranya dengan keras dan kumainkan putingnya dengan lidahku. Ia mendengus-dengus dan bergerak liar untuk merasakan kenikmatan. Gerakannya menjadi kombinasi naik turun, berputar dan maju mundur. Luar biasa vagina wanita Arab ini, dalam kondisi aku dibawahpun aku harus berjuang keras agar tidak kalah. Untuk mempertahankan diri kubuat agar pikiranku menjadi rileks dan tidak berfokus pada permainan ini.</p>
<p>15 menit sudah berlalu sejak penetrasi. Agaknya Anis sudah ingin mengakhiri babak pertama ini. Ia memandangku, kemudian mencium leher dan telingaku.</p>
<p>“Ouhh.. jokaw, kamu luar biasa. Dulu dalam ronde pertama biasanya suamiku akan kalah, namun kami masih bertahan. Yeesshh.. Tahan dulu, sebentar lagi.. Aku..”.</p>
<p>Ia tidak melanjutkan kalimatnya. Aku tahu kini saatnya beraksi. Kukencangkan otot penisku dan gerakan tubuh Anispun semakin liar. Akupun mengimbangi dengan genjotan penisku dari bawah. Ketika ia bergerak naik, pantatku kuturunkan dan ketika ia menekan pantatnya ke bawah akupun menyambutnya dengan mengangkat pantatku.</p>
<p>Kepalanya bergerak kesana kemari. Rambutnya yang hitam lebat acak-acakan. sprei sudah terlepas dan tergulung di sudut ranjang. bantal di atas ranjang semuanya sudah jatuh ke lantai. Keadaan diatas ranjang seperti kapal yang pecah dihempas badai. Ranjangpun ikut bergoyang mengikutu gerakan kami. Suaranya berderak-derak seakan hendak patah. Akupun semakin mempercepat genjotanku dari bawah agar iapun segera berlabuh di dermaga kenikmatan.</p>
<p>Semenit kemudian..</p>
<p>“Aaggkkhh.. Nikmat.. Ouhh.. Yeahh,” Anis memekik.</p>
<p>Punggungnya melengkung ke atas, mulutnya menggigit putingku. Kurasakan aliran kenikmatan mendesak lubang penisku. Aku tidak tahan lagi. Ketika pantatnya menekan ke bawah, kupeluk pinggangnya dan kuangkat pantatku.</p>
<p>“Ouhh.. An.. Nis. Aku tidak tahan lagi.. Aku sampaiihh!”</p>
<p>Ia memberontak dari pelukanku sampai peganganku pada pinggulnya terlepas. pantatnya naik dan segera diturunkan lagi dengan cepat.</p>
<p>“Jokaw.. Ouhh Jokaw.. Aku juga..”.</p>
<p>Kakinya mengunci kakiku dan badannya mengejang kuat. dengan kaki saling mengait aku menahan gerak tubuhnya yang mengejang. Giginya menggigit lenganku sampai terasa sakit. Denyutan dari dinding vaginanya saling berbalasan dengan denyutan dipenisku. Beberapa detik kemudian, kami masih merasakan sisa-sisa kenikmatan. ketika sisa-sisa denyutan masih terjadi badannya menggetar. Ia berbaring diatas dadaku sampai akhirnya penisku mulai mengecil dan terlepas dengan sendirinya dari vaginanya. Sebagian sperma mengalir keluar dari vaginanya di atas perutku. Anis berguling ke samping setelah menarik napas panjang.</p>
<p>“Luar biasa kamu Kaw. Suamiku tidak pernah menang dalam ronde pertama, memang dalam berhubungan ia sering mengambil posisi di atas. tapi kami sanggup membawaku terbang ke angkasa,” katanya sambil mengelus dadaku.<br />
“Akupun rasanya hampir tidak sanggup menandingimu. Mungkin sebagian besar laki-laki akan menyerah di atas ranjang kalau harus bermain denganmu. Milikmu benar-benar sempit,” kataku balas memujinya.</p>
<p>Memang kalau tadi aku harus bermain diatas, rasanya tak sampai sepuluh menit aku pasti sudah KO. Makanya, jangan cuma penetrasi terus main genjot saja, teknik bro!</p>
<p>“Kamu orang Melayu pribumi, tapi kok bulunya banyak gini. Keturunan India atau mungkin Arab ya?”<br />
“Nggak ah, asli Indonesia lho..”.</p>
<p>Ia masih terus memujiku beberapa kali lagi. Kuajak ia mandi bersama dan setelah itu kami duduk di teras sambil minum soft drink dan melihat laut. Aku hanya mengenakan celana pendek tanpa celana dalam dam kaus tanpa lengan. Ia mengenakan kemejaku, sementara bagian bawah tubuhnya hanya ditutup dengan selimut yang dililitkan tanpa mengenakan pakaian dalam.</p>
<p>Ia duduk membelakangiku. Tubuhnya disandarkan di bahuku. Mulutku sesekali mencium rambut dan belakang telinganya. Kadang mulutnya mencari mulutku dan kusambut dengan ciuman ringan. Tangan kanannya melingkar di kepalaku.</p>
<p>“Kamu nggak takut hamil melakukan hal ini denganku?”tanyaku.<br />
“Aku dulu pernah kerja di apotik, jadi aku tahu pasti cara mengatasinya. Aku selalu siap sedia, siapa tahu terjadi hal yang diinginkan seperti sore ini. Aku sudah makan obat waktu masuk ke kamar mandi tadi. Tenang saja, toh kalaupun hamil bukan kamu yang menanggung akibatnya.” katanya enteng.</p>
<p>Jadi ia selalu membawa obat anti hamil. Untung saja aku tadi tidak berlaku konyol dengan memakai kondom. Mungkin saja sejak ditinggal suaminya ia sudah beberapa kali bercinta dengan laki-laki. Tapi apa urusanku, aku sendiri juga melakukannya. yang penting malam ini ia menjadi teman tidurku.</p>
<p>Matahari sudah jauh condong ke Barat, sehingga tidak terasa panas. hampir sejam kami duduk menikmati sunset. Gairahku mulai timbul lagi. Kubuka dua kancing teratas bajunya. Kurapatkan kejantananku yang sudah mulai ingin bermain lagi ke pinggangnya. Kususupkan tanganku kebalik bajunya dan kuremas dadanya.</p>
