<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita Seks Dewasa</title>
	<atom:link href="http://ceritadewasa.modelperawan.info/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ceritadewasa.modelperawan.info</link>
	<description>Kumpulan cerita seks, cerita porno dan cerita dewasa</description>
	<lastBuildDate>Sun, 27 Jun 2010 08:44:58 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Seks dengan Mbok Rasmiani</title>
		<link>http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/seks-dengan-mbok-rasmiani.html</link>
		<comments>http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/seks-dengan-mbok-rasmiani.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Jun 2010 08:44:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[STW]]></category>
		<category><![CDATA[cerita pembantu]]></category>
		<category><![CDATA[cerita seks pembantu]]></category>
		<category><![CDATA[ngesks dengan mbok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritadewasa.modelperawan.info/?p=97</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin cerita seks pembantu sudah jadi cerita umum, tapi cerita ini berbeda, karena pembantunya adalah seorang mbok-mbok. seorang pria berumur 36 tahun beristri seorang arsitek Kehidupan keluarga kami tidak ada permasalahan sama sekali kami hidup sangat harmonis dengan empat orang anak dua putra dan dua putri . Sekitar bulan Oktober 2001 karena merasa sudah cukup [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mungkin cerita seks pembantu sudah jadi cerita umum, tapi cerita ini berbeda, karena pembantunya adalah seorang mbok-mbok. seorang pria berumur 36 tahun beristri seorang arsitek Kehidupan keluarga kami tidak ada permasalahan sama sekali kami hidup sangat harmonis dengan empat orang anak dua putra dan dua putri . Sekitar bulan Oktober 2001 karena merasa sudah cukup berhasil dalam bisnis aku mulai lengah ingin bermain main sejenak melepas ketegangan hidup ku dengan mulai routine minum alcohol bier setiap hari bahkan mulai memberanikan diri mendatangi panti panti pijat walau alasannya hanya ingin sekedar meremas remas payudara mengeluti tubuh pemijat tanpa ada niatan menyetubuhinya sama sekali sampai kadang kalau tidak tahan di onani dengan tangan atau dihisap oelh sipemijat dan kebiasaan itu terus berlanjut berulang ulang berpuluh kali artinya aku telah mulai menyimpan ketegangan tersembunyi sampai ……………………………………<br />
Suatu ketika punggungku merasa nyeri sehingga membutuhkan dipijat kala dirumah saat itu yang ada hanya pembantuku mbok rasmiani dari jember seorang janda satu anak berumur sekitar 30 tahun yang sangat montok tetek gede pantat gede bodan moleg rambut panjang yang sudah bekerja denganku sejak tahun 1994 jadi hampir 9 tahun. Baru kusadarai bahwa ada sesuatu yang harus kunikmati kugarap dirumah takala istriku tidak dirumah .</p>
<p>Mulai saat Kala itu setiap ada kesempatan kosong langsung aku menyergapnya yang dimulai dari sofa dilantai atas pada awalnya aku hanya berhasil meremas teteknya dari luar dan mendapat perlawanan yang sangat sengit. Tapi usahaku berlanjut sampai tanganku berhasil menyelinap masuk kedalam kausnya berhasil menyentuh payudaranya didalam cukup sampai disitu dengan perlawan keras tidak bia mencapai bagian bawahnya. Perjuangan dilanjutnya selalu ada kemajuan sampai kugapai putting susunya disana langsung perlawanannya melemas walau hanya boleh sampai disitu meremas remas dari dalam. Perjuangan dilanjutkan sampai aku berhasil dan diijinkan membuka mengeluar payudaranya dari baju kaosnya dan diijinkan menjilat jilat menghisap putting susunya nya sepuasnya , sampai cukup lama aku menikmati progress ini tanpa berhasil mengutak atik bagian bawahnya .</p>
<p>Disuatu hari diakhir bulan November 2001 seperti biasa hal routine Mbok Rasmi masuk kekamarku membawa baju untuk dirapikan didalam lemari pakaian ku, aku mempunyai akal taktik jitu untuk bisa mulai mengutak atik vaginanya , pada hari itu aku tidak mulai dari atas atau dari payudara tapi langsung berlutut menciumi pantatnya dan meremas remas pantatnya dari bawah dan belakang ternyata strategi serangan bawah ini cukup jitu, dia lengah tanapa disadari tanganku merayap dari bawah mulai betis naik kepaha dan berhasil menyelusup masuk kecelana dalamnya tanpa bisa dihalangi karena tangannya tidak cukup jauh bias menghalangi merintangi tanganku yang bergerak dari bawah dan itulah hari pertama aku berhasil menggosok gosok vaginanya dan disana pulalah awal dari keterangsanga Mbok Rasmi yang tidak dapat terbendung baginya semuanya sudah diserahkan kecuali bersetubuh .</p>
<p>Sampai diawal januari 2002 saat akau pulang kantor kudapati dia sedang bersih di kamar makan karena ruma kosong kutarik dia kekamar kulucuti celana dalamnya selagi berdiri langsung kujilati vaginannya sampai dia menjerit jerit keeenakan setelah itu keadaan berubah lebih fatal dan tidak kusangka sampai aku terkejut sekali ………………………………<br />
Diawal Februari 2002 kembali saat aku pulang dari kantor dan rumah kosong cuman ada dia di ruang makan ketika aku duduk tiba tangan ku ditarik dan diajak kelantai atas selanjutnya dia masuk kekamarnya langsung membuka celana dalamnya dan keluar langsung berbaring sambil mengangkangkan pahanya dan langsung berkata “ cepat masukin “ dan aku menjawab “benar nich” dan dia menjawab “ ya cepat aku sudah biasa kok” aku malah jadi panic dan lemas namun aku ingat persiapan yang pernah kupersiapkan , aku turun kelantai bawah dan mengambil kondom memasangkannya ke penisku dan naik kelantai atas. Terlihat kekecewaan yang sangat mendalam di wajah mbok rasmi “ loh kok pake begituan” aku diam saja dan menyodorkan penisku untuk dimasukan kedalam vaginanya namun yang terjadi penisku lemas malah terjadi ejakulasi dini tanpa sempat penetrasi dan aku pergi meninggalkannya begitu saja .</p>
<p>Sejak saat itu terjadi perubahan sikap pada mbok rasmi dia sengaja berpakai seksi didepanku bahkan pernah suatu pagi saat dia membersihkan kolam ikan dengan sengaja celana jeans yang dipakainya sengaja dibuka kancingnya sehingga setiap dia menunduk membungkuk celananya jeansnya lolos turun merosot kebawah maka terlihatlah seluruh pantatnya dengan celana dalam merahnya yang sengaja dipamerkan diumbar didepanku karena aku bisa melihatnya dari tangga atas hal tersebut terjadi berulang ulang , yang ternyata hal itu malah membuat ku panic.<br />
Dan diakhir Februari 2002 terjadilah mala petaka itu disuatu sore ketika rumah kosong namun ada putraku no 2 yang sedang pergi bermain kerumah tetangganya, kukira ini kesempatan emas maka seperti biasa kusergap dia dari belakang dan kukeluarkan payudaranya dari kaosnya maunya kujilati namun tepat saat itu anak ku nomor 2 datang dan melihat semua kejadian itu. Aku panic bingung depresi memikirkan kemungkinan pengaduannya pada ibunya yang masih belum pulang kerja malam itu. Langsung saja dia kuajak keluar makan mie kesukaannya dan menyewa film video kesukaaannya sepuasnya maksudku agar dia melupakan apa yang dia lihat .</p>
<p>Namun kecemasanku sudah tidak bisa dihindari mengarah pada depresi sementara libidoku makin memuncak sampai terasa saraf internalku terkena aku kehilangan orientasi bingung mual panic stress cemas ketakutan tegang sekali , sampai suatu hari aku tidak bisa berfikir lagi penisku seperti mau meledak ngilu sampai rumah kupangggil mbok rasmi kusuruh kocok penisku sampai ejakulasi sambil kukocok vaginanya, permasalahan berlanjut mungkin sudah diatur nasib malamnya terjadilah keanehan suatu hal yang tidak pernah terjadi istriku menarik ku ketempat tidur mengajak ku berhubungan badan hal yang belum pernah terjadi bahkan dia merangsang ku sampai menghisap dan penisku sama sekali tidak bisa bangun , …….. aku impotent lengkaplah kepanikan ku.</p>
<p>Sejak saat itu aku mengalami depresi berat takut ketahuan pengaduan dari anakku no 2 impotent libido , sementara mebok rasmi semamakin atraktif berpakaian benar benar mencemaskanku . puncaknya aku merasa mual yang tidak terkira sampai akhirnya ………………………………………. Aku mengambil keputusan nekat aku mengaku ……………. Didepan istriku dengan harapan dapat melonggarkan depresiku malah terjadi luar biasa parah ,<br />
Istriku sangat terkejut menangis marah dan langsung minta cerai dia meninggalkanku ke Jakarta tidak tahu kapan kembali, disinilah perjuangan ku untuk mengembalikan keharmonisan keluargaku menyembuhkan depresiku waktunya cukup lama sampai Januari 2004 sekitar 2 tahun lamanya aku berobat ke dokter jiwa setiap bulan selama 2 tahun habis biaya cukup banyak juga berobat keparanormal pendeta dan Tuhan Maha Pengampun istriku telah kembali kepelukanku dan mengampuni yang sudah lewat .</p>
<p>Namun ada sesuatu yang kusesali sebetulnya kalau aku bisa lebih rapi dan bersabar hal diatas tidak perlu terjadi aku bisa mengakhirinya dengan happy ending every body happy istriku tidak perlu tahu hubunganku dengan mbok rasmi berlanjut tapi tidak perlu terlalu intens. Maka kumulai lagi usaha ku kali ini menjadi jauh lebih sulit karena mbok rasmi sudah sangat takut dengan ancaman ultimatum istriku terjadilah perlawanan yang sangat dasyat berbulan bulan kegagalan yang kudapati sekedar menyentuh mencolek saja dia langsung bereaksi sampai aku hamper putus asa .<br />
Sampai dipertengahan Januari 2003 sekitar pk 10 00 pagi kudengar salah seorang pembantuku yang lain keluar membeli makanan dan pembantuku yang lain cuti jadi berarti tinggal kami berdua suatu kesempatan yang sangat langka , langsung kucari dia ternyata da didapur dari belekang langsung kusergap dengan sasaran menelanjangi dadanya dan mengulum putingnya ada perlawanan namun kuselesaikan dengan alasan tidak ada siapa siapa apa yang kau takutkan , terjadilah episode lama berulang lagi aku menikmati dadanya sambil kusodorkon penisku dia tidak menolak gayung bersambut kami saling meremas sampai pembantuku yang lain datang dari membeli makanan. Aku menang aku berhasil perjuanganku tidak sia sia selanjutnya hanya bagaimana bisa menyentuh vaginanya .</p>
<p>Sampai disuatu sore istriku sedang kerja dirumah lengkap, aku panggil dia kusuruh dia kekebun dengan alasan membuka gerbang , kutanya mana simarni pembantu lainnya dijawab sedang mandi artinya aman, langsung kutarik dia lemas menurut saja kebelakang pagar sudah tidak ada perlawaan teteknya diserahkan bebas sebebasnya padaku namun pinggang kebawah masih dijaga. Aku tenang kujilati kuhisap kuremas habis habisan payudaranya samapi kelihatan dia sudah sanhat terangsang tanganku merayap kebawah kubuka kancing jeans dan tanganku langsung menyelinap memasuku celana dalamnya menggapai vagina dengan bulu lebatnya malah dia meregangkan kaki mengangkang membiarkan agar tangan ku semamkin leluasa bermain dalam vaginannya artinya Mission Complete Happy Ending . Kusudahi sampai disana sudah Cukup Enough sampai hari ini sudah minggu ke 5 atau 35 hari aku sama sekali tidak menyentuh dia sehingga terjadilah Cooling Down. Yang penting nanti kapan saja aku membutuhkannya rumah kosong tidak ada seorang anakku dirumah aku punya stok Payudara Besar Montohk Kencang.</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/seks-dengan-mbok-rasmiani.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita Lesbi Seorang Rentenir</title>
		<link>http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/cerita-lesbi-seorang-rentenir.html</link>
		<comments>http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/cerita-lesbi-seorang-rentenir.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Jun 2010 08:18:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[cerita lesbian]]></category>
		<category><![CDATA[cewek lesbi]]></category>
		<category><![CDATA[lesbian]]></category>
		<category><![CDATA[sesama jenis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritadewasa.modelperawan.info/?p=95</guid>
		<description><![CDATA[Cerita dewasa ini adalah cerita pengalaman , atau kisah lama seorang perempuan yang suka hubungan sesama jenis, dan berikut ceritanya. Pengalamanku ini terjadi pada tahun 1996 akhir, ketika aku sedang memulai usahaku di kota S. Aku baru saja menyelesaikan urusan pinjaman modalku pada sebuah bank swasta di kota ini. Pada masa itu belum ada tanda-tanda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Cerita dewasa</strong> ini adalah cerita pengalaman , atau kisah lama seorang perempuan yang suka hubungan sesama jenis, dan berikut ceritanya. Pengalamanku ini terjadi pada tahun 1996 akhir, ketika aku sedang memulai usahaku di kota S. Aku baru saja menyelesaikan urusan pinjaman modalku pada sebuah bank swasta di kota ini. Pada masa itu belum ada tanda-tanda yang mengisyaratkan munculnya bencana ekonomi seperti belakangan ini, sehingga semua urusan banking terasa smooth saja.</p>
<p>Banker yang mengurusi pinjamanku ialah seorang mantan kawan SMA-ku dulu. Sebut saja namanya Nana. Ia baru beberapa bulan bekerja di bank tersebut setelah menyelesaikan studinya di Amerika. Semasa SMA, Nana ialah seorang yang menurutku termasuk golongan nerd. Berkaca mata, duduk di barisan depan, rajin bertanya, dan catatannya selalu laris difotokopi ketika menjelang musim ujian. Sedangkan aku sendiri termasuk golongan urakan, yang selalu mendapat nilai pas-pasan, kecuali untuk pelajaran olah raga. Harus kuakui, Nana tidak banyak berubah. Ia tetap saja nampak kuper dibalik kaca mata minus 3 itu. Untung saja pakaian kerja yang dikenakannya membuatnya nampak lebih &#8216;terbuka&#8217;. Aku ingat, ketika itu ia mengenakan blazer warna biru pastel, dan kemeja kuning muda. Ia juga mengenakan rok mini berwarna biru tua, dan sepatu berhak tinggi, sehingga tingginya yang hanya sekitar 165-an itu terlihat hampir menyamai tinggi badanku.</p>
<p>Setelah usai menandatangani tumpukan kontrak dan perjanjian, aku memutuskan untuk mengajaknya makan siang, bukan lagi sebagai kreditor, tapi sebagai seorang kawan lama. Nana setuju saja, mengingat bahwa pinjamanku waktu itu membuatnya memenuhi target bulanannya.</p>
<p>Kami meluncur menuju sebuah hotel yang cukup terkenal di kota S, karena satu gedung dengan pusat perbelanjaan TP3. Kami menghabiskan waktu cukup lama untuk memesan menu ala carte, karena harga menu buffet tentunya tidak terlalu ekonomis. Selama makan, Nana tampak diam saja, seperti biasanya. Aku mencoba mengamati wajahnya yang manis itu. Kulihat alisnya yang tipis, hidungnya yang mancung, bibirnya yang tipis, dan lehernya. Leher yang sangat indah, jenjang dan halus. Ketika aku melihat agak ke bawah lagi, kulihat kancing kemejanya yang paling atas tidak dikancingkan sehingga aku dapat berimajinasi bagaimana bentuk bagian tubuhnya yang berada di balik kemeja itu. Selagi asyik-asyiknya menikmati keindahan itu, rupanya Nana mengamatiku dari tadi.<br />
Ia menyunggingkan senyum, mengambil serbet, mengelap bibirnya, dan berkata, &#8220;Jen, kamu masih seperti yang aku dengar dulu?&#8221;.<br />
&#8220;Hmm.., Tergantung apa yang kamu pernah dengar dulu&#8221;, Jawabku agak kikuk.<br />
&#8220;Pacaran dengan sesama jenis&#8221;, Jawabnya lugas. Membuat mataku sedikit terbelalak kaget dan menatap matanya yang bundar lucu itu.<br />
&#8220;Yah.., Kalau gosip yang kamu dengar cukup lengkap, seharusnya kamu nggak perlu nanya &#8216;kan?&#8221;, Jawabku mencoba diplomatis.<br />
&#8220;Cukup lengkap untuk bisa blackmail kamu&#8221;, Katanya.<br />
&#8220;Haha, just kidding!&#8221;, ujarnya lagi agar aku tidak tersinggung. Aku hanya tersenyum saja dan pura-pura berkonsentrasi pada makan siangku.<br />
&#8220;Bersyukurlah kamu bisa hidup normal&#8221;, Kataku mencoba bergaya bijak.<br />
&#8220;Hihihi.., Udahlah Jen, kreditnya udah di-approved &#8216;kan?&#8221;, katanya lagi&#8221;, Nggak ada yang perlu ditakutin.., kecuali kalau bayarnya nunggak!&#8221;, Candanya.</p>
<p>Kami terdiam untuk beberapa saat, tapi kemudian aku merasakan sesuatu di betisku. Meja makan kami tergolong kecil, hingga posisi duduk kami cukup dekat, dan kaki kami bisa bersentuhan. Namun kali ini sentuhan itu seperti bukannya tak sengaja. Aku merasakan sentuhan jari kakinya mengusap betisku pelan-pelan, merambat naik ke lututku, bergerak menyusup masuk ke rok miniku, dan bergerak mengusap-usap paha kiriku bagian dalam.</p>
<p>Aku menatap matanya dalam-dalam sambil tidak tahu apa yang harus aku lakukan, tapi dia balik memandang wajahku, tersenyum, dilepaskannya gagang sendoknya, lalu tangannya menyentuh lehernya sendiri dengan ujung jari tengah. Seperti orang tolol, pandanganku mengikuti kemana larinya jari-jari lentik itu. Jemarinya bergerak pelan-pelan ke bawah, menyusuri lehernya, turun terus, lalu berhenti ketika tersangkut di kancing kemeja kuningnya. Pada saat itu juga jari kakinya yang sejak tadi diam di antara kedua pahaku disodokannya ke depan, menyenggol kewanitaanku, memang tidak tepat pada bibirnya, namun cukup memberiku sengatan birahi yang mendadak.<br />
&#8220;Hkk..&#8221;, Aku merintih tertahan, memejamkan mataku untuk mengontrol perasaanku. Ketika mataku terbuka, nampak Nana tersenyum padaku, menunjukkan sebaris gigi yang bersih dan indah. Senyuman itu membuatku makin kikuk. Meskipun masa laluku kulewatkan dengan &#8216;bebas&#8217;, namun penampilan Nana yang anggun membuatku tidak mikir macam-macam padanya.., tapi setelah apa yang dilakukannya ini.., aku tidak tahu lagi. Akhirnya, setelah membisu cukup lama, aku melambaikan tangan pada waiter, dan membayar makan siang.<br />
&#8220;Jenn&#8221;, Katanya sambil meletakkan tangannya di bahuku. &#8220;Aku punya membership di hotel ini, dan aku rasa aku perlu istirahat sedikit. Kamu mau menemaniku kan?&#8221;, Tanyanya dengan kalimat yang lugu namun sudah dapat ditebak artinya. Mengingat hubungan bisnisku dengan banknya, aku memutuskan untuk menurut.<br />
Sebagai wanita, agak sulit bagiku untuk bercumbu rayu begitu saja dengan orang yang cukup asing. Hal itulah yang membuatku bengong saja meskipun kini aku sudah duduk di sofa dalam kamar executive hotel, sementara Nana berdiri di hadapanku dan melepas blazernya dengan gaya yang dibuat-buat agar merangsang. Melihatku tidak berespon, Nana melanjutkan permainannya, ia melepaskan satu persatu kancing kemejanya, lalu menyingkapkan kemejanya sehingga bahu kanannya yang halus dan putih bersih itu terlihat olehku.</p>
<p>Tali bra berwarna putih berenda tampak menghiasi bahu yang indah itu. Aku cukup mengagumi keindahan tubuhnya, namun aku masih segan untuk bereaksi, aku malu karena Nana pernah menjadi orang yang cukup aku hormati. Dilemparkannya kemejanya ke atas ranjang, menyusul bra dan celana dalamnya. Aku hanya diam menatap tubuhnya yang kini hanya terbalut rok mini biru tua itu. Payudaranya nampak indah sekali bentuknya, bulat, tidak terlalu besar namun kencang, putih bersih, dan putingnya kecil sekali berwarna coklat muda. Ia melangkahkan kakinya mendekati tempatku duduk.<br />
&#8220;Jenn&#8221;, bisiknya, &#8220;Aku mendengar semua gosip tentang kamu. Tentang anak-anak basket yang lesbi, dan tentang apa yang kamu lakukan dengan guru geografi di perpustakaan waktu itu. In fact, hampir semua orang membicarakannya, namun nggak ada yang berani terang-terangan menuduh&#8221;, Sambungnya lagi.</p>
<p>Aku tetap diam, menundukkan kepalaku dengan rasa tidak enak.<br />
