Selingkuh Dengan Tanteku

Tante tante .. kenapa aku jadi selingkuh denganmu, aku tak pernah membayangkan akan menyakiti hati om ku seperti ini, walau sampai saat ini hubungan seks ku tidak diketahui om, tapi perasaan salah dan berdosa meniduri istri om ku tetap ada dalam pikiranku, tante ku cantik tante ku binal, ooh,, susah melupakan memek tante.

toket tante ku
Hari Minggu hari pertama Aku di tempat baru, masih serasa canggung. Pendaftaran ke SMUN baru dibuka Senin besok. Kerja apa Aku ? Kalau di desa sih jelas ke kebun bantu2 ayah sampai menjelang magrib, dan sangat menguras enerji. Kalau disini, masa Aku cuman nganggur2 aja ?

Kubawa sepasang pakaian kotorku ke belakang, maksudku mau mencuci saja, kalau ada pakaian kotor yang lain biar aku cuci sekalian. Aku ke belakang mencari-cari tempat cucian gak ketemu. Bingung. Bahkan pakaian kotorpun tak ada. Tante datang.
“Nyari apa Din…”
“Eh….Tante, saya mau nyuci baju”
“Udah, kasih aja ke Si Mar. Mar…!”
“Ya Bu…”
Mbak Mar muncul dari belakang dengan tergopoh-gopoh.
“Tolong pakaian Mas Didin sekalian dicuci”
“Saya cuci sendiri aja Tante”
“Gak usahlah…”
“Sini Mas…”kata mBak Mar. Dia mengambil pakaianku dari tanganku, lalu dimasukkan ke suatu kotak di sudut. Ternyata itu mesin cuci. Pantesan gak ada tempat cuci yang berbentuk papan bergerigi seperti di rumahku di desa. Dasar anak desa…
Aku jadi ter-bengong2, mau kerja apa aku ? Mau bersih2 di belakangpun dilarang sama Tante.
“Udah ke depan sana, ada Oom tuh…”
Aku ke ruang tengah, ada Oom yang sedang duduk di sofa baca koran.
“Selamat pagi Oom”
“Eh, kamu Din, sini …. duduk sini…”

Oom banyak tanya tentang kehidupanku di desa. Aku ceritakan semuanya. Tante lalu bergabung duduk disamping Oom. Tante merebahkan tubuhnya ke badan Oom dan Oom melingkarkan lengannya memeluk Tante. Mereka berdua benar2 mesra… dan suami-isteri ini begitu baiknya. Aku jadi merasa amat nyaman tinggal di keluarga ini.

Aku ke depan rumah menemui laki-laki setengah baya yang sedang kerja di taman, ingin berkenalan sekalian bantu2.
“Selamat pagi Pak”
“Eh…Aden, baru datang dari Jawa ya?”
“Iya Pak, bapak namanya siapa?
“Panggil aja saya Mang, nama saya Pendi”
“Panggil saja saya Didin…”
Aku bantu membereskan tanaman meskipun Mang Pendi melarangku.
“Saya udah biasa kerja di kebon, Mang”kataku.
Baru sekitar sejam Aku membantu rupanya Si Mang merasa gak enak. Dia terus memaksaku untuk berhenti membantunya. Aku mengalah, lalu masuk kembali ke rumah.
Ngapain lagi ya ?
Oh iya, beres2 isi rak buku. Aku mulai dari seretan rak yang paling atas. Kuturunkan seluruh isinya lalu secara bertahap kususun kembali sampai rapi.