<p>“Hmmhh..,” ia bergumam.<br />
“Masuk yuk, sudah mulai gelap. Anginnya juga mulai kencang dan dingin,” kataku.</p>
<p>Kamipun masuk ke dalam kamar sambil berpelukan. Sekilas kulihat tatapan iri dan kagum dari tamu hotel di kamar yang berseberangan dengan kamarku.</p>
<p>“I want more, honey!” kataku.</p>
<p>kami bersama-sama merapikan sprei dan bantal yang berhamburan akibat pertempuran babak pertama tadi. Kubuka bajunya dan kutarik selimut yang menutup bagian bawah tubuhnya. Kurebahkan Anis di ranjang. Kubuka kausku dan aku berdiri di sisi ranjang di dekat kepalanya.</p>
<p>Anis mengerti maksudku. Didekatkan kepalanya ke tubuhku dan ditariknya celana pendekku. Sebentar kemudian mulut dan lidahnya sudah beraksi dengan lincahnya di selangkanganku. Aku mengusap-usap tubuhnya mulai dari bahu, dada sampai ke pinggulnya. Peniskupun tak lama sudah menegang dan keras, siap untuk kembali mendayung sampan.</p>
<p>Lima menit ia beraksi. Setelah itu kutarik kepalanya dan kuposisikan kakinya menjuntai ke lantai. Kubuka mini bar dan kuambil beberapa potong es batu di dalam gelas. Kujepit es batu tadi dengan bibirku dan aku berjongkok di depan kakinya. Kurenggangkan kedua kakinya lalu dengan jariku bibir vaginanya kubuka. Bibirku segera menyorongkan es batu ke dalam vaginanya yang merah merekah. Ia terkejut merasakan perlakuanku. Kaki dan badannya sedikit meronta, namun kutahan dengan tanganku.</p>
<p>“Ouhh.. Jokaw.. Kamu.. Gila.. Gila.. Jangan.. Cukup Kaw!” ia berteriak.</p>
<p>Aku tidak menghiraukan teriakannya dan terus melanjutkan aksiku. Rupanya sensasi dingin dari es batu di dalam vaginanya membuatnya sangat terangsang. Kujilati air dari es batu yang mencair dan mulai bercampur dengan lendir vaginanya.</p>
<p>“Jokaw.. Maniak kamu..,” ia masih terus memekik setiap kali potongan es batu kutempelkan ke bagian dalam bibir vagina dan klitorisnya.</p>
<p>Kadang es batu kupegang dengan jariku menggantikan bibirku yang tetap menjilati seluruh bagian vaginanya. Kakinya masih meronta, namun ia sendiri mulai menikmati aksiku. Kulihat ke atas ia menggigit ujung bantal dengan kuat untuk menahan perasaannya.</p>
<p>Akhirnya semua potongan es batu yang kuambil habis. Aku masih meneruskan stimulasi dengan cara cunilingus ini. Meskipun untuk ronde kedua aku yakin bisa bertahan lebih lama, namun untuk berjaga-jaga akan kuransang dia sampai mendekati puncaknya. yang pasti aku tak mau kalah ketika bermain dengannya. Kurang lebih sepuluh menit aku melakukannya.</p>
<p>Ia terhentak dan mengejang sesaat ketika klitorisnya kugaruk dan kemudian kujepit dengan jariku. Kulepas dan kujepit lagi. Ia merengek-rengek agar aku menghentikan aksiku dan segera melakukan penetrasi, namun aku masih ingin menikmati dan memberikan foreplay dalam waktu yang agak lama. Beberapa saat aku masih dalam posisi itu. tangan kanannya memegang kepalaku dan menekannya ke celah pahanya. Tangan kirinya meremas-remas payudaranya sendiri.</p>
<p>Aku duduk di dadanya. Kini ia yang membrikan kenikmatan pada penisku melalui lidah dan mulutnya. Dikulumnya penisku dalam-dalam dan diisapnya lembut. Giginya juga ikut memberikan tekanan pada batang penisku. Dilepaskannya penisku dan kini dijepitnya dengan kedua payudaranya sambil diremas-remas dengan gundukan kedua dagingnya itu. Kugerakkan pinggulku maju mundur sehingga peniskupun bergesekan dengan kulit kedua payudaranya.</p>
<p>Kuubah posisiku dengan menindihnya berhadapan, kemudian mulutku bermain disekitar payudaranya. Anis kelihatan tidak sabar lagi dan dengan sebuah gerakan tangannya sudah memegang dan mengocok penisku dengan menggesekannya pada bibir vaginanya. Tanganku mengusap gundukan payudaranya dan meremas dengan pelan dan hati-hati. Ia menggelinjang. Mulutku menyusuri leher dan bahunya kemudian bibirnya yang sudah setengah terbuka segera menyambut bibirku. kami segera berciuman dengan ganas sampai terengah-engah. Penisku yang sudah mengeras mulai mencari sasarannya.</p>
<p>Kuremas pantatnya yang padat dan kuangkat pantatku.</p>
<p>“Jokaw.. Ayo.. Masukk.. Kan!”</p>
<p>Tangannya menggenggam penisku dan mengarahkan ke dalam guanya yang sudah basah. Aku mengikuti saja. Kali ini ia yang mengambil inisiatif untuk membuka lebar-lebar kedua kakinya. Dengan perlahan dan hati-hati kucoba memasukan penisku kedalam liang vaginanya. Masih sulit juga untuk menembus bibir vaginanya. tangannya kemudian membuka bibir vaginanya dan dengan bantuan tanganku maka kuarahkan penisku ke vaginanya.</p>
<p>Begitu melewati bibir vaginanya, maka kurasakan lagi sebuah lorong yang sempit. Perlahan-lahan dengan gerakan maju mundur dan memutar maka beberapa saat kemudian penisku sudah menerobos kedalam liang vaginanya.</p>
<p>Aku bergerak naik turun dengan perlahan sambil menunggu agar pelumasan pada vaginanya lebih banyak. Ketika kurasakan vaginanya sudah lebih licin, maka kutingkatkan tempo gerakanku. Anis masih bergerak pelan, bahkan cenderung diam dan menungguku untuk melanjutkan serangan berikutnya.</p>