&#8220;Aku iri dengan Reni dan Evelin yang bisa setiap saat mandi bersama kamu, tidur bareng di rumah kost, melihat kamu dengan kaos basah di ruang ganti..&#8221;, bisiknya lagi, seolah menelanjangi masa laluku yang hendak aku lupakan. Aku tetap tertunduk ketika tiba-tiba Nana meraih kepalaku dan mendongakkannya. Karena posisiku duduk dan dia berdiri, maka mataku langsung berhadapan dengan sepasang payudaranya yang indah itu, dengan puting-puting yang masih flat, menunggu untuk dibangunkan. Aku tetap terdiam, meski jari-jari Nana menyusupi rambutku yang lurus dan pendek, mengusap pipi dan rahangku, mengelus tengkukku lalu aku mendengar suaranya lagi.<br />
&#8220;Jenn, please..&#8221;, Katanya, aku melirik ke atas, menatap matanya. Kaca matanya tak mampu menyembunyikan sorot memelas dari kedua mata bulatnya.</p>
<p>Tanganku memeluk pinggulnya menariknya mendekat. Aku segera mendaratkan bibirku tepat pada puting susu kanannya, menghisap, melingkarinya dengan lidahku, terus-menerus. Aku merasakan cengkeramannya pada kepalaku menguat, aku mendengar desahan nafasnya kian tak teratur, Aku melirik ke wajahnya, aku melihat alisnya menyatu, matanya terpejam, mulutnya ternganga mengeluarkan desahan nafas tak beraturan. Aku ikut kehilangan kontrol, wajahnya begitu membangkitkan hasratku, aku segera memindahkan mulutku ke puting susu kirinya, meremas payudaranya sambil mengulum putingnya, ekspresi wajahnya menunjukkan perasaan kegelian yang amat sangat, tubuhnya menggeliat-geliat kecil, kakinya tampak goyah, tak lama kemudian ia jadi lunglai seperti selembar handuk, rebah di atas karpet tebal kamar itu. Cukup lama aku memainkan kedua payudaranya dengan mulut dan tanganku sementara tangannya sendiri telah masuk ke balik rok mininya.</p>
<p>Tiba-tiba ia mendorongku hingga kini aku berada di bawah tubuhnya. Wajahnya nampak begitu dekat dengan wajahku, ia mendaratkan ciumannya di bibirku, menghisapnya kuat-kuat, sambil tangannya membuka kancing-kancing blazer dan kemejaku. Aku tidak mengerti kenapa aku hanya diam, namun kini aku merasakan tangannya telah menerobos bra Marks &#038; Spencer-ku. Dilepaskannya bibirnya dari bibirku, ia menjilati dan menciumi seluruh rahang dan leherku, memberiku rasa hangat yang nikmat. Ditariknya braku ke atas hingga ia dapat melihat payudaraku. Ia tampak begitu bernafsu memandanginya diremas-remasnya kedua payudaraku dengan gemas sampai terasa agak sakit. Tiba-tiba mulutnya menyerbu puting susuku yang kiri, melumatnya, menghisap, dan menjilatinya. Rangsangan yang tiba-tiba membuatku terpejam dan meringis menahan rasa geli yang tiba-tiba menyerbu. Aku mendongakkan kepalaku ke atas, aku merasakan gerakan lidahnya semakin menjadi-jadi. Kedua puting susuku dijilati dan dihisapnya bergantian, rasanya geli sekali, tanganku mencoba mencengkeram pinggangnya, namun rasa geli pada puting-putingku terasa membuatku lemas dan aku merasakan sesuatu telah meleleh keluar dari kewanitaanku.</p>
<p>Ditariknya celana dalamku hingga lepas, disingkapkannya rok miniku ke atas, kakiku dikangkangkannya, lalu ia menempelkan kewanitaannya pada kewanitaanku, digosoknya naik turun, aku merasakan hangat dan nikmat yang tak tertahankan, aku merintih dan mengerang keras-keras tak peduli siapa yang akan mendengar. Aku terbaring telentang di atas karpet cokelat muda itu, aku melihatnya seperti menduduki selangkanganku, membuat kewanitaan kami saling bergesekan, tangannya berpegangan pada payudaraku, ibu jari dan telunjukknya memilin-milin keras puting susuku. Ia menggeliat-geliat sambil menaik-turunkan badannya, mendongakkan kepalanya ke atas, hingga aku dapat melihat keindahan rahangnya yang luar biasa.<br />
Aku sendiri menggeliat-geliat mencoba menahan gempuran rasa geli dan nikmat yang mengalir membanjiri tubuhku lewat payudara dan kewanitaanku.<br />
&#8220;Aduhh, Nanaa.., ohh..&#8221;, Aku seolah mendengar sendiri eranganku yang tak beraturan.<br />
&#8220;Uhh.., Jennii.., nikmat sekalii&#8221;, Ia merintih-rintih tak karuan, nafasnya makin memburu, gesekan kewanitaan kami semakin terasa hangat dan lembap, pelintiran dan remasannya membuat payudaraku serasa pegal meskipun kegelian. Aku terengah-engah kegelian, punggungku terangkat dari karpet, melengkung seperti busur panah. Kenikmatan yang kudapatkan serasa merajam tubuhku, putingku terasa pegal dan geli karena diplintir-plintir dari tadi, sementara kewanitaanku terasa berdenyut-denyut, rintihanku semakin tak karuan, birahiku kian memuncak. Hingga akhirnya aku merasakan desakan dari dalam tubuhku menuju kewanitaanku, tubuhku terasa kejang dan kaku, aku berusaha menahan meski sia-sia, kewanitaanku terasa tak mampu membendungnya, hingga akhirnya hentakan orgasme menghantam tubuhku. Aku menjerit keras-keras, mencengkeram pinggang Nana, di tengah serbuan kenikmatan itu, aku sempat melihat badan Nana juga mengejang, gerakannya berhenti, namun aku tak dapat mengingatknya lagi, karena aku langsung mencapai puncak. Cairan kami saling bercampur diantara kewanitaan kami, Nana roboh dan terbaring disampingku, sementara aku sendiri merasa kehilangan seperempat kesadaranku karena orgasme yang lumayan dahsyat itu.</p>
<p>Kami tergeletak berdampingan, dengan tubuh basah oleh keringat, kaki terasa pegal, dan nafas terengah-engah, serta mata terkatup rapat.<br />
Aku melirik tubuh Nana yang telanjang di sampingku, tengah memejamkan mata dan terkulai lemah. Aku sendiri tak kalah lelahnya, tubuhku masih dibalut business suit, namun sudah tersingkap di mana-mana, hingga payudaraku bisa merasakan dinginnya hawa AC ruangan, namun kenikmatan orgasme tadi segera mengantarku ke alam bawah sadar, semua gelap lagi.. Hanya kenikmatan dan kehangatan yang kurasakan mengalir dalam darahku.</p>
<p>SEKIAN, dapatkan cerita-cerita kami yang lain dengan berlangganan cerita terbaru, bookmark website kami untuk dapat cerita terbaru.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/cerita-lesbi-seorang-rentenir.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mbak suli Wanita Setengah baya</title>
		<link>http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/mbak-suli-wanita-setengah-baya.html</link>
		<comments>http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/mbak-suli-wanita-setengah-baya.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Jun 2010 00:59:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[STW]]></category>
		<category><![CDATA[sek dengan wanita dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[seks dengan mbak]]></category>
		<category><![CDATA[seks dengan pembantu]]></category>
		<category><![CDATA[setengah baya]]></category>
		<category><![CDATA[tante]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritadewasa.modelperawan.info/?p=93</guid>
		<description><![CDATA[Cerita dewasa. Siang itu aku agak cepat pulang kuliah, bukan karena malas ikut kuliah yang masih ada, tetapi karena kakiku sakit (mungkin terkilir) dan ada bagian yang membiru sedikit. lagi-lagi karena main sepak bola yang kurang hati-hati, dengan teman sekampus tadi pagi. Dengan naik motor, aku ingin secepatnya pulang dan memberi obat (minyak urut), terus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerita dewasa. Siang itu aku agak cepat pulang kuliah, bukan karena malas ikut kuliah yang masih ada, tetapi karena kakiku sakit (mungkin terkilir) dan ada bagian yang membiru sedikit. lagi-lagi karena main sepak bola yang kurang hati-hati, dengan teman sekampus tadi pagi. Dengan naik motor, aku ingin secepatnya pulang dan memberi obat (minyak urut), terus istirahat di rumah.</p>
<p>15 menit kemudian aku sudah tiba di rumah, dan agak sepi kalau jam segini, karena semua pada kerja dan kuliah atau sekolah. Hanya ada pembantu, yang usianya sekitar 35 tahun, biasa dipanggil Mbak Suli. Tapi jangan kaget lho.., badannya terawat dan masih kencang, walaupun kulitnya agak hitam (hitam manislah menurutku). Agak kaget juga aku, setelah dibukakan pintu, kulihat dia mengenakan baju kaos yang agak ketat dan rok putih yang selutut. Tetapi tonjolan di dadanya itu, membuat darahku berdesir cepat.<br />
“Kok pulangnya cepat, Mas..?” katanya menyapa.<br />
Aku memang dipanggil Mas olehnya, singkatan dari Dimas.<br />
“Iya Mbak, kakiku agak sakit, tadi jatuh waktu main sepak bola..” kataku membalas.<br />
Spontan matanya melirik ke kakiku dan berkata, “Coba Mbak lihat, dia pun menarik celana panjangku agak ke atas, “Sakit nggak..?” tambahnya sambil agak menekan bagian yang membiru dan mulai berjangkok.<br />
“Lumayan juga sih..” kataku ssdikit memelas sambil melirik bagian betisnya yang mulus.<br />
Setelah aku berganti pakaian menjadi celana pendek, dia membalur kakiku dengan minyak urut. Saat itu dia duduk di depanku dan kulihat pahanya karena roknya tersingkap. Karena posisiku yang yang duduk dan kaki agak ditekuk, dia tidak tahu bahwa kejantananku sudah mulai bangkit. Dia pun mengurut-ngurut dan memijit bagian kakiku yang sakit. Mataku juga tidak lepas dari dadanya yang menonjol sebesar mangga.<br />
Dengan perlahan, kuberanikan memegang pahanya di bagian yang tersingkap. Dia agak kaget dan berkata, “Mas, kamu mulai nakal, ya..?” ucapnya sambil melirikku.</p>
<p>“Nggak pa-pa kan..? Cuma dikit kok..!” balasku seadanya.<br />
Lama kelamaan tanganku mulai bergerak lebih ke atas dan sampai di pangkal pahanya.<br />
“Jangan nakal lho, ntar ada yang lihat..!” katanya mencoba memindahkan tanganku dari pahanya.<br />
“Nggak ada orang kok Mbak, cuma kita berdua kok..!” ucapku terus membujuknya.<br />
Dia masih mengurut kakiku dan kucoba untuk menampakkan celana dalamku lewat celah celana pendekku.<br />
Dengan keberanian yang menggebu, aku berkata, “Boleh kulihat yang di balik roknya Mbak..?” kataku menggoda lagi.<br />
“Jangan Mas, Mbak malu..” katanya sedikit ragu.<br />
“Ayo dong Mbak, sekali aja..!” ucapku sedikit membujuk.<br />
Mula-mula dia ragu, dan akhirnya dia berbicara, “Jangan bilang siapapun ya..?” katanya sambil mengedipkan mata.<br />
Kujawab, “Aku janji deh, ini menjadi rahasia kita aja..”<br />
Perlahan dilepaskannya roknya, dan wow.., terlihatlah pahanya yang mulus dengan celana dalam merah muda. Agak lama kupandangi, karena itu benar-benar pemandangan yang indah, dan kejantananku mulai membengkak di celanaku. Perlahan kupegang celana dalamnya, dan kudekatkan wajahku ke arah celana dalamnya. Wow.., baunya wangi sekali, mungkin dia baru mandi tadi.<br />
“Sudah cukup kan..?” katanya sambil menjauhkan wajahku dari pahanya dan mencoba memakai roknya lagi.<br />
Tetapi hal itu dengan cepat kucegah, “Ntar dulu Mbak, saya pingin lihat di balik celana itu, boleh ya..?” kataku membujuk.<br />
“Yee.., sudah dikasih hati malah minta jantung..!” ucapnya sedikit menyindirku.<br />
“Mbak tau nggak, jantungku debar-debar nih.., dan aku terangsang..” kataku mencoba menyatakan bahwa aku benar-benar terangsang.<br />
Sambil bercanda dia menjawab, “Masak gitu aja terangsang, Mbak nggak percaya, kamu pasti cuma iseng, mau mempermainkan Mbak, ya..?” katanya membalas ucapanku.<br />
“Kalau nggak percaya, coba lihat nih..!” kataku sambil menurunkan celana pendekku.<br />
Dia agak kaget karena celana dalamku seperti penuh dan menonjol besar di bagian penisku.<br />
“Bener juga, kamu nggak boong.., kamu terangsang ya..?” katanya melirikku nakal sambil tersemyum.<br />
Agak lama dia melihatnya, kemudian mengelus dan mengusap-usap, dan mendekatkan wajahnya ke dekat celana dalamku.<br />
“Sekarang kita sama-sama buka, gimana Mbak..?” kataku memberi tawaran gila (he-he-he).<br />
Mungkin karena sudah terangsang dan sangat ingin melihat penisku, akhirnya dia mengangguk. Perlahan dia menurunkan celanaku, dan tampaklah kejantananku berdiri tegak dan siaga.<br />
“Wow.., hmm.., punyamu lebih besar dari yang Mbak bayangkan, tapi Mbak suka yang besar seperti ini.” katanya sambil mengelus, menyentuh kepala penisku dengan jarinya dan kemudian mengocoknya.<br />
“Aahh.., ouch.., ouch..” aku mengerang nikmat, sementara dia terus mengocok sampai penisku terlihat memanjang maksimal.<br />
Mungkin dia sudah tidak tahan, dia mulai mengulum dan meghisap penisku.<br />
“Ouch.., ouch.., ah.. ah.., nikmat sekali..!” aku mendesis kenikmatan, sementara tanganku sudah membuka celana dalamnya.<br />
Dan wow.., benar-benar pemandangan yang indah, bulu-bulu halus di sekitar vaginanya yang kemerahan sangat merangsang birahiku. Jariku menyentuh dan menggesek bibir vaginanya.<br />
“Oh.., ahh.., ahh.., terus Mas, gesekin terus..! Ahh.., ahh..!” suaranya mendesah-desah.<br />
Kudekatkan wajahku ke vaginanya, menciuminya dan menjilatnya. Celahnya mulai agak basah, mungkin dia sudah terangsang hebat, sementara kemaluanku terus dikulumnya, bahkan sekarang lebih dahsyat sampai ke pangkalnya. Aku merasakan hangat mulutnya, dan kemaluanku seperti panas sekali dan mau mengeluarkan sesuatu. Tanpa dapat kutahan, spermaku muncrat di mulutnya untuk pertama kali.<br />
“Ohh.., ahh.., kamu udah keluar Mas.., ahh.., enakk.., gurih..!” katanya sambil menjilat sperma yang keluar dari mulutnya, sementara lidahku terus bergerilia di celah vaginanya, bahkan lidahku berusaha masuk lebih ke dalam dan terus menyeruak di seluruh dinding vaginanya.<br />
“Ouch.., ahh.., ahh.., lebih dalam, Mas..!” pintanya sambil mendesis-desis.<br />
Aku mendengar dia mendesis dan menyerocos tidak karuan, dan mulai mengocok kemaluanku lagi sehingga membesar kembali. Hanya dalam hitungan menit, punyaku sudah membesar lagi dan mencapai ukuran yang maksimal.<br />
“Sekarang saya masukin ke vagina Mbak aja, oke..?” kataku sudah tidak sabaran.<br />
“Ehe.., ya Mas, Mbak juga sudah nggak tahan nich..!” katanya sambil membuka kedua pahanya lebar-lebar, sehingga vaginanya tampak membelah dan merekah.</p>
<p>“Oouh.. ss.., darahku berdesir semakin cepat melihat vagina yang merekah seperti itu.<br />
Sambil memegang kemaluanku yang tegang, kuarahkan ke lubang tersebut. Sesaat kepala penisku kugesekkan ke bibir vaginanya, kemudian dengan sedikit ditekan, dan, “Bless..!” masuk seluruhnya ke dalam liang vaginanya.<br />
“Ouh.., och.., ahh.., terus Mas, lebih dalam..! Ahh.., ahh..!” desisnya mengikuti gerakan masuknya batang kejantananku.<br />
Aku pun semakin bersemangat menggenjotnya dan memaju-mundurkan kemaluanku di dalam vaginanya. Sementara tanganku tidak lepas memegangi puting payudaranya yang mengencang.<br />
“Terus, terus Mas, enak.., nikmatt.., ah.., ah..!” ucapannya sudah terdengar tidak karuan.<br />
Sekitar 10 menit dengan posisi tersebut, aku mengeluarkan kemaluanku yang masih menegang.<br />
“Mbak, sekarang kita rubah posisi ya..? Pasti lebih nikmat..!” kataku ingin mencoba gaya lain.<br />
“Posisinya gimana Mas..?” dia bertanya balik.<br />
“Mbak menungging saja, kakinya diangkat sebelah dan letakkan di meja, dan Mbak membelakangi saya..!” saranku memberi penjelasan, dia menurut saja.<br />
Aku tertawa dalam hati (soalnya ini seperti anjing pipis, he-he-he). Dia sudah mengambil posisi seperti itu dan aku dapat melihat celah vaginanya mengintip dari belakang. Dengan memegang kemaluanku yang tegang, kuarahkan ke celah itu. Dengan sedikit tekanan, kepala penisku masuk, dan masuknya terasa lebih sempit dari yang tadi. Sengaja tidak kumasukkan seluruhnya dan kutanya kepadanya, “Gimana..? Lebih enak kan..?” kataku.<br />
“Ehe.., ahh.., lebih enak dari yang tadi, ahh.., oh.., enak.., ahh..!” suaranya mendesah lagi.<br />
“Ini belum seluruhnya lo Mbak, baru sebagian..!” aku mencoba menggodanya lagi.<br />
“Masukin semua dong, Mas..! Biar terasa lebih enak lagi..!” pintanya.<br />
Dengan menekan lebih kuat, maka kemaluanku masuk seluruhnya. Dan oh.., betapa nikmatnya, serasa berada di awang-awang.<br />
“Ah.., oh.., aah.., nikmat sekali, tekan lebih kuat Mas.., lebih dalam, ahh, ahh..!”<br />
Sesekali dia menggoyang pinggulnya, dan ohh.., benar-benar luar biasa goyangan pinggulnya, punyaku seperti ditarik dan diurut-urut di dalam vaginanya.<br />
“Oh.., ah.., aku tak ingin berhenti capat-cepat, goyangin terus Mbak..!” kataku.<br />
Sekitar 10 menit aku memaju-mundurkan kemaluanku ke vaginanya, rasanya aku sudah berada di puncak dan mau memuntahkan lahar.<br />
“Mbak, aku sudah mau keluar nich..!” kataku.<br />
Dia membalas, “Aku juga mau keluar nich. Kita keluar sama-sama ya..?” pintanya.<br />
Dengan menggenjot lebih kuat agar cepat sampai ke puncak kenikmatan, maka kumulai menekan lagi lebih cepat. Dan akhirnya, “Ouc.., ah.., ah..” dengan erangan panjang, aku memuntahkan spermakau di vaginanya.<br />
Bersamaan dengan itu Mbak juga mengerang panjang, “Ouh.., ouc.., ah.., ah.., nikmat.. ah..”<br />
Sementara di vaginanya aku merasakan punyaku disemburi cairan vaginanya, terasa begitu hangat.<br />
Perlahan kutarik punyaku keluar, terlihat sudah mulai mengecil. Kami tergolek di tempat tidur dan saling berpandangan.<br />
“Mbak.., nggak menyesal kan..?” tanyaku.<br />
“Ah.. nggak, kamu bandel dan bisa memuaskan Mbak.” dia membalasku.<br />
“Tapi saya khawatir Mbak, soalnya tadi keluar di dalam.” tanyaku sedikit khawatir.<br />
“Nggak pa-pa, Mbak tidak dalam masa subur kok, Mbak tidak akan hamil..!” jelasnya.<br />
Wajahku sedikit lega setelah mendengar perkataanya.<br />
Dengan sedikit menggoda aku berkata, “Aku suka melihat wanita menggunakan celana dalam putih atau merah muda (karena dia memang banyak punya celana dalam putih dan merah muda).”<br />
“Idih..! Kamu suka mengintip Mbak ya..?” dia bertanya balik.<br />
“Kadanga-kadang aja, pas Mbak lagi tidur atau mandi..” kataku menggoda nakal.<br />
“Kamu nakal sekali..!” katanya sambil mencoba mencubitku.<br />
“Tapi Mbak suka kan..?” godaku lagi.<br />
Dia hanya tersenyum tersipu-sipu.</p>
<p>Setelah kejadian itu, aku merasa ketagihan dengan Mbak Suli. Aku tidak tahu apakah dia ketagihan juga. Sering kali di waktu malam aku menyelinap ke kamarnya yang sengaja tidakdikuncinya, lalu kami pun bergumul di situ sampai kelelahan dan aku pun sering tertidur di situ. Tapi sebelum subuh aku sudah balik ke kamarku, maksudnya biar tidak ketahuan. Lihat juga cerita seks dewasa kami yang lain di link <a href="http://cerita.modelperawan.com">cerita dewasa</a> ini, selamat menikmati.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/mbak-suli-wanita-setengah-baya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seks Dalam Mobil Travel</title>
		<link>http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/seks-dalam-mobil-travel.html</link>
		<comments>http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/seks-dalam-mobil-travel.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Jun 2010 00:26:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[seks dalam bis]]></category>
		<category><![CDATA[seks dalam mobil]]></category>
		<category><![CDATA[seks singkat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritadewasa.modelperawan.info/?p=91</guid>
		<description><![CDATA[Cerita dewasa tak mengenal tempat, mungkin itulah yang pantas di gambarkan pada cerita seks berikut ini, dimana seorang pria yang dalam perjalanan menggunakan mobil travel beruntung karena bareng bersama seorang wanita dalam mobil tersebut dan terjadi hubungan seks diantara mereka, berikut cerita selengkapnya.