Ketika aku mulai merapikan deretan kedua dari atas, ada lembar2 gambar yang menarik perhatianku. Kuambil dan …. ada 3 lembar ketas cetakan mengkilap berwarna, sobekan dari majalah, kayanya. dari tulisannya aku menduga sobekan dari majalah wanita, tentang mode. Lembar wanita menampilkan wanita cantik berpakaian bagus sedang berdiri. Lembar kedua masih wanita tadi dengan baju model lain. Dan lembar ketiga yang membuatku berdebar-debar. Wanita tadi duduk dengan kemeja dan rok yang pendek, yang mempertontonkan sepasang kaki yang panjang, putih, dan mulus. Yang membuatku berdebar adalah separuh paha mulus wanita itu terbuka. Aku belum pernah melihat gambar paha begini, apalagi paha sesungguhnya. Maklum di desaku tak ada majalah begini, yang hanya ada koran lokal. Mungkin Aku pernah melihat paha, paha milik ibu-ibu sehabis mencuci pakaian di sungai yang melewati kebunku. Tapi waktu itu tak ada pengaruh apa-apa, biasa saja. Entah karena paha itu milik perempuan yang tidak muda lagi, atau karena memang belum masanya.

Gambar paha wanita itu seringkali terbayang-bayang di kepalaku. Ada rasa berdesir jika Aku kembali melihat lembar potongan majalah itu. Dan tanpa bisa kucegah, Aku jadi berbeda bila melihat tanteku. Aku jadi membayangkan keindahan paha tanteku walaupun tak terlihat, karena rok tante sampai di lututnya. Aku membayangkan di balik rok itu terdapat sepasang paha mulus seperti gambar di majalah, atau mungkin lebih indah. Oh iya, hari pertama Aku tiba sempat melihat paha Tante meskipun hanya sekejap. Kesanku, paha itu begitu putihnya…

Aku mendapatkan penghayatan yang berbeda bila melihat tante. Terus terang ini membuatku gelisah dan merasa bersalah. Tanteku yang begitu baiknya menghidupiku, membayar segala biaya sekolahku, sementara Aku berani “kurang ajar” begini meski hanya dalam bayangan.

Sekolah belum dimulai. Selesai aku menyelesaikan pekerjanku sekitar jam 11 aku duduk di ruang tengah nonton TV. “Pekerjaan” yang kumaksud adalah beres2 taman di halaman depan membantu Mang Pendi, tukang kebun, atau beres2 di belakang membantu mBak Mar.
Ini atas inisiatifku sendiri. Tante sebenarnya tak mengizinkan, juga mang Pendi dan mbak Mar ngerasa tak enak. Tapi aku memaksa membantu pekerjaan mereka karena tak enak aku menumpang di rumah Oom-ku ini tanpa melakukan apa-apa.

Setelah seminggu di rumah ini Aku jadi hafal kegiatan Tante di rumah. Hari Selasa dan Kamis dia keluar rumah pagi untuk senam di sanggar senam, pakai mobil BMWnya dan setir sendiri. Hari lainnya kadang dia keluar juga bersama teman atau tetangga. Kalau tak ada kegiatan dia bangun agak siang.

Siang itu tante sepulang dari senam, menyapaku yang sedang nonton TV kemudian langsung naik tangga ke atas ke kamar utama. Setengah jam kemudian tante turun lagi, kelihatan segar, sehabis mandi. Aku pernah ikut bantu bersih2 kamar Oom-Tante yang luas dan mewah di lantai atas. Di dalam kamar itu juga ada kamar mandi yang luas. Aku baru lihat ada kamar mandi di dalam kamar tidur, jelas di desaku tak ada yang seperti ini.

Tante mengenakan daster santai turun tangga, jantungku berdegup. Sekilas dan sekelebatan dan sesekali paha tante terkuak. Aku lagsung menunduk, tak berani melihat ke tangga. Tapi ketika Tante melewatiku dan lalu membelakangiku, aku mencuri-curi pandang lagi. Sepasang betis putih itu begitu panjang indah dan mulus. Nampak juga bagian belakang dengkul dan sedikit di atasnya. Daster Tante hanya sampai sedikit di atas lutut, tak seperti biasanya yang selutut. Batangku mulai menggeliat.