<p>Kupercepat gerakanku dan Anis bergerak melawan arah gerakanku untuk menghasilkan sensasi kenikmatan. Aku menurunkan irama permainan. Kini ia yang bergerak liar. Tangannya memeluk leherku dan bibirnya melumat bibirku dengan ganas. Aku memeluk punggungnya kemudian mengencangkan penisku dan menggenjotnya lagi dengan cepat.</p>
<p>Kubisikkan untuk berganti posisi menjadi doggy style. Ia mendorong tubuhku agar dapat berbaring tengkurap. Pantatnya dinaikkan sedikit dan tangannya terjulur kebelakang menggenggam penisku dan segera menyusupkannya kedalam vaginanya. Kugenjot lagi vaginanya dengan menggerakkan pantatku maju mundur dan berputar. Kurebahkan badanku di atasnya. kami berciuman dengan posisi sama-sama tengkurap, sementara kemaluan kami masih terus bertaut dan melakukan aksi kegiatannya.</p>
<p>Aku menusuk vaginanya dengan gerakan cepat berulang kali. Iapun mendesah sambil meremas sprei. Aku berdiri di atas lututku dan kutarik pinggangnya. Kini ia berada dalam posisi nungging dengan pantat yang disorongkan ke kemaluanku. Setelah hampir sepuluh menit permainan kami yang kedua ini, Anis semakin keras berteriak dan sebentar-bentar mengejang. Vaginanya terasa semakin lembab dan hangat. Kuhentikan genjotanku dan kucabut penisku.</p>
<p>Anis berbalik terlentang dan sebentar kemudian aku naik ke atas tubuhnya dan kembali menggenjot vaginanya. Kusedot putingnya dan kugigit bahunya. Kutarik rambutnya sampai mendongak dan segera kujelajahi daerah sekitar leher sampai telinganya. Ia semakin mendesah dan mengerang dengan keras. Ketika ia mengerang cukup keras, maka segera kututup bibirnya dengan bibirku. Ia menyambut bibirku dengan ciuman yang panas. Lidahnya menyusup ke mulutku dan menggelitik langit-langit mulutku. Aku menyedot lidahnya dengan satu sedotan kuat, melepaskannya dan kini lidahku yang masuk ke dalam rongga mulutnya.</p>
<p>kami berguling sampai Anis berada di atasku. Anis menekankan pantatnya dan peniskupun semakin dalam masuk ke lorong kenikmatannya.</p>
<p>“Ouhh.. Anis,” desahku setengah berteriak.<br />
Anis bergerak naik turun dan memutar. Perlahan-lahan kugerakkan pinggulku. Karena gerakan memutar dari pinggulnya, maka penisku seperti disedot sebuah pusaran. Anis mulai mempercepat gerakannya, dan kusambut dengan irama yang sama. Kini ia yang menarik rambutku sampai kepalaku mendongak dan segera mencium dan menjilati leherku. Hidungnya yang mancung khas Timur Tengah kadang digesekkannya di leherku memberikan suatu sensasi tersendiri.</p>
<p>Anis bergerak sehingga kaki kami saling menjepit. kaki kirinya kujepit dengan kakiku dan demikian juga kaki kiriku dijepit dengan kedua kakinya. dalam posisi ini ditambah dengan gerakan pantatnya terasa nikmat sekali. Kepalanya direbahkan didadaku dan bibirnya mengecup putingku.</p>
<p>Kuangkat kepalanya, kucium dan kuremas buah dadanya yang menggantung. Setelah kujilati dan kukecup lehernya kulepaskan tarikan pada rambutnya dan kepalanya turun kembali kemudian bibirnya mencari-cari bibirku. Kusambut mulutnya dengan satu ciuman yang dalam dan lama.</p>
<p>Anis kemudian mengatur gerakannya dengan irama lamban dan cepat berselang-seling. Pantatnya diturunkan sampai menekan pahaku sehingga penisku masuk terbenam dalam-dalam menyentuh rahimnya.</p>
<p>kakinya bergerak agar lepas dari jepitanku dan kini kedua kakiku dijepit dengan kedua kakinya. Anis menegakkan tubuhnya sehingga ia dalam posisi duduk setengah jongkok di atas selangkanganku. Ia kemudian menggerakan pantatnya maju mundur sambil menekan kebawah sehingga penisku tertelan dan bergerak ke arah perutku. Rasanya seperti diurut dan dijepit sebuah benda yang lembut namun kuat. Semakin lama semakin cepat ia menggerakkan pantatnya, namun tidak menghentak-hentak. darah yang mengalir ke penisku kurasakan semakin cepat dan mulai ada aliran yang merambat disekujur tubuhku.</p>
<p>“Ouhh.. Sshh.. Akhh!” Desisannyapun semakin sering. Aku tahu sekarang bahwa iapun akan segera mengakhiri pertarungan ini dan menggapai puncak kenikmatan.<br />
“Tahan Nis, turunkan tempo.. Aku masih lama lagi ingin merasakan nikmatnya bercinta denganmu”.</p>
<p>Aku menggeserkan tubuhku ke atas sehingga kepalaku menggantung di bibir ranjang. Ia segera mengecup dan menciumi leherku. Tak ketinggalan hidungnya kembali ikut berperan menggesek kulit leherku. Aku sangat suka sekali ketika hidungnya bersentuhan dengan kulit leherku.</p>
<p>“Jokaw.. Ouhh.. Aku tidak tahan lagi!” ia mendesah. Kugelengkan kepalaku memberi isyarat untuk bertahan sebentar lagi.</p>
<p>Aku bangkit dan duduk memangku Anis. Penisku kukeraskan dengan menahan napas dan mengencangkan otot PC. Ia semakin cepat menggerakkan pantatnya maju mundur sementara bibirnya ganas melumat bibirku dan tangannya memeluk leherku. Tanganku memeluk pinggangnya dan membantu mempercepat gerakan maju mundurnya. Dilepaskan tangannya dari leherku dan tubuhnya direbahkan ke belakang. Kini aku yang harus bergerak aktif.</p>