Inilah pengalaman saya yg pernah saya alami kira2 diawal bulan Januari , saat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerita dewasa tak mengenal tempat, mungkin itulah yang pantas di gambarkan pada <strong>cerita seks</strong> berikut ini, dimana seorang pria yang dalam perjalanan menggunakan mobil travel beruntung karena bareng bersama seorang wanita dalam mobil tersebut dan terjadi hubungan seks diantara mereka, berikut cerita selengkapnya.</p>
<p>Inilah pengalaman saya yg pernah saya alami kira2 diawal bulan Januari , saat saya pulang rapat dari Jakarta ke Smg naik mobil travel. Saat itu saya selesai rapat pk 17.00 dan sampai hotel satu jam kemudian, saya ingin langsung pulang sebab hari itu Sabtu malam minggu, tapi saat itu sudah tak ada pesawat lagi sebab terakhir adalah pk 17.00 Lalu aku coba2 cari travel yg lagi musim ditahun itu.</p>
<p>Kebetulan aku masih bisa mendapat tempat duduk yg tinggal satu yaitu diujung belakang yaitu no. 8. Kira2 jam 19.30 aku dijemput pertama sebab mobil masih kosong, kemudian jemputan kedua di Jl.Radio Dlm disebuah kantor seorang cewek kira umur 25 th kelihatan masih pakaian kantor yaitu baju model jas warna biru dgn kaos putih didlmnya dan rok bawahan warna biru juga. Cewek itu duduk dideretan bangku belakang no 7 jadi sebalah saya. Warna kulitnya agak coklat dan wajahnya biasa saja hanya yg menarik perhatian bibirnya yg agak tebal dan basah itu yg menggairahkan bagiku. Kemudian sopir menjemput lagi 2 orang rupanya pembantu rumah tangga duduk disebelah sopir, lalu 2 orang lagi yg seorang ibu2 agak tua dgn cucunya mungkin. Siibu duduk dideretan tengah sedang cucunya dibelakang sebelah cewek tadi, karena menurut sopir tempat duduk deretan tengah yg 2orang sdh dipesan utk suami istri dari Bekasi nanti.</p>
<p>Dlm perjalanan keluar Jkt menuju Bekasi sicewek menyapaku:&#8221;Mau kemana koh?&#8221;. &#8220;Oh, ke Smg dan adik mau kemana? jawabku. &#8220;Saya mau pulang ke Salatiga&#8221; sahutnya. &#8220;Adik asli Salatiga dan cuti pulang kampung ya&#8221; tanyaku. &#8220;Saya tidak cuti, tapi minta ijin sebab anak saya sakit dan masuk R.S di Salatiga&#8221; sahutnya. &#8220;Oya, sakit apa?&#8221; tanyaku. &#8220;Katanya ibu sebab anak saya ikut ibu saya sakitnya muntah dan berak jadi sampai diinfus segala&#8221;. &#8220;Suami adik nggak ikut?&#8221; tanyaku lagi. Dia menggelengkan kepala, lalu bercerita demikian : Dia aslinya asal desa Tutang dekat Salatiga. Namanya Sumiati tapi panggilan akrabnya Mia. Org tuanya petani. Ia hanya lulusan SMEA jurusan akutansi saat umur 20 th. Setelah kerja ditoko Salatiga 2 th lalu menikah dgn seorang pemuda yg usianya 1 th lebih muda juga kerja diperusahaan tekstil besar di Sltg. Baru 2 th menikah dan saat ia hamil 6 bulan, suaminya kena masalah keuangan diperusahaan dan harus urusan dgn polisi segala dan dipecat dari pabrik textilnya. Karena itu suaminya sangat malu utk tinggal didesanya sebab keluarganya kebanyakan orang2 yg taat beragama. Sebab itu suaminya tak mau lagi tinggal didesa dan pergi merantau ke Jkt dgn bekal uang hasil penjualan gelangnya Mia dan akan tinggal ditempat yg masih ada hubungan saudara di Tanjun Priok. Tapi sejak berangkat sampai saat ini suaminya tak pernah memberi kabar maupun kirim uang utk Mia yg tinggal didesa. Padahal saatnya melahirkan sudah tiba juga suami tak ada kabar, akhirnya segala perhiasan yg ia punya dijual utk biaya kelahiran putrinya dan membiayainya sampai putrinya berusia 6 bulan. Mia menceritakan dirinya itu dgn serius dan dgn nada yg penuh haru sampai air matanya kulihat mengalir dipipinya. Aku pun jadi ikut terharu. Air matanya diusap dgn tangannya, aku jadi ikut diliputi dgn penuh keharuan juga lalu tangannya yg basah dgn air mata itu aku pegang erat2.</p>
<p>Mia tak bereaksi dan membiarkannya. &#8220;Sekarang anak saya sakit lagi dan menurut ibu biaya utk menebus R.S sekitar 300.000 rph, pada hal tabungan saya pas tinggal 250.000,-. Saya mau pinjam kantor lagi sulit sebab bos nya juga lagi sakit dirumah sakit&#8221; ceritanya sambil terus air matanya jatuh ketanganku. Keharuanku membuat aku mengambil keputusan utk ikut memberi bantuan pd Mia, aku berbisik:&#8221;Dik MIa, memang berat rasanya buat Mia, saya saat ini masih ada uang tersisa sedikit dlm dompet mungkin dik Mia mau menrimanya&#8221; sambil aku membuka dompet dan aku menghitungnya ternyata masih ada 170.000 rph dgn menyisakan 20.000 rph uang yg 150.000 rph kuambil dan kuserahkan dlm genggaman tangannya Mia. &#8220;Koh, Mia pinjam ya , nanti Mia angsur tiap bulannya&#8221; katanya. &#8220;Mia mau angsur kemana, saya tinggal di Smg dan Mia di Jkt, jadi uang itu pakai saja utk meringankan Beban dik Mia&#8221;kataku.</p>
<p>&#8220;Terima kasih sekali koh, koko belum mengenal Mia tapi sudah begitu besar budinya menolong Mia&#8221; katanya sambil duduknya merapat kelenganku dan kepalanya disandarkan dibahuku. &#8220;Saya percaya kalau Mia ber-sungguh2 tidak berbohong, jadi saya ikut terharu juga&#8221; sahutku. &#8220;Koh bagaimana Mia harus membalasnya?. Apakah koko sering ke Jkt?&#8221;. &#8220;Saya jarang ke Jkt&#8221;sahutku. Lalu Mia menyimpan uang itu kedompetnya dan memberikan kartu nama kantornya padaku sambil pesan: &#8220;Koh, ini nomor telpon kantorku, kalau koko ke Jkt lagi sendirian nanti kalau malam Mia mau menemaninya. Mia kost dikampung belakang kantor jadi jalan saja, tapi koko tak perlu ke kost sebab kostnya jelek lagi tak ada nomor rumahnya serta kompleknya memang orang2 taat agama&#8221;.</p>
<p>Mendengar ucapan Mia itu hatiku merasa greng walaupun Mia tak cantik tapi bibirnya menggairahkan dan saya yakin pasti isapannya enak, selain itu tampaknya buah dadanya juga cukup besar yg menjadi kesukaan saya. Lengannya yg berhimpitan dgn lengan saya ku-pijit2 dr bawah ketiak sampai telapak tangannya, Mia diam saja malah wajahnya di-usap2kan kebahuku. Saat itu travel sampai di Bekasi dan menjemput 2 penumpang terakhir, ternyata kedua suami istri itubatal berangkat sebab istrinya mendadak sakit muntah2. Karena kedua kursi tengah kosong maka sicucu itu pindah duduk disebelah eyangnya.Walaupun tempat duduknya sudah kosong satu, tapi Mia tetap duduk merapat terus ketubuhku. Setelah mobil berjalan kembali dan Mia tetap merapat ketubuhku, tanganku kurangkulkan kelengannya dan kutarik tubuhnya makin erat ketubuhku dan Mia pun meresponsnya dgn merapatkan juga paha dan kakinya kepahaku dan kuberanikan utk mengusap wajahnya yg masih basah sedikit dari sisa air mata.</p>
<p>Mia diam saja dan merelakan aku melakukan itu semua. Tanganku kucoba utk membuktikan apakah benar2 buah dadanya besar atau tidak sebab Mia pakai baju rangkap, maka tanganku kupindahkan kesela bawah ketiaknya dan tanganku kurabakan kesamping buah dadanya. Mia tahu perbuatanku itu,lalu ia malah agak merebahkan tubuhnya kepangkuanku dgn maksud agar tanganku bisameraba buah dadanya sebelah kiri. Walapun masih pakai baju dan ada BH nya segala kucoba pegang2 ternyata memang buah dadanya cukup besar dan cukup merangsang nafsu sex ku. Karena Mia diam ganti tangan kananku yg bekerja kususupkan tangan kananku kedlm kaos dan bawah BH nya sehingga tanganku sekarang bisa meraba dan meng-usap2 buah dadanya yg masih cukup kencang itu dan putingnyanya juga terasa cukup besar. Karena buah dadanya yg ku-pegang2 itu rasanya makin hangat saja maka tanganku makin nakal, sekarang aku mulai remas2 per-lahan2 dan lama2 agak keras. Saat itu Mia lalu bangun dr rebahannya dan tanganku yg meremas dipegangnya lalu membisikiku: &#8220;Koh jangan keras2 kalau meremas buah dada Mia, sebab air susunya masih keluar banyak tadi Mia belum sempat memompanya keluar jadi nanti keluar semua kalau diremas&#8221;.</p>
<p>Mendengar air susunya masih keluar banyak, nafsuku langsung makin naik karena minum air susu cewek itu kesukaaan khusus bagiku. &#8220;Masak Mia banyak air susunya? tanyaku. &#8220;Betul sebab seharusnya anakku masih menyusu sebab sekarang kan baru berumur 1 th, saat saya tinggal umur 6 bl dan saya barubekerja 6 bulanini di Jkt. Jadi tiap kali penuh saya pompa utk dibuang&#8221; cerita Mia. &#8220;Waah Mia buang?&#8221; tanyaku. &#8220;Iya koh, kalau tidak ya sakit sekali buah dadanya&#8221; jelas Mia. &#8220;Pada hal ASI itu saya paling suka&#8221; kataku. &#8220;Yg bener koh, mas suka ASI?&#8221; tanya Mia. &#8220;Betul&#8221; sahutku dan Mia kemudian menjatuhkan kepalanya kebahuku lagi. Baru beberapa saat lalu travel berhenti di satu rumah makan utk makan malam. Setelah penumpang turun semua saya masuk kerumah makan dan Mia ikut dgn memegang tangan saya. Mia dan saya duduk disatu meja, tetpi Mia tak mau makan sebab sudah makan jadi kita berdua pesan kopisusu saja sambil ngobrol2.Lalu Mia bilang:&#8221;Kalau koko memang suka ASI, nanti kalau mobil sudah jalan koko bisa minumnya&#8221;. Aku pura2 nyahut:&#8221;Dalam mobil apa nggak susah Mia?&#8221;. &#8220;Yaaah nanti dicoba saja dan harus bisa, kan koko lihai dlm hal begituan &#8221; katanya sambil ketawa.</p>
<p>Lalu Mia pamit sebentar utk ketoilet sedang aku beli dodol dgn sisa uang dan masih dpt 4 dos, jadi 2 utk rumah dan 2 biar utk Mia. Karena Mia juga belum keluar dr toilet, maka aku tunggu dipintu. Tak lama Mia datang dgn membawa tas plastik hitam, aku sapa:&#8221;Beli oleh2 ya?&#8221;. &#8220;Nggak&#8221; sambil ketwa2 kecil. &#8220;Ini saya beli dodol dan 2 dos utk Mia, lalu itu bawa apa?&#8221; kataku. Mia merapatkan tubuhnya ketubuhku dan berbisik:&#8221; nanti dlm mobil Mia kasih tahu&#8221; sambil menggandeng aku utk masuk kemobil. Saat itu masih kosong penumpang baru kami bergua yg masuk, lalu Mia berkata:&#8221;Katanya koko suka ASI, ini Mia sudah lepas BH nya supaya nanti mudah utk meneteknya&#8221;. Aku jadi greng juga dgn kata2-nya Mia karena mobil masih kosong maka tanganku langsung merogoh kedalam baju kaosnya dari arah perut dan ternyata benar sekali tanganku langsung bisa memegang buah dadanya yg hangat rasanya. &#8220;Jangan diremas dulu koh nanti ASI nya muncrat keluar&#8221; kata Mia.&#8221;Juga CD Mia sudah tak lepas koh&#8221; sambil menarik tanganku yg sebelah dan disusupkan kedlm roknya dan langsung saja tanganku meraba rambut yg agak keriting tapi agak kaku dan kuteruskan ternyata kemaluannya benar2 sdh tanpa dilindungi CD. Karena buah dadanya masih kencang penuh dgn ASI, maka sementara tanganku berkarya dulu didaerah kemaluannya dgn menggelitik itilnya dan menusuk-nusukan kedua jariku kelubang kemaluannya apalagi kesempatan blm ada penumpang lain.</p>
<p>Hanya beberapa menit kupermainkan kemaluannya lubangnya sdh terasa mulai dibasahi oleh lendir, aku pikir Mia ini mestinya besar nafsunya. Pekerjaan tanganku terhenti saat semua penumpang mulai masuk mobil. Begitu mobil mulai melaju ke Cirebon dan semua penumpang bersiap utk tidur, maka akupun mengambil posisi tidur dgn kepala dipangkuannya Mia, sedang Mia membuka kancing jasnya seraya menaikkan kaos putihnya dan mengambil posisi tanganya berpegang pd sandaran kursi depannya dan tubuh serta kepalanya menunduk agar puting buah dadanya agak turun untuk dekat dgn mulutku. Dgn sedikit mengankat kepalaku putingnya kuisap dan buah dadanya mulai kuremas dan suuuur&#8230;suuuuur ASI nya mengucur keluar dan terus buah dadanya kuremas sampai ASI nya benar2 habis baru aku pindah kebuah dada sebelahnya yg kuremas-remas sampai benar2 habis ASI nya. Dgn ASI dari kedua buah dadanya Mia itu aku benar2 dibuat kenyang, rasa ASI nya manis dan bercampur asem2 sedikit, tapi benar-benat eeenack theeenann&#8230;&#8230;<br />
Setelah selesai menetek, Mia menutup buah dadanya dgn kaosnya lagi serta mengancingkan kemabli bajunya. Kemudian tanganku ganti operasi disela2 pahanya, itilnya ku-sentuh2 dan ku tekan2 terus dgn jaruku sambil lubang kemaluannya ku-tusuk juga dgn dua jariku. Rupanya Mia juga bernafsu tangannya langsung menggosok terus kemaluanku walaupun masih dlm celana, lama2 tangannya membuka retsluiting dan kancing celanaku dan tangan menyusup dlm celana terus kebalik celana dalamku dan merogoh kemaluan yg sudah mulai tegang utk ditongolkan keluar celana dan terus dikocok sampai tegang sekali. Mia berbisik pelan2:&#8221;Koh, Mia tak naik diatas kemaluanya, tapi koko diam saja jangan goyang2 ya?&#8221;. Lalu kepalaku dilepas dari pangkuannya lal dgn hati2 dan pelan2 spy penumpang lain tak mendengar Mia pindah tempat dan duduk diatas kemaluanku.</p>
<p>Karena lubangnya Mia sdh basah maka dgn mudah kemaluanku melesat masuk kedalamnya. Setelah masuk kulihat Mia diam dan tangannya mulai mengosok itilnya sendiri. Setelah beberapa saat kemaluanku mulai merasakan nyut..nyut dari didnding kemaluannya Mia. Lama2 denyutan itu mulai berirama dan berjalan dari mulai kepala kemaluanku turun kebawah lalu mulai balik dari bawah keatas dan denyutannya makin lama makin terasa keras dan cepat, sunguh2 luar biasa rasa nikmatnya. Aku belum pernah menemukan dan merasakan nyut nyut lubang kemaluan wanita yg semacam ini. Jadi kemaluanku seperti dikocok, kulit kemaluan seakan ditekan kepangkalnya kemudian ditarik lagi keatas tapi dgn denyutan kemaluannya. Benar2 luar biasa hingga maniku tak dpt kutahan terlalu lama yg akhirnya nyemprot kedlam lubang kemaluannya Mia. Walaupun sdh nyemprot kemaluaku masih dienyut terus oleh kemaluannya hingga rasanya geli sekali. Baru setelah beberapa saat denyutnya mulai mengendor dan dikeluarkannya batang kemaluanku dr lubang kelaminnya.Lalu kemaluanku dibersihkan dgn sapu tangannya setelah itu baru aku duduk tegak lagi danMia duduknya merapat ketubuhku sambi tanya pelan2:&#8221;Enak koh?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Terus terang baru sekali ini aku merasakan yg spt punya mu MIa&#8221; sahutku. Mia berkata:&#8221; Koh, kamu adalah laki2 ketiga yg pernah menjamah bagian2 terlarang dari tubuhku dan memasukkan kemaluannya kedlm kemaluanku serta menyemprotkan maninya, laki2 pertama adalah suamiku, yg kedua adalah bosku dan yg ketiga adalah koko&#8221;. Mia bercerita, saat masih masa percobaan dulu suatu saat ketika lembur dia diminta masuk kekamar bosnya dan bosnya minta dipijit punggungnya karena sakit sekali. Saat itu dia bingung tapi karena nanti tak lolos masa percobaan dia mau melakukannya. Saat dia mijit tangannya bos mulai berkeliaran meraba paha kiri kanan dan terus kedaerah terlarangnya, bahkan tangannya terus melorotkan CD nya. Saat itu bosnya langsung minta dilayani nafsu sexnya. Ketika dia bilang katanya bos sakit, maka si bos minta Mia yg diatas seperti yg tadi dilakukan pada saya. Semenjak bosnya merasakan itu selanjutnya hampir setiap minggu bosnya minta terus kenikmatan yg diberikan Mia itu dan Mia mengakui dgn memberikan pelayananya itu dia bisa mendapat hasil yg lebih sekitar 200.000 sebulanya. Dari situlah Mia bisa mencukupi biaya hidupnya dia dan anak serta ibunya didesa. Mia menambahkan memang dia termasuk wanita dgn nafsu sex yg besar, saat masih ada suaminya hampir tiap malam suaminya diminta utk menidurinya. Lalu saat suaminya pergi, dia mulai merasakan akan kebutuhannya iitu tapi keluarganya orang taat semua. Jadi dia coba membeli ketimun yg kecil2 lalu mulai dicobanya utk dimasukkan sedikit kelubang kemaluannya lalu itilnya di-gosok2 sendiri sambil membayangkan ditiduri oleh suaminya dan ternyata dinding kemaluannya bisa ber-denyut2 dan ketimun tersedot masuk kedalam kemudian ditariknya keluar lagi dan dienyut lagi hingga kesedot kedalam lagi dan begitu seterusnya sampai dia mencapai puncak nafsunya.</p>
<p>Sampai sekarangpun kalau nafsunya timbul dan bosnya lagi belum memanggilnya maka ia terpaksa melakukan yg demikian dan kadang2 menggunakan pisang masih mentah sebab kalau sudah masak gampang putus. Mia menceritakan semuanya dgn polos tanpa malu. Karena jam sdh pk 01.00 lebih maka Mia kusuruh tidur dgn kepala dipangkuanku dan aku sendiri juga tertidur akhirnya. Kira2 pk 03.30 aku terbangun saat mobil berhenti isi solar di Pekalongan saat itu spt biasanya pd jam2 tsb kemaluanku juga bangun. Karena ada beberapa penumpang yg turun ketoilet maka mobil istirahat sisitu agak lama dan Mia juga ketoilet juga. Saat penumpang sdh naik lagi dan Mia juga naik dia duduk dulu bersandar ditubuhku lalu berbisik:&#8221;Koh, anaknya bangun lagi nanti Mia isapnya yaa?&#8221; &#8220;Terserah Mia mau diapain yg penting maninya bisa keluar dan puas&#8221; sahutku pelan2. Setelah mobil jalan lagi dan penumpang mulai tertidur lagi maka Mia juga tidur lagi dgn kepalanya dipangkuanku dan langsung tangannya melepas hak celana dan retsluiting nya, kemudian tangannya dirogohkan kedlm celana utk menarik keluar kemaluanku yg sudah tegang itu. Langsung Mia mulai memasukkan kemaluanku kemulutnya dan menjilatai kepalanya serta yg kurasakan hebat ujung lidahnya bisa bergetar dilubang kemaluanku. Ini yg membuat kemaluanku tambah keras dan besar hingga membuat Mia senang2 dan gemas kadang2 diciumi kemaluanku dgn birahinya. Memang betul dugaanku kalau cewek punya type bibir tebal dan basah terus pasti isapannya enak sekali dan ahli secara alami.</p>
<p>Kira2 15 menit Mia mempermainkan kemaluanku dgn bibir, mulut dan lidahnya yg akhirnya membuat kemaluanku mencapai puncak kekerasan dan besarnya hingga terasa saluran mani mulai membuka dan sesaat lagi air maniku langsung menyembur keluar langsung masuk kedlm mulutnya Mia. Mia dgn handal langsung menyucup lubang kemaluanku hingga sisa2 mani yg ada disaluran terus tersedot keluar utk dinikmatinya. Setelah puas menikmati air maniku dan membersihkan kemaluanku dgn lidahnya Mia tertidur lagi dgn pipinya menindihi kemaluanku. Kira2 jam 5.30 mobil sdh mulai masuk Smg, maka Mia kubangunkan dan kubetulkan celanaku yg masih terbuka tadi. Sebelum sampai rumahku aku beri telepon ku kantor siapa tahu aku ada kesempatan lagi utk menikmati lagi nyut nyut dinding kemaluannya Mia yg luar biasa rasanya itu. Mia berjanji akan menelpon aku spy aku dpt kesempatan menikmatinya lagi disuasana yg lebih santai tak dlm goyangan mobil.Karena aku yg diantar duluan ,maka aku siap2 utk turun dulu sedang Mia akan turun diterminal utk terus ke Tuntang Salatiga. Bye Mia !. </p>
<p>Cerita cinta mungkin wajar terjadi dalam bis antar kota, tapi jika cerita seks terjadi dalam bis antar kota atau mobil travel memang agak langka.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritadewasa.modelperawan.info/umum/seks-dalam-mobil-travel.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gairah Liar Tante Girang</title>
		<link>http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/gairah-liar-tante-girang.html</link>
		<comments>http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/gairah-liar-tante-girang.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 May 2010 04:10:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[STW]]></category>
		<category><![CDATA[birahi tante]]></category>
		<category><![CDATA[gairah liar]]></category>
		<category><![CDATA[gairah seks]]></category>
		<category><![CDATA[gairah tante]]></category>
		<category><![CDATA[nafsu tante girang]]></category>
		<category><![CDATA[tante birahi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritadewasa.modelperawan.info/?p=89</guid>
		<description><![CDATA[Cerita dewasa yang lumayan lucu, di bilang lucu karena semakin lama dibaca semakin asik dan konyol nih cerita, gak percaya? langsung aja baca cerita lengkapnya yang penuh dengan sensasi seks dari hairah liar seorang tante. 
Jam beker dimeja kamarku berdering pada jam 09.00 pagi, memang aku mensetting pada jam itu, karena tadi sampai terdengar adzan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerita dewasa yang lumayan lucu, di bilang lucu karena semakin lama dibaca semakin asik dan konyol nih cerita, gak percaya? langsung aja baca cerita lengkapnya yang penuh dengan sensasi seks dari hairah liar seorang tante. </p>
<p>Jam beker dimeja kamarku berdering pada jam 09.00 pagi, memang aku mensetting pada jam itu, karena tadi sampai terdengar adzan subuh aku masih belum bisa memejamkan mata untuk tidur. Aku menggeliatkan tubuhku terdengar kerotokan pada pinggangku, dengan malas aku bangkit dari tempat tidur… ups.. aku lupa kalo aku tadi tidur dengan tubuh telanjang bulat… kulihat tubuhku dari pantulan cermin besar.. mmm… dalam usia hampir kepala 4, kulihat tubuhku masih bagus dilihat… buah dadaku yang berukuran bra 36 B masih cukup kenyal, pinggangku masih ramping tak berlemak, pinggul dan pantatku kata mas Seno, almarhum suamiku adalah bagian yang terindah dari tubuhku, sangat seksi dan serasi dengan sepasang kakiku yang panjang… wajahku…? kata mas Seno lagi, katanya wajahku lebih pantas dibilang seksi daripada cantik… entahlah penilaian lelaki memang susah dijabarkan oleh perempuan….Sssssshhh… ooohhh… gila, lagi-lagi gairah birahiku meletup dengan tiba-tiba… di depan cermin besar itu aku meremasi buah dada montokku sendiri yang kian mengencang… ammpuuuun… sudah 2 hari 2 malam ini aku sangat menderita karena birahi gila ini… entah berapa belas kali selama 2 hari 2 malam ini aku bermasturbasi…sampe tubuhku benar-benar loyo.</p>
<p>Bahkan pada hari pertama aku sempat melakukan masturbasi di belakang kemudi mobil di tengah keramaian jalan tol, saking ngga ketahan… Semalam, dengan diiringi adegan-adegan syur film bokep koleksi almarhum mas Seno… aku melampiaskan hasrat birahiku secara swalayan, mungkin lebih dari 10 kali sampai pagi menjelang…Maka betapa jengkelku, sekarang belum setengah jam mataku terbuka, gelegak birahi itu meletup lagi… kali ini aku melawan, aku masuk kamar mandi, kuguyur tubuhku dengan shower air dingin… agak menggigil juga tubuhku…. Aku memang wanita berlibido tinggi. Sejak ABG aku sudah kenal masturbasi… menjelang lulus SMU aku mengenal persetubuhan dan berlanjut menjadi doyan disetubuhi… Masa kuliahku adalah masa euphoria sex, karena aku kuliah di Bandung sementara orang tuaku di Jakarta… pada awal masa kuliahku, aku pantas dijuluki Pemburu Seks… beberapa kali aku diusir dari tempat kost yg berbeda, dengan sebab yg hampir sama… yang aku ingat, sore pulang kuliah diantar teman kuliahku, aku lupa namanya… pokoknya keturunan Arab… aku lupa bagaimana awal mulanya, aku bisa nyepong kemaluan Arab ganteng itu di dalam kamarku dalam keadaan pintu ngga terkunci dan Ipah pembantu ibu kost yg nyinyir itu nyelonong masuk kamarku utk menaruh pakaianku yg habis diseterikanya… aku tengah terkagum-kagum dengan volume batang kemaluan Arab ganteng yang lebih besar dari lenganku dan minta ampun panjangnya.</p>