Pembaca, mengalami batang tegang keras begini terus terang amat jarang, hanya di pagi hari saja. Di desaku dulu alat vitalku hanya tegang kalau di pagi hari habis bangun tidur saja. Sebab hari-hariku selain sekolah juga disibukkan oleh pekerjaan di kebun membantu ayahku. Aku jarang berada sendirian untuk melamun yang menyebabkan tegang seperti biasa dilakukan oleh anak laki seusiaku. Di malam haripun Aku tak ada kesempatan, karena Aku harus berbagi kamar dengan adikku. Sekarang aku punya banyak waktu luang dan sering sendirian.

Tante duduk di sofa tempat dia biasa duduk membaca, letaknya di depanku. Di antara kami hanya ada hamparan karpet tebal, sehingga sepasang kaki dan sebagian paha indah itu terhidang di hadapanku, dan dengan mudah bisa kunikmati sebenarnya, kalau Aku berani memandangnya. Tante nanya2 tentang keadaan sekolah serta teman2 baruku. Selama bicara dengan Tante Aku hanya berani menatap matanya seperti layaknya kalau aku berbicara dengan siapapun. Tak sekalipun pandanganku turun ke bawah, walaupun sebenarnya ingin, takut …

Tapi ada juga kesempatan sekilas2 menikmati pahanya, ketika Tante sedang tak bicara. Aku diuntungkan dengan letak TV. Dibelakang Tante ada lemari/rak yang nempel di dinding. TV ada di rak dinding itu, dari arahku letak TV ada di sebelah kiri Tante. Kalau tak sedang bicara, pandanganku ke TV sambil sekali2 “ngecheck” ke mata Tante. Kalau dia sedang menunduk, mataku bergeser ke bawah menikmati sepasang kaki jenjang dan sebagian paha putih mulusnya, dan kembali ke TV. Toh dari sisiku, menatap TV dan Tante adalah hampir searah pandang. Tak urung peniskupun tegang keras dan memanjang, aku jadi tak berani bergerak dari tempat dudukku. Kalau Aku bangkit berdiri, pasti celanaku menonjol kedepan.

Tante kemudian bangkit dari duduknya. Aku kecewa. Tapi …tidak. Dia hanya mengambil majalah dari meja samping, terus duduk lagi, membaca majalah mode. Duduk santai, kepalanya bersandar pada sandaran sofa, mukanya tertutup oleh majalah yang membuatku makin leluasa “menghayati” kaki dan pahanya. Apalagi saat tertentu dia bergantian menyilangkan kakinya. Saat posisi kaki kiri dia tumpangkan ke kaki kanannya adalah saat yang paling ideal bagiku. Ujung dasternya terangkat ke atas sehingga hampir seluruh paha kirinya bisa kunikmati. Aku makin gelisah …

Malamnya aku susah tidur, bayangan paha Tante tak mau hilang dari kepalaku. Kembali penisku tegang. Kuambil buku novel, kubaca. Memang pikiran beralih, tapi sebentar2 masih saja bayangan paha itu datang. Lama2 aku tertidur juga. Sekitar jam 2 pagi aku terbangun. Rasanya aku bermimpi sesuatu yang enak. Coba kuingat-ingat, tak begitu jelas, sepertinya aku berduaan dengan seorang cewe entah siapa. Lalu cewe itu mengangkat roknya memperlihatkan paha mulusnya, semulus paha Tante. Aku mengusap-usap pahanya dan cewe itu melihat penisku tegang, dan dipegangnya penisku, digenggamnya. Aku merasakan enak luar biasa, dan geli-geli di penisku dan lalu aku ‘kencing’, dan kemudian terbangun.

Aku benar2 merasakan ada yang basah di bawah sana. Kuperiksa celanaku, benar basah, jadi aku “kencing” beneran. Belakangan aku baru tahu bahwa yang kualami tadi malam adalah mimpi basah, menandakan Aku memasuki masa pubertas.

Dua bulan Berlalu..

Kuketuk pintu, beberapa menit Aku menunggu belum ada yang membukakan. Rupanya pintu ini ada belnya, kupencet. Beberapa saat kemudian pintu terbuka dan mucullah seorang wanita amat cantik, putih bersih menatapku, tersirat sebersit kecurigaan. Roman wajahnya mengingatkanku pada foto tante Lina, tapi wanita ini lebih muda dari yang kubayangkan.
“Saya Didin, bu”kataku
“Didin… anaknya Kang Sastra?”
“Benar, Bu”
Mendadak roman muka wanita ini berubah menjadi amat ramah.
“Ayo masuk…. tak kusangka kamu udah gede gini….”