<p>Kulipat kedua lututku dan kutahan tubuhnya di bawah pinggangnya. Gerakanku kuatur dengan irama cepat namun penisku hanya setengahnya saja yang masuk sampai beberapa hitungan dan kemudian sesekali kutusukkan penisku sampai mentok. Ia merintih-rintih, namun karena posisi tubuhnya ia tidak dapat bergerak dengan bebas. Kini aku sepenuhnya yang mengendalikan permainan, ia hanya dapat pasrah dan menikmati.</p>
<p>Kutarik tubuhnya dan kembali kurebahkan tubuhnya ke atas tubuhku, matanya melotot dan bola matanya memutih. Giginya menggigit bahuku. Kugulingkan tubuhku, kini aku berada diatasnya kembali.</p>
<p>Kuangkat kaki kanannya ke atas bahu kiriku. Kutarik badannya sehingga selangkangannya dalam posisi menggantung merapat ke tubuhku. Kaki kirinya kujepit di bawah ketiak kananku. Dengan posisi duduk melipat lutut aku menggenjotnya dengan perlahan beberapa kali dan kemudian kuhentakkan dengan keras. Iapun berteriak dengan keras setiap aku menggenjotnya dengan keras dan cepat. Kepalanya bergerak-gerak dan matanya seperti mau menangis. Kukembalikan kakinya pada posisi semula.</p>
<p>Aku masih ingin memperpanjang permainan untuk satu posisi lagi.</p>
<p>kakiku keluar dari jepitannya dan ganti kujepit kedua kakinya dengan kakiku. Vaginanya semakin terasa keras menjepit penisku. Aku bergerak naik turun dengan perlahan untuk mengulur waktu. Anis kelihatan sudah tidak sabar lagi. Matanya terpejam dengan mulut setengah terbuka yang terus merintih dan mengerang. Gerakan naik turunku kupercepat dan semakin lama semakin cepat.</p>
<p>Kini kurasakan desakan kuat yang akan segera menjebol keluar lewat lubang penisku. Kukira sudah lebih dari setengah jam lamanya kami bergumul. Akupun sudah puas dengan berbagai posisi dan variasi. Keringatku sudah berbaur dengan keringatnya.</p>
<p>Kurapatkan tubuhku di atas tubuhnya, kulepaskan jepitan kakiku. Betisnya kini menjepit pinggangku dengan kuat. Kubisikan, “OK baby, kini saatnya..”.</p>
<p>Ia memekik kecil ketika pantatku menekan kuat ke bawah. Dinding vaginanya berdenyut kuat menghisap penisku. Ia menyambut gerakan pantatku dengan menaikan pinggulnya. Bibirnya menciumku dengan ciuman ganas dan kemudian sebuah gigitan hinggap pada bahuku.</p>
<p>Satu aliran yang sangat kuat sudah sampai di ujung lubang penisku. Kutahan tekanan penisku ke dalam vaginanya. Gelombang-gelombang kenikmatan terwujud lewat denyutan dalam vaginanya bergantian dengan denyutan pada penisku seakan-akan saling meremas dan balas mendesak.</p>
<p>Denyut demi denyutan, teriakan demi teriakan dan akhirnya kami bersama-sama sampai ke puncak sesaat kemudian setelah mengeluarkan teriakan keras dan panjang.</p>
<p>“Anis.. Ouhh.. Yeaahh!!”<br />
“Ahhkk.. Lakukan Jokaw.. Sekarang!!”</p>
<p>Akhirnya aliran yang tertahan sejak tadipun memancar dengan deras di dalam vaginanya. Kutekan penisku semakin dalam di vaginanya. Tubuhnya mengejang dan pantatnya naik. Ia mempererat jepitan kakinya dan pelukan tangannya. Kupeluk tubuhnya erat-erat dan tangannya menekan kepalaku di atas dadanya. Ketika dinding vaginanya berdenyut, maka kubalas dengan gerakan otot PC-ku. Iapun kembali mengejang dan bergetar setiap otot PC-ku kugerakkan.</p>
<p>Napas dan kata-kata penuh kenikmatan terdengar putus-putus, dan dengan sebuah tarikan napas panjang aku terkulai lemas di atas tubuhnya. kami masih saling mengecup bibir dan keadaan kamarpun menjadi sunyi, tidak ada suara yang terdebgar. hanya ada napas yang panjang tersengal-sengal yang berangsur-angsur berubah menjadi teratur.</p>
<p>Lima belas menit kemudian kami berdua sudah bermain dengan busa sabun di kamar mandi. Kami saling menyabuni dengan sesekali melakukan cumbuan ringan. Setelah mandi barulah kami merasa lapar setelah dua ronde kami lalui. Sambil makan Anis menelpon familinya, kalau malam ini ia tidak pulang dengan alasan menginap di rumah temannya. Tentu saja ia tidak bilang kalau temannya adalah seorang laki-laki bernama Jokaw.</p>
<p>Malam itu dan malam berikutnya tentu saja tidak kami lewatkan dengan sia-sia. Mandi keringat, mandi kucing, mandi basah dan tentunya mandi kenikmatan menjadi acara kami berdua.</p>
<p>Esoknya setelah mengecek ke agen Merpati ternyata aku masih mendapat seat penerbangan ke kota propinsi, seat terakhir lagi. Ketika chek out dari hotel kusisipkan selembar dua puluh ribuan ke tangan security temanku. Ia tersenyum.</p>
<p>“Terima kasih Pak,” katanya sambil menyambut tasku dan membawakan ke mobil.<br />
“Kapan kesini lagi, Pak? kalau Anis nggak ada, nanti akan saya carikan Anis yang lainnya lagi,” bisiknya ketika sudah berangkat ke bandara.</p>
<p>Anis mengantarku sampai ke bandara dan sebelum turun dari mobil kuberikan kecupan mesra di bibirnya. Sopir mobil hotel hanya tersenyum melihat tingkah kami.</p>
<p>Setahun kemudian aku kembali lagi ke kota itu dan ternya Anis tidak berada di kota itu lagi. Ketika kutelpon ke nomor yang diberikannya, penerima telepon menyatakan tidak tahu dimana sekarang Anis berada. Dengan bantuan security temanku maka aku mendapatkan perempuan lainnya, orang Jawa Tinur. Lumayan, meskipun kenikmatan yang diberikannya masih di bawah Anis.</p>