<p>Malam itu juga aku disidang dan harus keluar dari rumah kost itu. Tapi buatku ga ada masalah karena malam itu si Arab ganteng memberikan tumpangan sementara di rumah kontrakannya… tentu saja gairah birahiku yang binal dimanjakan oleh Arab ganteng itu… sepanjang hari… bahkan sampai beberapa hari aku tinggal di rumah kontrakan si Arab ganteng yang berantakan… Kejadian yg lain pernah juga tengah malam, lagi seru-serunya ML sama cowok baruku… tiba-tiba pintu didobrak petugas ronda yg rupanya sudah lama memperhatikan kebiasaanku masukin cowok malam-malam… cowokku dengan tengilnya berhasil kabur… sementara aku lagi-lagi terpaksa harus cari kost baru lagi… Satu lagi yang ga bakal aku lupa, affairku dengan bapak kost, biar sudah tua tapi ganteng dan handsome.. dan yang membuatku bertekuk lutut… mmm… aksi ranjangnya boo’… selalu membuatku bangun kesiangan esoknya… sayang aku menikmati kencan ranjang dengan bapak kost baru tiga kali keburu ketangkap basah sama istrinya… abis siang bolong bapak itu ngajakin naik ranjang… apesnya lagi aku ga akan mampu menolak, kalo tetekku sudah kena diremasinya… baru mau dua kali aku mendapatkan orgasme… eeh…pintu di ketok-ketok dari luar dan terdengar suara ibu kost memanggil namaku… mendengar itu bapak kost yg sedang memainkan batang kemaluannya di liang sanggamaku, jadi gugup dan efeknya justru membuatnya orgasme, untung gak telat nyabut… pejunya berhamburan di atas perutku banyak sekali…. bisa ditebak endingnya… aku harus angkat kaki dari rumah kost saat itu juga…</p>
<p>Nasihat sahabat-sahabatku, banyak merubah perilaku seksualku yang liar… Dengan susah payah aku berhasil menekan hasrat birahiku yang memang luar biasa panas dan aku mengumbarnya… awalnya mana sanggup aku menahan seminggu tanpa aktivitas seksual… bakal uring-uringan dan kepala terasa pecah… Sampai akhirnya aku ketemu dengan mas Seno aktivis mapala kakak kelasku… ngga hanya sosoknya yang jantan… permainan ranjangnyapun luar biasa… permainannya yang agak kasar, mampu membuatku mengerang-erang histeris… Aku ga nyesel, harus married dengan mas Seno karena keburu hamil. Buktinya aku berhasil menyelesaikan kuliah, walaupun sambil mengasuh Astari buah cintaku dengan mas Seno. Status ekonomi kamipun tergolong bagus… Sampai akhirnya 5 tahun yg lalu, kecelakaan mobil di jalan tol merenggut mas Seno dari kami berdua… Selama 5 tahun menjanda, mungkin karena kesibukanku mengurus dan melanjutkan usaha mas Seno yang sedang menanjak pesat dan keberadaan Astari anak tunggalku sudah menginjak usia gadis remaja, aku hanya 2 kali terlibat affair dengan lelaki yg berbeda, itupun juga hanya having fun semata, penyegaran suasana disela-sela kesibukan bisnis… Kehidupan seksualku datar, tanpa gejolak… sesekali aktivitas masturbasi cukup memuaskanku…</p>
<p>Setelah tubuh terasa segar, kukenakan kimono dan keluar kamar…</p>
<p>” Heee… Ron kamu disini..? kok ga sekolah..?” Kudapati Ronie di belakang komputer Astari. Ronie adalah kakak kelas Astari yang hampir setahun ini akrab dengan anak gadisku itu. Anak muda yang sopan dan pandai cerminan produk dari keluarga yang cukup baik dan mapan.</p>
<p>” Iya tante, saya hari ini kebetulan banyak pelajaran kosong jadi bisa pulang lebih awal dan tadi Tari minta tolong saya nungguin tante yg lagi sakit.. kali aja butuh apa-apa” Sahut Ronie sopan, membuatku terharu… Lumayan ngobrol dengan Ronie, penderitaanku agak berkurang…</p>
<p>” Ron, kamu bisa mijit ga..? tolongin pijitin tante dong bentar… leher tante kaku…” pintaku ke Ronie tanpa canggung, karena memang kami sudah akrab sekali, bahkan buatku Ronie kaya anakku sendiri. Ronie duduk menghadap punggungku pijatan demi pijatan kurasakan… tanpa kusadari sentuhan tangan lelaki muda itu terasa nikmat selayaknya sentuhan lelaki yang tengah membangkitkan birahi perempuan… aku mulai mendesah resah… percikan api birahi dengan cepat membakarku tanpa ampun…. sementara tanpa kusadari kimonoku sudah semakin melorot, terdesak tangan Ronie yang kini memijit daerah pinggangku, atas permintaanku sendiri untuk memijit lebih turun…. uuuhh… dadaku terasa sesak.. akibat tete’ku yang semakin mengencang…. aku ingin ada yang meremasinya… Sssshhh.. ooohhh… gilaaa… ngga tahaann… kupegang kedua tangan Ronie, tangan kiriku memegang tangan kirinya dan tangan kananku memegang tangan kanannya kutarik kedepan melingkari tubuhku dan kutangkupkan di buah dadaku…</p>
<p>” Eehh… tante…?” bisik Ronie bingung dari belakang tubuhku</p>
<p>” Ron… tolong remasi tete’ tante…” desisku resah… merasakan sentuhan tangan lelaki pada buah dadaku yg tengah mengencang…. Benar-benar hilang sosok Ronie yg sehari-hari adalah pacar Astari anakku.. yang ada dibenakku saat itu Ronie adalah lelaki muda bertubuh tegap… Ooouuh… Ronie mulai meremasi kemontokan buah dadaku…</p>
<p>” Yaaaaahh.. hhh…hhh… enaaaak Ronn.. ulangi lagi sayaaang.. oooohhh….” tubuhku menggeliat resah… kugapai kepala Ronie dan kutarik ke arah tengkukku yang terbuka karena rambutku kusanggul keatas… Ronie tak menolak dan melakukan permintaanku untuk menciumi tengkukku..</p>
<p>” Ciumi leher tante… hhhmmm..sssshhh.. yaaahh.. kecupin sayaaang.. aaaaccchh… sssshhh..” bisikan dan desah mesraku menuntun Ronie melakukan apa yg kuminta…Aku makin gemas, tubuhku gemetaran hebat… baju kimonoku tinggal menutupi tubuh bawahku karena tali pinggangnya masih terikat. Kubalikkan tubuhku, sejenak kupandangi wajah ganteng Ronie yang matanya terbelalak liar menatap nanar tubuh bagian depanku dengan mimik ngga karuan. Kulingkarkan kedua lenganku di lehernya dan dengan penuh gairah kusosot bibir manisnya… anak muda ini gelagapan menghadapi liarnya bibirku yang mengulum bibirnya dan nakalnya lidahku yang menggeliat menerobos masuk rongga mulutnya… Tapi insting lelakinya segera mengantisipasi, segera dapat mengatasi seranganku.</p>
<p>Baju seragam Ronie dengan cepat kulolosi dan… ooohh… dada yg gempal dan bidang dari salah satu tim inti basket di sekolahnya ini membuat gairahku semakin binal… Kudorong tubuh Ronie untuk rebah disofa… nafas jantannya mulai tak beraturan.. Mmm… pejantan muda ini mulai mengerang-erang dan tubuhnya menggelepar, tatkala bibir dan lidahku menjelajahi permukaan kulit dadanya, bungkahan dada jantannya kuremas dengan gemas.. Aksi bibir dan lidahku terus melata sampai ke pusarnya… Sssshhh… celananya tampak menggembung besar.. entah ada apa dibaliknya..? jantungku berdegup semakin kencang melihatnya… dan mataku terbelalak dibuatnya, sampai aku harus menahan nafas, ketika retsluiting celana abu-abu itu terbuka… kepala kemaluan jantan menyembul keluar dari batas celana dalamnya…. aku dengan tergopoh-gopoh karena tak sabar melorotin celana seragam sekalian dengan celana dalam putihnya sampai ke lutut Ronie… Ooooohhh my God..! teriakku dalam hati… menyaksikan batang kemaluan Ronie yang mengacung di antara pahanya… begitu macho, begitu gagah, begitu indah bentuknya… dengan kepala kemaluannya yang besar tampak mengkilat…</p>
<p>Tanganku terasa gemetaran ketika hendak menyentuh nya… Kembali tubuh Ronie menggerinjal kecil ketika tanganku bergerak mengocok batang kemaluannya… aku makin binal, kudekatkan wajahku untuk mengulum kepala kemaluan yang menggemaskan itu, sambil tetap tanganku bergerak mengocok batang kemaluannya… mendadak tubuh tegap itu meregang hebat diiringi erangan keras… dan bibirku yang setengah terbuka dan tinggal beberapa sentimeter dari kepala kemaluan itu merasakan semburan cairan hangat dengan menyebarkan aroma khas yg sangat kukenal dan kurindukan… apalagi kalo bukan peju lelaki… tanganku refleks mengocok batang kemaluan Ronie makin cepat sambil tanganku yang lain mengurut lembut kantung pelirnya…</p>
<p>Sementara kubiarkan peju yang sangat kental itu menyembur wajahku…. sesekali kusambut dengan lidahku… mmmm… rasa khas itu kembali dikecap oleh lidahku…Terus terang aku sempat kecewa, dengan bobolnya peju Ronie….Tapi beberapa saat batang kemaluan yang masih dalam genggamanku, kurasakan tak menyusut sedikitpun masih tetap keras… tanpa buang waktu, aku merangkak diatas tubuh Ronie yang menggelosoh di sofa… dengan posisi tubuhku jongkok mengangkangi tubuh Ronie, di atas kemaluan Ronie… kutuntun batang kemaluan perkasa yang masih belepotan peju itu kearah liang sanggamaku yang sudah basah kuyub dari tadi… wooohh… ternyata kepala kemaluan itu terlalu besar untuk masuk ke liang sanggamaku… Akhirnya dengan sedikit menahan perih, akibat otot liang sanggama yang dipaksa membuka lebih lebar.. kujejalkan dengan sedikit memaksa ke liang sanggamaku yang sudah tak sabar untuk segera melahap mangsanya….</p>
<p>” Iiiiihhh… bantu dorong sayang…. Oooooowwwwww…” Aku merengek panjang ketika sedikit demi sedikit amblas juga batang kemaluan Ronie menembus liang sanggamaku.. diiring rasa perih yang menggemaskan…</p>
<p>” Sssshhh… mmmhh… ayun pinggulmu keatas sayaaang..” kembali aku menuntun pejantan muda ini untuk memulai persetubuhan…</p>
<p>” Aaaww… aahh… ooww.. pelahan duluuu sayaaang… burung kamu gede banget… perih tauuk..” aku ngedumel manja… ketika Ronie mengayun pinggulnya kuat sekali… Terasa tubuhku bagaikan baterai yang baru dicharge… aliran energi aneh itu mengalir menyebar ke seluruh tubuhku… membuat aku semakin binal memainkan goyangan pinggulku… sementara Ronie ternyata cukup cerdas menyerap pelajaran, bahkan mampu segera mengembangkan… dengan posisi tubuhku diatas, membuatku sangat cepat mencapai orgasme… entahlah atau karena besarnya batang kemaluan Ronie yang menyungkal rapat liang sanggamaku, sehingga seluruh syaraf dinding liang sanggamaku rata dibesutnya… Luar biasa..! dalam waktu kurang dari lima menit setelah orgasmeku yg pertama, kembali aku tak dapat menahan jeritku mengantar rasa nikmatnya orgasme yang kedua… dan… hhwwwoooo…. aaaammmpppuuunnn..!!!! Rupanya Ronie tak mampu menahan lebih lama bobolnya tanggul pejunya… tubuhku dihentak-hentaknya kuat sekali… seakan ingin memasukkan seluruh batang kemaluan sepeler-pelernya ke liang sanggamaku… diiringi erangan mirip suara binatang buas sekarat…</p>
<p>Aku menangis menyesal setelahnya, berkali-kali Ronie memohon maaf atas kejadian yang terjadi siang itu…Tapi anehnya gairah seksualku yang meletup-letup tak terbendung itu, mereda setelah kejadian siang itu… Aktivitas berjalan normal kembali, tapi sudah hampir seminggu ini, aku tak pernah melihat Ronie datang ke rumah.</p>
<p>” Dia lagi sibuk Ma… dapat tugas antar jemput saudara sepupunya yang masih SD…” Jawab Astari ketika aku menanyakan tentang Ronie yang tak pernah muncul… Terus terang saja, sejak kejadian itu… pikiranku sangat kacau, disisi aku sebagai Mama Astari aku sangat menyesal dan sedih atas kejadian itu, tapi disisi aku sebagai seorang wanita yang masih punya hasrat dan naluri betina yang utuh… aku tak ingin melupakan kejadian itu… bahkan aku berharap kejadian itu terulang lagi….</p>
<p>Hampir sebulan lamanya Ronie tak muncul ke rumah, akupun maklum, Ronie sebagai remaja hijau, tentu mengalami shock dengan kejadian itu… disitulah muncul rasa berdosaku kepada Ronie dan Astari anakku… Tapi jujur sejujurnya ada terselip rasa rinduku memandang wajah anak muda itu… Aku sering mengintip dari balik gordiyn jendela, saat Astari turun dari boncengan Ronnie… kenapa hatiku berdebar-debar dan sedikit desiran birahiku menggelegak…</p>
<p>Pikiranku makin kacau… setelah beberapa kali kulihat Ronnie mulai nongkrong lagi dirumah… kulihat Ronnie masih salah tingkah di depanku, walaupun aku sdh berusaha menetralisirnya.. iiihhh tapi buat aku… otakku jadi ngeres begitu melihat wajah Ronnie yg innocent… betapa tidak… terbayanglah ekspresi wajahnya ketika tengah menyetubuhiku beberapa waktu yang lalu… ekspresi wajahnya yang begitu sensual dimataku pada saat dia melepas semburan spermanya… suara erangan dan nafas birahinya seakan nempel ditelingaku… maka kekacauan inilah yang mendorongku menerima tawaran Adrian seorang rekan bisnisku untuk makan siang di sebuah hotel berbintang dan setelahnya akupun tak menolak ketika ia mengajakku memasuki sebuah president suite di hotel itu, dengan alasan untuk mencari ketenangan membicarakan pekerjaan… walaupun yang terjadi kemudian adalah rayuan-rayuan mautnya yang kusambut positif… dari remasan tangan… kecupan bibir… jilatan lidahnya yang nakal pada leherku… desah resahku… remasan gemasku… dan… lolosnya pakaian kami satu persatu… payudaraku yang mengencang akibat remasan tangan dan cumbuan bibirnya… hhmmm… jilatannya pada clitorisku… batang kemaluannya yang berbentuk indah, perkasa… memaksa bibirku untuk mengulumnya… ooowww… nikmat hentakan tubuhnya menekan tubuhku… sodokan kejantanannya pada liang sanggamaku mengantarkan kenikmatan orgasmeku dua kali berturut-turut… 2 jam kami melewatkan waktu untuk making love siang itu, kekaguman Adrian atas permainan ranjangku yang begitu hot dan lihay… beberapa kali aku berkencan ranjang dengan Adrian lelaki tinggi besar berstyle dandy… kepuasan sex kuraih dengan sempurna dengan kelihayannya dia memperlakukan perempuan di atas ranjang… tapi bayangan sensual wajah bocah innocent bernama Ronnie itu tak juga sirna…</p>
<p>Sampai pada suatu malam hujan turun dengan deras… rupanya malam itu Ronnie sedang dirumah, berbincang dengan Astari di ruang tamu… sedangkan aku nonton TV diruang belakang…</p>
<p>” Ma, mas Ronnie mo pulang tuh…” terdengar suara Astari dari belakangku…</p>
<p>” Eh… pulang..? hujannya gede banget, tunggu reda aja.. jauh lagi rumah Ronnie..” jawabku spontan sambil bangkit dari dudukku berjalan ke ruang depan… kulihat jam memang sudah terlalu malam untuk bertamu…</p>
<p>” Ronn… ujan begini lebat, udah malem lagi… ntar ada apa-apa di jalan… sudah deh Mama kasih kamu nginep disini, tidur di kamar atas, besok subuh Mama bangunin kamu…” ujarku, terdorong rasa sebagai orang tua yg khawatir kepada anaknya… Ronnie menunduk salah tingkah ga berani menolak..</p>
<p>” Tapi Ronnie harus telpon rumah dulu tante…” sahutnya pelan… dan akhirnya justru aku yang menelpon kerumah Ronnie memintakan ijin orang tua Ronnie, yang ternyata menyambut baik…</p>
<p>Malam semakin larut, sementara hujan semakin hebat diserta guntur dan kilatan petir… Aku tergolek di ranjang, tak dapat memicingkan mata… Siang tadi kembali Aku melewati kencan ranjang dengan Adrian…. tapi… entah kenapa kali ini… susah sekali aku mencapai orgasme… sampai 2 kali Adrian menumpahkan spermanya… sedangkan aku tak sekalipun.. Gilaaa… kenapa justru sekarang wajah bocah itu yang terbayang-bayang di malam dingin ini… iiihhh… birahiku meletup- letup gila… ampuuunn… sekarang bocah itu ada dilantai atas… tunggu apa lagi..??? mmmm… bisikan setan.. aku tak mampu menahan tubuhku yang berjalan manapaki tangga… dan kini aku di depan pintu kamarnya… tanpa mengetuk kubuka pintu… ternyata Ronniepun masih belum tidur…</p>
<p>” Ronnie kamu belum tidur..?” tanyaku gagap… kenapa aku jadi salah tingkah sekarang…?</p>
<p>” Tante juga belum tidur…?” sahutnya… iiihh… jawabannya begitu tegas… aahh… siapa yg menuntunku duduk diranjangnya… mmm… darahku berdesir ketika tahu mata Ronnie menatap dada montokku yg memang tak mengenakan bra, sehingga puting susuku tercetak menonjol dibalik gaun tidurku yg memang berbahan tipis, sehingga semburat kecoklatan aura puting susukupun nampak jelas, kembali aku kehilangan kontrol… dan entahlah bagaimana awalnya dan siapa yang mengawali…. bibirku sudah dalam lumatan bibir Ronnie… sergapan nafsu birahiku tak dapat kuelakkan dan remasan lembut tangan lelaki muda pada buah dadaku melambungkan gairah seksualku… gelitikan lidah nakalnya pada puting susuku membuat tubuhku menggeliat erotis disertai erangan manjaku… satu demi satu pakaian beterbangan meninggalkan tubuh kami… aku begitu hot dan bergairah mencumbui tubuh pacar anakku itu… tapi aku sudah melupakan siapa Ronnie, yang aku tahu Ronnie adalah lelaki muda yang siap memenuhi kebutuhanku ooowww… aku tak menyangka kali ini Ronnie lebih lihay dan lebih berinisiatip melakukan serangan, sampai aku hampir tak percaya ketika Ronnie menyurukkan wajahnya di selangkanganku dan mencumbui bibir kemaluanku…</p>
<p>” Ronnn…. sssshhh…. kamu piiiinteer sekarangg… ooohh.. ammpuunn nikmaaaatnyaa…” desahku merasakan nikmat cumbuan lidahnya pada clitorisku, membuat Ronnie tambah semangat… Ketika permainan yang sesungguhnya berjalan… sebagai wanita dewasa yang telah berpengalaman menghadapi gairah lelaki… aku dibuat megap-megap menghadapi serangan pejantan muda ini… hajaran batang kemaluannya yang perkasa pada liang sanggamaku tak kenal ampun… membuat aku mengerang merintih bahkan menjerit setengah histeris… untung suara hujan yang lebat di timpa suara guruh meredam suaraku…. luluh lantak tubuhku dihajar aksi ganas Ronnie… tapi buatku adalah sebuah sensasi seksual yg sangat luar biasa.. yang mengantarku meraih dua kali kenikmatan orgasme…. tubuh telanjang kami terkapar lunglai di ranjang yang kusut spreinya, tak ada sesal kali ini…</p>
<p>“Ronnie jujur sama Tante… setelah waktu itu kamu maen sama perempuan mana…?” tanyaku datar dg nada dingin.</p>
<p>” Aaah… nggak, sekali-sekalinya cuma sama Tante Arsanti..” jawab Ronnie agak gugup menyebut namaku..</p>
<p>” ga mungkin, kamu mendadak bisa begitu canggih mencumbu Tante…?” desakku… dan akhirnya Ronnie menceritakan pengalaman setelah pengalaman seksualnya yang pertama, Ronnie banyak nonton blue film dan otak cerdasnya banyak menyerap gaya dan cara bercinta dari film-film biru yang ditontonnya…</p>
<p>“Mmmmm… kaciaaan… kamu tentunya kangen mencumbu Tante ya sayaang…?” bisikku sambil kudaratkan kecupanku ke bibirnya, tubuhku bergerak menindih tubuh atletis Ronnie, tubuhku direngkuh dan tubuh kami menempel ketat… kuajarkan permainan lembut… mmmm… anak pintar ini dengan cepat menguasai permainan baru yg kuajarkan… dengan telaten setiap inchi tubuhku dirambahnya dengan remasan, gerayangan tangannya yang nakal… jilatan dan kecupannya merambah setiap bagian tubuhku yang sensitif… tubuhku menggeliat erotis… kadang menggelepar liar… rintihanku mulai terdengar… tak dapat kutahan desah gelisahku… diselingi jeritan gemas…</p>
<p>” Ayo sayaang…hh..hhh… Tante udah ga tahan…” bisikku lembut, setelah aku nggak tahan lagi merasakan kuluman dan jilatan Ronnie pada clitorisku…</p>
<p>” Aoooouuuhhh… Roooonnn….hhh…hhhh…” suaraku terdengar bergetar memelas… mataku meredup sayu menatap wajah imut Ronnie, manakala liang sanggamaku untuk kesekian kalinya ditembus batang kemaluan bongsor milik Ronnie, namun kali ini Ronnie menekan pelan sekali, sehingga terjadi gesekan nikmaaaaat yang lama sekali… sehingga kedua kakiku yang melingkari pinggangnya seakan mengejang, tak tahan menahan kenikmatan yang luar biasa…</p>
<p>“Enaaak Tante..?” bisiknya lembut sambil tersenyum manis, ketika liang sanggamaku sudah tak ada tempat lagi bagi batang kemaluannya… iiih… menggemaskan bibirnya… aku menjawab dengan mengangkat alis… bibirku kembali menyambar bibir yang menggemaskan itu… ciuman dan kuluman panjang dimulai, dorongan gelegak birahi kami memang luarbiasa, permainan semakin panas dan semakin liar, ekspresi kami total menyembur tanpa kendali…kembali tubuhku dihentak-hentak oleh tenaga perkasa Ronnie dengan garangnya… jeritan dan rintihanku silih berganti ditimpa dengus nafas birahi ronnie yang mengeros buas…</p>
<p>“Aaaahhhkkk…. Roonnnie ssaayaang…. aammppuuunn…ooowww… ssshhh… niiikmaaat banggeet ssiih…???” rengekku dengan suara memelas, namun tarian pinggulku dengan gemulai masih dengan sengit mengcounter rajaman batang kemaluan Ronnie di liang sanggamaku sehingga terdengar bunyi berceprotan di selangkanganku… gillaaa.. susah untuk kuceritakan sensasi malam itu…</p>
<p>“Tante…hhh…hh.. Ronnie ampiir… sssshhh..” desis ronnie dengan suara bergetar… matanya garang menatapku… iiihhh mengerikan, tapi aku sngat menyukai ekspresi ini</p>
<p>” Ayoooo sayaanggg…. semburkan bareng Tante… ooouuuuhhhh….!!” Ya ammppuuun… mengerikan sekali… tubuhku terguncang-guncang hebat, akibat hentakan tubuh Ronnie menghajar liang sanggamaku pada detik puncak… mulutku menganga lebar tanpa suara, tanganku mencengkeram erat pinggiran ranjang…. dan entah apa yang terjadi, karena pada saat itu orgasmekupun meletus dahsyat…</p>
<p>Entah berapa lama suasana hening, hanya suara nafas kami terengah-engah yg terdengar…. hujan di luar rupanya sudah berhenti juga….</p>
<p>” Tante… boleh Ronnie pulang sekarang, hujan kayanya sudah berhenti…” suara Ronnie memecah keheningan…</p>
<p>” Hmmm… sebenernya Tante masih pingin meluk kamu, pingin cumbuin kamu sayaaang… ini ditinggal buat Tante aja yah..?” sambil kuremas batang kemaluan yg masih sembab…</p>
<p>“Titit kamu buat Tante aja ya sayaang… jangan buat orang lain… apalagi buat Astari… awas Tante bisa marah besar..” sambungku dengan nada serius… Ronniepun mengangguk tegas. Kuantar Ronnie ke garasi tempat motornya diparkir, kubiarkan tubuhku bugil, telanjang bulat…. Gila… digarasi masih sempat kulakukan oral sex… kutelan habis peju segar yg menyembur di dalam mulutku…. Capek yang luar biasa kurasakan setelahnya, badan rasanya lengket-lengket dan bau gak jelas…</p>
<p>Ada yang bilang kalo wanita setengah baya lebih banyak atau lebih kuat gairah seks mereka, seperti isliah puber kedua, seks wanita yang berumur atau tante tante banyak yang sulit terkendali sehingga menjadi tante girang. tamat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/gairah-liar-tante-girang.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita ku dengan wanita setengah Baya</title>
		<link>http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/cerita-ku-dengan-wanita-setengah-baya.html</link>
		<comments>http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/cerita-ku-dengan-wanita-setengah-baya.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 May 2010 03:33:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[STW]]></category>
		<category><![CDATA[bu minah]]></category>
		<category><![CDATA[seks setengah baya]]></category>
		<category><![CDATA[seks wanita dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[tante 40 tahun]]></category>
		<category><![CDATA[wanita setengah baya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritadewasa.modelperawan.info/?p=86</guid>
		<description><![CDATA[Berikut ini cerida dewasa yang dikirim dari seorang yang mengaku bernama reno, mungkin hanya inisial saja, yang pasti ceritanya seru, akibat sendirian di rumah dia kedatangan sosok tante berumur 40 tahun. yang kebetulan kesasar. berikut cerita nya.