Jelas saja, dia melihatku terakhir adalah waktu aku umur 10 tahun, enam tahun lalu sewaktu Oom dan Tanteku ini baru saja menikah. Menurut perasaanku tanteku ini tak berubah dibanding 6 tahun lalu, tetap cantik dan muda. Ya, hanya cantik dan muda itu saja kesanku pada tanteku ini, sebab sebagai pemuda desa, aku belum tahu apapun tentang wanita. Kalau pertemuan ini terjadi sekarang tentu kesan itu akan bertambah dengan tubuh langsing tinggi, pinggang ramping, perut amat rata, kulit putih bersih dan mulus, pinggul tak begitu lebar tapi kedua bongkahan pantat yang membulat dan “membonceng” ke belakang, dan …. kedua bulatan di dada yang tegak kencang menantang. Rok span pendek yang ngepas dipadu dengan blouse yang ngepas juga menambah kemudaan tanteku ini. Tapi waktu itu kesanku hanya tanteku ini cantik dan ramah. Aku sama sekali tak memperhatikan keunggulan lainnya, maklum waktu itu masih lugu dan polos.

“Gimana kabar Kang Sastra dan Teh Is?” Itu nama ayah dan ibuku.
“Baik2 saja, Bu” jawabku sopan.
“Aku ini tantemu, panggil aja Tante ya…”
“Baik bu, eh…Tante”
Lalu seorang perempuan muda datang mengantar minuman jeruk yang dingin dan enak, dikenalkannya sebagai Marni, pembantu tante. Perempuan ini mungkin hanya satu atau dua tahun lebih tua dariku. Asalnya dari jawa Tengah, maka aku memanggilnya dengan Mbak Mar.

“Ayo Tante tunjukin kamarmu, bawa tasmu sekalian”
Mbak Mar yang mau mengangkat ranselku aku cegah.
“Biar saya bawa sendiri, mbak”
Kusambar ranselku, satu2nya bawaanku (dan “harta”ku) dari desa.
Dari ruang tamu Aku mengikuti tante ke ruang tengah yang luas, lalu ada kamar yang pintunya tertutup, dan ke arah belakang sedikit lagi ada kamar yang pintunya terbuka. Tante masuk ke kamar ini, aku mengikuinya.
“Ini kamarmu… mudah2an kamu betah”
Kamarku? Wow…. mewah sekali. Tentu saja bandinganku adalah kamarku di desa yang sederhana, juga kamar kawan2ku SMP di desa.
“Bagus sekali Tante… terima kasih”

Ada dipan yang berkasur, terlalu mewah bagiku yang biasanya tidur di atas tikar berdua dengan adikku. Ada lemari pakaian, dan ada rak buku lumayan lebar yang nempel di dinding. Rak yang penuh dengan buku2, berkas2, dan entah apa lagi. Di pojok ada pintu lagi, aku buka ternyata kamar mandi. Gila, Oom dan Tante memberiku kamar yang ada kamar mandi di dalamnya. Sungguh amat mewah bagiku.

Kuletakkan ransel di bawah lalu Aku duduk di tempat tidur.
“Buku2 di rak ini nanti kamu rapikan, jadi nanti ada ruang buat naruh buku2 kamu”kata Tante. Lalu dia duduk di kursi dekat meja belajar persis di depanku, kakinya disilangkan dan sekejap pahanya terbuka, putih sekali… Waktu itu tak ada reaksi apapun pada diriku.
“Sekarang kamu istirahat dulu…. capek kan naik bis semaleman…”
Tante beranjak menuju ke pintu keluar, cepat-cepat Aku ke pintu untuk membukakannya. Pintu belum terbuka seluruhnya Tante sudah melaluinya sehingga pantatnya bergesekkan dengan pahaku, padat sekali….
Aku ingat benar waktu itu kedua kejadian itu tak berpengaruh sama sekali terhadapku. Kalau saja terjadi sekarang, bisa-bisa ….