<p>Abis baca cerita diatas jadi ngebayangin toket cewek arab, cewek arab kan terkenal memiliki toket yang gede, toket gede tentu menjadi daya tarik seks yang tinggi bagi pria, memiliki payudara yang indah dan besar juga merupakan idaman wanita.</p>
<h4>Cerita Dewasa | Cerita Seks</h4>*<a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/dihotel-bersama-cewek-arab.html" title="cerita remas toket di kapal terbang">cerita remas toket di kapal terbang</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/dihotel-bersama-cewek-arab.html" title="toket besar cewek muka arab">toket besar cewek muka arab</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/dihotel-bersama-cewek-arab.html" title="seks dengan model dihotel">seks dengan model dihotel</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/dihotel-bersama-cewek-arab.html" title="pesta sex sama cewek arab">pesta sex sama cewek arab</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/dihotel-bersama-cewek-arab.html" title="permainan berciuman dihotel com">permainan berciuman dihotel com</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/dihotel-bersama-cewek-arab.html" title="model porno sex kaum lut di arabia">model porno sex kaum lut di arabia</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/dihotel-bersama-cewek-arab.html" title="kisah sex dengan wanita arab">kisah sex dengan wanita arab</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/dihotel-bersama-cewek-arab.html" title="kisah porno aku dan karyawan diskotik">kisah porno aku dan karyawan diskotik</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/dihotel-bersama-cewek-arab.html" title="crita seks cewek bokong besar">crita seks cewek bokong besar</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/dihotel-bersama-cewek-arab.html" title="Cerita-Pantat gede cewe arab">Cerita-Pantat gede cewe arab</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/dihotel-bersama-cewek-arab.html" title="Cerita sex panas seorang cowok arab mencumbu liar payudara pacarnya yang perawan di meja makan">Cerita sex panas seorang cowok arab mencumbu liar payudara pacarnya yang perawan di meja makan</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/dihotel-bersama-cewek-arab.html" title="www crita dewasa model timur tengah com">www crita dewasa model timur tengah com</a>*<!-- SEO SearchTerms Tagging 2 Plugin -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/dihotel-bersama-cewek-arab.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita Lesbi Seorang Rentenir</title>
		<link>http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/cerita-lesbi-seorang-rentenir.html</link>
		<comments>http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/cerita-lesbi-seorang-rentenir.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Jun 2010 08:18:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[cerita lesbian]]></category>
		<category><![CDATA[cewek lesbi]]></category>
		<category><![CDATA[lesbian]]></category>
		<category><![CDATA[sesama jenis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritadewasa.modelperawan.info/?p=95</guid>
		<description><![CDATA[Cerita dewasa ini adalah cerita pengalaman , atau kisah lama seorang perempuan yang suka hubungan sesama jenis, dan berikut ceritanya. Pengalamanku ini terjadi pada tahun 1996 akhir, ketika aku sedang memulai usahaku di kota S. Aku baru saja menyelesaikan urusan pinjaman modalku pada sebuah bank swasta di kota ini. Pada masa itu belum ada tanda-tanda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Cerita dewasa</strong> ini adalah cerita pengalaman , atau kisah lama seorang perempuan yang suka hubungan sesama jenis, dan berikut ceritanya. Pengalamanku ini terjadi pada tahun 1996 akhir, ketika aku sedang memulai usahaku di kota S. Aku baru saja menyelesaikan urusan pinjaman modalku pada sebuah bank swasta di kota ini. Pada masa itu belum ada tanda-tanda yang mengisyaratkan munculnya bencana ekonomi seperti belakangan ini, sehingga semua urusan banking terasa smooth saja.</p>
<p>Banker yang mengurusi pinjamanku ialah seorang mantan kawan SMA-ku dulu. Sebut saja namanya Nana. Ia baru beberapa bulan bekerja di bank tersebut setelah menyelesaikan studinya di Amerika. Semasa SMA, Nana ialah seorang yang menurutku termasuk golongan nerd. Berkaca mata, duduk di barisan depan, rajin bertanya, dan catatannya selalu laris difotokopi ketika menjelang musim ujian. Sedangkan aku sendiri termasuk golongan urakan, yang selalu mendapat nilai pas-pasan, kecuali untuk pelajaran olah raga. Harus kuakui, Nana tidak banyak berubah. Ia tetap saja nampak kuper dibalik kaca mata minus 3 itu. Untung saja pakaian kerja yang dikenakannya membuatnya nampak lebih &#8216;terbuka&#8217;. Aku ingat, ketika itu ia mengenakan blazer warna biru pastel, dan kemeja kuning muda. Ia juga mengenakan rok mini berwarna biru tua, dan sepatu berhak tinggi, sehingga tingginya yang hanya sekitar 165-an itu terlihat hampir menyamai tinggi badanku.</p>