Peristiwa ini berlangsung beberapa bulan yang lalu di awal 2006. Di Sabtu malam yang cerah aku terpaksa menunggu rumah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berikut ini cerida dewasa yang dikirim dari seorang yang mengaku bernama reno, mungkin hanya inisial saja, yang pasti ceritanya seru, akibat sendirian di rumah dia kedatangan sosok tante berumur 40 tahun. yang kebetulan kesasar. berikut cerita nya.</p>
<p><img title="wanita stw" src="http://img.youtube.com/vi/tbxK5CjkCDw/0.jpg" alt="wanita setengah baya" width="480" height="360" /><br />
Peristiwa ini berlangsung beberapa bulan yang lalu di awal 2006. Di Sabtu malam yang cerah aku terpaksa menunggu rumah sendirian. Keluarga semua pergi ke Jakarta menghadiri acara pernikahan saudara sepupuku.</p>
<p>Aku perkenalkan diri dulu. Namaku Reno, 28 tahun. Tampangku biasa-biasa aja dengan kulit sawo matang. dengan tinggi 170 cm dan berat 70 kg. Pembaca mungkin menyangka aku gendut. Itu sama sekali tidak tepat karena aku rajin fitness hingga otot2ku pun terbentuk walaupun tidak sekekar Ade Rai . Aku bekerja di satu perusahaan swasta di kotaku. Aku tinggal di kota kecil di bagian Barat pantura Jawa Tengah. Dan sekarang aku masih menyandang predikat jomblo. Namun aku selalu enjoy menjalaninya.</p>
<p>Sabtu malam itu tidak seperti biasanya. Teman-temanku yang sebagian jomblo juga (mungkin aku perlu bikin perkumpulan Jomblo Merana, hehehe&#8230;) tidak keliatan batang hidungnya. Aku yang nungguin rumah sendirian akhirnya cuma bisa duduk sambil mengisap rokok putih di teras depan rumah sambil cuci mata pada cewe-cewe yang lewat di jalan depan rumahku. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Rasa kantuk sudah mulai menyerang. Aku pun bergegas masuk ke rumah. Begitu tanganku hendak meraih gagang pintu, aku dikejutkan suara becak yang direm mendadak. Spontan aku liat ada yang terjadi. Ternyata seorang wanita kira2 berumur 40 tahunan turun dari becak kemudian membayar ongkos ke abang becak. Aku masih terpaku melihat apa yang akan dilakukan oleh wanita dengan kulit sawo matang dan berwajah sensual itu. Tingginya kira-kira 160 cm dan beratnya mungkin 60 kg dengan payudara yang besar kira2 36C dan pantat yang besar pula serta perut yang sudah tidak rata lagi. Wanita itu memakai baju terusan dengan rambut digelung ke atas menambah kesensualannya. Tanpa dikomando penisku lagi berdiri tegang.</p>
<p>&#8220;Permisi&#8230;&#8221;, suara lembutnya membuyarkan lamunanku. &#8220;Eh&#8230;iya, Bu&#8230;&#8221;, jawabku sekenanya. &#8220;Pak Atmonya ada?&#8221;<br />
Aku jadi bingung karena nama orang tuaku bukan Atmo. Dengan cepat aku baru sadar kalo rumah yang aku tempati sekarang dulu adalah milik Pak Atmo yang sekarang sudah pindah di kota di provinsi Jawa Tengah bagian Selatan.</p>
<p>Akhirnya aku jelaskan padanya tentang keadaan saat ini. Dia pun bingung hendak ke mana karena tidak ada sanak sodara di kota ini. Kemudian aku persilakan masuk wanita itu ke dalam ruang tamu. Setelah melalui percakapan singkat dapat kuketahui kalo wanita itu bernama Tuminah, sepupu Pak Atmo dari Boyolali dan aku tahu kalo dia telah hidup menjanda selama 10 tahun semenjak kematian suaminya.</p>
<p>&#8220;Dik Reno, ibu saat ini bingung mau tidur di mana. Lha wong sudah malam begini. Mau melanjutkan perjalanan sudah tidak ada bis lagi,&#8221; kebingungan meliputi dirinya.<br />
&#8220;Sudahlah Bu Minah&#8230;Ibu sementara bermalam di sini dulu. Besok Ibu bisa ke tempat Pak Atmo,&#8221; aku coba menenangkannya sambil mataku mencuri-curi pandang ke arah gundukan di dadanya yang membusung itu. Mengetahui hal itu Bu Minah jadi salah tingkah sambil tersenyum penuh arti. Akhirnya Bu Minah setuju untuk bermalam di rumahku. Aku persiapkan kamarku untuk tidur Bu Minah. Tak lupa aku buatkan teh panas untuk menyegarkan tubuhnya. Kemudian aku persilakan Bu Minah untuk membersihkan badan dulu di kamar mandi.</p>
<p>Aku menunggu dengan menonton tivi di ruang tengah. Bayangan tubuh montok Bu Minah menjadikan burungku jadi makin berdiri keras. Ditimpali suara kecipakan air di kamar mandi terdengar dari tempatku.<br />
&#8220;Mas Reno&#8230;&#8221; aku dikejutkan panggilan Bu Minah dari kamar mandi. &#8220;Iya Bu&#8230; Ada apa?&#8221; aku bergegas menuju ke kamar mandi. &#8220;Ibu lupa tidak bawah handuk. Ibu boleh pinjem handuk mas Reno?&#8221; terdengar suara Bu Minah dari balik pintu kamar mandi. &#8220;Boleh kok, Bu. Saya ambilkan sebentar, Bu&#8221;, aku ambil handukku di jemuran belakang.<br />
&#8220;Ini Bu handuknya&#8221; perlahan pintu kamar mandi dibuka oleh Bu Minah. Aku sodorkan handuk ke tangan Bu Minah yang menggapai dari balik pintu. Tak kusangka sodoran tanganku terlalu keras sehingga mendorong pintu terbuka lebar hingga badanku terhuyung ke depan ikut masuk ke kamar mandi. Aku menubruk badan Bu Minah. Aku peluk tubuh bugil Bu Minah agar aku tidak jatuh. Bu Minah pun memeluk tubuhku erat-erat agar tidak terpeleset. &#8220;Aahhh&#8230;&#8221;, Bu Minah menjerit kecil. Aku rasakan buah dada bu Minah yang besar itu dalam pelukanku. Penisku langsung tegang mengenai perus Bu Minah. Beberapa detik kami terdiam.<br />
&#8220;Ih, mas Reno kok meluk aku sih&#8230;&#8221; katanya manja tanpa melepas pelukannya padaku. Wajahku merah padam. Aku tidak bisa menyembunyikan hasratku yang meletup-letup. &#8220;Kaalauu&#8230;akkuu lepass &#8230;nantii akku liat ibu Minah telaanjaang donggg..&#8221;, jawabku terbata-bata dengan nafas tersengal menahan gejolak birahi. Aku tekan-tekan penisku yang masih terbungkus celana ke perutnya. &#8220;Aacchh&#8230;sungguh nikmat sekali,&#8221; batinku karena aku baru pertama kali ini memeluk wanita dalam keadaan telanjang bulat. &#8220;Burung mas Reno nakal&#8230;&#8221; katanya manja sambil tangannya merogoh penisku dari balik celana training yang aku pakai. Dielus dan dikocoknya perlahan penisku. &#8220;Ouuugghhh&#8230;&#8221; aku hanya bisa mendesah. &#8220;Burung Mas Reno besar sekali&#8230;&#8221; Aku tidak tahu apakah dengan panjang 16 cm dan diameter 4 cm itu penisku termasuk besar, entahlah mungkin Bu Minah sebelumnya hanya tahu penis dibawah ukuranku. Dan aku pun tidak tinggal diam. aku remes-remes teteknya yang gede itu sambil aku emut putingnya. &#8220;Mmmhhh&#8230; enak banget mas&#8230;&#8221;<br />
Tangan kiriku langsung turun ke vaginanya yang mulai basah itu. Aku gesek-gesek dengan jariku dan aku mainkan klitorisnya&#8230;<br />
&#8220;Mas&#8230;.&#8221; hanya itu yang bisa Bu Minah ucapkan dengan mata sayu sementara tangannya masih mengocok penisku dengan pelan.<br />
&#8220;Mas&#8230;Mas Reno&#8230;.aku wis ora kuat&#8230;.&#8221; suaranya parau &#8220;Masukin sekarang ya, Mas&#8230;.&#8221;<br />
Aku jadi bingung karena belum pernah ml sebelumnya. Dengan malu-malu aku pun beranikan diri bertanya, &#8220;Bu, caranya gimana?&#8221; Bu Minah tersenyum genit. &#8220;Oh mas Reno masih bujang tong-tong to?&#8221; Kemudian Bu Minah membalikan badannya dengan berpegangan pada bak mandi Bu Minah mengambil posisi nungging. Aku yang udah gak sabar langsung mengarahkan penisku ke vagina yang merah merekah dengan rambut kemaluan yang tercukur rapi tapi gagal karena aku tidak tahu lubang kenikmatan itu. &#8220;Sini mas Reno biar aku bantu&#8230;&#8221; Bu Minah yang mengerti keadaanku langsung menyamber batang penisku kemudian diarahkannya ke lubang vaginanya.<br />
Kepala penisku menyentuh bibir vaginanya. Oouugghhh&#8230; sungguh kenikmatan yang luar biasa yang baru aku rasakan. Kemudian aku dorong penisku ke dalam vagina Bu Minah. Agak susah memang. &#8220;Mas&#8230;pelan-pelan. Aku udah lama tidak kaya gini&#8230;&#8221; suara Bu Minah terdengar lirih tertahan. Aku majukan lagi penisku hingga tinggal setengahnya yang belum masuk ke lubang kenikmatan. Bu Minah memaju mundurkan pantatnya berulang-ulang. Dan&#8230; Slleeepppp&#8230;. penisku seperti tertelah semuanya oleh vagina Bu Minah. Aku maju mundurkan penisku dengan cepat seperti yang aku liat di BF.<br />
&#8220;Ooohhhh&#8230;.masss&#8230;.mmmhhhh.. ..&#8221; hanya itu yang keluar dari mulut Bu Minah. Aku merasakan sensasi yang sangat luar biasa&#8230;<br />
Dan belum ada 30 kocokan aku merasakan akan memuntahkan spermaku.&#8221;Bu&#8230;. aku mau keluar&#8230;&#8221; Aku percepat sodokan-sodokan penisku ke vagina Bu Minah. Dengan gerakan yang luwes Bu Minah memutar-mutar pantatnya mengimbangi sodokanku. Melihat goyangan pantat Bu Minah yang erotis itu aku semakin tidak sanggup menahan laju spermaku. Aku percepat sodokanku&#8230;. dan&#8230; &#8220;Ooouuugggghhhh&#8230;..&#8221; aku tekan kuat2 penisku hingga menyentuh dasar rahim Bu Minah. &#8220;Crrootttt&#8230;..ccrrrooottt&#8230;. cccrrottt&#8230;.&#8221; penisku menyemburkan sperma sebanyak 15 kali ke vagina Bu Minah. Goyangan-goyangan erotis pantat Bu Minah mengiringi siraman spermaku. &#8220;Oooohhhhh&#8230;.&#8221; Aku terkulai lemas. Aku peluk tubuh Bu Minah dari belakang dengan tangan meremas2 tetek Bu Minah yang besar walopun sudah agak kendur. Sementara penisku yang masih tegang tenggelam dalam vagina Bu Minah yang enak itu. Nafas kami masih tersenggal-senggal. Lama kami terdiam meresapi sisa-sisa kenikmatan yang baru saja dilalui.</p>
<p>&#8220;Mas Reno&#8230;.&#8221; Bu Minah lirih memanggilku. &#8220;Udahan dulu ya Mas.., aku capek banget. Aku mau istirahat dulu&#8221;. Aku bisa memahami kondisi tubuh Bu Minah setelah melakukan perjalanan panjang.</p>
<p>Akhirnya kami berdua menghabiskan waktu dikamarku, kami tidur berdua dikamar dengan adegan-adegan seks yang pasti anda sudah tau, walau kondisi fisik bu minah sudah letih karena capek dalam perjalanan, tapi permaianan seks nya luar biasa membuat aku puas.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/cerita-ku-dengan-wanita-setengah-baya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seks dengan sopir</title>
		<link>http://ceritadewasa.modelperawan.info/abg/seks-dengan-sopir.html</link>
		<comments>http://ceritadewasa.modelperawan.info/abg/seks-dengan-sopir.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Apr 2010 05:37:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[ABG]]></category>
		<category><![CDATA[anak majikan]]></category>
		<category><![CDATA[ml dengan sopir]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh dengan sopir]]></category>
		<category><![CDATA[sopirku binal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritadewasa.modelperawan.info/?p=84</guid>
		<description><![CDATA[Percintaan antara sopir dengan majikan sudah sering menjadi bahan cerita seks, tak hanya isteri majikan yang menjadi teman seks, anak majikan yang masih abg bahkan perawan pun bisa menjadi skandal seks antara sopir dan majikan.
Kisah ini terjadi ketika aku masih SMU, ketika umurku masih 18 tahun, waktu itu rambutku masih sepanjang sedada dan hitam (sekarang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Percintaan antara sopir dengan majikan sudah sering menjadi bahan cerita seks, tak hanya isteri majikan yang menjadi teman seks, anak majikan yang masih abg bahkan perawan pun bisa menjadi skandal seks antara sopir dan majikan.</p>
<p>Kisah ini terjadi ketika aku masih SMU, ketika umurku masih 18 tahun, waktu itu rambutku masih sepanjang sedada dan hitam (sekarang sebahu lebih dan sedikit merah). Di SMU aku termasuk sebagai anak yang menjadi incaran para cowok. Tubuhku cukup proporsional untuk seusiaku dengan buah dada yang sedang tapi kencang serta pinggul yang membentuk, pinggang dan perutku pun ukurannya pas karena rajin olahraga, ditambah lagi kulitku yang putih mulus ini. Aku pertama mengenal seks dari pacarku yang tak lama kemudian putus, pengalaman pertama itu membuatku haus seks dan selalu ingin mencoba pengalaman yang lebih heboh. Beberapa kali aku berpacaran singkat yang selalu berujung di ranjang. Aku sangat jenuh dengan kehidupan seksku, aku menginginkan seseorang yang bisa membuatku menjerit-jerit dan tak berkutik kehabisan tenaga.</p>
<p>Ketika itu aku belum diijinkan untuk membawa mobil sendiri, jadi untuk keperluan itu orang tuaku mempekerjakaan Bang Tohir sebagai sopir pribadi keluarga kami merangkap pembantu. Dia berusia sekitar 30-an dan mempunyai badan yang tinggi besar serta berisi, kulitnya kehitam-hitaman karena sering bekerja di bawah terik matahari (dia dulu bekerja sebagai sopir truk di pelabuhan). Aku sering memergokinya sedang mengamati bentuk tubuhku, memang sih aku sering memakai baju yang minim di rumah karena panasnya iklim di kotaku. Waktu mengantar jemputku juga dia sering mencuri-curi pandang melihat ke pahaku dengan rok seragam abu-abu yang mini. Begitu juga aku, aku sering membayangkan bagaimana bila aku disenggamai olehnya, seperti apa rasanya bila batangnya yang pasti kekar seperti tubuhnya itu mengaduk-aduk kewanitaanku. Tapi waktu itu aku belum seberani sekarang, aku masih ragu-ragu memikirkan perbedaan status diantara kami.</p>
<p>Obsesiku yang menggebu-gebu untuk merasakan ML dengannya akhirnya benar-benar terwujud dengan rencana yang kusiapkan dengan matang. Hari itu aku baru bubaran pukul 3 karena ada ekstra kurikuler, aku menuju ke tempat parkir dimana Bang Tohir sudah menunggu. Aku berpura-pura tidak enak badan dan menyuruhnya cepat-cepat pulang. Di mobil, sandaran kursi kuturunkan agar bisa berbaring, tubuhku kubaringkan sambil memejamkan mata. Begitu juga kusuruh dia agar tidak menyalakan AC dengan alasan badanku tambah tidak enak, sebagai gantinya aku membuka dua kancing atasku sehingga bra kuningku sedikit tersembul dan itu cukup menarik perhatiannya.</p>
<p>&#8220;Non gak apa-apa kan? Sabar ya, bentar lagi sampai kok&#8221; hiburnya</p>
<p>Waktu itu dirumah sedang tidak ada siapa-siapa, kedua orang tuaku seperti biasa pulang malam, jadi hanya ada kami berdua. Setelah memasukkan mobil dan mengunci pagar aku memintanya untuk memapahku ke kamarku di lantai dua. Di kamar, dibaringkannya tubuhku di ranjang. Waktu dia mau keluar aku mencegahnya dan menyuruhnya memijat kepalaku. Dia tampak tegang dan berkali-kali menelan ludah melihat posisi tidurku itu dan dadaku yang putih agak menyembul karena kancing atasnya sudah terbuka, apalagi waktu kutekuk kaki kananku sehingga kontan paha mulus dan CD-ku tersingkap. Walaupun memijat kepalaku, namun matanya terus terarah pada pahaku yang tersingkap. Karena terus-terusan disuguhi pemandangan seperti itu ditambah lagi dengan geliat tubuhku, akhirnya dia tidak tahan lagi memegang pahaku. Tangannya yang kasar itu mengelusi pahaku dan merayap makin dalam hingga menggosok kemaluanku dari luar celana dalamku.</p>
<p>&#8220;Sshh.. Bang&#8221; desahku dengan agak gemetar ketika jarinya menekan bagian tengah kemaluanku yang masih terbungkus celana dalam.</p>
<p>&#8220;Tenang Non.. saya sudah dari dulu kesengsem sama Non, apalagi kalau ngeliat Non pake baju olahraga, duh tambah gak kuat Abang ngeliatnya juga&#8221; katanya merayu sambil terus mengelusi bagian pangkal pahaku dengan jarinya.</p>
<p>Tohir mulai menjilati pahaku yang putih mulus, kepalanya masuk ke dalam rok abu-abuku, jilatannya perlahan-lahan mulai menjalar menuju ke tengah. Aku hanya dapat mencengkram sprei dan kepala Tohir yang terselubung rokku saat kurasakan lidahnya yang tebal dan kasar itu menyusup ke pinggir celana dalamku lalu menyentuh bibir vaginaku. Bukan hanya bibir vaginaku yang dijilatinya, tapi lidahnya juga masuk ke liang vaginaku, rasanya wuiihh..gak karuan, geli-geli enak seperti mau pipis. Tangannya yang terus mengelus paha dan pantatku mempercepat naiknya libidoku, apalagi sejak sejak beberapa hari terakhir ini aku belum melakukannya lagi.</p>
<p>Sesaat kemudian, Tohir menarik kepalanya keluar dari rokku, bersamaan dengan itu pula celana dalamku ikut ditarik lepas olehnya. Matanya seperti mau copot melihat kewanitaanku yang sudah tidak tertutup apa-apa lagi dari balik rokku yang tersingkap. Dia dekap tubuhku dari belakang dalam posisi berbaring menyamping. Dengan lembut dia membelai permukaannya yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu. Sementara tangan yang satunya mulai naik ke payudaraku, darahku makin bergolak ketika telapak tangannya yang kasar itu menyusup ke balik bra-ku kemudian meremas daging kenyal di baliknya.</p>
<p>&#8220;Non, teteknya bagus amat.. sama bagusnya kaya memeknya, Non marah ga saya giniin?&#8221; tanyanya dekat telingaku sehingga deru nafasnya serasa menggelitik.</p>
<p>Aku hanya menggelengkan kepalaku dan meresapi dalam-dalam elusan-elusan pada daerah sensitifku. Tohir yang merasa mendapat restu dariku menjadi semakin buas, jari-jarinya kini bukan hanya mengelus kemaluanku tapi juga mulai mengorek-ngoreknya, cup bra-ku yang sebelah kanan diturunkannya sehingga dia dapat melihat jelas payudaraku dengan putingnya yang mungil.</p>
<p>Aku merasakan benda keras di balik celananya yang digesek-gesek pada pantatku. Tohir kelihatan sangat bernafsu melihat payudaraku yang montok itu, tangannya meremas-remas dan terkadang memilin-milin putingnya. Remasannya semakin kasar dan mulai meraih yang kiri setelah dia pelorotkan cup-nya. Ketika dia menciumi leher jenjangku terasa olehku nafasnya juga sudah memburu, bulu kudukku merinding waktu lidahnya menyapu kulit leherku disertai cupangan. Aku hanya bisa meresponnya dengan mendesah dan merintih, bahkan menjerit pendek waktu remasannya pada dadaku mengencang atau jarinya mengebor kemaluanku lebih dalam. Cupanganya bergerak naik menuju mulutku meninggalkan jejak berupa air liur dan bekas gigitan di permukaan kulit yang dilalui. Bibirnya akhirnya bertemu dengan bibirku menyumbat eranganku, dia menciumiku dengan gemas.</p>
<p>Pada awalnya aku menghindari dicium olehnya karena Tohir perokok jadi bau nafasnya tidak sedap, namun dia bergerak lebih cepat dan berhasil melumat bibirku. Lama-lama mulutku mulai terbuka membiarkan lidahnya masuk, dia menyapu langit-langit mulutku dan menggelikitik lidahku dengan lidahnya sehingga lidahku pun turut beradu dengannya. Kami larut dalam birahi sehingga bau mulutnya itu seolah-olah hilang, malahan kini aku lebih berani memainkan lidahku di dalam mulutnya. Setelah puas berrciuman, Tohir melepaskan dekapannya dan melepas ikat pinggang usangnya, lalu membuka celana berikut kolornya. Maka menyembullah kemaluannya yang sudah menegang daritadi. Aku melihat takjub pada benda itu yang begitu besar dan berurat, warnanya hitam pula. Jauh lebih menggairahkan dibanding milik teman-teman SMU-ku yang pernah ML denganku. Dengan tetap memakai kaos berkerahnya, dia berlutut di samping kepalaku dan memintaku mengelusi senjatanya itu. Akupun pelan-pelan meraih benda itu, ya ampun tanganku yang mungil tak muat menggenggamnya, sungguh fantastis ukurannya.</p>
<p>&#8220;Ayo Non, emutin ****** saya ini dong, pasti yahud rasanya kalo diemut sama Non&#8221; katanya.</p>
<p>Kubimbing penis dalam genggamanku ke mulutku yang mungil dan merah, uuhh.. susah sekali memasukkannya karena ukurannya. Sekilas tercium bau keringat dari penisnya sehingga aku harus menahan nafas juga terasa asin waktu lidahku menyentuh kepalanya, namun aku terus memasukkan lebih dalam ke mulutku lalu mulai memaju-mundurkan kepalaku. Selain menyepong tanganku turut aktif mengocok ataupun memijati buah pelirnya.</p>
<p>&#8220;Uaahh.. uueennakk banget, Non udah pengalaman yah&#8221; ceracaunya menikmati seponganku, sementara tangannya yang bercokol di payudaraku sedang asyik memelintir dan memencet putingku.</p>
<p>Setelah lewat 15 menitan dia melepas penisnya dari mulutku, sepertinya dia tidak mau cepat-cepat orgasme sebelum permainan yang lebih dalam. Akupun merasa lebih lega karena mulutku sudah pegal dan dapat kembali menghirup udara segar. Dia berpindah posisi di antara kedua belah pahaku dengan penis terarah ke vaginaku. Bibir vaginaku disibakkannya sehingga mengganga lebar siap dimasuki dan tangan yang satunya membimbing penisnya menuju sasaran.</p>
<p>&#8220;Tahan yah Non, mungkin bakal sakit sedikit, tapi kesananya pasti ueenak tenan&#8221; katanya.</p>
<p>Penisnya yang kekar itu menancap perlahan-lahan di dalam vaginaku. Aku memejamkan mata, meringis, dan merintih menahan rasa perih akibat gesekan benda itu pada milikku yang masih sempit, sampai mataku berair. Penisnya susah sekali menerobos vaginaku yang baru pertama kalinya dimasuki yang sebesar itu (milik teman-temanku tidak seperkasa yang satu ini) walaupun sudah dilumasi oleh lendirku.</p>
<p>Tohir memaksanya perlahan-lahan untuk memasukinya. Baru kepalanya saja yang masuk aku sudah kesakitan setengah mati dan merintih seperti mau disembelih. Ternyata si Tohir lihai juga, dia memasukkan penisnya sedikit demi sedikit kalau terhambat ditariknya lalu dimasukkan lagi. Kini dia sudah berhasil memasukkan setengah bagiannya dan mulai memompanya walaupun belum masuk semua. Rintihanku mulai berubah jadi desahan nikmat. Penisnya menggesek dinding-dinding vaginaku, semakin cepat dan semakin dalam, saking keenakannya dia tak sadar penisnya ditekan hingga masuk semua. Ini membuatku merasa sakit bukan main dan aku menyuruhnya berhenti sebentar, namun Tohir yang sudah kalap ini tidak mendengarkanku, malahan dia menggerakkan pinggulnya lebih cepat. Aku dibuatnya serasa terbang ke awang-awang, rasa perih dan nikmat bercampur baur dalam desahan dan gelinjang tubuh kami.</p>
<p>&#8220;Oohh.. Non Citra, sayang.. sempit banget.. memekmu.. enaknya!&#8221; ceracaunya di tengah aktivitasnya.</p>
<p>Dengan tetap menggenjot, dia melepaskan kaosnya dan melemparnya. Sungguh tubuhnya seperti yang kubayangkan, begitu berisi dan jantan, otot-ototnya membentuk dengan indah, juga otot perutnya yang seperti kotak-kotak. Dari posisi berlutut, dia mencondongkan tubuhnya ke depan dan menindihku, aku merasa hangat dan nyaman di pelukannya, bau badannya yang khas laki-laki meningkatkan birahiku. Kembali dia melancarkan pompaannya terhadapku, kali ini ditambah lagi dengan cupangan pada leher dan pundakku sambil meremas payudaraku. Genjotannya semakin kuat dan bertenaga, terkadang diselingi dengan gerakan memutar yang membuat vaginaku terasa diobok-obok.</p>
<p>&#8220;Ahh.. aahh.. yeahh, terus entot gua Bang&#8221; desahku dengan mempererat pelukanku.</p>
<p>Aku mencapai orgasme dalam 20 menit dengan posisi seperti ini, aku melepaskan perasaan itu dengan melolong panjang, tubuhku mengejang dengan dahsyat, kukuku sampai menggores punggungnya, cairan kenikmatanku mengalir deras seperti mata air. Setelah gelombang birahi mulai mereda dia mengelus rambut panjangku seraya berkata, &#8220;Non cantik banget waktu keluar tadi, tapi Non pasti lebih cantik lagi kalau telanjang, saya bukain bajunya yah Non, udah basah gini&#8221;.</p>
<p>Aku cuma bisa mengangguk dengan nafas tersenggal-senggal tanda setuju. Memang badanku sudah basah berkeringat sampai baju seragamku seperti kehujanan, apalagi AC-nya tidak kunyalakan. Tohir meloloskan pakaianku satu persatu, yang terakhir adalah rok abu-abuku yang dia turunkan lewat kakiku, hingga kini yang tersisa hanya sepasang anting di telingaku dan sebuah cincin yang melingkar di jariku.</p>
<p>Dia menelan ludah menatapi tubuhku yang sudah polos, butir-butir keringat nampak di tubuhku, rambutku yang terurai sudah kusut. Tak henti-hentinya di memuji keindahan tubuhku yang bersih terawat ini sambil menggerayanginya. Kemudian dia balikkan tubuhku dan menyuruhku menunggingkan pantat. Akupun mengangkat pantatku memamerkan vaginaku yang merah merekah di hadapan wajahnya. Tohir mendekatkan wajahnya ke sana dan menciumi kedua bongkahan pantatku, dengan gemas dia menjilat dan mengisap kulit pantatku, sementara tangannya membelai-belai punggung dan pahaku. Mulutnya terus merambat ke arah selangkangan. Aku mendesis merasakan sensasi seperti kesetrum waktu lidahnya menyapu naik dari vagina sampai anusku. Kedua jarinya kurasakan membuka kedua bibir vaginaku, dengusan nafasnya mulai terasa di sana lantas dia julurkan lidahnya dan memasukkannya disana. Aku mendesah makin tak karuan, tubuhku menggelinjang, wajahku kubenamkan ke bantal dan menggigitnya, pinggulku kugerak-gerakkan sebagai ekspresi rasa nikmat.</p>
<p>Di tengah-tengah desahan nikmat mendadak kurasakan kok lidahnya berubah jadi keras dan besar pula. Aku menoleh ke belakang, ternyata yang tergesek-gesek di sana bukan lidahnya lagi tapi kepala penisnya. Aku menahan nafas sambil menggigit bibir merasakan kejantanannya menyeruak masuk. Aku merasakan rongga kemaluanku hangat dan penuh oleh penisnya. Urat-urat batangnya sangat terasa pada dinding kemaluanku.</p>
<p>&#8220;Oouuhh.. Bang!&#8221; itulah yang keluar dari mulutku dengan sedikit bergetar saat penisnya amblas ke dalamku.</p>
<p>Dia mulai mengayunkan pinggulnya mula-mula lembut dan berirama, namun semakin lama frekuensinya semakin cepat dan keras. Aku mulai menggila, suaraku terdengar keras sekali beradu dengan erangannya dan deritan ranjang yang bergoyang. Dia mencengkramkan kedua tangannya pada payudaraku, terasa sedikit kukunya di sana, tapi itu hanya perasaan kecil saja dibanding sensasi yang sedang melandaku. Hujaman-hujaman yang diberikannya menimbulkan perasaan nikmat ke seluruh tubuhku.</p>
<p>Aku menjerit kecil ketika tiba-tiba dia tarik rambutku dan tangan kanannya yang bercokol di payudaraku juga ikut menarikku ke belakang. Rupanya dia ingin menaikkanku ke pangkuannya. Sesudah mencari posisi yang enak, kamipun meneruskan permainan dengan posisi berpangkuan membelakanginya. Aku mengangkat kedua tanganku dan melingkari lehernya, lalu dia menolehkan kepalaku agar bisa melumat bibirku. Aku semakin intens menaik-turunkan tubuhku sambil terus berciuman dengan liar. Tangannya dari belakang tak henti-hentinya meremasi dadaku, putingku yang sudah mengeras itu terus saja dimain-mainkan. Gelinjang tubuhku makin tak terkendali karena merasa akan segera keluar, kugerakkan badanku sekuat tenaga sehingga penis itu menusuk semakin dalam.</p>
<p>Mengetahui aku sudah diambang klimaks, tiba-tiba dia melepaskan pelukannya dan berbaring telentang. Disuruhnya aku membalikan badanku berhadapan dengannya. Harus kuakui dia sungguh hebat dan pandai mempermainkan nafsuku, aku sudah dibuatnya beberapa kali orgasme, tapi dia sendiri masih perkasa. Dia biarkan aku mencari kepuasanku sendiri dalam gaya woman on top. Kelihatannya dia sangat senang menyaksikan payudaraku yang bergoyang-goyang seirama tubuhku yang naik turun. Beberapa menit dalam posisi demikian dia menggulingkan tubuhnya ke samping sehingga aku kembali berada di bawah. Genjotan dan dengusannya semakin keras, menandakan dia akan segera mencapai klimaks, hal yang sama juga kurasakan pada diriku. Otot-otot kemaluanku berkontraksi semakin cepat meremas-remas penisnya. Pada detik-detik mencapai puncak tubuhku mengejang hebat diiringi teriakan panjang. Cairan cintaku seperti juga keringatku mengalir dengan derasnya menimbulkan suara kecipak.</p>
<p>Tohir sendiri sudah mulai orgasme, dia mendesah-desah menyebut namaku, penisnya terasa semakun berdenyut dan ukurannya pun makin membengkak, dan akhirnya.. dengan geraman panjang dia cabut penisnya dari vaginaku. Isi penisnya yang seperti susu kental manis itu dia tumpahkan di atas dada dan perutku. Setelah menyelesaikan hajatnya dia langsung terkulai lemas di sebelah tubuhku yang berlumuran sperma dan keringat. Aku yang juga sudah KO hanya bisa berbaring di atas ranjang yang seprei nya sudah berantakan, mataku terpejam, buah dadaku naik turun seiring nafasku yang ngos-ngosan, pahaku masih mekangkang, celah vaginaku serasa terbuka lebih lebar dari biasanya. Dengan sisa-sisa tenaga, kucoba menyeka ceceran sperma di dadaku, lalu kujilati maninya dijari-jariku.</p>
<p>Sejak saat itu, Tohir sering memintaku melayaninya kapanpun dan dimanapun ada kesempatan. Waktu mengantar-jemputku tidak jarang dia menyuruhku mengoralnya. Tampaknya dia sudah ketagihan dan lupa bahwa aku ini nona majikannya, bayangkan saja terkadang saat aku sedang tidak ‘mood’ pun dia memaksaku. Bahkan pernah suatu ketika aku sedang mencicil belajar menjelang Ebtanas yang sudah 2 minggu lagi, tiba-tiba dia mendatangiku di kamarku (saat itu sudah hampir jam 12 malam dan ortuku sudah tidur), karena lagi belajar aku menolaknya, tapi saking nafsunya dia nekad memperkosaku sampai dasterku sedikit robek, untung kamar ortuku letaknya agak berjauhan dariku. Meskipun begitu aku selalu mengingatkannya agar menjaga sikap di depan orang lain, terutama ortuku dan lebih berhati-hati kalau aku sedang subur dengan memakai kondom atau membuang di luar. Tiga bulan kemudian Tohir berhenti kerja karena ingin mendampingi istrinya yang TKW di Timur Tengah, lagipula waktu itu aku sudah lulus SMU dan sudah diijinkan untuk membawa mobil sendiri. </p>
<p>Perjalanan seks sopir mungkin belum berakhir, namun dari cerita diatas bisa kita ambil hikmah, bahwa hati-hati dalam memberikan ruang gerak terhadap orang asing yang ada disekitar kita, seks sopir dan majikan diatas salah satu contoh dari keteledoran orang tua.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritadewasa.modelperawan.info/abg/seks-dengan-sopir.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berawal Dari Tante Rissa</title>
		<link>http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/berawal-dari-tante-rissa.html</link>
		<comments>http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/berawal-dari-tante-rissa.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Apr 2010 05:14:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[STW]]></category>
		<category><![CDATA[cara dapetin tante]]></category>
		<category><![CDATA[kenalan dengan tante girang]]></category>
		<category><![CDATA[tante cantik]]></category>
		<category><![CDATA[tante girang]]></category>
		<category><![CDATA[tante haus seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritadewasa.modelperawan.info/?p=82</guid>
		<description><![CDATA[Kenapa judul cerita kali ini adalah &#8220;berawal dari tante rissa? ya dari sini lah awal cerita ku mengenal banyak tante girang, tante rissa yang akhirnya memberi jalan hingga aku banyak memiliki koleksi tante girang. berikut cerita dewasa selengkapnya.