Kubongkar ranselku, kumasukkan pakaianku yang cuma beberapa lembar ke lemari pakaian, beres. Tak ada lagi yang bisa kukerjakan, orang semuanya sudah rapi. Kalaupun ingin beres2 mungkin rak buku itu yang isinya agak tak beraturan. Kelihatannya itu buku2 milik Oom.

Tiba-tiba Tante menarik tanganku, aku langsung berdiri mengikuti langkahnya memasuki kamarku. Masih terkaget-kaget Aku ketika menutup pintu kamar dan langsung menguncinya.
“Jangan ditutup, buka dikit aja…”kata Tante.
Tante langsung ke balik pintu dan bersender ke dinding. Tanpa perintah Aku langsung mendekatinya, dan hendak mencium bibirnya.
“Jangan cium….”
Aku baru ingat, Tante sudah berdandan. Kalau kucium lipstik di bibirnya akan habis dan akan jadi pertanyaan Oom.
Aku rabai dan remas2 dadanya. Tangan Tante lalu membuka rits celanaku dan mengeluarkan isinya. Dengan beberapa kali elusan saja penisku sudah membesar tegang dan keras siap tempur.

Lalu Tante melepaskan sendiri celana dalamnya, mengangkat roknya dan juga sebelah kakinya.
“Ayo….masukin…. gak banyak waktu….”katanya
Akupun masuk….
Aku memompa….
Bibir Tante terkatub rapat, bahkan telapak tangannya ikut menutup mulutnya, khawatir membuat suara2 aneh.
Enak juga melakukan hubungan seks sambil berdiri begini…
Aku cuma membuka rits dan menurunkan celana dalam, sedangkan Tante hanya celana dalamnya saja yang dilepas, pakaian lainnya tetap ditempatnya. Bagiku ini suatu sensasi baru….

Dengan pintu yang sedikit terbuka maka bila ada orang yang turun tangga akan kedengaran. Tante sempat menghentikan pompaanku ketika seolah-olah terdengar suara langkah kaki di tangga. Ternyata bukan. Pompa lagi…

Entah karena melakukan sambil takut2 begini atau karena lama Aku tak melakukan hubungan seks, maka kurasakan Aku hampir “nyampai”, tidak selama seperti biasanya. Cepat-cepat Aku cabut dan kutembakkan ke dinding. Tante cepat-cepat menghindar khawatir pakaiannya terciprat maniku.

Tubuhku tersandar ke dinding, lemas. Dari lubang penisku masih menetes maniku. Sementara Tante mencari-cari tissu dan sibuk mengelap selangkangannya. Dipakainya lagi celana dalamnya, lalu mengintip dulu sebelum dia keluar pintu kamarku. Pintu langsung kututup dan kurebahkan tubuhku ke kasur, lemas dan puas … !

Desiran angin kian berirama dengan bayanganku, aku masih merasa bersalah, tapi susah kulepas, karena begitu nikmatnya tubuh tante ku, istri pamanku sendiri, oohh.. tante ku cantik, aku masih ingat memek mu yang hangat, memek tante ku yang imut dan toket tante ku yang bergelayut mengundang ku menangkapnya. Tamat Cerita Dewasa.

<h4>Cerita Dewasa | Cerita Seks</h4>*tidur dengan tanteku, paha tanteku, NGENTOT BUDE, cerita dewasa bude, mulusnya paha tanteku, cerita sex di sungai, selingkuh dengan tante, paha mulus tante di sofa, selingkuh dengan tanteku, stw selingkuh, cerita sex pedesaan, budeku binal, ngentot tante di sungai, Ngentot memek Tetangga, www cerita selingkuh com, tanteku cantik, www cerita seks com, selingkuh dengan stw, cerita ngentot di sungai, cerita seks tukang cuci*
Sbobet Agen Bola

Leave a Reply