<p>Setelah usai menandatangani tumpukan kontrak dan perjanjian, aku memutuskan untuk mengajaknya makan siang, bukan lagi sebagai kreditor, tapi sebagai seorang kawan lama. Nana setuju saja, mengingat bahwa pinjamanku waktu itu membuatnya memenuhi target bulanannya.</p>
<p>Kami meluncur menuju sebuah hotel yang cukup terkenal di kota S, karena satu gedung dengan pusat perbelanjaan TP3. Kami menghabiskan waktu cukup lama untuk memesan menu ala carte, karena harga menu buffet tentunya tidak terlalu ekonomis. Selama makan, Nana tampak diam saja, seperti biasanya. Aku mencoba mengamati wajahnya yang manis itu. Kulihat alisnya yang tipis, hidungnya yang mancung, bibirnya yang tipis, dan lehernya. Leher yang sangat indah, jenjang dan halus. Ketika aku melihat agak ke bawah lagi, kulihat kancing kemejanya yang paling atas tidak dikancingkan sehingga aku dapat berimajinasi bagaimana bentuk bagian tubuhnya yang berada di balik kemeja itu. Selagi asyik-asyiknya menikmati keindahan itu, rupanya Nana mengamatiku dari tadi.<br />
Ia menyunggingkan senyum, mengambil serbet, mengelap bibirnya, dan berkata, &#8220;Jen, kamu masih seperti yang aku dengar dulu?&#8221;.<br />
&#8220;Hmm.., Tergantung apa yang kamu pernah dengar dulu&#8221;, Jawabku agak kikuk.<br />
&#8220;Pacaran dengan sesama jenis&#8221;, Jawabnya lugas. Membuat mataku sedikit terbelalak kaget dan menatap matanya yang bundar lucu itu.<br />
&#8220;Yah.., Kalau gosip yang kamu dengar cukup lengkap, seharusnya kamu nggak perlu nanya &#8216;kan?&#8221;, Jawabku mencoba diplomatis.<br />
&#8220;Cukup lengkap untuk bisa blackmail kamu&#8221;, Katanya.<br />
&#8220;Haha, just kidding!&#8221;, ujarnya lagi agar aku tidak tersinggung. Aku hanya tersenyum saja dan pura-pura berkonsentrasi pada makan siangku.<br />
&#8220;Bersyukurlah kamu bisa hidup normal&#8221;, Kataku mencoba bergaya bijak.<br />
&#8220;Hihihi.., Udahlah Jen, kreditnya udah di-approved &#8216;kan?&#8221;, katanya lagi&#8221;, Nggak ada yang perlu ditakutin.., kecuali kalau bayarnya nunggak!&#8221;, Candanya.</p>
<p>Kami terdiam untuk beberapa saat, tapi kemudian aku merasakan sesuatu di betisku. Meja makan kami tergolong kecil, hingga posisi duduk kami cukup dekat, dan kaki kami bisa bersentuhan. Namun kali ini sentuhan itu seperti bukannya tak sengaja. Aku merasakan sentuhan jari kakinya mengusap betisku pelan-pelan, merambat naik ke lututku, bergerak menyusup masuk ke rok miniku, dan bergerak mengusap-usap paha kiriku bagian dalam.</p>
<p>Aku menatap matanya dalam-dalam sambil tidak tahu apa yang harus aku lakukan, tapi dia balik memandang wajahku, tersenyum, dilepaskannya gagang sendoknya, lalu tangannya menyentuh lehernya sendiri dengan ujung jari tengah. Seperti orang tolol, pandanganku mengikuti kemana larinya jari-jari lentik itu. Jemarinya bergerak pelan-pelan ke bawah, menyusuri lehernya, turun terus, lalu berhenti ketika tersangkut di kancing kemeja kuningnya. Pada saat itu juga jari kakinya yang sejak tadi diam di antara kedua pahaku disodokannya ke depan, menyenggol kewanitaanku, memang tidak tepat pada bibirnya, namun cukup memberiku sengatan birahi yang mendadak.<br />
&#8220;Hkk..&#8221;, Aku merintih tertahan, memejamkan mataku untuk mengontrol perasaanku. Ketika mataku terbuka, nampak Nana tersenyum padaku, menunjukkan sebaris gigi yang bersih dan indah. Senyuman itu membuatku makin kikuk. Meskipun masa laluku kulewatkan dengan &#8216;bebas&#8217;, namun penampilan Nana yang anggun membuatku tidak mikir macam-macam padanya.., tapi setelah apa yang dilakukannya ini.., aku tidak tahu lagi. Akhirnya, setelah membisu cukup lama, aku melambaikan tangan pada waiter, dan membayar makan siang.<br />
&#8220;Jenn&#8221;, Katanya sambil meletakkan tangannya di bahuku. &#8220;Aku punya membership di hotel ini, dan aku rasa aku perlu istirahat sedikit. Kamu mau menemaniku kan?&#8221;, Tanyanya dengan kalimat yang lugu namun sudah dapat ditebak artinya. Mengingat hubungan bisnisku dengan banknya, aku memutuskan untuk menurut.<br />
Sebagai wanita, agak sulit bagiku untuk bercumbu rayu begitu saja dengan orang yang cukup asing. Hal itulah yang membuatku bengong saja meskipun kini aku sudah duduk di sofa dalam kamar executive hotel, sementara Nana berdiri di hadapanku dan melepas blazernya dengan gaya yang dibuat-buat agar merangsang. Melihatku tidak berespon, Nana melanjutkan permainannya, ia melepaskan satu persatu kancing kemejanya, lalu menyingkapkan kemejanya sehingga bahu kanannya yang halus dan putih bersih itu terlihat olehku.</p>