Sebelumnya perkenalkan namaku Rio. Sampai saat ini aku masih bekerja di salah satu perusahaan IT di Jakarta. Aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kenapa judul cerita kali ini adalah &#8220;berawal dari tante rissa? ya dari sini lah awal cerita ku mengenal banyak tante girang, tante rissa yang akhirnya memberi jalan hingga aku banyak memiliki koleksi tante girang. berikut cerita dewasa selengkapnya.</p>
<p>Sebelumnya perkenalkan namaku Rio. Sampai saat ini aku masih bekerja di salah satu perusahaan IT di Jakarta. Aku juga punya minat yang cukup tinggi dalam urusan seks. Pengalaman seks aku yang pertama kualami dengan salah satu teman chat-ku. Sejak saat itu, aku mulai ketagihan. Biasanya aku berhubungan seks dengan wanita-wanita yang kurang lebih sebaya denganku. Kali ini aku akan cerita pengalaman seks pertamaku dengan wanita yang beda umurnya cukup jauh denganku. Awalnya dari chatting. Suatu kali entah kenapa aku bosan dengan nick yang biasa aku pakai. Aku pun mencoba sebuah nick menarik perhatian. Nick yang menyiratkan fisik tubuhku, tapi tidak vulgar. Dari sekian banyak nick yang query aku, aku tertarik pada sebuah nick yang cukup menggoda Jnd_37_Jkt.</p>
<p>Aku pikir pemilik nick ini pasti seorang janda berumur 37 tahun yang tinggal di Jakarta. Aku membalas querynya. ‘hi juga, asl pls..’ balasku. ‘kan di nick udah’ ‘oh iya, tapi Jnd apa tuh?’ tanyaku pura-pura bego. ‘Jendral ha3x. gak ding, janda kok’ aku tersenyum melihat kelakarnya. ‘ooo.. ic’ jawabku. ‘asl u dong’ tanya nick itu. ‘aku lebih muda gpp nih?’ aku bertanya balik. ‘gpp, justru yg muda lebih asik ’ aku tertawa dalam hati. ‘ok, 24 m jkt’ jawabku. ‘hihihi.. 24 sih lagi seger2nya tuh ’ hmm.. mulai menggoda nih. Kami pun terlibat obrolan yang mengasyikkan. Sekitar setengah jam aku chat dengannya hingga akhirnya kami bertukar nomer telepon. Aku baru saja tiba di rumah ketika tiba-tiba ponselku berbunyi. Hmm.. nomer siapa ini. Aku langsung mengangkat. “Halo..” sapaku. “Rio ya? Udah pulang?” tanya suara di ujung sana yang ternyata suara seorang wanita. “Iya, siapa ya?” tanyaku penasaran. “Hai&#8230;” wanita itu menyebut nick yang kugunakan tadi siang. “Tante Rissa ya?&#8221;aku mencoba menebak. Terdengar tawa di ujung sana. Betul, Tante Rissa yang tadi siang menggunakan nick Jnd_37_Jkt. Kami pun langsung menyambung obrolan tadi siang. Dari obrolan kami yang akrab aku tahu bahwa Tante Rissa sebetulnya masih menikah. Tante Rissa jarang sekali bisa merasakan kehangatan suaminya karena kesibukan keduanya yang bertolak belakang. Akibatnya wanita itu sering melepas kesepian dengan gigolo-gigolo simpanannya. Malam itu kami saling bertukar cerita, dan ujung-ujungnya kami pun janjian ketemu.</p>
<p>Tante Rissa mengajakku ketemu di Blok M Plaza. Semula aku menolak karena di Blok M cukup ramai, apalagi hari Sabtu. Tapi Tante Rissa beralasan bahwa di situ tempat yang paling aman karena kerabat-kerabatnya jarang sekali ke daerah tersebut. Akhirnya aku ok saja. Kami pun janjian bertemu Sabtu depan. Hampir setengah jam aku menunggu di Pizza Hut sambil mataku mencari-cari wanita berkulit putih dan berambut coklat sepunggung dengan tinggi sekitar 170 cm dan berat 58 kg yang mengenakan kemeja putih tanpa lengan dan celana jeans ketat sebetis. Spaghettiku sudah tinggal separuhnya dan mulai dingin. Aku baru saja akan menyuapnya lagi ketika tiba-tiba salah seorang pelayan Pizza Hut menghampiriku dan memberikan secarik kertas. Dia menggeleng ketika aku tanya dari siapa kertas tersebut. Penuh penasaran aku membukanya. ‘CARI SIAPHAAA&#8230;? I’M BEHIND YOU MY BOY’ aku terkejut dan langsung menoleh ke belakangku. Kira-kira 2 meja di belakangku, aku melihat satu meja yang ditempati 2 orang wanita.</p>
<p>Salah satu dari wanita itu melambai ke arahku sambil tersenyum. Aku memperhatikannya dengan cermat. Wanita itu persis sekali dengan ciri yang disebutkan Tante Rissa saat di telepon beberapa hari lalu. Itu pasti dia!! Tapi yang satu lagi siapa ya? Tanpa pikir panjang aku menghampiri meja tersebut, dan wanita yang melambaikan tangan padaku langsung berdiri menyambutku. “Halo sayang..” sambut wanita yang ternyata memang Tante Rissa itu seraya mencium kedua pipiku. Aku membalasnya dengan mesra. “Tante iseng banget sih.. udah nunggu dari tadi juga, untung nggak pulang.” aku pura-pura merajuk. Tante Rissa tersenyum sambil mengacak-acak rambutku. “Eeh.. nggak takut rugi kalo pulang nih? Ada yang mau kenalan sama kamu tuh..” cetusnya sambil melirik ke wanita yang ada di sebelahnya. Kami pun berkenalan. Tante Emma, wanita yang dimaksud ternyata adalah tetangga Tante Rissa. Dari obrolan kami, aku tahu kalau mereka bernasib sama dalam urusan rumah tangga, dan seringkali hunting bareng mencari gigolo-gigolo yang siap memuaskan nafsu mereka. “Gila, Tante pikir nick kamu itu cuma boongan doang..” cetus Tante Rissa sedikit kagum pada tubuhku. Sebetulnya tubuhku tidak atletis seperti tubuh-tubuh idaman wanita.</p>
<p>Mungkin dengan tinggi badanku yang 182 cm dan berat sekitar 78 kg aku jadi terlihat tinggi besar. “Iya nih Yo, gara-gara cerita kamu waktu di telepon, Emma jadi kepengen ketemu juga sama kamu.” kata Tante Rissa. Aku mengernyitkan kening. “Cerita? Wah, Tante pake cerita-cerita segala sih sama Tante Emma. Kan jadi&#8230;” “Siapa yang cerita, lha wong kamu sendiri yang cerita sama kita..hihihi.” aku semakin tidak mengerti dan menatap Tante Rissa penuh tanya. Wanita itu tersenyum. “Gini lho sayang, waktu kamu telepon kemaren itu Emma juga ada di rumah Tante, jadi kita berdua asyik deh denger cerita kamu yang hot itu hahaha..” aku langsung mencubit pinggang Tante Rissa gemas. Ternyata sejak awal mereka sudah berniat ngerjain aku.</p>
<p>Akhirnya kami bertiga langsung cabut ke rumah Tante Rissa yang sedang sepi. Sampai di rumah Tante Rissa kami bertiga langsung menuju ke kamar tidur. Aku baru saja ingin menghempaskan tubuhku di ranjang ketika Tante Emma memeluk tubuhku dari belakang dan menciumi leherku. “Enak aja kamu dateng-dateng mau istirahat.. pemanasan dulu ah hihihi..” celetuk Tante Emma. Dari belakang tubuhku, jemari lentik wanita itu masuk dari sisi kiri-kananku dan langsung melepas kancing kemejaku satu demi satu. Sementara Tante Rissa dari depan merangkul leherku dan mengecup bibirku. “Mmhhh.. ayo Yo, kita pengen coba permainan kamu&#8230; hhmmmmmhhh&#8230;” Tante Rissa melumat bibirku dengan bibir tipisnya yang tersapu lipstik warne merah muda. Ahh.. lembut sekali bibirnya. Aku mencoba mengimbanginya, lidahku menjelajahi mulut Tante Rissa. Sementara Tante Emma baru saja berhasil melepaskan kemeja yang membalut tubuhku. Tante Rissa langsung menghentikan ciumannya dan lidahnya mulai menjelajah leher, dada dan perutku. Di belakang Tante Emma memandikan punggungku dengan lidah dan air liurnya. Gairahku mulai naik. Tante Rissa semakin turun ke bawah dan bibirnya sampai ke batas celanaku. Dengan cekatan jemarinya yang lentik mencopot kancing celana jeansku dan melorotkannya ke bawah.</p>
<p>Kemudian dengan liar lidahnya membasahi celana dalam yang membungkus batang penisku. lidahnya membasahi celana dalam yang membungkus batang penisku. Aku tidak menyadari sejak kapan Tante Emma melepas kaus ketatnya, tiba-tiba saja aku merasakan ada dua gumpalan lembut yang hangat menempel di punggungku. Aku menoleh ke belakang dan mendapati Tante Emma sedang menggesek-gesekkan payudaranya yang bulat dan montok di punggungku. Kedua bibir sexynya yang berlapis lipstik merah bata terbuka seakang mengundang bibirku untuk melumatnya. “Mmhh&#8230; sslllppp&#8230; mmmm&#8230;.” tanpa pikir panjang aku langsung melumat bibir sexy itu. Kedua tangan Tante Emma yang lembut menjelajahi dadaku yang telah basah oleh air liur Tante Rissa. Di bawah sana Tante Rissa telah berhasil melucuti celana dalamku, hingga batang penisku yang berukuran biasa saja itu terlihat jelas menantang. Tante Rissa menggenggam batangnya dengan tangan kirinya, sementara kepala penisku diusap-usap dengan jemari tangan kanannya yang lembut sambil sesekali dijilati. Ssshh.. nikmat sekali. Tante Emma mengajakku berbaring di ranjang agar kami bisa leluasa bercumbu. Aku dan Tante Emma pun berbaring di ranjang dengan setengah kakiku masih menjulur ke lantai. Sambil berciuman, kedua tanganku aktif meremas-remas payudara Tante Emma yang montok.</p>
<p>Tante Emma memelukku erat-erat. Bibir kami tak henti-hentinya saling melumat. Tante Rissa semakin asyik dengan batang penisku yang mulai mengeras. Dijelajahinya setiap centi penisku dengan lidah dan bibirnya. Ughh.. sampai akhirnya penisku amblas di mulutnya yang hangat dan basah. Kepala Tante Rissa naik-turun seiring kenikmatan yang diberikannya lewat mulut. Sementara kedua tangannya menjelajahi pinggangku. Bosan dengan bibir Tante Emma, lidahku mulai menjalar ke leher dan telinga. Aku mengulum telinga wanita itu yang putih bersih. Tante Emma sampai meremas rambutku karena keasyikkan. Aku terus menjelajahi tubuhnya dengan lidahku, sampai akhirnya aku mulai melumat kedua payudara dan putingnya. “Ssshh..oohhh&#8230;Riooo..terussss Yoo&#8230;&#8221; tubuh Tante Emma mulai menggelinjang menahan kenikmatan yang kuberikan. Aku tidak peduli. Lidahku semakin liar menjilati dan mengulum putting susunya yang runcing. Kadang aku menggigitnya dengan gemas. Tante Emma memeluk kepalaku rapat ke payudaranya. Huuff.. hampir sesak nafas aku dibuatnya.</p>
<p>Tanpa aku sadari, Tante Rissa sudah melucuti pakaiannya sendiri hingga telanjang bulat. Wanita itu kelihatan gemas sekali dengan penisku. Padahal ukurannya biasa saja. Dibanding gigolo-gigolo simpanannya pasti penisku tidak ada apa-apanya. Tapi Tante Rissa bernafsu sekali menjilat, mengulum dan mengisap penisku. Hingga akhirnya wanita itu mulai tidak tahan dan tiba-tiba sudah berdiri mengangkangi tubuhku. Tante Rissa berdiri dengan lututnya dan mulai merendahkan badannya. Sebelah tangannya menggenggam batang penisku yang memang sudah keras dan basah oleh air liurnya. Tante Emma yang mengetahui hal itu langsung mengambil alih, tangannya menggenggam batang penisku yang semula digenggam Tante Rissa. Sementara kini kedua tangan Tante Rissa yang lembut bertopang di atas dadaku. Perlahan-lahan tubuh Tante Rissa semakin turun, dan aku mulai merasakan bibir kemaluannya menyentuh ujung penisku. Hhh&#8230; kepala penisku mulai masuk sebagian ke dalam vagina Tante Rissa yang sedikit basah, dan&#8230; bleeesssss!!! Amblas sudah penisku di dalam liang kenikmatan itu. Tubuh Tante Rissa naik-turun seiring kenikmatan yang kami nikmati bersama. Sementara Tante Emma langsung menyodorkan selangkangannya di wajahku.</p>
<p>Lidahku langsung sigap melumat klitoris Tante Emma yang mulai basah. Posisi Tante Emma berhadapan dengan Tante Rissa, sehingga mereka berdua menindihku sambil berciuman. Aku tak bisa melihat karena wajahku tertutup kemaluan Tante Emma, tapi dari suara mereka aku tahu betul bahwa mereka tengah berciuman dengan penuh gairah. Tak lama kemudian aku mulai merasa dinding vagina Tante Rissa mulai berdenyut-denyut. Tubuh wanita itu mulai menggelinjang tak karuan menahan rasa nikmat. Tante Emma kini tidak mencumbu bibir Tante Rissa lagi, tapi menunduk ke arah penisku dan vagina Tante Rissa yang sedang asyik menyatu. Tante Emma menjilati kemaluan kami bergantian. Akkhh.. semakin nikmat saja rasanya. “Ssshhh&#8230; Riiiooo&#8230;. aaahhhhh&#8230;” Tante Rissa mencapai klimaksnya. Penisku banjir oleh lendir kenikmatan yang mengalir dari dalam vaginanya. Ayunan tubuhnya semakin pelan. Kemudian wanita itu mencabut penisku dari vaginanya dan memberi tempat untukku dan Tante Emma melanjutkan permainan. Tante Emma rupanya menginginkan posisi lain.</p>
<p>Wanita itu mengambil posisi nungging di atas ranjang. Dengan gairah yang masih penuh, aku menghampiri liang kemaluan yang menantang itu. Perlahan aku arahkan penisku yang semakin keras ke dalam vagina Tante Emma. Slllpp&#8230; bbleeesss&#8230; Vagina 6Tante Emma yang basah betul-betul menelan penisku. Pantatku maju-mundur memberikan kenikmatan untuk Tante Emma. Sementara kedua tanganku asyik meremas kedua payudaranya yang bulat dan montok itu. “Aakhh.. Yoo.. sshhh.. sshhh&#8230;. ooohhhh&#8230;.” Tante Emma merintih menahan rasa nikmat yang kuberikan. Hmmm&#8230; liang kemaluan Tante Emma betul-betul mencengkeram penisku. Nikmat sekali rasanya. Tadinya kupikir ibu-ibu seperti mereka liang vaginanya sudah lebar, tapi Tante Emma dan Tante Rissa kok masih sempit ya. Tubuh Tante Emma mulai menggeliat-geliat. Wanita itu menjatuhkan tubuhnya hingga kami berdua melakukannya dengan posisi menyamping. Kemudian tubuh kami berguling hingga tubuh Tante Emma kini berada di atas tubuhku.</p>
<p>Kemudian wanita itu bangkit tanpa melepas vaginanya dari penisku. Lantas Tante Emma berputar, aahhhh&#8230;.aku merasa penisku dipelintir di dalam vagina Tante Emma, nikmat sekali. Akhirnya aku ‘terjebak’ dengan posisi woman on top. Tante Emma tidak menaik-turunkan tubuhnya tapi memutar pinggulnya. Uugghhh.. gila, enak sekali. Aku sampai mengejang menahan rasa nikmat. Tubuhku pun ikut bangkit untuk memeluk tubuh montok Tante Emma. Bibirku melumat kedua putting payudaranya untuk menambah birahinya. “Sshh&#8230; Riiooo&#8230; aakkhh..” Tante Emma mengerang menahan nikmatnya. Tante Emma mendorong tubuhku hingga terebah, dan wanita itu kembali memutar tubuhnya membelakangi aku. Kemudian Tante Emma itu kembali merundukkan tubuhnya tanpa melepas penisku dari dalam vaginanya. Otomatis tubuhku mesti bangkit lagi, dan kami kembali dalam posisi doggie style. Ugghhh&#8230; pantatku kembali mengayunkan rasa nikmat di vagina Tante Emma.</p>
<p>Tiba-tiba dari arah belakang aku merasakan sesosok tubuh yang mulus merapati punggungku. Akkhh.. Tante Rissa yang sudah kembali bergairah memelukku dari belakang. Hhhgghhh.. birahiku semakin naik ke ubun-ubun. Tubuhku menggelinjang di pelukan Tante Rissa. Tanpa sadar ayunan pantatku semakin cepat. Aku merasa tubuh Tante Emma juga bergoyang menahan rasa nikmat. “Sshhh&#8230;. aaaaaahhhh&#8230; Riiiooo&#8230;.. bentar lagi nih&#8230;” Tante Emma mendesah. Aku berusaha bertahan untuk menunjukkan keperkasaanku. Tapi gangguan Tante Rissa yang menjilati telinga dan tengkukku membuatku tak kuasa menahan birahi. “Aaaahh&#8230; Yooo..” Tante Emma mencapai klimaks. Aku mencoba bertahan, namun rembesan lendir dari dalam vagina Tante Emma yang membasahi penisku membuat tubuhku tak kuasa menahan nikmat. Crrooottt.. ccrrott&#8230; crooot.. ccroottt.. ccrroott&#8230; sekitar lima kali penisku menyemburkan sperma kuat-kuat ke dalam vagina Tante Emma. Kedua tanganku meremas pinggang Tante Emma. Sementara dari belakang Tante Rissa mendekap tubuhku erat-erat. Itu untuk pertama kalinya aku berbagi kenikmatan birahi dengan wanita yang jauh lebih tua dariku. Hari itu kami bersenang-senang dua kali lagi. Sorenya aku terpaksa harus meninggalkan rumah Tante Rissa, karena anaknya sudah pulang. Tapi Tante Emma mengajakku untuk bermalam di rumahnya. Dan malam itu aku dan Tante Emma bersenang-senang sampai pagi. Ternyata Tante Emma memiliki banyak sekali sex toy di rumahnya.</p>
<p>Aku betul-betul enjoy malam itu karena Tante Emma memperkenalkanku dengan banyak variasi permainan seks. Sejak saat itu aku sering melayani nafsu birahi mereka mereka. Kadang berdua, kadang bertiga. Namun sepeser pun aku menolak dibayar, karena aku melakukannya atas dasar suka dan fun saja. Dari Tante Rissa aku mendapat beberapa kenalan wanita teman-teman kantornya yang juga kesepian, dan kadang aku juga diminta melayani nafsu mereka. Kalau dari Tante Emma, aku dikenalkan pada adik iparnya yang baru berumur 32 tahun, namanya Leni. Tante Leni belum menikah dan masih virgin. Namun wanita ini cukup nakal dalam urusan seks. Lucunya aku sering diminta Tante Leni untuk memuaskan hasratnya tapi hanya sebatas petting dan oral.</p>
<p>Demikian cerita perkenalan ku dengan beberapa tante, dan terjadi permainan seks seru antara aku dan para tante girang tersebut.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/berawal-dari-tante-rissa.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pembantu Yang Lugu</title>
		<link>http://ceritadewasa.modelperawan.info/seks/pembantu-yang-lugu.html</link>
		<comments>http://ceritadewasa.modelperawan.info/seks/pembantu-yang-lugu.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jan 2010 12:18:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[birahi pembantu]]></category>
		<category><![CDATA[cerita pembantu]]></category>
		<category><![CDATA[pembantuku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritadewasa.modelperawan.info/?p=80</guid>
		<description><![CDATA[Cerita Dewasa dari seorang pembantu yang lugu, diraba dan digerayangi kakak majikan. berikut cerita lengkapnya. Namanya Tinah, dari Banjarnegara. Suaminya meninggal di Kalimantan tahun kemarin, hampir berbarengan dengan salah satu anaknya juga. Kini satu – satunya anaknya tinggal dengan ibunya di desa. Tinah berwajah cukup manis; lumayan tinggi untuk ukuran perempuan kita; rambut sepundak lebih; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerita Dewasa dari seorang pembantu yang lugu, diraba dan digerayangi kakak majikan. berikut cerita lengkapnya. Namanya Tinah, dari Banjarnegara. Suaminya meninggal di Kalimantan tahun kemarin, hampir berbarengan dengan salah satu anaknya juga. Kini satu – satunya anaknya tinggal dengan ibunya di desa. Tinah berwajah cukup manis; lumayan tinggi untuk ukuran perempuan kita; rambut sepundak lebih; hampir seumur adikku. Ia sebagian besar bertugas mengasuh anaknya adikku yang masih di bawah balita, walau juga membantu satu temannya bersih – bersih rumah. Kondisi psikologisnya yang seperti itu membuatnya sering terlihat diam dan kurang dapat memahami apa yang diperintahkan adikku, kasihan memang.</p>
<p>Aku termasuk cukup sering berkunjung ke rumah adik. Karena suaminya sering ke luar kota, sehingga aku terkadang diminta untuk menemani atau bila mereka sedang ke luar kota bersama maka aku yang menjaga rumah. Sikapku terhadap Tinah dan temannya biasa saja, tidak ada yang khusus. Mereka pun demikian. Tinah berpakaian biasa – biasa saja bila di rumah adikku. Berkaos dan bercelana selutut, kadang memakai rok. Terkadang kaos yang dipakai Tinah sedikit longgar. Sehingga jika ia menundukkan badan, sedikit terlihat belahan dada bahkan gunung kembarnya yang masih tertutup BH. Wajar jika aku kadang – kadang mataku mencuri – curi kesempatan itu. Ukurannya biasa saja, 32 mungkin.<br />
Saat itu aku sedang diminta menjaga rumah adik, karena keluarganya akan pergi hingga sore dan Tinah tinggal di rumah, karena kondisi perutnya yang kurang baik. Menjelang keberangkatan keluarga adik, aku sudah datang di sana.<br />
“Mas..Tinah di rumah, perutnya agak kurang beres. Mis yang tak bawa“, adikku memberi tahu. “Oo..ya“, jawabku. Tak berapa lama mereka telah berangkat. Aku bergegas memasukkan sepeda motor ke dalam rumah. Tinah lalu mengunci pagar. Aku masuk rumah lalu cepat – cepat duduk di depan komputer, browsing, karena suami adikku memasang internet untuk mendukung pekerjaannya. Mengecek email; cari info ini itu dan..tentunya get into DS..he3x. 10menit kemudian Tinah menyajikan segelas es teh untukku. “Makasih ya Tin“, ucapku. “Iya Pak..silakan diminum“, kata Tinah. Pembantu – pembantu adikku memang dibiasakan memanggil “Pak“ pada saudara – saudara majikannya, padahal terdengar sedikit asing di telinga. Tinah lalu kembali ke dapur, aku lalu meminum es tehnya, “Hah..segernya“, cuaca sedikit panas walau agak mendung.<br />
Tinah kembali memasuki ruang keluarga, merapikan mainan – mainan anak adikku. Posisi meja komputer dan mainan yang bertebaran di lantai selisih dua kotak. Semula aku belum ngeh akan hal itu. Semula mataku menatap layar komputer di situs DS. Saat Tinah mulai memasukkan kembali mainan – mainan ke keranjang, baru aku menyadarinya. Sesekali aku meliriknya. “Sedikit putih ternyata anak ini. Bodynya biasa aja sih, langsing dan kayaknya masih padat. Wah..ini gara – gara masuk situs DS jadi mikir macem – macem..hi3x“, pikiranku berkata – kata. Karena jarak kami yang lumayan dekat, maka ketika Tinah bersimpuh di lantai merapikan mainan di keranjang, otomatis kaosnya yang sedikit longgar memperlihatkan sebentuk keindahan yang terbungkus penutup warna biru. Tinah jelas tidak tahu kenakalan mataku yang sedang menatap sebagian keindahan tubuhnya. “Andaikan aku&#8230;uhh..ngayal nih“. Tak terasa penisku mulai membesar, “Ke kamar mandi mbetulin posisi penis nih..sambil kencing“. Komputer kutinggal dengan layar bergambar Maria Ozawa sedang disetubuhi di kamar mandi. Aku lalu masuk kamar mandi, membuka jins dan cd lalu mengeluarkan penis. Agak susah juga kencing dengan penis yang sedikit tegang. “Lah..pintu lupa tak tutup“, aku terkejut. “Terlanjur..gak ada orang lain kok“, aku mendinginkan diri.<br />