<p>Tali bra berwarna putih berenda tampak menghiasi bahu yang indah itu. Aku cukup mengagumi keindahan tubuhnya, namun aku masih segan untuk bereaksi, aku malu karena Nana pernah menjadi orang yang cukup aku hormati. Dilemparkannya kemejanya ke atas ranjang, menyusul bra dan celana dalamnya. Aku hanya diam menatap tubuhnya yang kini hanya terbalut rok mini biru tua itu. Payudaranya nampak indah sekali bentuknya, bulat, tidak terlalu besar namun kencang, putih bersih, dan putingnya kecil sekali berwarna coklat muda. Ia melangkahkan kakinya mendekati tempatku duduk.<br />
&#8220;Jenn&#8221;, bisiknya, &#8220;Aku mendengar semua gosip tentang kamu. Tentang anak-anak basket yang lesbi, dan tentang apa yang kamu lakukan dengan guru geografi di perpustakaan waktu itu. In fact, hampir semua orang membicarakannya, namun nggak ada yang berani terang-terangan menuduh&#8221;, Sambungnya lagi.</p>
<p>Aku tetap diam, menundukkan kepalaku dengan rasa tidak enak.<br />
&#8220;Aku iri dengan Reni dan Evelin yang bisa setiap saat mandi bersama kamu, tidur bareng di rumah kost, melihat kamu dengan kaos basah di ruang ganti..&#8221;, bisiknya lagi, seolah menelanjangi masa laluku yang hendak aku lupakan. Aku tetap tertunduk ketika tiba-tiba Nana meraih kepalaku dan mendongakkannya. Karena posisiku duduk dan dia berdiri, maka mataku langsung berhadapan dengan sepasang payudaranya yang indah itu, dengan puting-puting yang masih flat, menunggu untuk dibangunkan. Aku tetap terdiam, meski jari-jari Nana menyusupi rambutku yang lurus dan pendek, mengusap pipi dan rahangku, mengelus tengkukku lalu aku mendengar suaranya lagi.<br />
&#8220;Jenn, please..&#8221;, Katanya, aku melirik ke atas, menatap matanya. Kaca matanya tak mampu menyembunyikan sorot memelas dari kedua mata bulatnya.</p>
<p>Tanganku memeluk pinggulnya menariknya mendekat. Aku segera mendaratkan bibirku tepat pada puting susu kanannya, menghisap, melingkarinya dengan lidahku, terus-menerus. Aku merasakan cengkeramannya pada kepalaku menguat, aku mendengar desahan nafasnya kian tak teratur, Aku melirik ke wajahnya, aku melihat alisnya menyatu, matanya terpejam, mulutnya ternganga mengeluarkan desahan nafas tak beraturan. Aku ikut kehilangan kontrol, wajahnya begitu membangkitkan hasratku, aku segera memindahkan mulutku ke puting susu kirinya, meremas payudaranya sambil mengulum putingnya, ekspresi wajahnya menunjukkan perasaan kegelian yang amat sangat, tubuhnya menggeliat-geliat kecil, kakinya tampak goyah, tak lama kemudian ia jadi lunglai seperti selembar handuk, rebah di atas karpet tebal kamar itu. Cukup lama aku memainkan kedua payudaranya dengan mulut dan tanganku sementara tangannya sendiri telah masuk ke balik rok mininya.</p>
<p>Tiba-tiba ia mendorongku hingga kini aku berada di bawah tubuhnya. Wajahnya nampak begitu dekat dengan wajahku, ia mendaratkan ciumannya di bibirku, menghisapnya kuat-kuat, sambil tangannya membuka kancing-kancing blazer dan kemejaku. Aku tidak mengerti kenapa aku hanya diam, namun kini aku merasakan tangannya telah menerobos bra Marks &#038; Spencer-ku. Dilepaskannya bibirnya dari bibirku, ia menjilati dan menciumi seluruh rahang dan leherku, memberiku rasa hangat yang nikmat. Ditariknya braku ke atas hingga ia dapat melihat payudaraku. Ia tampak begitu bernafsu memandanginya diremas-remasnya kedua payudaraku dengan gemas sampai terasa agak sakit. Tiba-tiba mulutnya menyerbu puting susuku yang kiri, melumatnya, menghisap, dan menjilatinya. Rangsangan yang tiba-tiba membuatku terpejam dan meringis menahan rasa geli yang tiba-tiba menyerbu. Aku mendongakkan kepalaku ke atas, aku merasakan gerakan lidahnya semakin menjadi-jadi. Kedua puting susuku dijilati dan dihisapnya bergantian, rasanya geli sekali, tanganku mencoba mencengkeram pinggangnya, namun rasa geli pada puting-putingku terasa membuatku lemas dan aku merasakan sesuatu telah meleleh keluar dari kewanitaanku.</p>
<p>Ditariknya celana dalamku hingga lepas, disingkapkannya rok miniku ke atas, kakiku dikangkangkannya, lalu ia menempelkan kewanitaannya pada kewanitaanku, digosoknya naik turun, aku merasakan hangat dan nikmat yang tak tertahankan, aku merintih dan mengerang keras-keras tak peduli siapa yang akan mendengar. Aku terbaring telentang di atas karpet cokelat muda itu, aku melihatnya seperti menduduki selangkanganku, membuat kewanitaan kami saling bergesekan, tangannya berpegangan pada payudaraku, ibu jari dan telunjukknya memilin-milin keras puting susuku. Ia menggeliat-geliat sambil menaik-turunkan badannya, mendongakkan kepalanya ke atas, hingga aku dapat melihat keindahan rahangnya yang luar biasa.<br />
Aku sendiri menggeliat-geliat mencoba menahan gempuran rasa geli dan nikmat yang mengalir membanjiri tubuhku lewat payudara dan kewanitaanku.<br />
&#8220;Aduhh, Nanaa.., ohh..&#8221;, Aku seolah mendengar sendiri eranganku yang tak beraturan.<br />
&#8220;Uhh.., Jennii.., nikmat sekalii&#8221;, Ia merintih-rintih tak karuan, nafasnya makin memburu, gesekan kewanitaan kami semakin terasa hangat dan lembap, pelintiran dan remasannya membuat payudaraku serasa pegal meskipun kegelian. Aku terengah-engah kegelian, punggungku terangkat dari karpet, melengkung seperti busur panah. Kenikmatan yang kudapatkan serasa merajam tubuhku, putingku terasa pegal dan geli karena diplintir-plintir dari tadi, sementara kewanitaanku terasa berdenyut-denyut, rintihanku semakin tak karuan, birahiku kian memuncak. Hingga akhirnya aku merasakan desakan dari dalam tubuhku menuju kewanitaanku, tubuhku terasa kejang dan kaku, aku berusaha menahan meski sia-sia, kewanitaanku terasa tak mampu membendungnya, hingga akhirnya hentakan orgasme menghantam tubuhku. Aku menjerit keras-keras, mencengkeram pinggang Nana, di tengah serbuan kenikmatan itu, aku sempat melihat badan Nana juga mengejang, gerakannya berhenti, namun aku tak dapat mengingatknya lagi, karena aku langsung mencapai puncak. Cairan kami saling bercampur diantara kewanitaan kami, Nana roboh dan terbaring disampingku, sementara aku sendiri merasa kehilangan seperempat kesadaranku karena orgasme yang lumayan dahsyat itu.</p>
<p>Kami tergeletak berdampingan, dengan tubuh basah oleh keringat, kaki terasa pegal, dan nafas terengah-engah, serta mata terkatup rapat.<br />
Aku melirik tubuh Nana yang telanjang di sampingku, tengah memejamkan mata dan terkulai lemah. Aku sendiri tak kalah lelahnya, tubuhku masih dibalut business suit, namun sudah tersingkap di mana-mana, hingga payudaraku bisa merasakan dinginnya hawa AC ruangan, namun kenikmatan orgasme tadi segera mengantarku ke alam bawah sadar, semua gelap lagi.. Hanya kenikmatan dan kehangatan yang kurasakan mengalir dalam darahku.</p>
<p>SEKIAN, dapatkan cerita-cerita kami yang lain dengan berlangganan cerita terbaru, bookmark website kami untuk dapat cerita terbaru.</p>
<h4>Cerita Dewasa | Cerita Seks</h4>*<a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/cerita-lesbi-seorang-rentenir.html" title="cerita lesbi sma">cerita lesbi sma</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/cerita-lesbi-seorang-rentenir.html" title="Cerita Lesbian SMA">Cerita Lesbian SMA</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/cerita-lesbi-seorang-rentenir.html" title="cerita porno lesbian">cerita porno lesbian</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/cerita-lesbi-seorang-rentenir.html" title="cerita porno lesbi">cerita porno lesbi</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/cerita-lesbi-seorang-rentenir.html" title="cerita lesbi anak SMA">cerita lesbi anak SMA</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/cerita-lesbi-seorang-rentenir.html" title="cerita sex sma lesbi">cerita sex sma lesbi</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/cerita-lesbi-seorang-rentenir.html" title="cerita lesbian guru">cerita lesbian guru</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/cerita-lesbi-seorang-rentenir.html" title="cerita anak sma lesbian">cerita anak sma lesbian</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/cerita-lesbi-seorang-rentenir.html" title="Cerita sex Sma Lesbian">Cerita sex Sma Lesbian</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/cerita-lesbi-seorang-rentenir.html" title="www pembantuku seorang lesbian">www pembantuku seorang lesbian</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/cerita-lesbi-seorang-rentenir.html" title="CERITA SEX LESBY CEWEK SUSU BESAR">CERITA SEX LESBY CEWEK SUSU BESAR</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/cerita-lesbi-seorang-rentenir.html" title="Cerita sex lesbi sma">Cerita sex lesbi sma</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/cerita-lesbi-seorang-rentenir.html" title="cerita sex lesbi lulur">cerita sex lesbi lulur</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/cerita-lesbi-seorang-rentenir.html" title="Cerita sex lasby">Cerita sex lasby</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/cerita-lesbi-seorang-rentenir.html" title="Cerita sma lesbi">Cerita sma lesbi</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/cerita-lesbi-seorang-rentenir.html" title="cerita sma lesbian">cerita sma lesbian</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/cerita-lesbi-seorang-rentenir.html" title="lesbi cerita sma">lesbi cerita sma</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/cerita-lesbi-seorang-rentenir.html" title="kumpulaqn cerita lesbian anak sms">kumpulaqn cerita lesbian anak sms</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/cerita-lesbi-seorang-rentenir.html" title="kumpulan cewek lasby">kumpulan cewek lasby</a>, <a href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/cerita-lesbi-seorang-rentenir.html" title="kumpulan cerita lesbian sex">kumpulan cerita lesbian sex</a>*<!-- SEO SearchTerms Tagging 2 Plugin -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/cerita-lesbi-seorang-rentenir.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Minified using disk
Page Caching using disk (enhanced)
Database Caching 13/61 queries in 0.089 seconds using disk
Object Caching 2817/2953 objects using disk

Served from: ceritadewasa.modelperawan.info @ 2012-02-05 19:12:43 -->