Aku keluar dari kamar mandi dan kembali duduk di depan komputer, melanjutkan ngubek – ubek DS. “Cari camilan di meja makan ah..jadi lapar“. Aku mencari apa yang bisa dimakan untuk menemani kesibukan nge – net. “Ada roti sama biskuit nih..asyik“. Roti kusemir mentega dan selai kacang dan diatasnya kulapis dengan selai blueberry, “Hmm..enaknya. Nanti bikin lagi ah..masih banyak rotinya“. Rumah adikku tipe agak kecil, jadi jarak antar ruangan agak dekat. Letak meja makan dengan kamar pembantu hanya 3meter – an. Kulihat dengan ujung mata, Tinah sedang di kamarnya entah beraktifitas apa. Selesai menyelesaikan semiran roti, aku kembali ke ruang keluarga yang melewati kamar pembantu dan kamar mandi mereka. 2detik aku dan Tinah bertatapan mata, tidak ada sesuatu, biasa saja. Kumakan roti sambil n – DS lagi.<br />
Terdengar gemercik air di belakang. Mungkin Tinah sedang mencuci perabotan dapur atau sedang mandi. “Belum ambil air putih nih..“, tak ada maksud apa – apa dengan suara air tersebut. Hanya kebetulan aku belum minum air putih, walau telah ada es teh. Aku ke ruang makan lagi dan mengambil gelas lalu menuju dispenser. Mata dan pikiran hanya tertuju pada air yang mengucur dari dispenser. Baru setelah melewati kamar mandi pembantu ada yang special di sana. ”Lah..pintunya kok sedikit mbuka. Tin lupa dan sedang apa di dalam..moga gak mandi. Bisa dilaporin ngintip aku”. Masih tak terlihat kegiatannya, setelah tangan yang sedang menggapai gayung dan kaki yang diguyurnya baru aku ngeh..Tinah sedang mandi. ”Duhh..kesempatan sangat – sangat langka ini..tapi..kalo dia teriak dan nanti lapor adikku..bisa gawat bin masalah. Berlagak gak liat aja ahh”. Aku menutup pintu kaca ruang makan dan melewati kamar mandi Tinah. Tiba – tiba ”Ahh..ada kecoak..Hush..hush..Aduhh..gimana nih”, terdengar keributan di sana. ”He3x..ternyata dia takut kecoak toh”, aku tersenyum sambil pegang gelas saat melewati kamar mandi.<br />
”Pak..Pak”, Tinah memanggilku. ”Walah..malah panggil aku. Gimana nih”. ”Tolong ambilkan semprotan serangga di gudang ya Pak..cepet ya Pak..atau..”, tidak terdengar lanjutan kalimatnya. Sejak Tinah bersuara, aku sudah berhenti dan diam di dekat pintu kamar mandi. ”Atau..Bapak yang masuk pukul kecoaknya..mumpung masih ada”, lanjutnya. Deg..”Ini..antara khayalan yang jadi nyata dan ketakutan kalo dilaporkan”, aku berpikir. ”Cepet Pak..kecoaknya di dekat kloset. Bapak masuk aja..nggak pa – pa. Nggak saya laporin ke Bapak sama Ibu”, Tinah tahu keraguanku. ”Jangan ah..nanti kalo ada yang tau atau kamu laporin bisa rame”, jawabku. ”Nggak Pak..bener. Aduh..cepet Pak..dia mau pindah lagi”, Tinah kembali meyakinkanku dan meminta aku cepat masuk karena kelihatannya si kecoak mau lari lagi. ”Ya udah kalo gitu. Bentar..ambil sandal dulu”. Sambil tetap menimbang, take it or leave it. Aku menaruh gelas di meja makan lalu mengambil sandal untuk membunuh kecoak nakal itu. Entah rejeki atau kesialan bagiku tentang kemunculannya. ”Aku masuk ya Tin”, masih ragu diriku. ”Masuk aja Pak”, Tinah tetap membujukku. Kubuka pintu kamar mandi sedikit, lalu kuintip letak kecoaknya, belum terlihat. Pintu dibuka lebih lagi oleh Tinah. Kepalanya sedikit terlihat dari balik pintu dan tangannya menunjuk letak kecoak, ”..tuh Pak mau lari lagi”. Aku melihatnya dan mulai masuk. Tinah berdiri di balik pintu dengan menutupi sedikit bagian tubuhnya dengan handuk. Terlihat paha; pundak dan daging susunya. Serta rambut yang diikat di belakang kepalanya, walau hanya sedikit semua. Handuknya menutupi bagian paha ke atas, perut hingga bagian dada, warna biru, yang disangga tangan kirinya. Semua hal itu dari ekor mataku, karena fokusku pada sang kecoak. ”Memang mulus dan cukup putih”, masih sempat aku memikirkannya. Bagaimana tidak, jarak kami hanya 2 – 3 langkah, tidak ada orang lain lagi di rumah.<br />
”Plak..plak”, kecoak pun mati dengan sukses. Aku guyur dengan air agar masuk ke lubang pembuangan. Tanpa memikirkan lebih lanjut, aku lalu melangkah ke luar kamar mandi. ”Terima kasih ya Pak..sudah nolongin”. ”Oh..iya..”, sambil kutatap dia dan Tinah tersenyum. ”Bapak nggak cuci tangan sekalian..di sini saja”, tawar Tinah. ”Wah..ini. Makin bikin dag dig dug”. ”Emm..iya deh”. Aku akan mencuci tangan dengan sabun, yang ternyata posisi tempat sabun ada di belakang tubuh Tinah. Aku menengok ke belakang tubuhnya. Rupanya dia baru sadar, lalu mengambilkan sabun, ”Maaf Pak..ini sabunnya”. Tinah mengulurkan sabun dengan tersenyum. Sabun yang sedikit basah berpindah dan tangan kami mau tidak mau bersentuhan. ”Makasih ya”, ujarku. Aku mencuci tangan dan mengembalikan sabun padanya. ”Bapak nggak..sekalian mandi”, tanya Tinah. ”Waduh..tawaran apa lagi ini. Tambah gawat”. ”Iya..nanti di rumah”. ”Nggak di sini saja Pak?”. ”Kalo di sini yaa di kamar mandi depan”. ”Di kamar mandi ini saja Pak..”. ”Nggaklah..jangan. Di depan aja. Kalo di sini ya habis kamu mandi”. ”Maksud saya..sekalian sekarang sama saya. Hitung – hitung Bapak sudah nolongin saya”. Matanya memohon. Deenngg, sebuah lonceng menggema di kepala. ”Ini ajakan yang membahayakan, juga menyenangkan”, pikirku. ”Bapak nggak usah mikir. Saya nggak akan bilang siapa – siapa. Ya Pak..di sini saja”, dia memahami kekhawatiranku. ”Emm..ya udah kalo kamu yang minta gitu”, jawabku.<br />
Entah mengapa aku merasa canggung saat akan membuka kaosku. Padahal tidak ada orang lain dan juga sesekali ke pijat plus. Aku buka jam tanganku dulu, lalu aku keluar dari kamar mandi dan kuletakkan di meja makan. Posisi Tinah masih tetap di belakang pintu, dengan tangan kanan menahan pintu agar tetap agak terbuka. Kembali ke kamar mandi, kubuka kaosku dan kusampirkan di cantolan yang menempel di tembok. ”Pintunya nggak ditutup aja Tin ?”, tanyaku. Pertanyaanku sesungguhnya tidak memerlukan jawaban, hanya basa basi. “Nggak usah Pak..kan nggak ada siapa – siapa”, jawab Tinah. Lalu kubuka jinsku, kusampirkan pula. Sesaat aku masih ragu melepas kain terakhir penutup tubuhk, cd – ku. “Bapak nggak nglepas celana dalem ?”, tanyanya. “Heh..ya iya”, kujawab dengan nyengir. Penisku sebisa mungkin kutahan tidak mengembang, tapi hanya bisa kutahan mengembang ¼ &#8211; nya. Sengaja kutatap matanya saat melepas cd – ku. Mata Tinah sedikit membesar. Kusampirkan juga cd – ku. Lalu dengan tenang Tinah menyampirkan handuk biru yang sedari tadi menutup sebagian tubuhnya. “Duh..pantatnya masih ok. Pinggangnya tidak berlemak. Sabar ya nak..kita liat situasi dulu”, kataku pada sang penis sambil kuelus.<br />
Tinah lalu membalikkan badan. Cegluk, suara ludah yang kutelan. “Uhh..susu yang masih bagus juga. Pentilnya nggak terlalu besar, areolanya juga, warnanya pas..nggak item banget. Perutnya sedikit rata dan..hmm..rambut bawahnya hanya sedikit”. Mau tidak mau, penisku makin mengembang dan itu jelas dilihat Tinah. Kembali sebisa mungkin kutahan perkembangannya. Tinah lalu menggosok gigi dahulu. Karena aku tidak membawa sikat gigi, hanya berkumur dengan obat kumur. “Bapak saya mandiin dulu ya”, kata Tinah. “Terserah kamu”, jawabku sambil tersenyum. Tinah lalu mengambil segayung air, diguyurkan ke badan dari leher dan pundak. Mengambil lagi segayung, diguyurkan ke perut dan punggung ditambah senyum manisnya. Ia lalu meraih sabun, digosokkan ke leher; pundak; dada dan tangan kananku. Dibasahinya sabun dengan diguyur air lalu digosokkan ke tangan kiri; perut; penis; bola – bolaku. “Uhh..gimana bisa nahan penis nggak ngembang”. Bagaimana tidak, saat menggosok penis dan bola – bolaku sengaja digosok dan di urutnya. Ditatapnya senjata kebanggaanku, lalu menatapku dan tersenyum. Aku hanya bisa membalasnya dengan senyum juga. Diambilnya lagi segayung air, sabun dibasahi dan sisanya diguyurkan ke paha dan kaki lalu digosoknya. Sabun kemudian diletakkan di pinggir bak mandi, kemudian mengambil segayung air dan diguyurkan ke badan depanku. Ambil segayung lagi dan diguyurkan lagi, tak lupa senjataku dibersihkan dari sisa – sisa sabun. Sedikit diremas oleh Tinah. Kutahan keinginanku untuk membalas perlakuannya, “biar Tinah yang pegang kendali”.<br />
“Balik badan Pak”, perintahnya. Air diguyurkan ke punggung dan bagian bawah badanku. Digosoknya punggung; pantat; lalu paha dan kaki sisi belakang. Bonusnya, kembali menggosok penis dan bola – bolaku dan meremasnya. “Duh..ni anak. Bikin senewen..sengaja membuat panas aku“. Kembali air mengguyur tubuh belakangku, sebanyak 3x. Dibalikkan badanku lalu mengguyur senjataku, digosok – gosoknya hingga sedikit memerah. Jantungku makin berdebar. “Sudah selesai Pak“, kata Tinah. “Makasih ya Tin“. “Emm..kamu mau tak mandiin juga ?“, kepalang basah, kutawarkan permintaan seperti dia tadi. “Nngg..nggak usah Pak..ngrepoti Bapak“. “Ya nggaklah..jadi imbang kan“. Langsung kuambil segayung air lalu kuguyur ke tubuh depannya. Ia hanya menatapku. Kuambil lagi segayung. Lalu sabun yang tadi tergeletak di pinggir bak mandi kuambil dan aku basahi. Kugosok leher; pundak; dan kedua tangannya. Kubasahi sabun lagi dan kugosokkan ke dada; kedua susu dan pentilnya; serta perut. Kutatap matanya saat kugosok kedua gunungnya yang kumainkan sedikit pentil – pentilnya. Tinah juga menatapku. Matanya mulai sedikit sayu. 1menit – an kumainkan pentil –pentilnya, lalu sedikit kuremas susu kirinya. Bibirnya sedikit membuat huruf o kecil dan “ohh..hhmm“. Kubasahi lagi sabun, dan kugosokkan ke pinggang; paha dan kedua kakinya. Vagina luar hanya kusentuh sedikit dengan sabun, takut perih dan iritasi nanti. Itupun sudah cukup membuat matanya makin meredup. Air segayung lalu kuguyurkan ke tubuhnya 2 – 3x. Kugosok dan kuremas sedikit keras dua gunungnya. Sedikit berguncang. Dua tangan Tinah memegang pinggir bak mandi, mulai erat. Kumainkan lagi pentil – pentilnya.<br />
Aku merundukkan badan dan kukecup pucuk – pucuk bunganya bergantian. Tak perlu lagi ijin darinya. Tangan kiriku mengusap – usap lembut luar vaginanya. “Ouuh Paakk..“, Tinah mulai mendesah. Kukecup bibirnya lembut, “nanti dilanjut lagi“. Matanya seakan bernada protes, tapi Tinah diam saja. Kubalikkan tubuhnya, lalu kuguyur punggungnya sekarang. Sabun kugosokkan ke punggung; pinggang; pantat. Sabun kubasahi lagi lalu kugosokkan ke paha dan kaki bagian belakang. Aku menyusuri tubuh depannya lagi dari pinggang belakangnya. Tinah sedikit menggeliat geli. Kutangkupkan dua tanganku di dua susunya. Aku senang bermain – main di susu yang bagus atau masih ok. Seluruh belakang lehernya aku cium dan kecup, begitu juga dua kupingnya dan kubisikkan ”kamu diam saja ya..cup”. ”Geli Paakk..”, Tinah mendesah lagi. Dua pucuk bunganya makin mengencang dan keras. Aku menyentil – nyentil, kuputar – putar seperti mencari gelombang radio. Dua tangan Tinah mencengkeram paha depanku. ”Aahh..hmmppff”, erangnya. Tangan kananku mengambil segayung air, kuguyur ke tubuh depannya. Kali ini kuusap – usap vagina luarnya dengan tangan kanan, sedang yang kiri tetap di susu kanan Tinah.<br />
Pahaku makin dicengkeramnya. Kepalanya menggeleng ke kiri dan kanan seiring kecupan dan ciumanku di belakang leher dan daun – daun telinganya. Sesekali aku menyentuh bibir dalamnya. Terasa telah menghangat dan sedikit basah. ”Ppaakkk..oohhh”. Tubuhnya mulai menggeliat – geliat. Jari tengah kanan kumasukkan sedikit dan kusentuhkan pada dinding atas vaginanya, sedang jempol kananku kutekan – tekankan di lubang kencingnya. ”Aauugghhh Ppaakkk..eemmmppfff”. Kuku – kuku jemari Tinah terasa menggores dua paha depanku. ”Kenapa Tinah..hmm..kamu sendiri yang memulai kan”, bisikku. Tangan kiriku meraih kepalanya dan kupalingkan ke kanan, dan kutahan lalu kucium dengan nada 2 kecup 1 masukkan lidah. Tinah terkejut, matanya sedikit membesar tapi kemudian ia menikmatinya. Ganti tangan kananku melakukan hal yang sama. Tinah hanya bisa mengeluarkan suara yang tertahan ”nngg..emmppfftt..nnngggg”, begitu berulang. Vagina dalamnya makin hangat dan basah. Secara tiba – tiba kuhentikan lalu kubalikkan badannya menghadapku. Kemudian aku sandarkan tubuhnya di bak mandi. Aku kemudian berjongkok dan mulai mengecupi vaginanya. ”Jjanggann Ppakk..jorok..”, dengan dua tangannya menahan laju kepalaku. Kutatap matanya dan ”sssttt..”, jari telunjuk kanan kuletakkan di bibirnya. Dua tangannya kusandingkan di samping kiri dan kanan tubuhnya.<br />
Kukecup kecil, sekali dua kali. Kemudian lidahku mulai menjulur di pintu kenikmatan kami. Mataku kuarahkan menatapnya. Tinah agak malu rupanya, tetapi ada sedikit senyum di sana. Lidahku makin intens menyerang vagina luar dan dalamnya. ”Ssuuddaahh Pppaakk..aaaddduuuhh..oohhhh”, disertai geliat tubuh yang makin menjadi. Karena tak tahan dengan seranganku, dua tangannya meremas dan sedikit menarik rambut dan kepalalu. Cairan lavanya makin keluar. Dua tanganku mendekap erat buah pantatnya. Jari tengah kiriku sesekali kumasukkan ke vagina dari belakang lalu kesentuhkan dan kutekan sedikit ke anusnya. ”Aammppuuunnn Pppaakkk..oouuuggghh..eeemmmpppfffs<br />
ssuudddaahhh..ooohhhh”, matanya agak membeliak ke atas dan kepala serta rambutku diremasnya kuat. Lava kepuasan dirinya mengalir deras, rasanya gurih sedikit manis. Kudekap erat Tinah dengan kepalaku di vaginanya dan pantatnya kuremas – remas. Kepalaku tetap diusap –usap oleh Tinah.<br />
Ia menarik kepalaku dan menciumnya ganas. Lambat laun Tinah dapat belajar dariku. Tangan kanannya meremas dan menarik – narik penisku. ”Panjang ya Pak”, tanya Tinah. ”Biasa kok Tin..pingin ya..”, godaku. ”Aahh Bapak..”, jawabnya dengan memainkan bola – bolaku. Tinah merundukkan tubuhnya lalu tangan kirinya memegang penis dan menciumnya. Mungkin ia belum pernah meng – oral suaminya dulu sebab penisku hanya dicium – cium dan diremas – remas. ”Kamu mau ngemut burungku Tin..kayak ngemut permen lolly ? Tapi kalo belum pernah ya nggak usah..nggak pa – pa”. Tinah menatapku dan kubelai rambutnya. Dengan wajah ragu didekatkannya penisku di bibirnya. Tinah mulai membuka mulut, sedikit demi sedikit penisku memasuki mulutnya. Tinah menatapku lagi, meminta penjelasan langkah selanjutnya. ”Sekarang..kamu maju mundurkan dengan dipegang tanganmu. Yaa..gitu..oohh..hhmm”. Rupanya muridku cepat mengerti penjelasan gurunya. Rambut dan kepalanya kubelai dan kuremas – remas. ”Lalu..lidahmu kamu puter – puter di kepala penis atau di lubang kencing yang bergaris panjang ituuu..yyyahhhh..sssuuudddaahh pppiiinnnttteeerrr kkkaaammuu Tttiinnnn”.<br />
Kuangkat kepalanya dari penisku dan kami berciuman dengan panas. Saling meremas susu; pantat dan kelamin masing – masing. Lalu kubalikkan lagi tubuhnya menghadap bak mandi. Dua tangannya kuletakkan di pinggir bak mandi. Kembali aku bermain – main di gunung Tinah. Penisku yang telah panas dan mengacung sekali kudekatkan ke vaginanya. Kukecup – kecup pundak dan leher belakangnya. Ikat rambutnya aku lepas sehingga dirinya terlihat makin seksi kala menggeliat – geliat dan rambutnya tergerai ke sana kemari. Aku geser – geserkan penis di pintu surgawinya, sengaja aku mempermainkan rangsangan pada Tinah. ”Oohh..Ppaakk..mmaassuukkkiinn..Pppaakkk”, pintanya. ”Kamu mau burungku kumasukkin..hmm.. ?”. ”Iyyyaa..Pppaakkk..aaayyyoo Pppaakk..”, rintihnya makin kencang. Kumasukkan penis pelan – pelan. ”Eemmppff..”, erangnya. Lalu kuhentakkan pelan hingga penisku terasa menyentuh dinding belakang. ”Ooouuggghh..Pppaakkkk..mentok Pppaakk”. Aku menggerakkan tubuh pelan – pelan, kunikmati jepitan dinding – dindingnya yang masih kuat. Dua tanganku tak henti bermain di dadanya. Kumainkan irama di vaginanya dengan hitungan 1 – 2 pelan 3 kuhentakkan dalam – dalam. Lalu tangan kananku meraih kepalanya seperti tadi dan kucium panas bibirnya. Dinding vagina Tinah makin hangat dan banjir sepertinya. Dua tangannya mencengkeram erat pinggir bak mandi.<br />
Sekarang tanpa hitungan, kumasuk keluarkan penis cepat dan kuat. ”Oohh..<br />
oohh&#8230;hhmmppffftt..”, erang Tinah berulang. Sedang aku sedikit menggeram dan ”oouugghhh..hhmmppff..mpekmu enaknya Tttiinn..”. ”Bbuurrruunnggg Bbbaapppakk jjjuugggaaa”. Jarak pinggangku dan pantat Tinah makin rapat. Tangan kanan kuusap – usapkan di vaginanya. Dalam kamar mandi hanya ada suara tetes air satu – satu serta desah, bunyi beradunya paha dan pantat dan erangan kami. ”Pppaaakkk..sssaaayyyaa mmaaauu..ooohhh..”. ”Tttuunnggguu Tttiiinnn..aaakkkuuu jjjuuggggaa..Di dalam apa di llluuaarrr”, tanyaku. ”Dddaa<br />
lllammm aajjjaaa Pppaakkkk..oobbaattnyaa mmassihh aaddaa..”, jawab Tinah. Mendengar itu serangan makin kufokuskan. Segala yang ada di tubuhnya aku remas. Dua tangan Tinah tak tahan di pinggir bak mandi dan mencengkeram paha serta pantatku. Bibirku dicarinya lalu ”hhhmmmpppfffttt..”. Pantatku diremas kuat – kuat. Bibirnya dilepas dariku dan ”ooouuggghhh..”, desah Tinah panjang. Lava yang hangat terasa mengaliri penisku yang masih bekerja. Kepalanya tertunduk menghadap air di bak mandi. Kudekap erat tubuh depannya. Kukecup dan kugigit leher belakangnya. Lalu tangan kiriku meraih kepalanya dan kucium dalam – dalam. Dengan satu hentakan dalam kumuntahkan magma berkali – kali. ”Ooouugghhh Tttiinnaahhh..hhhmmm..”. kepalaku tertunduk di pundaknya dengan tangan kiri di susu sedang yang kanan di vaginanya.<br />
Lama kami berposisi seperti itu. ”Makasih ya Tin..kamu baik sekali. Enak banget tubuhmu”, kataku dengan membalikkan badannya dan kucium mesra bibirnya. Penis kumasukkan lagi, masih ingin berlama – lama di hangatnya vagina Tinah. ”Saya yang terima kasih Pak. Sudah lama saya pingin tapi sama orang nggak kenal kan nggak mungkin Pak. Burung Bapak pas di mpek saya”, Tinah menjawab dan mencium bibirku pula. ”Mpekmu masih kuat nyengkeramnya..dan panas”. Kubelai – belai kepalanya, ”kok bisa kamu pingin ngajak main sama aku ? Malah aku yang takut kamu laporin”. Sambil mengusap – usap punggungku, ”Tadi waktu saya bersihin mainan adik, saya liat gambar di komputer. Terus waktu Bapak kencing tadi kan lupa nutup pintu..keliatan burung Bapak yang agak gede pas keluar dari celana”. ”Oo gitu..nakal ya kamu. Bener kamu masih nyimpen obatnya ?”, sambil kucubit pipinya. ”Masih kok Pak..sisa yang dulu”, jawab Tinah. Makin lama terasa penisku yang mengecil. Kucium dalam – dalam lagi bibirnya, ”sekarang..mandi yang beneran”. ”Heeh..iya Pak”, Tinah menjawab sambil tersenyum manis. Ia lalu memelukku erat. Aku membalasnya dengan memeluk erat dan mengusap – usap punggung serta kepalanya.</p>
<p>Sekian dan terima kasih sudah membaca cerita-cerita kami.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritadewasa.modelperawan.info/seks/pembantu-yang-lugu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bu Guru Netty Yang Bahenol</title>
		<link>http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/bu-guru-netty-yang-bahenol.html</link>
		<comments>http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/bu-guru-netty-yang-bahenol.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jan 2010 06:21:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[STW]]></category>
		<category><![CDATA[ibu guru binal]]></category>
		<category><![CDATA[seks bu guru]]></category>
		<category><![CDATA[seks tante]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritadewasa.modelperawan.info/?p=78</guid>
		<description><![CDATA[Cerita Dewasa. namaku Priambudhy Saktiaji, teman-teman memanggilku Budhy. Aku tinggal di Bogor, sebelah selatan Jakarta. Tinggiku sekitar 167 cm, bentuk wajahku tidak mengecewakan, imut-imut kalau teman-teman perempuanku bilang. Langsung saja aku mulai dengan pengalaman pertamaku ‘make love’ (ML) atau bercinta dengan seorang wanita. Kejadiannya waktu aku masih kelas dua SMA (sekarang SMU).
Saat itu sedang musim [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerita Dewasa. namaku Priambudhy Saktiaji, teman-teman memanggilku Budhy. Aku tinggal di Bogor, sebelah selatan Jakarta. Tinggiku sekitar 167 cm, bentuk wajahku tidak mengecewakan, imut-imut kalau teman-teman perempuanku bilang. Langsung saja aku mulai dengan pengalaman pertamaku ‘make love’ (ML) atau bercinta dengan seorang wanita. Kejadiannya waktu aku masih kelas dua SMA (sekarang SMU).</p>
<p>Saat itu sedang musim ujian, sehingga kami di awasi oleh guru-guru dari kelas yang lain. Kebetulan yang mendapat bagian mengawasi kelas tempatku ujian adalah seorang guru yang bernama Ibu Netty, umurnya masih cukup muda, sekitar 25 tahunan. Tinggi badannya sekitar 155 cm. Kulitnya putih bersih, hidungnya mancung, bentuk wajahnya oval dengan rambut lurus yang di potong pendek sebatas leher, sehingga memperlihatkan lehernya yang jenjang.</p>
<p>Yang membuatku sangat tertarik adalah tonjolan dua bukit payudaranya yang cukup besar, bokongnya yang sexy dan bergoyang pada saat dia berjalan. Aku sering mencuri pandang padanya dengan tatapan mata yang tajam, ke arah meja yang didudukinya. Kadang, entah sengaja atau tidak, dia balas menatapku sambil tersenyum kecil. Hal itu membuatku berdebar-debar tidak menentu. Bahkan pada kesempatan lain, sambil menatapku dan memasang senyumnya, dia dengan sengaja menyilangkan kakinya, sehingga menampakkan paha dan betisnya yang mulus.</p>
<p>Di waktu yang lain dia bahkan sengaja menarik roknya yang sudah pendek (di atas lutut, dengan belahan disamping), sambil memandangi wajahku, sehingga aku bisa melihat lebih dalam, ke arah selangkangannya. Terlihat gundukan kecil di tengah, dia memakai celana dalam berbahan katun berwarna putih. Aku agak terkejut dan sedikit melotot dengan ‘show’ yang sedang dilakukannya. Aku memandang sekelilingku, memastikan apa ada teman-temanku yang lain yang juga melihat pada pertunjukan kecil tersebut. Ternyata mereka semua sedang sibuk mengerjakan soal-soal ujian dengan serius. Aku kembali memandang ke arah Ibu Netty, dia masih memandangku sambil tersenyum nakal. Aku membalas senyumannya sambil mengacungkan jempolku, kemudian aku teruskan mengerjakan soal-soal ujian di mejaku. Tentu saja dengan sekali-kali melihat ke arah meja Ibu Netty yang masih setia menyilangkan kakinya dan menurunkannya kembali, sedemikian rupa, sehingga memperlihatkan dengan jelas selangkangannya yang indah.</p>
<p>Sekitar 30 menit sebelum waktu ujian berakhir, aku bangkit dan berjalan ke depan untuk menyerahkan kertas-kertas ujianku kepada Ibu Netty. &#8220;Sudah selasai?&#8221; katanya sambil tersenyum. &#8220;Sudah, bu….&#8221; jawabku sambil membalas senyumnya. &#8220;Kamu suka dengan yang kamu lihat tadi?&#8221; dia bertanya mengagetkanku. Aku menganggukkan kepalaku, kami melakukan semua pembicaraan dengan berbisik-bisik. &#8220;Apa saya boleh melihatnya lagi nanti?&#8221; kataku memberanikan diri, masih dengan berbisik. &#8220;Kita ketemu nanti di depan sekolah, setelah ujian hari ini selesai, ok?&#8221; katanya sambil tersenyum simpul. Senyum yang menggetarkan hatiku dan membuat tubuhku jadi panas dingin.</p>
<p>Siang itu di depan gerbang sekolah, sambil menenteng tasnya, bu Netty mendekati tempatku berdiri dan berkata, &#8220;Bud, kamu ikuti saya dari belakang&#8221; Aku mengikutinya, sambil menikmati goyangan pinggul dan pantatnya yang aduhai. Ketika kami sudah jauh dari lingkungan sekolah dan sudah tidak terlihat lagi anak-anak sekolah di sekitar kami, dia berhenti, menungguku sampai di sampingnya. Kami berjalan beriringan. &#8220;Kamu benar-benar ingin melihat lagi?&#8221; tanyanya memecah kesunyian. &#8220;Lihat apa bu?&#8221; jawabku berpura-pura lupa, pada permintaanku sendiri sewaktu di kelas tadi pagi. &#8220;Ah, kamu, suka pura-pura…&#8221; Katanya sambil mencubit pinggangku pelan. Aku tidak berusaha menghindari cubitannya, malah aku pegang telapak tangannya yang halus dan meremasnya dengan gemas. bu Netty balas meremas tanganku, sambil memandangiku lekat-lekat.</p>
<p>Akhirnya kami sampai pada satu rumah kecil, agak jauh dari rumah-rumah lain. Sepertinya rumah kontrakan, karena tidak terlihat tambahan ornamen bangunan pada rumah tersebut. Bu Netty membuka tasnya, mengeluarkan kunci dan membuka pintu. &#8220;Bud, masuklah. Lepas sepatumu di dalam, tutup dan kunci kembali pintunya!&#8221; Perintahnya cepat. Aku turuti permintaannya tanpa banyak bertanya. Begitu sampai di dalam rumah, bu Netty menaruh tasnya di sebuah meja, masuk ke kamar tanpa menutup pintunya. Aku hanya melihat, ketika dengan santainya dia melepaskan kancing bajunya, sehingga memperlihatkan BH-nya yang juga terbuat dari bahan katun berwarna putih, buah dadanya yang putih dan agak besar seperti tidak tertampung dan mencuat keluar dari BH tersebut, membuatnya semakin sexy, kemudian dia memanggilku. &#8220;Bud, tolong dong, lepasin pengaitnya…&#8221; katanya sambil membelakangiku. Aku buka pengait tali BH-nya, dengan wajah panas dan hati berdebar-debar. Setelah BH-nya terlepas, dia membuka lemari, mengambil sebuah kaos T-shirt berwarna putih, kemudian memakainya, masih dengan posisi membelakangiku. T-shirt tersebut terlihat sangat ketat membungkus tubuhnya yang wangi.</p>
<p>Kemudian dia kembali meminta tolong padaku, kali ini dia minta dibukakan risleting roknya! Aku kembali dibuatnya berdebar-debar dan yang paling parah, aku mulai merasa selangkanganku basah. Kemaluanku berontak di dalam celana dalam yang rangkap dengan celana panjang SMA ku. Ketika dia membelakangiku, dengan cepat aku memperbaiki posisi kemaluanku dari luar celana agar tidak terjepit. Kemudian aku buka risleting rok ketatnya. Dengan perlahan dia menurunkan roknya, sehingga posisinya menungging di depanku. Aku memandangi pantatnya yang sexy dan sekarang tidak terbungkus rok, hanya mengenakan celana dalam putihnya, tanganku meraba pantat bu Netty dan sedikit meremasnya, gemas.<br />
&#8220;Udah nggak sabar ya, Bud?&#8221; Kata bu Netty.<br />
&#8220;Maaf, bu, habis bokong ibu sexy banget, jadi gemes saya….&#8221;<br />
&#8220;Kalo di sini jangan panggil saya ‘bu’ lagi, panggil ‘teteh’ aja ya?&#8221;<br />
&#8220;Iya bu, eh, teh Netty&#8221;<br />
Konsentrasiku buyar melihat pemandangan di hadapanku saat ini, bu Netty dengan kaos T-shirt yang ketat, tanpa BH, sehingga puting susunya mencuat dari balik kaos putihnya, pusarnya yang sexy tidak tertutup, karena ukuran kaos T-shirt-nya yang pendek, celana dalam yang tadi pagi aku lihat dari jauh sekarang aku bisa lihat dengan jelas, gundukan di selangkangannya membuatku menelan ludah, pahanya yang putih mulus dan ramping membuat semuanya serasa dalam mimpi.<br />
&#8220;Gimana Bud, suka nggak kamu?&#8221; Katanya sambil berkcak pinggang dan meliuk-liukkan pinggulnya.<br />
&#8220;Kok kamu jadi bengong, Bud?&#8221; Lanjutnya sambil menghampiriku.<br />
Aku terdiam terpaku memandanginya ketika dia memeluk leherku dan mencium bibirku, pada awalnya aku kaget dan tidak bereaksi, tapi tidak lama. Kemudian aku balas ciuman-ciumannya, dia melumat bibirku dengan rakusnya, aku balas lumatannya. &#8220;Mmmmmmmmmhhhhhhhhhhh….&#8221; Gumamnya ditengah ciuman-ciuman kami. Tidak lama kemudian tangan kanannya mengambil tangan kiriku dan menuntun tanganku ke arah payudaranya, aku dengan cepat menanggapi apa maunya, kuremas-remas dengan lembut payudaranya dan kupilin-pilin putingnya yang mulai mengeras. &#8220;Mmmmhhhh….mmmmmhhhhh&#8221; Kali ini dia merintih nikmat. Aku usap-usap punggungnya, turun ke pinggangngya yang tidak tertutup oleh kaos T-shirtnya, aku lanjutkan mengusap dan meremas-remas pantatnya yang padat dan sexy, lalu kulanjutkan dengan menyelipkan jari tengahku ke belahan pantatnya, kugesek-gesek kearah dalam sehingga aku bisa menyentuh bibir vaginanya dari luar celana dalam yang dipakainya. Ternyata celana dalamnya sudah sangat basah. Sementara ciuman kami, berubah menjadi saling kulum lidah masing-masing bergantian, kadang-kadang tangannya menjambaki rambutku dengan gemas, tangannya yang lain melepas kancing baju sekolahku satu per satu. Aku melepas pagutanku pada bibirnya dan membantunya melepas bajuku, kemudian kaos dalam ku, ikat pinggangku, aku perosotkan celana panjang abu-abuku dan celana dalam putihku sekaligus. Bu Netty pun melakukan hal yang sama, dengan sedikit terburu-buru melepas kaos T-shirtnya yang baru dia pakai beberapa saat yang lalu, dia perosotkan celana dalam putihnya, sehingga sekarang dia sudah telanjang bulat.</p>
<p>Tubuhnya yang putih mulus dan sexy sangat menggiurkan. Hampir bersamaan kami selesai menelanjangi tubuh kami masing-masing, ketika aku menegakkan tubuh kembali, kami berdua sama-sama terpaku sejenak. Aku terpaku melihat tubuh polosnya tanpa sehelai benangpun. Aku sudah sering melihat tubuh telanjang, tetapi secara langsung dan berhadap-hapan baru kali itu aku mengalaminya. Payudaranya yang sudah mengeras tampak kencang, ukurannya melebihi telapak tanganku, sejak tadi aku berusaha meremas seluruh bulatan itu, tapi tidak pernah berhasil, karena ukurannya yang cukup besar. Perutnya rata tidak tampak ada bagian yang berlemak sedikitpun. Pinggangnya ramping dan membulat sangat sexy. Selangkangannya di tumbuhi bulu-bulu yang sengaja tidak dicukur, hanya tumbuh sedikit di atas kemaluannya yang mengkilap karena basah.</p>
<p>Tubuh telanjang yang pernah aku lihat paling-paling dari gambar-gambar porno, blue film atau paling nyata tubuh ABG tetanggaku yang aku intip kamarnya, sehingga tidak begitu jelas dan kulakukan cepat-cepat karena takut ketahuan. Kebiasaan mengintipku tidak berlangsung lama karena pada dasarnya aku tidak suka mengintip.</p>
<p>Sementara bu Netty memandang lekat kemaluanku yang sudah tegang dan mengeras, pangkalnya di tumbuhi bulu-bulu kasar, bahkan ada banyak bulu yang tumbuh di batang kemaluanku. Ukurannya cukup besar dan panjangnya belasan centi. &#8220;Bud, punyamu lumayan juga, besar dan panjang, ada bulunya lagi di batangnya&#8221; katanya sambil menghampiriku.</p>
<p>Jarak kami tidak begitu jauh sehingga dengan cepat dia sudah meraih kemaluanku, sambil berlutut dia meremas-remas batang kemaluanku sambil mengocok-ngocoknya lembut dan berikutnya kepala kemaluanku sudah dikulumnya. Tubuhku mengejang mendapat emutan seperti itu. &#8220;Oooohhhh…. enak teh….&#8221; rintihku pelan. Dia semakin bersemangat dengan kuluman dan kocokan-kocokannya pada kemaluanku, sementara aku semakin blingsatan akibat perbuatannya itu. Kadang dimasukkannya kemaluanku sampai ke dalam tenggorokannya. Kepalanya dia maju mundurkan, sehingga kemaluanku keluar masuk dari mulutnya, sambil dihisap-hisap dengan rakus. Aku semakin tidak tahan dan akhirnya…, jebol juga pertahananku. Spermaku menyemprot ke dalam mulutnya yang langsung dia sedot dan dia telan, sehingga tidak ada satu tetespun yang menetes ke lantai, memberiku sensasi yang luar biasa. Rasanya jauh lebih nikmat daripada waktu aku masturbasi.<br />
&#8220;Aaaahhhh… ooooohhhhh…. teteeeeehhhhh!&#8221; Teriakku tak tertahankan lagi.<br />
&#8220;Gimana? enak Bud?&#8221; Tanyanya setelah dia sedot tetesan terakhir dari kemaluanku.<br />
&#8220;Enak banget teh, jauh lebih enak daripada ngocok sendiri&#8221; jawabku puas.<br />
&#8220;Gantian dong teh, saya pengen ngerasain punya teteh&#8221; lanjutku sedikit memohon.<br />
&#8220;Boleh…,&#8221; katanya sambil menuju tempat tidur, kemudian dia merebahkan dirinya di atas ranjang yang rendah, kakinya masih terjulur ke lantai. Aku langsung berlutut di depannya, kuciumi selangkangannya dengan bibirku, tanganku meraih kedua payudaranya, kuremas-remas lembut dan kupilin-pilin pelan puting payudaranya yang sudah mengeras. Dia mulai mengeluarkan rintihan-rintihan perlahan. Sementara mulutku menghisap, memilin, menjilat vaginanya yang semakin lama semakin basah. Aku permainkan clitorisnya dengan lidahku dan ku emut-emut dengan bibirku.<br />
&#8220;Aaaaaahhhhh… ooooohhhhhh, Buuuuddddhyyyyy…, aku sudah tidak tahan, aaaaauuuuuhhhhhh!&#8221; Rintihannya semakin lama semakin keras. Aku sedikit kuatir kalau ada tetangganya yang mendengar rintihan-rintihan nikmat tersebut. Tetapi karena aku juga didera nafsu, sehingga akhirnya aku tidak terlalu memperdulikannya. Hingga satu saat aku merasakan tubuhnya mengejang, kemudian aku merasakan semburan cairan hangat di mulutku, aku hisap sebisaku semuanya, aku telan dan aku nikmati dengan rakus, tetes demi tetes. Kakinya yang tadinya menjuntai ke lantai, kini kedua pahanya mengapit kepalaku dengan ketat, kedua tangannya menekan kepalaku supaya lebih lekat lagi menempel di selangkangannya, membuatku sulit bernafas. Tanganku yang sebelumnya bergerilya di kedua payudaranya kini meremas-remas dan mengusap-usap pahanya yang ada di atas pundakku.</p>
<p>&#8220;Bud, kamu hebat, bikin aku orgasme sampai kelojotan begini, belajar darimana?&#8221; Tanyanya. Aku tidak menjawab, hanya tersenyum. Aku memang banyak membaca tentang hubungan sexual, dari majalah, buku dan internet. Sementara itu kemaluanku sudah sejak tadi menegang lagi karena terangsang dengan rintihan-rintihan nikmatnya bu Netty. Akupun berdiri, memposisikan kemaluanku didepan mulut vaginanya yang masih berkedut dan tampak basah serta licin itu.<br />
&#8220;Aku masukin ya teh?&#8221; Tanyaku, tanpa menunggu jawaban darinya, aku melumat bibirnya yang merekah menanti kedatangan bibirku.<br />
&#8220;Oooohhhh…&#8221; rintihnya,<br />
&#8220;Aaaahhhh…&#8221; kubalas dengan rintihan yang sama nikmatnya, ketika kemaluanku menembus masuk ke dalam vaginanya, hilanglah keperjakaanku. Kenikmatan tiada tara aku rasakan, ketika batang kemaluanku masuk seluruhnya, bergesekan dengan dinding vagina yang lembut, hingga ke pangkalnya. Bu Netty merintih semakin kencang ketika bulu kemaluanku yang tumbuh di batang kemaluanku menggesek bibir vagina dan clitorisnya, matanya setengah terpejam mulutnya menganga, nafasnya mulai tersenggal-senggal.<br />
&#8220;Ahh-ahh-ahh auuuu!&#8221; Kutarik lagi kemaluanku perlahan, sampai kepalanya hampir keluar. Kumasukkan lagi perlahan, sementara rintihannya selalu di tambah teriakan kecil, setiap kali pangkal batang kemaluanku menghantam bibir vagina dan clitorisnya. Gerakanku semakin lama semakin cepat, bibirku bergantian antara melumat bibirnya, atau menghisap puting payudaranya kiri dan kanan. Teriakan-teriakannya semakin menggila, kepalanya dia tolehkan kekiri dan kekanan membuatku hanya bisa menghisap puting payudaranya saja, tidak bisa lagi melumat bibirnya yang sexy.</p>
<p>Sementara itu pinggulnya dia angkat setiap kali aku menghunjamkan kemaluanku ke dalam vaginanya yang kini sudah sangat basah, sampai akhirnya, &#8220;Buuudddhhyyyyyy…. aku mau keluar lagiiiiii… oooohhhhhh… aaahhhhh&#8221; teriakannya semakin kacau.<br />
Aku memperhatikan dengan puas, saat dia mengejan seperti menahan sesuatu, vaginanya kembali banjir seperti saat dia orgasme di mulutku. Aku memang sengaja mengontrol diriku untuk tidak orgasme, hal ini aku pelajari dengan seksama, walaupun aku belum pernah melakukan ML sebelum itu. Bu Netty sendiri heran dengan kemampuan kontrol diriku.</p>
<p>Setelah dia melambung dengan orgasme-orgasmenya yang susul- menyusul, aku cabut kemaluanku yang masih perkasa dan keras. Aku memberinya waktu beberapa saat untuk mengatur nafasnya. Kemudian aku memintanya menungging, dia dengan senang hati melakukannya. Kembali kami tenggelam dalam permainan yang panas.</p>
<p>Sekali lagi aku membuatnya mendapatkan orgasme yang berkepanjangan seakan tiada habisnya, aku sendiri karena sudah cukup lelah, kupercepat gerakanku untuk mengejar ketinggalanku menuju puncak kenikmatan. Akhirnya menyemburlah spermaku, yang sejak tadi aku tahan, saking lemasnya dia dengan pasrah tengkurap diatas perutnya, aku menjatuhkan diriku berbaring di sebelahnya.</p>
<p>Sejak kejadian hari itu, aku sudah tidak lagi melakukan masturbasi, kami ML setiap kali kami menginginkannya. Ketika aku tanya mengapa dia memilihku, dia menjawab, karena aku mirip dengan pacar pertamanya, yang membuatnya kehilangan mahkotanya, sewaktu masih SMA. Tapi bedanya, katanya lagi, aku lebih tahan lama saat bercinta (bukan GR lho). Saat kutanya, apa tidak takut hamil?, dengan santai dia menjawab, bahwa dia sudah rutin disuntik setiap 3 bulan.</p>
<p>Tamat gan!!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/bu-guru-netty-yang-bahenol.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
